KAU CAHAYAKU

KAU CAHAYAKU
Baikan


__ADS_3

Sudah hampir sebulan pernikahan Lia-Rey berjalan. Belum ada kemajuan dalam hubungan mereka. Dan Lia setelah hari itu, dirinya tak pernah lagi tidur di ranjang. Ia berusaha memahami perasaan sang suami yang mungkin tak menginginkan dirinya.


Meski tak banyak berkomunikasi, keduanya sempat membuat kesepakatan. Yaitu tetap baik-baik saja saat kedua orangtua mereka disana. Seperti hari minggu ini, dua janda yang masih sangat awet itu sudah berada di ruang tamu untuk membicarakan sesuatu yang layak di hadapan pasangan baru.


 “Cu..cucu?’’ tanya Lia memastikan dengan gugup.


Ibu Nina tersenyum, “ah lihatlah wajah menantuku ini sangat menggemaskan kalau gugup. Iyakan Lis?’’


“Awal-awal kita memang malu-malu. Apalagi untuk pengalaman pertama. Tapi jika sudah mencoba untuk kedua kali dan seterusnya, kau akan mengetahui rasanya tidak tahu malu saat meminta itu,” ujar Ibu Lisa sembari menutup mulut tertawa geli.


Lia dan Rey saling lempar pandang dan sama-sama tersenyum getir.


“Kami akan berusaha,” ujar Rey.


 “Ah, sepertinya kita harus pergi Lisa, anak-anak kita sepertinya ingin melanjutkan kemesraan, kita jangan mengganggu.” Nina menarik tangan besannya dengan cengengesan.


“Tak usah menjanjikan sesuatu yang benar-benar sangat mustahil.” Lia berbicara dalam keseriusan.  Tatapannya mengarah ke sembarang tempat.


“Hanya menyenangkan mereka,”


Lia berdecih dan hal itu membuat Rey menoleh, “pikirkan kebahagiaanmu terlebih dahulu, baru orang lain.”


Rey tidak menanggapi. Sungguh semakin meningkat bakat mereka setelah beberapa lama ini memainkan peran dengan sangat baik, hingga kepribadian itu hampir melekat. Pribadi yang selalu diam dan membenci. Apa susahnya sih jika duanya berdebat membicarakan soal itu, toh jika sudah diluapkan akan merasa puas. Tapi semua orang berbeda pendapat ya saudara, jika dipercepat seperti itu latihan kehidupan untuk lembaran selanjutnya akan terasa sangat biasa, bahkan paragraf demi paragrafnya tidak akan terasa lagi.


“Kau sudah puas mencari kebahagiaanmu dua tahun?’’ sindir Rey.


Lia tersenyum sumbang, terbesit di benaknya apakah kepergiannya yang dua tahun lalu adalah pokok permasalahan mereka. Ya sudahlah, lagian Lia sudah mengambil keputusan untuk tak ambil pusing. Dia sudah muak.


“Pergilah berkencan dengan orang lain agar bisa  memberi cucu pada orang tuamu. Dan aku juga akan melakukan hal yang sama. Anggap saja kita sama-sama masih lajang. Kau bebas Rey,” kali ini Lia menatap Rey. Keputus-asaannya dalam memperbaiki pernikahannya dalam sebulan ini sangat sia-sia. Dia sudah berusaha menjadi istri yang baik walau selalu diabaikan.


“Benar-benar semunafik itu dirimu. Kau yang berubah Lia,”


Lia tertawa sumbang, “Kau tahu? Aku bukan artis sinetron yang tahan situasi seperti ini. Aku bukan ratu kesabaran suamiku, oh ayolah. Kau pasti tahu bagaimana penderitaanku selama kita menikah. Dan aku juga tahu, kau sangat menderita dekat denganku.”


“Apa maksudmu?”


“Mari berpisah.” Hanya dua kata itu yang mampu di ucapkan Lia sekarang. Dia menegakkan tubuhnya dan mempertegas tatapannya. “Istri mana yang tahan di diamkan dan diabaikan oleh suaminya terus menerus? Saat pagi itu, saat aku menemukanmu memeluk diriku karena aku ketakutan, aku bahagia. Sangat. Ku kira itu adalah pintu menuju baiknya hubungan kita.” Lia menangis dengan alami, tidak ada ke pura-puraan disana.


“Kau jahat Rey,” sambil menahan tangisnya, perempuan itu menggigit bibir bawahnya. “Kau jahat…” Lia mencengkram kerah baju suaminya, “Pukul aku jika salah. Tegur dan marahlah kepadaku jika kau sebal, cambuk saja jika itu membuatmu tenang. Aku mohon,”


“Katakan apa salah ku, supaya aku tahu bagaimana cara memperbaiki diri, Rey! Aku capek, aku sakit, aku, hiks, aku merindukanmu, sangat.”


