
Kecanggungan tercipta bagi Lia. Namun beda dengan Rey yang tampak senyum-senyum di samping gadis itu.
“Tenang saja, aku tak akan membalas dendam padamu.” Cetus Rey membuka percakapan.
Sekarang keduanya sedang duduk di taman belakang rumah Rey. Sementara para orang tua mereka di ruang tamu dan sepertinya sedang merundingkan sesuatu yang penting.
“Kau tahu, aku sepenuhnya belum pulih,”
“Aih, setidaknya minta maaf dulu baru kita bahas yang lain,” gerutu Rey.
Lia menatap datar wajar Rey, kemudian menurunkan pandangannya ke lengan Rey yang di perban. “Seingatku, aku tak membunuhmu, hanya menusuk lengan saja, kenapa kau jadi pingsan?’’
Rey tertawa kecil dan hal itu membuat Lia mengernyit, “aku hemophobia, Lia,” akunya.
“Berhubung aku tak sepintar dirimu dan berhubung juga aku tak sekolah beberapa lama ini,” Lia bersidekap, “bisakah kau jelaskan arti kata yang kau sebutkan tadi?’’
“Hemophobia?’’
“Iya, he, he itulah. Aku tak pandai menyebutnya.”
“Aku takut pada darah Lia. Dan aku sering pingsan jika melihatnya. Dan saat kau menyayat jariku tempo hari, aku langsung berlari keluar sampai disini pingsan lagi,”
Lia tertawa mendengarnya, “maaf, hehehe”
“Aku rasa bukan aku yang merubahmu, melihat tatapan tajam nan kejammu yang lewat, tak mungkin mudah merubah sikapmu. Apa ada malaikat yang mendatangi mu?’’
Lia menatap lurus ke depan. Melipat tangannya di dada, “satu karena Ibuku. Aku belum pernah membuatnya semarah itu, dan aku benar-benar takut. Dan kata-kata terakhirmu sebelum pingsan sedikit membuka ruang cahaya di hatiku,” ungkapnya.
“Kau tahu, cara bicara kita sudah seperti mengalahkan orang-orang dewasa. Aku sendiri bingung, aku yang terlalu bijaksana atau terlalu pintar, entahlah,”
“Wau,, luar biasa kesombonganmu, cih.”
“Hahaha, bercanda Lia.”
Lia mendecak namun tersenyum juga. Seketika ia ingat sesuatu lagi. “Ada lagi yang membuat aku jadi sembuh,” ucapnya.
“Apa?’’
“Pembunuh Ayahku ada di sekitar kita.”
“Maksudmu?’’
“Setelah aku mencelakaimu dan bertengkar dengan Ibu, aku merenung sepanjang malam di dekat jendela.” Jeda sebentar, “pria dewasa berjubah hitam dan lambang yang sangat aneh di belakangnya, aku masih ingat sekali dengan ciri-cirinya. Aku melihatnya sedang mengintai rumahmu. “
Rey tak menyahut apapun. Dia memutuskan untuk mendengar saja dulu. l
“Kau tahu? Dia adalah pembunuh itu. Pembunuh ayahku.”
__ADS_1
Rey berdeham. Keduanya diam membisu sekarang. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Rey membayangkan kejadian tragis yang sudah dialaminya bersama keluarga. Jangan-jangan orang yang membunuh ayah Lia adalah orang yang sama yang menyerang kami. Sebaiknya jangan ku beri tahu dulu pada Lia, aku harus cari tahu dulu. Pikir Rey.
“Setelah aku melihatnya, aku bangkit dari gelap. Bantu aku Rey, kita harus melaporkan orang itu,”
Rey menatap anak gadis itu. “Iya, Lia.”
“Terimakasih,” ucapnya tulus.
“Oh, jadi begini dirimu yang asli ya? Kurasa lebih seru yang menyeramkan seperti
kemarin,”
Lia kembali mendecak lalu tersenyum lagi. Iya, dia sudah kembali. “Aku rasa
beruntung sudah pernah bertemu langsung dengan si pembunuh itu.”
“Kenapa beruntung?”
“Dia sepertinya puitis,”
“Ha?’’
“Gelap itu indah. Itu yang dia bilang padaku. Dia pasti pasti pandai berpuisi, aku yakin itu.”
Rey mengangguk setuju, “em, tampaknya juga begitu. Mungkin itu judul puisinya yang gagal, kemudian jadi frustasi dan membunuh orang,”
Dari sinilah awal pertemanan antara Rey dan Lia. Hari-hari mereka selalu diisi dengan kebersamaan. Lia akhirnya bersekolah kembali. Dia telah dipindahkan Lisa ke sekolah Rey. Tak ada yang keberatan, justru Lia merasa lebih nyaman dan aman jika bersama teman barunya itu.
