KAU CAHAYAKU

KAU CAHAYAKU
Sely Marcia


__ADS_3

Pagi itu, matahari tampak lebih tersenyum. Sinar yang terkadang banyak di sesalkan, kini menjadi dambaan untuk sepasang kekasih untuk saling bertemu di depan rumah. Hari ini seperti biasa, Rey mengantar Lia ke sekolahan.


"Ingat ya, sudah ada aku," Rey mengingatkan sembari membuka helm kekasihnya.


Gadis itu pun mengangkat tangan membentuk hormat, "siap pak Bos, hehehe"


Ia pun masuk ke ruang kelas dengan tersenyum. Sepertinya ia tak perlu takut lagi dengan kenangan di masa lalu, toh dirinya dan Rey baik-baik saja sejauh ini. Dan pria misterius itu sedang dalam proses penghapusan memori untuk seorang Lia.


Bagi kita mungkin segala sesuatu harus berjalan dengan ekspektasi, namun takdir jauh lebih mendahului.


"Sely Marcia"


Begitulah perkenalan hari pertama bagi seorang siswi baru di kelas Lia setelah beberapa menit lalu kelas di mulai dan seorang guru membawanya.


"Bersikap baiklah padanya, sayang cantik-cantik begini dicuekin, digantung, di PHP-in, di tinggalin, tidak dianggap,"


"Yahhhh" Sorak para siswa yang dominan suara kaum Adam yang terdengar.


"Silakan Sely Marcia kamu boleh duduk,"


"Boleh tidak Pak kalau saya pilih bangku sesuai keinginan saya?"


"Berhubung karena kamu cantik, bolehlah, hehehe"


"Terimakasih Pak," dia melihat name tag guru, "Pak Muklis, saya mau disebelah dia, gadis itu,"


Lia menunjuk dirinya, dibalas anggukan dan senyum termanis dari anak baru. Dan hal itupun disetujui oleh Pak Muklis.


"Halo Lilyana Wijaya,"


"Kau mengenalku?"


"Sudah dari lama." Senyumnya penuh arti yang tak bisa di tebak oleh gadis di sampingnya. Lia tak mau berprasangka buruk sebab moodnya sangat baik hari ini.


"Oh, mungkin aku yang lupa. senang berkenalan denganmu," mereka pun saling menjabat tangan.


***


"Rumah kamu dimana Marcia?" tanya Lia dengan panggilan akrab yang sudah mereka sepakati.


"Tidak jauh dari sini. Dan dekat rumahmu, karena aku tak pernah lepas mengawasi mu."


Sedari pagi tadi Lia sudah merasakan gerak- gerik aneh dari teman barunya ini. Ada yang mengganjal namun tak merasa ada hawa permusuhan. Malah Lia merasa ia akan sangat dekat dengan anak misterius ini.


"Kau suka bercanda. Sesekali mampirlah ke rumah ku, kita main dan belajar di sana,"


"Baiklah."

__ADS_1


"Bagaimana jika sekarang?"


"Oh, boleh. Tapi aku boleh mengajak temanku?"


"Tentu," jawab Lia yang diakhiri dengan senyuman.


Siswa-siswi banyak yang berlalu lalang di gerbang sekolah saat jam pulang. Dua gadis yang baru bertemu beberapa jam lalu ini tampak menunggu seseorang.


"Nah, itu dia." Marcia menarik tangan Lia untuk mendekati mobil berwarna kuning yang tampak lebih mini. "Hei, buka pintunya," Marcia tidak peduli betapa hebohnya dia saat ini.


"Ah, dasar kau ini! Pelan-pelan kau ketuk kaca mobil mahal ku itu, meski sudah lunas tak boleh sembarangan," omelnya.


"Hehehe, mohon maaf, aku tidak peduli," cetus Marcia memang yang tak terlalu peduli, toh jika rusak dia akan langsung menggantinya dengan yang lebih mahal, jika dia mau.


Gadis pembawa mobil itu pun mendecak, namun terdiam sejenak memandang seseorang di samping Marcia yang tampak sedikit terpelongo.


"Oh, halo. Aku Lilyana Wijaya panggil saja Lia. Teman sekelas Marcia."


"Aku Wilona." Balasnya dengan saling menjabat tangan. "Kenapa kau memandangi ku seperti itu?" tanyanya karena memang Lia menatapnya dengan tatapan aneh.


"Aku tidak menyangka kalian terlihat sangat mirip. Kalian ini berteman atau bersaudara?"


Marcia tertawa kecil, "kami ini berteman. Hanya saja kami selalu bergaya seperti ini agar terlihat seperti anak kembar."


