
“Kau kenapa Lia? Kenapa jadi murung begitu?’’ tanya Rey saat mereka mulai memasuki tempat ibadah.
Lia berbalik menatap Rey, dua matanya kelihatan sayu, “Rey, aku dan kau masih kecil. Kita masih belum bisa memaksimalkan pikiran seperti orang-orang dewasa.Tapi bisakah kau tetap seperti ini jika hal paling menyedihkan yang ku alami akan terjadi padamu juga?”
Rey mengernyit, “maksudmu?’’
Belum sempat Lia melontarkan kalimatnya, suara tembakan terdengar dan membuat orang-orang disitu berteriak menutup telinga, hampir setengah tiarap. Lia dan Rey saling bertatapan dan menggenggam satu sama lain.
“Dia disini Rey,”
“Siapa Lia?’’ desak Rey. Raut wajah kebingungan itu menunjukkan bahwa ia tak mampu lagi berpikir atau sekedar untuk menebak. Siapa yang dimaksud oleh gadis ini? Desisnya dalam hati.
Tiga orang dewasa berteriak dan berlari ke arah dua anak itu.
“Lia, Rey, tiarap!” Orang tua mereka saling bersahutan dari dalam ruangan dan berlari sekencang mungkin agar bisa mendekat pada anak-anak mereka.
Sementara di arah yang tak jauh, beberapa orang misterius dengan busana hitam gelap bersamaan mengacungkan senjata api ke udara dengan bebas.
Dorrr!
Dorrr!
Dua tembakan lagi mampu membungkam mulut semua orang, tidak ada lagi yang berteriak setelah seseorang dengan keras menyuruh untuk diam.
“Siapa yang bersuara akan ku tembak!”
Setelah menyaksikan semua drama tembak-tembakkan, meskipun tidak sepenuhnya percaya, Rey sadar maksud perkataan Lia. Ia melempar pandangannya kesana kemari mencari sosok sang ayah.
__ADS_1
Rey sudah menangis. Lia yang seperti dejavu untuk sebuah kematian sekali ini terlihat kebal dan tegar. Dirinya belum menunjukkan kelemahan. Gadis delapan tahun ini tahu penderitaan seperti apa yang akan di alami oleh seorang anak lelaki yang baru-baru sangat dekat padanya. Lia mengulurkan tangan dan meraih jari telunjuk Rey lalu menggenggamnya, seolah-olah itu adalah jimat untukmenguatkan.
Dihadapan anak buah orang misterius itu, Lisa dan Nina berjongkok bersama-sama meminta ampun untuk tak menyakiti Bima. Karena dua orang ini tahu, siapa yang di incar sang pembunuh. Hanya Bima.
“apapun yang kalian mau akan kami turuti, tolong lepaskan suamiku,” Nina memohon, mengatupkan dua tangannya dihadapan dua anak buah sang pembunuh.
“Semua yang ada di gedung ini keluar!!!”
Tanpa menunggu satu menit, tempat yang tadinya sangat ramai seperti disulap menjadi kosong. Hanya ada tiga orang berjubah hitam yang sedang menudingkan senjata api pada Bima yang sudah terkena tembakan peluru di dadanya. Dia sudah lemah.
Di jarak sepuluh meter, ada Lia dan Rey berdiri saling berdampingan menyaksikan semuanya di usia mereka yang masih sangat minim. Disaat memori pikiran mereka benar-benar sangat bagus untuk mengingat suatu kenangan yang manis, justru sebaliknya. Mental mereka pun di uji disini.
“Katakan padaku Lia, disini banyak kamera, ini hanyanya latihan sinetron kan?’’ tanyanya sesenggukan.
Pertahanan Lia runtuh, melihat orang yang akan menderita sama seperti dirinya, ia sangat iba. “Rey,” gadis itu membungkam mulutnya. Benar-benar tak bisa memastikan apa kedepannya akan baik-baik saja.
Lia menyeka air matanya, terpancar kebencian yang mendalam disana. Sampai-sampai di detik sekarang ini Lia bersumpah dalam hati, kelak tangannya sendiri yang akan membunuh orang yang tak punya hati ini.
Dengan tatapan membunuh Lia berkata, “aku sempat terpengaruh dan melaksanakan yang kau ucapkan. Tapi masih terlalu banyak terang yang jauh lebih indah dari gelap yang penuh omong kosong itu,” ketus Lia dengan geram.