***
Desember 25, 1997
“Selamat hari Natal Ibu sayang,,,” ucap Lia saat bangun pagi. Ibunya sudah berdandan nyaris sempurna, penampilannya membuat Lia pangling, kemudian berucap, “Ibu cantik sekali.” Pujinya, “mau ke acara Natal atau ke acara lamaran Bu?”
Dengan gemas Lisa menoyor kepala putrinya, “jangan sembarangan Lia, ayahmu masih ada disini,” Lisa menyentuh dadanya sebelah. Lia tertawa.
Di rumah Lia bertabur bahagia antara Ibu dan anak, lain lagi di rumah tetangganya yang terlihat lebih sempurna. Tentu saja, ayah Rey kan masih hidup.
“Selamat Natal Ayah, Ibu…” Rey memeluk keduanya, “mana kadonya?’’
“Selamat Natal juga sayang.” Balas sang Ibu, “kadonya menyusul,” Nina mengecup kening
anaknya.
“Hai Jagoan, selamat hari Natal dan selamat ulang tahun.” Ucap ayahnya.
“Terumakasih Ayah, Ibu…”
__ADS_1
Ditengah kebahagiaan semua orang dalam rangka merayakan Hari Natal, terutama dua tetangga yang sangat harmonis ini, di lain tempat ada sosok yang terlihat sangat senang juga. Teramat senang. Karena hari yang di tunggu-tunggunya sudah tiba.
“Aku ingin melihat orang menangis sekarang, hahaha” sosok berjubah hitam itu tertawa sangat keras. “Aku ingin orang-orang munafik itu segera musnah dari sini, hahaha” lagi, ia tertawa dengan seram.
“Aku tidak sabar mengiris kupingnya, mencolok matanya, memenggal kepalanya, semuanya! Aku mau melakukan semuanya! Sayangnya si Seto Wijaya yang bodoh itu mati dengan sangat cepat. Aku belum sempat menyiksanya. Cih!”
Pria itu mengambil pisau kecil andalannya. Mengasahnya kembali samapi setajam mungkin. “Aku tidak sabar melihat darah bercampur air mata,” mengasah pisau itu lagi, “aku tidak sabar, aku tidak sabar, hahahah”
***
Keluarga Frank dan Wijaya sepakat untuk berangkat ke acara dalam satu mobil. Kebetulan tempat ibadahnya sama dan tidak terlalu jauh.
“Cantik sekali kamu Lia,”
“Manis Bu,” ralat Rey.
“Terimakasih tante,” balas Lia.
Bima hari ini jadi supir, karena pasukannya yang biasa membantunya sedang berlibur hari natal. Nina dan Lisa di bangku ke dua, sementara Lia dan Rey di belakang.
“Hari ini adalah hari yang penting bagiku,”
“Bukan hanya untukmu, untuk semua orang. Ini kan Natal,” balas Lia.
Rey menghela nafas, “padahal hari ini umurku genap sebelas tahun, kau tak ada niat untuk menyalami ku?’’ tanya Rey.
“Ah, kenapa tak bilang dari kemarin, aku kan bisa menyiapkan hadiah untukmu.” Sesal Lia.
“Tak perlu, ucapkan selamat saja sudah cukup,”
“Benarkah?’’ tanya Lia berbinar.
“Em.” Lia melihat tiga orang tua di depan sibuk dengan percakapan mereka dan
sepertinya tidak terlalu mengiraukan percakapannya dengan Rey.
“Selamat ulang tahun Rey,” bisiknya.
“Terimakasih nona manis,”
Cup!
Lia mengecup pipi kanan Rey dan secepat kilat memalingkan wajah ke arah jalanan dan menyembunyikan senyumnya.
Rey yang masih terkejut namun senang itu tak dapat menyembunyikan ekspresinya. Dia ingin berteriak, sungguh. Tapi dia ingat, dia masih waras.
Senyum yang ditahan Lia berubah murung saat dirinya tak sengaja melihat sebuah mobil yang sejajar dengan mereka membuka kaca pintu mobil. Terlihat sosok yang sepertinya gadis itu kenali. Lia mengepalkan tangannya. Bayangan kecelakan dirinya dengan keluarga, membuat matanya memanas dan ingin menangis. “Ya Tuhan, apa lagi ini?”
__ADS_1
Sejenak ia berpikir. “Ayahku di bunuh tepat di hari ulang tahunku. Saat ini Rey sedang berulang tahun juga. Jangan-jangan…”