KAU CAHAYAKU

KAU CAHAYAKU
Kembali


__ADS_3

Memang duka tak lagi terlukis di sudut hatinya. Kesepiannya kian di tepis dari kebisingan teman barunya sejak dua tahun yang lalu. Teman dari alam berbeda, maksudnya.


Juni 1, 2015


Sepulang kerja, Rey langsung ke rumah Ibu Lisa, karena hari ini adalah hari ulang tahun dari wanita paruh baya itu.


Beberapa orang sudah berkumpul, khususnya untuk tahun ini Lisa tak ingin pesta yang begitu megah. Dia meminta yang sederhana saja pada sahabatnya, Nina.


"Halo semuanya," sapa Rey pada para tamu undangan. Semuanya berbalik tersenyum menanggapi. "Selamat ulang tahun Ibu keduaku.." Dia memeluk Ibu Lisa.


"Tapi aku lebih suka jika dipanggil Ibu Mertua," komentar Lisa. Dan hanya di tanggapi senyum manis dari Rey. Entahlah, dirinya yang kadang masih merindu di kala malam hari, masih belum bisa melupakan anak semata wayang dari Ibu Lisa.


"Lisa, ayo tiup lilinnya," Ucap Nina yang sedari tadi berada di sampingnya. Lisa mengangguk.


Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun..


Lantunan lagu selamat ulang tahun diiringi dengan kedatangan seorang wanita yang baru saja turun dari sebuah taksi. Wanita itu pun berjalan sembari menarik kopernya.


Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya Sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga..


"Yeay... " Semua bertepuk tangan.


"Ibu." panggil Lia yang sudah berada di ambang pintu. Semua pandangan mengarah padanya. Tak terkecuali Rey.


Lisa dan Nina tersenyum bersamaan. Keduanya pun menghampiri wanita yang baru saja datang itu. "Akhirnya kau pulang," ucap sang Ibu.


"Wah, anak gadis manis Ibu sudah kembali. Selamat datang kembali sayang," Sambung Nina.


Lia mengangguk tersenyum, "terimakasih sudah menungguku, para wanita-wanita tercantik ku." Mereka pun berpelukan. "Aku bukan anak gadis lagi Bu Nina, Lia sudah dewasa." Ralatnya.


"Hehehe, ia. Kalau sudah dewasa berarti sudah bisa menikah kan?" Tanya Nina.


Lia tertawa kecil untuk menanggapi. "Kita potong kuenya dulu Bu, Lia lapar," Ucapnya mengalihkan pembicaraan.


Mereka pun kembali ke meja di mana kue ulang tahun berada. Lia belum punya nyali untuk melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru. Ia sangat takut ujung matanya menangkap sosok yang sangat ia rindukan.


"Suapan pertama, untuk putri semata wayang ku," Lisa menyodorkan satu potongan kecil ke dalam mulut Lia.


"Yang kedua, untuk sahabatku Nina," Ia pun melakukan hal yang sama.


"Suapan yang ketiga, untuk calon menantu," mendengar itu semua para tamu bertepuk tangan, suapan itu pun mendarat di mulut Rey.

__ADS_1


Lia tak bisa mengelak lagi. Pandangan mereka kini saling bertemu.


"Rey, jangan terlihat lemah begitu, kau harus tunjukkan kau itu kuat walau tak ada dia." Bisik hantu Junior.


"Kenapa kau berbisik? Semua orang kan tidak bisa mendengar kita, hanya Rey yang bisa." Jelas Senior dengan sebal.


Junior pun cengengesan. "Maaf, lupa karena tidak ingat."


Rey memasukkan tangannya ke dalam saku celana, membuang wajah ke arah lain. Lia hanya menunduk. Sudah kuduga. Batin Lia.


***


Malamnya, Lia pergi ke rumah Rey. Di tangan kanannya kini ia memegang box hadiah yang kecil.


Tok, tok.


"Rey ada Bu?" tanya Lia saat Ibu Nina membuka pintu.


Wanita paruh baya itupun tersenyum, menarik pintu agar semakin lebar, "ada di kamarnya. Pergilah ke sana." Lia pun mengangguk.


Hal pertama yang ingin Lia lakukan sekarang adalah meminta maaf. Ia tahu dirinya sudah tumbuh menjadi dewasa. Dan meminta maaf bukanlah perkara yang mudah bagi seorang wanita, apalagi ia melakukannya pada seorang lelaki.


Namun cinta dan sayangnya pada lelaki itu mampu menepiskan egonya.


