
Belum sempat Rey menoleh untuk melihat dua teman baru dari kekasihnya, Wilona menunduk dengan cepat menutupi wajah Marcia dengan jaket ia gunakan dan berlari dari sana.
"Hei, tunggu!" Teriak Lia.
"Sudah, biarkan saja, mungkin dia terharu melihat orang ganteng sepertiku," Dan hanya mendapat decakan. "Mereka siapa sih?"
"Entahlah." Lia masih tak bisa menjelaskan situasi seperti apa ini. Dan mengalihkan pembicaraan sepertinya lebih baik, "kenapa kesini? Ini kan masih siang Bang, kerjaan di kantor gimana?"
"Kerja di kantor jangan di pikirkan, aku kan sudah bilang mau menjemput mu tadi pagi,"
Pernyataan itu disambut cengengesan dari kekasihnya. "Emang kalau lupa tidak ingat Bang,"
"Dasar kau ini! Aku panik mencari mu ke sana kemari di sekolahan."
Lia tersenyum, berjalan mendekat ke arah sang kekasih tampannya. "Maaf ya, Abang sayang." Ia menggandeng Rey.
"Huff," Rey memegang dadanya, "meleleh Abang Dek,"
"Hahaha, ayo minum dulu." Ajaknya.
Mereka pun pergi dapur untuk mengambil minuman dingin. Lia sempat sekali melihat kebelakang untuk melihat keberadaan dua gadis yang baru ia kenal hari ini , ternyata mereka sudah pergi. Biarlah.
***
"Marcia, aku tahu kau sedih. Tapi ku mohon, kita pelan-pelan saja. Kita pasti akan membantu mereka." Ucap Wilona menenangkan. Meski seumuran, tapi sifat keduanya jelas berbeda. Marcia terlihat masih lebih mudah terbawa perasaan di banding Wilona yang pembawaan dirinya lebih dewasa.
"Melihat sosok pria itu aku jadi tidak sanggup. Aku tidak tega, hiks." Marcia merangkul Wilona dan semakin menangis, "bahkan melihat Lia saja sudah membuatku jengkel dengan kehidupan yang ku jalani, hiks"
Wilona hanya diam. Memutuskan hanya untuk jadi penenang, ia menepuk pundak teman dari kecilnya itu beberapa kali dengan lembut. Seperti menyalurkan ketenangan dari sana.
Bagaimanapun juga, Wilona sudah banyak tahu tentang kisah yang masih rampung dan yang tak jelas akhirnya ini. Ia pun sudah masuk dalam urusan campur-mencampur urusan berbahaya sejak dulu.
"Tenanglah, aku disini, aku akan membantu mu. Aku janji."
Satu jam lebih keduanya saling berpelukan, tidak ada yang bersuara. Hanya suara isakan yang terdengar sesekali dari Marcia.
"Kita temui Lia malam ini. Kita harus jelaskan padanya tentang semuanya ini."
__ADS_1
Marcia mengangguk, "terimakasih selalu ada untuk membantuku."
"Hem."
Sementara di rumah Lia, Rey sedang memecahkan es batu untuk membuat es teh dingin.
"Jangan dilihatin terus muka aku Dek," tegur Rey karena sedari tadi Lia hanya duduk manis menunggu sang Abang sayang membuatkan minuman.
"Biar hausnya hilang Bang, muka Abang tuh adem,"
Gombalan Lia hanya ditanggapi tawa renyah dari Rey. Entah sejak kapan mereka jadi akrab dengan panggilan seperti itu. Abang-adek.
"Abang kuliahnya jam berapa nanti?"
"Jam setengah enam. Seperti biasa kok,"
"Yah, Lia kesepian dong."
Rey memberi satu gelas minuman dingin ke hadapan kekasihnya, "biasanya juga gitu."
"Itukan sebelum ada ikatan."
"Hem," gadis itu meneguk minumannya, "nanti malam kalau pulang kuliah cepat ajarin Lia belajar ya,"
"Kok kamu jadi manja Dek?"
"Lia juga bingung. Pengennya dekat Abang terus. Serasa Lia itu mau pergi jauh gitu."
"Hem? Ada-ada saja. Ya sudah, sini dekat, biar rindunya awet."