Pecah sudah segala yang terpendam di hati Lia. Adalagi, dia belum mengumpat.


“Suami sialan! Kenapa kau datang dulu sebagai cahaya sampai aku lupa nikmatnya gelap dan sekarang aku sangat takut gelap. Itu karena kau, karena kau Rey!” Lia menjambak rambutnya prustasi.


“Aku sudah tidak tahan. Ceraikan aku,” Pinta Lia dalam tangisnya. Tangannya ia satukan untuk memohon,


“Lebih baik melihatmu tersenyum bahagia dengan yang lain daripada membiarkanmu menderita bersama ku.” Lia membungkam mulutnya dan berlari keluar dari rumah.


Rey tidak mencegahnya. Dia masih mencerna semua yang di katakan oleh istrinya itu. Sudah level tingkat berapa kejutekan dan kejahatannya pada Lia. Dia sungguh frustasi sekarang. Dia jadi merasa bodoh. Kenapa dia tidak langsung berterus terang saja, bahwa dua tahun lalu ia sangat membutuhkan Lia, karena itu adalah saat-saat terpuruk baginya.


***


September 8, 2015

__ADS_1


Dibawah sinar mentari, di tepi kolam renang. Rey terpaku menatap air disana. Sangat tenang.  Dia menghitung-hitung hari dan waktu setiap malam, dan berharap istrinya kembali. Menyesal tiada guna untuk sekarang.


Diingatnya saat umur mereka masih sedikit, saat Lia menusuk tangannya, menatapnya tajam, cuek, lalu seiring berjalannya waktu berubah menjadi gadis yang manis, imut dan menggemaskan. Relung hatinya tak pernah berkata bosan untuk satu sosok seperti Lia. Pria itu tersenyum.


Semalam


dia berdiri sangat lama di balkon menatap purnama. Mencoba berbicara pada setiap cahaya di malam itu, seakan bertanya di keberadaan wanita yang sangat ia cintai itu. Semuanya bungkam, seolah tak ingin pria itu bersama kembali dengan istrinya. Kedua orangtua mereka pun tak mengerti harus mengambil langkah yang mana. Namun perkataan dari mertua sedikit membuat Rey galau, “jika dia tidak berbahagia denganmu, jauh lebih baik dia pergi.”


“Rey,” Nina menepuk pundak anaknya. “Habis berenang?”


“Em,” Rey mengangguk.


“Ini adalah hari ulang tahun Lia. Hari yang paling bersejarah dalam hidupnya. Ibu kenal kamu, cari dan temukan dia, bicaralah baik-baik.”


“Terimakasih Bu.”


“Mau petunjuk?’’


“Apa?’’


“Ikuti kata hatimu, dimana seharusnya Lia berada sekarang.”


Rey menyandarkan tubuhnya ke kursi panjang. Menikmati sinar matahari yang mulai menyengat di kulit. Rey mulai memejamkan mata dan mulai meningat-ingat dimana tempat biasanya Lia berada pada hari peringatan kelahirannya.  “Aku rasa aku tahu dimana dia Bu,” Rey berlari ke dalam rumah, bersiap untuk pergi.


Sebelum dia benar-benar meninggalkan rumah, ia berlari lagi pada sang Ibu. “Kenapa kembali?’’


“Minta restu Bu,” Rey telapak tangan sang Ibu. Barulah ia tenang dan siap pergi.


 ***


Perempuan yang dipanggil pun berbalik setelah mengenali pemilik suara.


‘’Rey, Auh”


Rey menubruk tubuh Lia dan memeluknya sangat erat. Nafasnya masih terengah-engah karena mengebut sepanjang jalan dan berlari dengan kencang untuk sampai ke tempat ini.


Hembusan nafas Rey mulai tenang. Perlahan ia mengendurkan pelukannya. Dia hanya diam. Tak ingin bersuara. Berulang kali mengucapkan kata maaf di dalam hati, huh, dasar pengecut..


“Tempatnya masih tetap bagus,” Rey mengalihkan pembicaraan setelah saling beradu pandang. Sejujurnya keduanya sama-sama bingung membuka topic pembicaraan. Meski telah berpisah beberapa lama, tapi ikatan batin mereka tetap kuat dari dulunya. Hingga seribu kesalahan pun akan kalah dengan dengan hati yang luluh.


Lia mengangguk canggung, perlahan mundur dari sang lelaki yang tentunya masih sah jadi


suaminya. Ada jejak kesenangan disana. Bagaimana tidak, hari yang sangat dia impikan pun terjadi. Rey, sahabatnya sekaligus suaminya sudah tak beku lagi terhadap dirinya.


