
Rey datang ke kamar dengan terburu-buru. Yang pertama dilihatnya adalah Lia terduduk tampak merengkuh dirinya di lutut, ia menangis. Pria itu melemparkan tatapan bertanya ada apa pada hantu Junior yang lupa menghilang karena masih terkejut dengan perbuatannya sendiri.
“Maaf, aku tak sengaja menekan saklar lampu,” jawabnya cengengesan kemudian menghilang menyusul hantu Senior.
Terdengar Lia masih sesenggukan, Rey berjalan ke arah saklar lampu dan menyalakannya. Lia masih tetap dalam posisinya. “Lia?’’
Lia tak bergeming, hanya terdengar sesenggukan saja yang memenuhi ruangan itu.
“Lia, jangan takut. Sudah tidak gelap lagi.” Ucap Rey sembari mengelus puncak kepala Lia dengan lembut. Pria itu sangat tahu sejak kejadian dimana sang istri memutuskan untuk meninggalkan kegelapan, dia jadi terlalu menyukai terang. Bahkan gelap itu jadi trauma bagi Lia. Rey pun cemas sekarang.
Perlahan Lia mendongak matanya merah dan sembab, terlihat sekali ia baru saja menangis. Rey menepuk pundaknya pelan secara berulang hingga sang istri tenang, ‘’jangan takut, sudah terang Lia. Jangan takut, aku disini.”
Lia menoleh ke arah sang suami, tersenyum pahit secara tiba-tiba. Rey merapikan rambut Lia yang berantakan karena Rey tahu, perempuan itu habis menjambak rambutnya sendiri karena ketakutan.
‘’Pergilah, aku sudah tak apa. Aku baik-baik saja.”
“Ayo, biar kau istirahat.”
Lia mengangguk. Bangun perlahan menuju sofa yang ada disana dan membaringkan tubuhnya.
‘’Tidurlah di kasur kita Lia,” ucap Rey.
“Apa kau bilang?’’ Lia tertawa kecil, “baik, aku akan tidur di lantai.” Dan benar saja perempuan itu turun dari sofa dan benar-benar tidur di lantai.
“Lia,” suara Rey mulai bergetar.
“Pilihanku hanya dua, lantai dan sofa. Kau tak ingat?’’ entah kenapa air bening dari sudut mata kanannya turun begitu saja. “Masih dua hari kita menikah. Jika merasa terlalu muak dengan diriku, besok aku akan berkemas. Kita pisah rumah saja.” Lia merasa kedinginan karena tidur di lantai, dia kembali merengkuh dirinya sendiri. Ia mengantuk dan tertidur.
Rey menunggu beberapa menit lagi agar Lia tertidur pulas. Setelah di rasa cukup, rey mengangkat tubuh Lia ke atas kasur dan menidurkannya disana. Menyelimuti tubuh sang istri hampir seluruhnya.
Pria itu menatap dalam Lia. Kening perempuan itu tampak sangat mengerut, terpancar ketidakbahagiaan disana. “Lia,” ia meraih jemari Lia yang terasa dingin dan menggenggamnya.
‘’Lia..” panggilnya lembut namun tak membuat perempuan itu terjaga. Mungkin terlalu lelah. Rey memutuskan untuk berbaring disamping Lia, ia berencana untuk tidur sebentar untuk memeluk sembari menghangatkan tubuh Lia yang kedinginan.
__ADS_1
Rey menarik tubuh Lia ke dalam dekapannya, “kau tahu apa yang ku suka darimu ketika kau tidur? Kau selalu tak pernah terjaga walau badai menerjang. Dulu aku tak menyukainya, sekarang aku merasa beruntung.” Dengan lembut Rey mulai mengeratkan tubuh istrinya, mengusap puncak kepala dan sedikit memijat disana. Ia menoleh sebentar kearah jarum jam saat ini menunjukkan pukul tujuh malam.
“Selamat tidur pujaanku, istriku,”
***
Jam tiga dini hari, Lia menggeliat dan mengucek matanya pelan. Tidak ada kata terkejut, dia memandang dengan santai pada sang suami yang masih erat memeluknya. “Ah, aku begitu merindukan pelukan mu.” Bisik Lia.
Rey menggeliat dan sedikit melonggarkan pelukannya, Lia tersenyum. “Kau selalu manis kalau tidur, aku iri.” Perempuan itu memainkan jarinya di dada bidang sang suami dan sedikit menusuk-nusuknya. “Ternyata ku tinggal dua tahun kau begitu banyak berubah. Terakhir kau memelukku dulu dadamu tak seseksi ini, hahaha’’ Lia membungkam mulutnya dan tertawa kecil karena perilakunya sendiri.