Tok, tok.


"Rey, ini aku." Jawab Lia setelah mendengar sahutan yang bertanya siapa.


Rey pun membuka pintu. "Oh, Lia. Ada apa?" tanyanya datar. Ada luka yang baru saja tergores di hati wanita itu. Sakit sekali jika mendengar suara pria itu yang begitu datar padanya.


"Aku punya hadiah untukmu."


Rey melirik bingkisan itu, sekilas menoleh pada Lia yang berusaha tegar di hadapannya. "Tidak perlu, berikan saja pada orang lain."


Lia mengangguk. "Aku rindu Rey." Ucapnya setelah Rey hendak masuk ke kamar lagi.


Sejenak Lia memandangi punggung lebar miliknya pria yang masih berstatuskan tunangannya itu. "Lia rindu." Ulangnya lagi.


Rey berbalik, maju beberapa langkah agar dekat dengan Lia, "aku juga. Tapi ini sudah malam, aku lagi malas gerak." Balasnya kemudian berlalu dan menutup pintu.


Apa-apaan itu. Aku juga, tapi lagi mager. Sial.

__ADS_1


Lia sudah memperkirakan dirinya dan Rey tidak akan mudah untuk berbaikan. Tapi tidak begini juga dong.


Lia pun pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa kesal hati. Sepanjang perjalanan ia memikirkan rencana apa yang akan di buatnya. Namun tanpa di sadari olehnya, kedua orang tua mereka sudah mengatur rencana agar mereka bersatu secepatnya.


Di rumah Lia, Nina dan Lisa sedang merancang sebuah rencana untuk bersandiwara.


"Cepat, pakailah ini supaya kau terlihat pucat," Nina menyodorkan foundation bedak dan membantu mengoleskannya pada bibir Lisa.


"Seharusnya kau saja yang melakukannya, Rey pasti akan langsung menurut,"


"Ah, biar kau tahu saja ya, dia lebih menyayangimu dari pada aku yang ibu kandungnya." Seloroh Nina.


"Ada-ada saja. Eh, itu sepertinya Lia baru datang, dia kelihatan murung." Lisa memberi tahu. Kemudian ia merapikan syal di lehernya dan berbaring lemah seolah-olah sedang jatuh sakit.


"Loh, Ibu kok pucat?" tanya Lia khawatir. "Perasaan sewaktu pesta masih sehat bugar,"


"Kemari lah," ucap Lisa lemah, Lia semakin mengerutkan dahi.


"Aduh!" Lia mendesis saat satu pukulan mendarat di kepalanya. "Ibu apa-apaan sih," omelnya.


Lisa dan Nina berduet alias berkolaborasi dalam menjelaskan rencana mereka. Bahwa Ibunya akan jatuh sakit dan dalam keadaan parah, supaya ia bisa meminta tolong pada Rey agar menikah dengan Lia.


"Aku tidak mau!" Tolaknya. "Sudah cukup aku memberinya harapan palsu sedari dulu, tidak mungkin aku menambah kebohongan lagi di sana, tidak-tidak!"


Dua wanita paruh baya itu pun saling melempar pandang dan menepuk jidat, seharusnya mereka tak memberi tahu rencana ini pada Lia. Astaga.


"Lia," Nina menarik lengan Lia dengan lembut dan membawanya duduk di atas ranjang. Lia hanya menoleh memperlihatkan sorot tidak terima. "Rey sudah lama menunggumu, begitu pula kami berdua. Menikahlah dengannya,"


"Bu Nina, Lia juga mau. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Ini namanya curang Bu,"


Nina mengangguk mengerti. Disebelahnya, Lisa menggaruk kening mencari cara. "Begini saja, kau tidak mau kan rahasia mu terbongkar sewaktu kau pergi ke Singapura?"


Lia mengangguk curiga. Sepertinya ia sudah tahu apa lanjutan dari kalimat sang Ibu.


"Anggap saja kita impas. Kami berdua akan tetap menutup rahasia mu asal kau mau menjalani sandiwara ini."


"Ck, dugaan ku benar. Kita sudah seperti syuting film. Sekalian saja buat yang ada azabnya," omel Lia.


"Ah, kau ini!"


Telinga Lia yang di tarik oleh Ibunya membuat wanita itu jadi berteriak minta ampun, "Ampun Bu, iya! Iya! Lia mau! Lepas Bu....."

__ADS_1


Lisa dan Nina pun saling tos.


__ADS_2