KAU CAHAYAKU

KAU CAHAYAKU
Pak Bram


__ADS_3

Saat di Goolwa, Lia di jaga dengan baik oleh Bram. Padahal seingat wanita itu, Bram adalah pria yang memberinya surat kabar kematian dua sahabatnya. Tapi kenapa pria itu begitu perhatian kepadanya saat dirinya ada di Goolwa? Bahkan pria yang tidak terlihat terlalu tua itu sesekali memberi informasi penting yang di butuhkan oleh Lia.


Hari ini ia mendapat email dari Pak Bram.


Lia, makam mereka ada di sekitar rumah Marcia. Tanya saja di mana kuburan warga setempat, aku menunggu mu di sana. Ada yang ingin ku beritahu.


Rey baru saja keluar dari kamar mandi, ia mendapati istrinya tengah menatap layar laptop dengan termenung. "Ngapain Dek?"


"Eh, anu."


Beban itu sudah sangat berat jika ditutupi oleh satu orang saja. Lia ingin sekali meminta tolong pada suaminya supaya dapat menemaninya pergi menemui Pak Bram hari ini.


"Tidak ada apa-apa Bang," Lia beranjak ke arah lemari, mencari baju santai untuk suaminya itu kenakan.


"Warna putih sepertinya lebih cocok denganku," jawab Rey saat Lia bertanya warna apa yang pria itu mau pakai.


Setelah selesai berpakaian, Rey mulai mengambil alih laptop. Lia sengaja menunjukkan isi email itu terpampang di sana berharap suaminya akan bertanya. Namun hanya di tutup begitu saja oleh pria itu, benar-benar tidak peka.


"Bang," panggil Lia dengan nada yang sedikit kesal.


"Hem?"


"Pak Bram mau ajakin Lia ketemuan. Boleh tidak?"


Pria itu mendongak, "Pak Bram? Siapa itu?"


"Tangan kanan Sergio San." Jawabnya. Jangankan Bram, nama Sergio San pun tak pernah sekalipun mendarat di telinganya.


"Mereka siapa?" tanyanya lagi. Lia menarik tangan suaminya. Ketakutan untuk jujur di undurnya dulu, dia hanya perlu seorang pelindung sekarang.


"Bantu Lia Bang, Lia janji bakalan jelasin semuanya setelah ini."


Sang suami memanglah tidak mengerti. Tapi jika menurut untuk saat ini, di kemudian hari pasti dia akan mengerti. "Iya. Lia mau minta bantuan apa?"


***


"Yakin ini tempatnya?"


Lia mengangguk, sesekali merapikan kaca mata hitam yang ia gunakan. "Katanya sih dekat rumah Marcia, hanya ini kuburan di daerah ini."


"Auh, kaget!" Teriak Rey.


Lia melepas kacamata hitamnya, ia tersenyum bertemu kembali dengan pria paruh baya yang sudah dianggapnya seperti ayah angkat selama dua tahun ini.


"Dia siapa?" tanya Rey, masih memegangi pundak kiri bekas tepukan Pak Bram yang datang entah dari mana itu.

__ADS_1


"Ini Pak Bram." Lia mengenalkan, "Pak Bram, ini suamiku"


Rey mengulurkan tangannya, memberi senyum sedikit, "Kau anak dari Bima Frank kan?"


"Hem," pria itu menoleh pada istrinya. Seolah bertanya kenapa Bram mengetahui nama ayahnya.


Lia tidak menggubris tatapan itu, ia fokus pada Pak Bram saja hari ini. "Hal penting apa yang ingin Bapak tunjukkin ke Lia?"


"Lewat sini," Bram merentangkan tangan kanannya ke salah satu tempat.


"Ha?"


"Sudah ikut saja, Bang."


Sesampainya mereka di sana, Bram seperti menyeka air mata, lantas Lia pun bertanya, "Bapak kenapa?" Tidak ada jawaban, "ini kuburan siapa Pak?"


"Marcia dan Wilona."


Benar saja, Lia termangu sebentar membaca nama di dua batu nisan yang bersampingan itu. Bahunya mulai bergetar, Rey merangkulnya, mengusap pundak sang istri supaya bisa tenang, sebab beberapa tahun yang lalu Rey sering mendengar curhatan wanita itu tentang kedua sahabatnya.


"Mereka sudah meninggal." Ucap pria paruh baya itu. Kemudian menoleh pada Lia yang sudah banjir dengan air mata, "surat yang ku berikan dua tahun lalu itu palsu."


"Jelasin ke Lia detailnya Pak, Lia mohon."


"Malam itu, mereka hendak pergi ke Goolwa, kami bertemu di bandara dan menyekap keduanya. Kondisi tubuh Wilona belum stabil hari itu, tapi ia memaksa untuk bertemu dengan Sergio San, Marcia pun tidak menolak. Hingga akhirnya di penyekapan mereka pingsan. Wilona benar-benar sekarat."