Terlihat Rey mengerjap, Lia gugup. Namun jika ia kembali memejamkan mata, rasanya sudah terlambat. Pria itu sudah terlebih dahulu membuka mata. Mata cokelat Rey terlihat sayu dan terus menatap istrinya. Pikirannya kacau saat ini. Bagaimana cara mendiami istri yang begitu menggemaskan ini.
“Aku,,” Lia menelan ludah.
‘’Kau sudah bangun?’’
Di bawah sana, kaki Lia sedikit bergeser hingga membentur sesuatu. Mata sayu Rey seketika membulat. Lia yang sadar akan hal itu lansung berucap, “aku lapar,”
Astaga. Mengerikan sekali! Tidurlah Gilbird (Gilberd). Aku mohon. Rapal Rey hingga Lia sudah sampai di dapur.
“Kau terlihat pucat, ada apa?’’ tanya Lia.
‘’Tidak, aku hanya… anu.. lapar. Iya, lapar,” Jawabnya gugup. Kesan cueknya masih sama. Tenang, dia masih di bawah pengaruh kekecewaan yang sangat besar.
“Duduklah, aku akan memasak untuk kita.’’
Rey tak menyahut, dipikirannya sekarang adalah kenapa komitmen yang sempat ia buat dengan kuat, hanya dalam dua hari langsung runtuh. Secepat itu tembok kediamannya di hancurkan oleh seorang Lia. Oh, Lia. Aku bisa gila karena mu.
Rey mulai tenang setelah meminum segelas air hangat. Pastinya Gilbird juga suda sedikit tenang. “Hanya tersenggol sedikit saja kau langsung terbangun, dasar lemah!” omelnya pada sesuatu yang ada di dalam dirinya yang ia beri nama Gilbird. Lia menoleh kearah Rey,
“Kau bicara dengan siapa?’’
“Tidak ada.”
__ADS_1
Disamping itu, Lia terus memikirkan bagaimana caranya ia bertanya mengapa Rey begitu sangat membencinya saat ini. Padahal dulu sangat berbanding balik. Dia mengerti dirinya salah. Tapi apa harus sampai begini?
“Hem,” Lia berdehem, “makanlah. Maaf hanya seadanya.”
“Dari dulu kau selalu membuatkan ku sandwich. Kau tak berubah ternyata.”
Percakapan hangat dan hubungan yang mulai membaik tanpa disadari mulai merasuki sepasang suami istri ini.
‘’Aku memang tak berubah. Kau yang berubah,” Ucap Lia sendu.
Kunyahan Rey berhenti sejenak. “Aku tak ingin menceritakannya sekarang. Masih terlalu sakit jika harus di ingat.’’
“Aku mengerti,” Lia tersenyum. “Jika masih tak bisa menerima ku sebagai istri karena kau masih membenciku, bisakah kita berdamai dan kembali berteman saja?’’
Rey terdiam.
“Ah, baiklah. Kau tidak mau rupanya,” Lia masih tersenyum memamerkan deretan gigi ratanya. “Terimakasih,”
“Untuk apa?’’
“Karena sudah memindahkan ku ke ranjang,”
“Aku hanya kasihan.”
Lia tersenyum, “kasihan atau khawatir?”
Lia sepertinya tahu jawaban suaminya itu pasti akan sepedas cabai rawit dan sesakit sayatan pisau. “Ah, kau hanya kasihan. Apa pun itu, terimakasih Rey,” Lia menepuk pundak sang suami dan pergi ke kamar.
Beberapa langkah ia menjauh dari sang suami, “dua tahun lalu, aku hanya pergi mencari suatu keadilan. Kau dan aku sama-sama sakit, rasa itu tak bisa kita tanggung begitu saja. Sang penyebab itu harus bertanggung jawab Rey.” Ungkapnya dalam hati.
“Aku tidak bisa membiarkan kehidupan yang seharusnya bahagia, pupus begitu saja hanya karena satu orang, dia harus bertanggung jawab. Tapi apa kau tahu Rey? Dua tahun itu juga aku sangat menderita dan harus kehilangan orang yang ku percaya.”
Kata-kata itu hanya bisa terlintas di benak Lia, rasanya ia tak punya kuasa untuk memberitahu. Toh, jika Rey tahu, dia pasti akan melarang niat dan tujuan Lia.
__ADS_1