KAU CAHAYAKU

KAU CAHAYAKU
Surat dari Goolwa


__ADS_3

Matahari sudah mau redup. Senja terlihat sangat merah kala itu. Sama persis dengan Lia, senyum di wajahnya juga redup. Sedari pagi ia sudah berusaha menghubungi Marcia dan Wilona namun tidak ada jawaban sama sekali.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.


Tak terhitung lagi berapa kali ia mendengar jawaban yang sama dari pihak call center. "Aduh, mereka kemana sih?"


Akhirnya Lia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan dia terus menggigit kuku jarinya, kegelisahan tampak jelas di wajah manis gadis itu.


"Kenapa lama sekali sampainya?" gerutu Lia, ia pun mendongak ke arah jalanan. Sudah gelap, namun masih terlihat nama-nama jalan serta alamat yang tertera pada beberapa toko. "Pak, sepertinya kita salah jalan."


"Pak,"


"Pak!" Lia menepuk pundak sang supir namun tidak digubris.


"Kalau mau merampok saya, Bapak salah orang. Nanti Bapak menyesal, mending turunin saya disini Pak,"


"Aish!" Lia menarik tangan supir itu hingga kemudi jadi oleng.


Citt! Mobil pun berhenti. "Apa-apaan ini?!" Mereka sedang berada di depan rumah Marcia. Sang supir pun membuka topi yang sedari tadi di pakainya. "Turunlah. Ada yang ingin bertemu denganmu,"


"Ha?" Meski kebingungan, Lia menurut juga. Dia sudah menarik tangannya ke depan, mematahkan kepala ke kiri dan ke kanan, tanda bahwa ia siap menyerang jika diperlukan.


"Pak Bram, ini orangnya."


"Baik. Kalian tetap berjaga di sini." Ucap Bram pada salah satu anak buahnya yang menyamar jadi supir taksi beberapa saat tadi.


"Nona Lilyana Wijaya," Sapa Bram.


Lia menaikkan alisnya sebelah, "Bapak kenal saya?"


"Tentu." Jawabnya.


Karena aku juga ikut membunuh ayahmu.


"Tak perlu banyak tanya, aku hanya ingin memberikan ini padamu." Bram menyodorkan sebuah amplop putih.


"Apa ini?"


"Buka saja setelah kami pergi."


Dan benar saja, saat Bram mengangkat tangannya sebelah, semua bawahannya bergerak mundur menaiki mobil masing-masing. Tinggallah Lia seorang diri di depan gerbang rumah Marcia.


"Marcia,"


"Marciaaaa, Wilonaaaa"


"Huff, kemana mereka ya?" Gumamnya. "Ah, taksi sialan! Aku harus pergi ke rumah sakit lagi."


Ia pun bergegas pergi ke rumah sakit. Sesampainya di kamar inap Wilona, Lia hanya menemukan ranjang yang terlihat rapi. "Apa ini?" Ia membolak-balik amplop yang terletak disitu. "Tidak sampai satu jam aku sudah dapat dua surat, apa yang sebenarnya terjadi?"


Untuk : Lilyana Wijaya.

__ADS_1


Itu nama surat yang temukan di kamar inap. Sementara dari Bram,


Surat dari Goolwa.


Lia ingin membuka satu persatu, namun terhenti karena perawat masuk hendak membereskan tempat itu. Ia pun pergi dari sana.


***


Di kamarnya, Lia mengambil amplop dari kedua sahabatnya. Ia pun membuka lalu membacanya.


Dear Lia,


*Kami harus pergi ke Goolwa untuk menjumpai Sergio San. Menikah dan berbahagialah. Aku, Wilona, akan sangat merindukanmu.


Tenang saja, urusan ayahku biar kami yang tangani. Kau harus bahagia Lia.


Salam sahabat, Wilona dan Marcia**.


"Dasar para wanita gila! Tega sekali meninggalkan diriku disini. Mana mungkin aku menikah tanpa ada mereka kecuali mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini." Gerutunya.


*Surat dari Goolwa


Mayat kedua sahabatmu sudah ada disini. Jika kau ingin menyusul seperti mereka, kemari lah*.


Lia berusaha mencerna semuanya. Apa arti kedua surat ini? Keningnya kian mengerut. Apa ini? Mayat? Goolwa? Apa ini?!


***


"Rey, Lia kenapa?" tanya Ibu Lisa. Namun Rey tak menjawab. Karena dirinya pun tak tahu alasannya.


Rey memejamkan mata. Mengulurkan tangannya, kemudian mengetuk pintu. "Lia, ini aku."