“Kau mirip sekali dengan putriku. Jadi kau akan selamat, karena musuhku adalah ayahmu dan ayahnya,” sosok misterius itu menunujuk Rey kemudian tertawa besar.
Puncak dari kepuasan diri dari sang pembunuh menuju tahap akhir. Nina sudah tak kuasa melihat suaminya. Tak henti-hentinya dia memohon. Lisa tentu ikut memohon. Memang sewaktu ini terjadi pada suaminya ia tak berada disana, tapi ia bisa merasakan kepedihan yang mendalam yang saat ini dirasakan sahabatnya.
Dengan nyawa keberanian yang mulai ia kumpulkan satu persatu, Lisa berdiri. “Membunuh tidak akan memuaskan isi hatimu Mas,” ucapnya. Air mata seorang Ibu yang masih sangat cantik itu mengalir dengan deras. “Ketika kau membunuh suamiku, apakah hatimu senang?’’
“Aku senang Lisa,”
__ADS_1
“Kalau begitu cukup, aku mohon. Cukup Seto yang kau bunuh, jangan Bima. Aku mohon,” Lisa berlutut.
“Hahaha, aku tak sebodoh itu Lisa. Aku sendiri menyesal telah membiusmu hingga tak kau melihat bagaimana aku mengoyak perut suami mu. Tapi untunglah ada anakmu yang menyaksikan semuanya. Aku yakin dia akan tumbuh menjadi pendendam sepertiku,”
“Sepertinya paman salah besar. Aku masih kecil, tak tahu caranya bergelut di dunia gelap. Tapi jika dipaksa, aku akan terjun, hanya jika untuk membunuhmu,” memang sudah tak diragukan keberanian seorang Lia. Tapi semuanya sudah terlambat sekarang.
Bima terbatuk mengeluarkan darah. Bima tahu Rey sudah pusing dan sebentar lagi akan pingsan. Dengan cepat ia memberi pesan,
“Lia, jangan pernah tinggalkan Rey. Jadilah cahaya untuknya,” Bima terbatuk lagi, “Ayah menyayangimu, Ayah bangga padamu, sangat Rey.” Jeda, “selamat ulang tahun,” Rey jatuh pingsan, “Rey!” muntahan darah itu semakin tak terkendali. Punggung pria itu sepertinya sudah habis tempat untuk di sayat.
“Tidak,,, tidak,” Nina menggelengkan kepala, semakin memohon belas kasih. Namun semakin dia memohon, semakin kuat tawa dari sosok itu. Nina mengusap-usap kedua tanganya bergantian. Tak terhitung berapa kali ucapan ampunan dan kasihan, “Aku mohon!!!” teriaknya histeris. Dirinya jadi meledak.
Nina menghampiri sang suami yang sudah tak berdaya dan masih bisa tersenyum saat di detik-detik terakhir hidupnya. Nina memangku kepala suaminya dengan tersedu-sedu, “Bima,,,sayang..”
Bima tersenyum. “Dua puluh tahun mengenalmu, dua puluh tahun terindah bersamamu. Aku mencintaimu, istriku yang terbaik,”
Nina menggeleng, “belum, aku belum jadi yang terbaik. Bertahanlah Mas,” genggamannya semakin erat hingga tangan sang suami yang lemas terlebih dahulu.
Tangisannya tak lagi bisa di ditahan. Dalam dekapannya sang suami telah berpulang pada yang maha kuasa. “Tidak, tidak…” ucap Nina terbata. Suaranya mengecil.
Lisa yang sama dengan penuh air mata menghampiri sahabatnya, “Nina,” ia mengusap pundaknya, “kamu kuat, kamu hebat, kamu yang terbaik kata Bima. Ingat itu,” kemudian membungkam mulutnya karena tak kuasa menahan tangis.
Pasukan pembunuh itu melangkah mundur perlahan saat dilihat petugas kepolisian mendatangi tempat kejadian. Iya, mereka tak berguna sama sekali diwaktu yang sekarang ini. Semuanya sudah lebur. Raga dan jiwa yang biasanya jadi satu, kini hanya tinggal satu bagian saja.
Sementara Lia memeluk Rey, mendekapnya sejak Rey pingsan. Ia terus mengucapkan janji meski ia tahu Rey tak akan mendengarnya saat ini.
“Aku tidak akan meninggalkanmu, aku janji. Mari hidup bersama,”
__ADS_1