Bangunan kecil yang sengaja dibeli Rey untuk Lia saat ulang tahunnya dulu, menjadi tempat favorit mereka beberapa tahun yang lalu. Lia akan selalu ke tempat ini setiap dia ulang tahun. Karena Rey menyulap tempat itu menjadi tempat kenangan paling indah, foto-foto keluarganya dan Lia di satukan semua. Dan pastinya sangat banyak foto-foto ayah mereka di pajang di sana.


Lama mereka saling diam dan hanya memandangi barang-barang disana, canggung level dewa pun tercipta diantara kedua pasangan ini setelah berpisah dan tak bertemu beberapa lama ini.


Lia berjalan pelan-pelan menyelusuri ruangan itu. Disentuhnya satu-satu foto yang di pajang disana, dirinya pun terhenyak saat memandangi potret dirinya dengan mendiang ayahnya.


“Aku merindukanmu,” Lia berkata sangat pelan. Kenangan manis dengan sang ayah hanya beberapa tahun saja ia nikmati, setelah insiden yang mengerikan terjadi pada keluarganya ia tak lagi menciptakan suasana yang indah dengan ayahnya. Bukan tak mau, namun tak bisa lagi.


Dia berjalan lagi, melihat sosok sang suami saat masih kecil bersama mendiang mertuanya, dia jadi hampir menangis. Sekilas ia menoleh ke arah Rey, ada raut rindu yang mendalam yang terpancar darinya. Lia tak tega. Ia pun membuang muka.


“Astaga,” gumam Lia.

__ADS_1


Melihat sofa tunggal yang ada diruangan itu membuat Lia jadi panas mendadak. Wajahnya merah


pucat. Sebelum Rey menyadari hal itu, Lia buru-buru keluar.


“Lia,” cegah Rey dan menangkap pergelangan tangannya. “Tolong, jangan pergi lagi.”


Perempuan itu pun seketika langsung mengangguk. Ia sangat takut sang suami menyadari kenangan yang memalukan saat melihat sofa yang ada disana. Untunglah sampai mereka keluar, Rey tak ada membahasnya sedikit pun. Lia pun lega.


“Lia,” Rey menarik tangan sang istri. Lia pun menoleh.


“Hem?’’


Tatapan dalam nan sendu dan juga ada kesedihan terpancar dari wajah tampan Rey. Lia tak sanggup mengabaikannya.


“Selamat ulang tahun,”


Spontan Lia tersenyum, “terimakasih. Kau masih marah padaku?’’ tanya Lia, sembari tertawa


pelan.


Rey menggeleng. “Mungkin kita salah paham. Aku begitu bodoh belakangan ini, karena satu wanita telah meninggalkan aku selama dua tahun. Dia datang lalu menjadi sangat cantik dan seksi,” sindirnya.


Lia tertawa lagi. “Mari kita bicara setelah ini.”


Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan Rey, mulai dimana gadis ini tinggal, makan, pakaiannya bagaimana, semua sudah di tanyakan oleh pria itu.


“Tenang saja, uangku banyak, aku bebas kemanapun. Kalau aku malas pulang ke apartemen, aku menginap di kantor.” Jawab Lia panjang lebar. Tentu dengan senang hati. Perempuan itu merasakan ada aura masa lalu yang telah kembali. Rey, sang suami, is come back!


“Seperti dejavu,” ucap Lia ketika keduanya bersandar di mobil bagian depan.


“Hem?’’


“Ulang tahun, rumah kenangan, ada kau dan aku,”


“Dan ada sofa tunggal,” sambung Rey.


“Iya. Eh?” Lia terpingkal. “Ku kira kau amnesia, ternyata ingatanmu tajam.”


“Soal yang begituan mana pernah aku lupa,”


“Cih,”


Benar-benar telah kembali kepada diri mereka masing-masing. Meski masih banyak masalah yang terselip di hati, setidaknya Rey dan Lia berbaikan sekarang.


“Sudah mau sore, ayo pulang,” ajak Rey.


Disambut anggukan kepala dari snag istri. “Tapi ada syaratnya,”


“Apa?’’


“Jangan mengabaikan ku lagi.” Bibirnya di setel manyun.


“Hahaha iya. Aku sudah kehilanganmu dua tahun, aku tidak mau jadi orang bodoh kedua kalinya. Mari kita selesaikan masalah ini,”


“Ayo,” Senyum Lia mengembang. Dan keduanya pun akhirnya memutuskan untuk berangkat ke apartemen Lia terlebih dahulu untuk mengambil beberapa barang yang penting, setelah itu kembali ke rumah Rey. Begitu akhirnya rencana yang mereka sepakati.

__ADS_1


__ADS_2