
Jalanan tampak sepi pagi itu. Matahari sudah tak malu-malu lagi menampakan dirinya kepada penghuni bumi. Itu saat yang baik bagi keluarga Rey karena hari ini dirinya sudah bisa pulang setelah berhari-hari harus berbaring di rumah sakit.
Sebenarnya anak lelaki itu sudah lupa berapa lama ia tak bertemu dengan gadis manis nan misterius yang menusuk lengannya tempo hari. Bukannya takut untuk bertemu, Rey lebih mengkhawatirkan Lia akan bertindak
semakin jauh.
“Huff,” keluhnya.
“Ada apa Rey?’’ tanya sang Ayah.
“Tidak apa-apa Yah, aku hanya.. rindu rumah.”
Nina mengusap kepala anaknya, “kau sudah tak sabar pulang ke rumah atau rindu pada Lia?’’ goda Ibunya.
Rey menyengir, “aku lebih rindu Ibu” ia pun memeluk Ibunya dari samping.
“Berhubung hari ini kalian sebagai Nyonya dan Tuan Muda dan aku jadi supir, ku biarkan kalian bersenang-senang di belakang. Sampai di rumah nanti aku tidak mau tahu, pelukannya harus bertiga.”
“Ah, lihatlah ayahmu itu, cemburuan sekali dia, hahaha.”
Rey menanggapi dengan tertawa kecil. “Oh iya Bu, kalian tidak marahkan pada Lia?” tanyanya serius.
Nina tersenyum dan mengusap puncak kepala Rey, “tentu saja tidak. Terimakasih sudah jadi pemberani,” kemudian mengecup kening anaknya.
Rey mengangguk. Betapa beruntungnya punya orangtua yang pengertian seperti ini. Malah semakin mendukung dirinya untuk bisa merubah Lia kembali seperti dulu.
Di tengah merekahnya senyum Rey, tiba-tiba mobil yang kendarai oleh ayahnya berhenti. Terlihat di depan sana ada pria berjubah hitam. Atas sampai bawah semuanya hitam. Siapapun yang melihat itu pasti tidak akan bisa mengenali siapa orang di balik busana serba hitam itu.
“Jangan kemana-mana. Ayah akan mengurus orang itu,” Ucap Bima. Sebelum keluar ia menoleh sebentar pada anak dan istrinya yang terlihat sangat takut. “Tenanglah,” ucapnya.
Bima pun keluar menghampiri sosok misterius yang menghalangi perjalanan mereka. “Ada urusan apa anda mengahalangi jalan kami,” tanya Bima baik-baik.
“Aku benci kau dan sahabatmu!”
Bima berusaha mencerna maksud dari perkataan pria yang ada di hadapannya itu. “Sahabatku? Seto Wijaya maksudmu?’’ tanyanya memastikan.
“Dia sudah mati. Dan aku yang membunuhnya. Hahaha”
Bima tetap tenang ditempatnya meski jauh di dalam dirinya ada yang memanas. Mudah sekali bibir pria ini mengaku bahwa dia yang membunuh sahabatnya. Tak tahu harus berbuat apa, akhirnya dia bertanya, “Kenapa kau membunuhnya? Apa maumu?’’
Sosok misterius itu tertawa sumbang dan terdengar mengerikan. “Kau dan sahabatmu itu sama-sama munafik! Kalian berdua harus mati!”
Terjadilah perang tangan kosong di antara keduanya. Hal itu disaksikan oleh Nina dan anaknya. Rey berteriak dan berlari keluar hendak membantu sang ayah. Karena hal itu, konsentrasi Bima buyar setelah di satu pukulan mendarat di wajahnya.
“Ayah!!” teriak Rey.
“Hei anak kecil, kemarilah.” Sosok berbaju hitam itu menengadahkan tangannya ke arah Rey supaya dia mendekat. Dan ya, Rey berjalan mendekati pria itu. Namun tak di sangka Rey membawa sesuatu di tangannya.
Pukkk!
