KAU CAHAYAKU

KAU CAHAYAKU
Tunangan


__ADS_3

Enam tahun berlalu. Dengan rasa sakit dan segumpal kerinduan. Bahkan pendidikan pun sudah menuju jenjang tertinggi. Gedung-gedung dipinggir jalan sudah sangat padat menandakan terlalu banyak waktu yang terlewat.


Pagi itu, di hari wisuda Lia dan Marcia yang sudah lulus S2, dokter tetap menyatakan bahwa Wilona belum bisa terbangun dari komanya. Wanita yang sudah terbilang dewasa itu sedang berbaring di atas ranjang pasien. Tubuhnya kini semakin kurus, Marcia dan Lia hanya menunggu sebuah mukjizat.


"Wil," lirih Marcia. "Kau makin cantik. Aku iri, cepatlah bangun."


Kesedihan yang sudah membumbung di hati, air mata yang sudah mau tumpah ditahan oleh Lia. Bahkan Marcia saja bisa sekuat itu, dirinya tak mungkin jadi cengeng saat ini.


"Sudah enam tahun ya Wilona tak bangun." Marcia mengangguk setuju. "Kita harus sabar ya Marcia," Hibur Lia.


Marcia pun menoleh dan tersenyum. "Pulanglah, keluargamu mungkin sudah lama menunggu mu. Jangan lupa untuk tetap merahasiakan tentang kami berdua." Pesannya.


"Baiklah, aku pulang dulu, jaga dia."


***


"Hai semuanya, aku pulang.." Seru Lia saat sudah sampai di kediaman Rey, karena saat di perjalanan pulang tadi, sang Ibu mengabari untuk langsung ke sana. "Eh, kenapa ramai sekali?" tanyanya kebingungan. Sementara di tengah ruangan itu Rey berdiri dengan setelan putih nan rapi, pria itu terlalu ganteng, menurut Lia.


"Kemari lah," ajak Ibu Lisa. "Ganti pakaianmu."


Lia memandang pakaiannya yang belum di ganti sama sekali dari tempat acara wisuda. "Eh?"


Setelah menunggu beberapa saat, Lia pun muncul dari kamar setelah mengganti baju wisuda dengan gaun putih panjang yang sangat pas di tubuhnya. Rey pun berbalik, menatap manis kearah calon tunangannya itu.


"Bang, ini ada apa sih?" tanya Lia, saat ia sudah berdiri di samping kekasihnya.


"Kita mau tunangan, kamu mau kan?"


"Ahh, kenapa tak bilang dari kemarin, kan aku bisa mempersiapkan diri Bang." Omel Lia.


"Sengaja, biar kau tak lari."


"Dih, mana bisa Lia lari dari Abang, ganteng lagi."


Rey pun terkekeh, "kau mau atau tidak."


"Mauuuu"

__ADS_1


"Hahaha, meski sudah lama bersamamu, entah kenapa setiap detik aku semakin jatuh cinta. Lilyana Wijaya, maukah kau bertunangan denganku?" Kini mereka sudah berhadapan setelah berunding secara berbisik.


Keharuan tentu selalu ada. Dan itu dirasakan oleh Lia hari ini. "Enam tahun sah pacaran sama Abang, selama itu juga Lia sadar, belum bisa cari alasan untuk nolak Abang."


Rey pun memasang cincin di jari manis Lia. Para undangan dari kalangan teman orang tua mereka yang lumayan ramai itupun bertepuk tangan.


"Terimakasih sayang."


Kisah bahagia mereka hari ini merupakan hasil dari kesabaran dari pihak keduanya. Rey selalu ingin mempersunting Lia supaya jadi istrinya, tapi karena kesibukan wanita itu dalam belajar dan bekerja, ia pun merelakan waktu yang lama itu.


Ya, Lia kuliah sambil bekerja. Setelah tamat SMA, Lia mengikuti jejak sang Ibu dalam hal kecantikan. Meski ibunya sudah memiliki perusahaan sendiri, tapi Lia lebih memilih untuk membangun miliknya. Di samping itu, ia juga berprofesi sebagai penulis. Novel pertamanya baru saja terbit. Dengan genre teen dan sad ending itu mampu menarik perhatian banyak orang. Hingga karyanya banyak yang laku di pasaran. Judul bukunya adalah "Wilona".


"Apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Rey, setelah acara selesai. Mereka sedang berada di taman belakang rumah Rey.


"Belum tahu Bang, mungkin lebih mengembangkan bisnis kecantikan dan ya, menulis." Jawabnya kemudian menoleh pada Rey. "Abang kenapa lihatin Lia terus?"


"Kita kapan nikahnya?"


Sejenak Lia tertegun, wanita itu pun menginginkan hal itu. Tapi apalah daya, pikirannya masih terbagi dengan dua sahabatnya itu. "Maaf Bang,"


"Mereka berdua orang-orang hebat yang pernah aku kenal. Sesudah Abang," jawabnya.


"Kenapa kau tak mau mengenalkan mereka padaku?"


"Mereka yang memintanya. Sudahlah, lupakan itu."


"Hem." Jawabnya sekedar. Lia tahu perasaan kekasihnya itu sedang gundah karena merasa di gantung.


"Bang," Rey menoleh, "nanti kalau Wilona sudah sadar dari komanya, kita nikah." Ucapnya sungguh-sungguh.


Senyum Rey mengembang lalu datar kembali. "Apa? Ya ampun, Dek, orang kalau koma itu bisa bertahun-tahun, gimana kalau sepuluh tahun lagi dia belum sadar? Encok Abang, Dek,"


"Hahaha, Lia percaya kok Bang, kalau kIta jodoh, mukjizat ada buat kesembuhan Wilona."


"Bijak sekali, pacar siapa ini?"


"Tunangan Bang," Ralat Lia.

__ADS_1


"Calon istri dong,"


"Yah, nawar, hahaha"


***


Enam tahun berlalu, enam tahun juga Marcia kesepian. Ayahnya memang selalu memberi yang terbaik, uang, rumah, fasilitas, semuanya terpenuhi. Dia memang membutuhkan itu semua, tapi yang paling dia butuh sekarang adalah orang yang ia rindukan. Meski membenci perbuatan sang ayah, tapi ia tak pernah benar-benar ingin menjatuhkannya. Dia hanya ingin berbicara. Itu saja.


Bahkan gadis yang selama ini menemaninya di kala sepi sedang terbaring lemas di ranjang pasien. Ia ingat betul bagaimana kejadian itu terjadi. Sang ayah benar-benar tega.


"*WILONA!!"


Tiga tembakan berturut mengenai punggung gadis itu saat melindungi Lia dan Marcia yang hendak melarikan diri. Pelukannya mengendur ketika ia tak lagi berdaya.


"Jangan cari tahu tentang ayahmu lagi, atau kau akan juga akan mati!" Ucap salah dari mereka pada Marcia. Gadis itu mendecih serta bersumpah serapah akan menemui ayahnya*.


Ayah.


Nama serta nomor telepon tertera di sana, hanya saja pemilik ponsel itu enggan untuk menekan ikon telepon berwarna hijau di ponselnya. Ia pun menghela nafas. Entah kenapa tombol itu tertekan, hingga menyambungkan.


"Halo,"


"Marcia?"


"Marcia?"


Panggil orang di seberang telepon. Sudah sangat lama ia tak mendengar suara pria paruh baya itu. Bibirnya sangat keluh menjawab. Hingga akhirnya sambungan panggilan pun terputus.


"Aku merindukanmu ayah, hiks''


Sementara jauh di sana, Sergio San pun merasakan hal yang sama. Dia tidak tahu sejak kapan tercipta menjadi seorang pengecut. "Marcia, maafkan ayah," Begitu tulus ia ucapkan, tapi bukan pada Marcia, hanya melalui udara saja.


Hingga larut malam pun Marcia tak kunjung beranjak dari jendela kamar rawat sang sahabat. Harapan satu-satunya untuk kesembuhan ada belas kasih dari sang Pencipta. Tiap malam sudah menjadi seperti kewajiban, Marcia selalu berdiri disini untuk memohon. Hari ini pun dia lakukan hal yang sama. Tapi sedikit berbeda dari biasanya. Dia lebih pasrah hari ini.


Ia pun mulai melipat tangan dan menunduk. "Tuhan, temanku baik, sembuhkan lah dia."


"Marcia,"

__ADS_1


__ADS_2