Memang jika di lihat sekilas, Lia hampir tak bisa membedakan. Rambut yang tidak terlalu pendek di bawah bahu yang hampir sama juga dengan dirinya, hanya saja dua orang ini rambutnya kecoklatan, sementara Lia berwarna hitam pekat. Bola mata mereka juga memiliki warna yang sama, tubuh yang hampir sama juga. Benar-benar mirip.


Semuanya menurut dan masuk ke mobil Wilona. Tentu saja gadis itu yang menyetir, karena hanya dia yang bisa menyetir.


"Kau tahu Lia," Marcia membalikkan badannya menghadap Lia yang tadinya menghadap ke arah jalanan.


"Apa?"


"Aku benci gelap." Terdengar Wilona berdehem di depan sana.


"Oh, ya? Sama. Aku juga. Dulu aku pernah tak mau mengenal terang lagi, tapi karena orang sekitarku akhirnya aku mau keluar dari sana.


Dan seiring berjalannya waktu, entah kenapa aku jadi takut dengan gelap." Curhatnya.


"Baguslah. Seharusnya, kau tak perlu mengurung diri dan berkecimpung di dunia kegelapan dulu, kau seharusnya.."


Citt!


Mobil kuning itu di rem mendadak. "Aish! Kau sudah gila ya?" omel Marcia karena dirinya hampir terpental ke depan.


"Kalau kau tak bisa diam dan menahan diri untuk tiga puluh menit ke depan, akan ku jahit mulutmu!" Jawab Wilona yang sudah sebal. Padahal mereka sudah berdiskusi semalam agar semuanya di jalankan dengan santai dan pelan-pelan saja, agar yang mengalami hal pahit itu tak mengalami trauma.


"Aku sudah tidak sabar! Lia harus tahu!"

__ADS_1


"Se-ly Mar-ciaaa" geram Wilona.


Melihat keduanya saling melotot Lia jadi berkomentar, "melihat kalian bertengkar seperti itu jadi terlihat semakin mirip,"


"TIDAK! KAMI TIDAK MIRIP!"


"TIDAK! KAMI TIDAK MIRIP!


Jawab mereka serentak, "hahaha, iya-iya." Tawa Lia pecah sembari memegangi perutnya. Belum lagi saat melihat keduanya saling membuang muka. Apa-apaan ini.


"Sudahlah, jangan seperti ini. Sebenarnya aku penasaran dengan ceritamu Marcia, tapi Wilona benar, sebaiknya kita pulang dulu." Lerai Lia.


"Apa maksudmu? Aku yang salah begitu?"


Waduh, salah bicara ini.


"Tidak Marcia, bukan begitu. Aduh, ini kenapa jadi kita yang berdebat?"


Wilona jadi melengos. Dengan sebal hati ia melajukan mobilnya hingga sampai di depan rumah Lia dalam lima menit.


"Tunggu dulu. Bagaimana kau tahu jalan ke rumah ku?" tanya Lia pada Wilona yang hendak keluar dari mobil.


"Aku Wilona. Detektif tanpa identitas. Bahkan aku bosan mengintai mu."Jawabnya tegas namun jujur.


"A, apa?" tanya Lia dengan terburu mengejar Wilona dan Marcia yang lebih dulu keluar dari dalam mobil dan menyelonong masuk ke rumah Lia. Mereka seperti hafal sekali tempat itu.


Lia terdiam di depan pintu masuk. Mencoba mencerna apa yang baru saja didengar dan dilihat olehnya. Dua teman barunya itu sudah berdamai dan sekarang duduk di sofa dengan tentram. Namun bagi Lia, ini sangat aneh. Sejak tadi dia penasaran, tapi masih bisa ditahan. Tapi mungkin detik ini tidak.


"Siapa kalian sebenarnya?" Dengan bermodalkan tingkat satu sabuk cokelat karate di sekolah, Lia menarik Wilona. Mencengkeram kedua tangganya di belakang.


"Kau lumayan juga." Ucapnya. "Tapi lepaskan aku sebelum aku marah."


"Jawab aku sebelum aku muak," balas Lia tak mau kalah. Dia sadar tak bisa menunjukkan sifat feminimnya untuk sekarang ini.


Marcia yang melihat itu jadi bingung. Setahunya hanya dirinya yang tak bisa bela diri disini. "Aish, kalian seperti anak-anak,"


"DIAM KAU!"


"DIAM KAU!"


Bentak Lia dan Wilona bersamaan. "Wah, kompak sekali," sindir Marcia.


"Lia?"


Panggilan itu mengalihkan pandangan mereka pada sosok pemuda yang baru saja datang entah dari mana.


Perlahan Lia mengendurkan cengkraman nya pada Wilona. Dia mengerutkan dahi mendapati Marcia yang tiba-tiba menangis saat melihat kedatangan Rey. Sungguh ia menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


__ADS_2