Bram menghembuskan nafas berat.


"Aku sudah berusaha menyelamatkan mereka. Tapi sudah terlanjur ketahuan oleh Sergio San. Dan aku dijuluki pemberontak hingga saat ini."


"Sergio San sengaja memecah belah kalian, dia merekayasa berita kematian mereka agar kau pergi ke Goolwa, sedangkan Marcia dan Wilona masih ada di sini. Hingga sebulan kemudian mereka meninggal dunia ketika mencoba kabur dari tempat penyekapan."


"Lia, maafkan saya."


Lia diam saja. Mengetahui kebenaran bahwa ia di bohongi dan masuk perangkap Sergio San membuat darah dendamnya jadi mendidih.


"Wilona adalah keponakan saya." Pengakuan itu membuat Lia menoleh.


"Apa?"


Rey yang tidak mengerti sama sekali arah pembicaraan ini hanya bisa diam saja. Alih-alih fokus mendengar, dia malah salah fokus melihat dua hantu yang terbengong di sana.


"Lia, Rey, ada lagi yang harus saya beritahu. Mungkin jika kalian mendengar ini, kalian akan sangat membenciku."


"Dengerin itu Rey, orang tua kalau ngomong tuh di dengerin," Ucap hantu Junior.

__ADS_1


Untung saja Rey tak jadi mendecak, kalau sampai hal itu terjadi, mungkin suasana canggung dan sedih ini akan ambyar begitu saja.


"Intinya saja Pak Bram," tegas Lia.


"Saat membunuh Bima Frank, saya ada di sana. Saya salah satu orang berjubah hitam yang membunuh ayahmu Rey,"


Pengakuan itu entah kenapa membuat dua hantu itu merasa sangat kecewa. Bahkan Lia biasanya saja, karena ia sudah menduga hal itu. Tidak mungkin sang tangan kanan tidak turun dalam melakukan tugas besar.


Rey memang diam, tapi dia tidak ambil pusing. Toh semuanya sudah berlalu. Eh, tunggu. Dia mulai mencerna arah pembicaraan ini, satu persatu nama-nama asing yang di dengarnya hari ini di persatukan dalam ingatannya.


"Masalah ayahku dan ayah Lia, itu sudah lama berlalu. Siapapun pelakunya, kami sudah memaafkan mereka." Ada nada berat di sana, "Sekarang jelaskan padaku, kau ini siapa?" tanya Rey mulai serius.


"Aku anak buah Sergio San. Dia adalah pria Misterius itu. Nama putrinya Marcia, gadis itu sudah meninggal." Jelas Bram.


"Bang, nanti Lia jelasin sama Abang, Lia kan sudah janji tadi."


Rey menoleh pada istrinya, kemudian mengangguk. "Baiklah." Balasnya.


Lia tersenyum lemah, melempar pandangannya pada pria paruh baya yang sudah ia anggap seperti ayah itu, mendekat lalu memeluknya. "Terimakasih sudah menjaga Wilona dan Marcia. Mereka sering bercerita tentang mu dulu, jadi aku tidak pernah membencimu Pak Bram,"


Bram merasa terharu, setidaknya kerinduannya pada Wilona bisa sedikit berkurang karena melihat sosok Lia.


"Anu, Lia."


Lia melepas pelukannya, "Ada apa Pak Bram?"


"Anu,"ia terlihat ragu, namun ini adalah kesempatan terakhir baginya, "bisakah kau memanggilku dengan sebutan Paman? Sekali saja. Aku begitu merindukan Wilona." Rautnya tampak sedih.


Lia mengangguk. "Aku permisi pulang, Paman," ia berjalan mendekat pada sang suami, "terimakasih untuk semuanya Paman Bram," timpal wanita itu dengan tulus.


Rey merangkul istrinya dan mulai menuntun agar menjauh dari kuburan.


Dorrr!


"TIDAK!!"


"Paman bangun, tidak-tidak, Lia belum siap tuk kehilangan lagi, Paman Brammmm!!" tangis Lia sungguh pecah, sungguh takdir begitu kejam padanya, semuanya direnggut dan dipisahkan oleh kematian.


"Siapa yang berani menembak mu? Siapa! Katakan Paman! Aku bersumpah akan membunuhnya, arggghhhh" Racaunya hampir tak terkendali.


Rey tidak tahu harus berbuat apa. Dilihatnya di sekeliling, ia tak menemukan siapapun. Tak beberapa ia mengedarkan pandangan, sebuah mobil hitam baru saja meninggalkan tempat itu. "Sial!"


Berapa kali lagi aku harus kehilangan? Oh, ayolah hidup tak se-bercanda itu.


-Lia-

__ADS_1


__ADS_2