Setelah beberapa lama, pintu pun terbuka. Mata Lia sangat sembab dan wajahnya kelihatan pucat. Bibirnya keluh untuk mengucapkan segala sesuatu. Rey melirik koper yang di tenteng gadis itu.


"Hei, ada apa? Ceritakan dulu, kita cari jalannya sama-sama." Bujuknya, sembari mengelus kepala gadis itu dengan lembut.


"Bang," Air matanya sudah keluar dengan pasti, "Lia sayang Abang. Tunggu Lia." Ucapannya terhenti, dia tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang.


"Memangnya kau mau kemana?" Rey pun mulai panik.


"Tunggu Lia," suaranya terlalu sendu kali ini. Hingga Ibu Lisa dan Nina pergi dari sana. "Secepatnya Lia pulang Bang."


"Omong kosong apa lagi ini." Suara bas Rey sangat terasa. Dia merasa sangat dipermainkan. Selalu saja gadis ini menyuruh untuk menunggu, sesaat sesudah itu menyuguhkan harapan, lalu mencampakkannya kembali. "Kau sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkanku," lirihnya.


Pundak Lia bergetar saat Rey mencengkeramnya. "Maaf, tapi aku harus pergi."


"Lia!" Bentaknya dengan menahan emosi. "Aku mohon," kepalanya jatuh ke pundak gadis itu, dirinya terlalu lemah untuk melawan kehendak sang kekasih. "Setidaknya beritahu alasannya."


Lia menggeleng. Karena dia sudah pernah berjanji tidak akan pernah membahas pria misterius lagi. "Lia belum bisa." Gadis itu menangkup wajah Rey dengan kedua tangannya. Tatapannya tampak teduh. Ia mendekat dan menarik tengkuk pemuda itu, mengecup bibirnya sekilas. Lalu pergi dari sana.


Sampai Lia sudah berada di bandara, gadis itu belum bisa mengubah keputusannya. Sementara Rey hanya bisa mengurung diri di kamar.

__ADS_1


***


Sebulan setelah hal itu terjadi, Rey jadi semakin pendiam. Ia tak menyangka dirinya akan dikhianati dengan cara seperti ini.


Ia tak lagi bisa melihat cahaya dengan benar. Hingga orang tuanya membawa ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan.


Obat-obatan yang di konsumsinya membuat telinganya kian mendengung. Sampai tak bisa mendengar dengan baik lagi.


Namun suatu hari, Rey berjalan keluar dari rumah sakit dengan linglung. Di depan rumah sakit itu tampak ada kerumunan orang-orang sedang melihat sesuatu. Dia tak penasaran, namun entah kenapa langkahnya mengarah ke sana.


Banyak orang minta tolong agar menyelamatkan dua gadis yang baru saja di tabrak oleh sebuah mobil. Rey mematung memandangi dua gadis itu. Lalu pergi begitu saja.


"Hei! Pakai matamu!"


Rey tak mendengar, ia melenggang masuk ke taman rumah sakit yang agak sepi.


"Ah, sombong sekali orang itu."


"Eh? Kau siapa?"


"Tidak tahu, aku saja tidak tahu siapa diriku. Saat aku bangun aku melihat jasad mu di sana."


"Eh, berarti jasad mu yang ada di samping ku tadi ya?"


"Ah, jangan-jangan kita meninggal karena aku ingin menyelamatkanmu, ternyata kau penyebabnya."


"Dengar ya, Junior, siapa tahu aku yang ingin menyelamatkan mu, tapi kau keras kepala hingga kita di tabrak."


"Tidak mungkin. Lagian kenapa kau memanggil ku Junior?"


"Aku yang terlebih dahulu meninggal dari mu, jadi aku senior mu."


Hantu Junior mendecak, "Terserah. Senior dua menit saja belagu."


"Siapa yang belagu?" Tatapan tidak suka terpancar dari hantu Senior.


"Tentu saja kau!"


"Aish! Anak ini!"


"Hantu ini," ralat si Junior.


"Bisa tidak kalau kalian diam?"


"Eh? Kau bisa mendengar suara kami?" Tanya si Junior.


"Memangnya kalian ini apa sampai aku tidak bisa melihat dan mendengar kalian?" Ia mendongak. Matanya terbelalak. Baru sekali ini dia terkejut setelah Lia pergi meninggalkannya. "Tunggu, bukannya kalian ini," Rey mencoba mengingat.


"Benar sekali. Kami baru saja meninggal." Tutur Senior.


"Aku masih waras kan?" tanya Rey pada mereka.

__ADS_1


Hantu Junior pun geram, "Sayangnya tidak, kau sudah gila."


__ADS_2