Rey berhasil melempar mata si penjahat itu dengan batu. “Rasakan itu penjahat sialan!” umpatnya. Dengan kesempatan itu Bima menyerang kembali musuhnya. Saat musuhnya sedikit lengah, Bima menarik Rey ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Nina masih saja menangis di kursi belakang. “Sudahlah sayang, kami tak apa-apa.” Bujuk suaminya.
Dengan erat Nina memeluk Rey. “Kalau sampai aku kehilangan salah satu dari kalian, aku tidak akan tahu harus bagaimana lagi, hiks, hiks”
Bima tertawa. “Ku kira dulu setelah punya anak kau tidak mencintaiku lagi, ternyata kau masih sama, hehehe”
“Aih, dasar kau ini!” Nina memukul pundak suaminya dari belakang dengan gemas. Namun belum bisa tertawa.
“Aku jadi penasaran, siapa di balik sosok misterius itu.”
“Jangan dipikirkan, itu urusan Ayah,” Bima menoleh ke belakang sebentar memberi tatapan meyakinkan.
Rey mengangguk.
***
Kasus penusukan yang dilakukan Lia membuat sang ibu jadi naik darah. Dirinya yang terkenal lembut dan bijaksana untuk pertama kalinya menampar pipi Lia. Dan sampai hari ini tak mau berbicara sepatah kata pun dengan putrinya. Sungguh kekanak-kanakan. Namun itu harus dilakukan supaya Lia merasa bersalah. Minimal
sedkit saja.
Dengan keadaan tetap gelap, Lia menunduk dalam. Sudah dua hari ia tak keluar kamar, dia sedang marah. Marah dengan dirinya sendiri. Kenapa dia terpengaruh oleh perkataan pembunuh itu. Gelap itu indah. Cih! Nyatanya membuatku jadi setengah roh jahat.
Perutnya mulai keroncongan. Ibunya benar-benar marah. ‘’Ibuku bisa marah ternyata,” gumam Lia. “Dan aku tak menyangka bisa setega itu membiarkanku tak makan selama dua hari, cih! Aku benar-benar terlantar sekarang.”
Lia berjalan menuju jendela dan membukanya. Membiarkan sinar mentari masuk. Ia sangat merindukan hal itu ternyata dan dia baru menyadarinya setelah kejadian yang mengenaskan itu. Ah, sial!
Dia beralih melihat buku-bukunya yang terlihat seram dan berantakan di tempat tidurnya. “Sudah berapa lama aku jadi orang bodoh?’’ Lia bertanya pada dirinya sendiri.
Lia mulai meraih satu persatu segala benda yang berserakan. Dalam sekejap kamarnya sudah normal seperti dulu-dulu saat ayahnya masih hidup. Dia berjalan sambilmenatap foto keluarnya. Ada ayah, ibu dan dirinya.
“Maaf Ayah,” ucapnya lirih. “Aku sendiri tak menyangka bisa berbuat sekeji itu di usia ku yang masih sedikit. Aku akan berubah. Aku tak akan nakal lagi. Dan aku, aku.. aku akan minta maaf pada anak laki-laki itu.”
Beberapa saat kemudian, cacing-cacing di dalam perut Lia tampak berdemo. “Aih, diamlah. Sabar, aku akan keluar dan memberi kalian makan. Jadi diamlah, ssttt”
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dan Lia langsung menghambur ke dalam pelukan Ibunya. “Aku bisa saja melaporkan Ibu pada komisi perlindungan anak karena tak memberiku makan,” omel Lia sembari menangis.
“hahaha, aku juga bisa melaporkanmu ke polisi karena hampir saja membunuh anak orang. Dan kau pikir aku tak lelah menunggumu untuk keluar dari kamar ini? Setiap saat aku menunggumu Lia, tapi kini aku yakin kau memanglah anak kandungku, karena ego dan gengsi kita setingkat, hahaha”
Lia cemberut namun tertawa juga. Hari ini sah, Lia sembuh.
Lisa menyendok bubur ayam kesukaan Lia kedalam mangkuk dan di sambut dengan lahap oleh putrinya itu. Sekarang Lisa benar-benar menyesal telah menghukum putrinya. “Makan yang pelan, jangan seperti kerasukan.”
“Apa yang kau lakukan Lia?! Rey bangunlah Nak,” Lisa meminta tolong kepada asisten rumah tangganya untuk memanggil ambulan dan membawa Rey ke rumah sakit secepat mungkin. Sekembalinya ia dari sana, raut kemarahan yang tak pernah muncul hari itu harus di saksikan oleh putrinya.
“Aku kehilangan ayahmu dan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupmu Lia! Kau minta ini itu aku berikan dan kabulkan secepat mungkin. Hingga kau meminta untuk bergelut dalam kegelapan aku berikan Lia,” teriak Lisa dengan histeris.
“Sekarang kau meminta nyawa orang? Ha?!” Lisa mencengkram pundak Lia dengan sangat kuat, air Lia itu mulai turun.
“Apa sebenarnya mau mu? Apa kau ingin sama seperti pembunuh ayahmu itu, ha? Jawab aku Lia!”
__ADS_1
Plak!
Pipi kanan Lia memerah. Gadis itu tak berani menangis mengeluarkan suara. Dengan kuat ia menggigit bibir bawahnya. Namun belum sanggup mengucapkan kata maaf.
“Aku Cuma punya kau Lia, hanya tinggal kau, aku mohon, jangan seperti ini. Jangan buat aku menyesal sudah melahirkan mu ke dunia ini!!” Lisa berjongkok dihadapan Lia yang sudah menangis tersedu.
“Keluar,”
“Ibu,” ucap Lia sesenggukan.
“Keluar dari rumah ini! Aku tak pernah melahirkan anak psikopat seperti mu, pergi!”
“Tidak, Ibu.. jangan” Lia berlari memeluk sang Ibu. Namun di lepas dengan kasar oleh Lisa.
“Kau yang pergi atau aku Lia?!” bentaknya dan membuat Lia meringis ketakutan.
“Maaf, Bu.. “ ucapnya sesenggukan. “Aku tidak akan seperti ini lagi. Aku akan ikhlas dengan kepergian ayah. Aku tidak akan balas dendam. Aku akan kembali seperti dulu. Aku juga akan sekolah Bu… hiks, hiks”
Lisa keluar dari kamar Lia dan membanting pintu dengan keras.
“Huaaaaa… huaaa”
Lisa keluar dan menyeka air matanya. ‘’Ah, kenapa tak dari kemarin saja ku buat seperti ini, pasti dia akan lebih cepat kembali. Bodohnya aku,” gerutu Lisa.
Lamunan Lisa buyar saat Lia meminta bubur lagi. “Ibu sedang membayangkan apa?’’
“A.. apa?’’
“Ibu senyum-senyum sendiri dari tadi.”
“Oh, Ibu hanya teringat kejadian dua hari yang lalu, hehehe”
“Ah, aku benar-benar kesal saat Ibu menamparku. Seharusnya ku video saja, biar viral.”
“Setelah viral mau kau kasih judul apa?’’
“Mmm, apa ya? Ibuku sayang Ibuku kejam mungkin,” jawabnya acuh.
Lisa tertawa kecil. “Dan setelah melihatmu makan selahap ini setelah mengurung diri selama dua hari, ini cocok di beri judul azab anak mirip ibunya.”
Lia tertawa. Dan ibunya sangat bahagia hari ini. Suara deru mobil dari luar membuatperhatian keduanya teralihkan. “Cepat habiskan makananmu, setelah itu bersiap kita akan melakukan upacara.’’
“Ha?”
“Upacara permintaan maaf. Cepat sana,”
Lia terlihat cemas, “tidak bisa besok ya Bu?”
“Tidak,” Lisa menggeleng.
Lia menggigit sendok mengingat kejadian saat dia terlihat begitu seram dihadapan anak lelaki itu.
__ADS_1
“Tolong aku Bu………”