Dengan riang Lia merentangkan tangan memeluk pemuda itu, hingga dering ponsel yang harus memisahkan mereka.
***
Taman Teladan.
Tanpa sepengetahuan Rey atau siapapun, Lia bertemu dengan dua orang yang menurutnya cukup membuat onar siang tadi di kehidupannya. Dua temannya itu juga berpakaian serba hitam, bermasker hitam, pakai topi hitam, dan rambut mereka sama-sama digerai.
__ADS_1
"Intinya saja." Ketus Lia.
"Ayahku, namanya Sergio San." Ia menghela nafas, kemudian menoleh saat temannya, Wilona, memberi dukungan berbentuk tepukan dipundak. "Dia adalah pembunuh dari Seto Wijaya dan Bima Frank."
"Kau suka bercanda," masih dengan nada dan mimik yang datar.
"Dengar, aku tak peduli kau percaya atau tidak. Tapi itu adalah kebenarannya. Aku adalah anak dari pembunuh orang tuamu."
Aliran panas di sekujur tubuh Lia kian memanas. Kebenaran macam apa ini. Dia tidak tahu harus memulai pertanyaan darimana. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk tetap diam saja untuk mendengar penuturan dari gadis yang katanya anak dari seorang pembunuh.
"Lia, aku berani jamin semua yang dikatakan Marcia benar adanya. Kami tidak berniat jahat padamu ataupun keluarga mu. Kami hanya ingin memberi keadilan yang pantas untuk kau dan Rey terima." Jelas Wilona.
Terdengar Lia mendecih kecil, "omong kosong seperti apa yang ingin kalian ciptakan? Kau ingin menangkap ayahmu sendiri?" ia melipat tangannya di depan dada.
"Jangan gila. Lagian aku dan Rey sudah bahagia, aku tidak peduli dengan pembunuh misterius itu."
"Jangan keras kepala. Jauh di lubuk hatimu ada dendam yang mendalam." Seperti tertusuk oleh kebenaran yang kembali mengguncang kemarahan, kata-kata Marcia memang sudah menggoncang keyakinan Lia.
"Jadi sekarang bagaimana? Aku harus membunuhmu atau ayahmu?" tanya Lia sinis.
Marcia menyunggingkan senyum, "kau dapat membunuhku setelah ayahku."
Keduanya pun saling menatap satu sama lain. Dan entah kenapa malah serentak tertawa bersama. Dan hal itu membuat Wilona menggelengkan kepala.
"Baiklah, kita mulai dari mana nona Sely Marcia dan nona Wilona?" Lagi, hal itu membuat mereka tertawa geli.
"Wilona sudah mengumpulkan banyak bukti tentang kesalahan ayahku. Sekarang hanya mengulur waktu setelah tamat sekolah, supaya kita bisa meringkus laki-laki itu." Meski menaruh benci pada ayahnya serta memiliki tekad yang kuat untuk menangkap, tapi yang ia tahu, pria yang bernama Sergio San adalah cinta pertamanya sejak ia membuka mata pertama kali ke dunia. Berulang kali ia mencoba meyakinkan diri bahwa ayahnya melakukan itu pasti karena suatu alasan. Namun tetap saja salah jika harus membunuh.
Lia menyambut dengan mengangguk. Dia gadis manis nan baik di hadapannya ini adalah orang baik. Tapi dia juga tentu tidak rela jika harus melihat anak membenci ayahnya. Seketika itu pula Lia mengambil keputusan hanya untuk menemukan pria misterius itu dan menanyakan pokok permasalahannya. Ia tak akan membunuhnya, karena ia tahu kehilangan cinta pertama kita itu sangatlah sakit. Iya, cinta pertama kita, ayah kita. "Marcia, Wilona, ku harap kita bisa berteman sampai menua di hari-hari esok yang akan datang."
Mereka pun berpelukan. Bahkan dengan antusiasnya ia dengan rasa penasaran, Lia memutuskan untuk tidak menikah saat lulus nanti. Dia akan kuliah sembari membantu Wilona dan Marcia menemukan markas besar si pria misterius.
Namun masalahnya, untuk menolak Rey adalah hal terbodoh sekaligus menakutkan yang nyali sekecil pasir pun tak berani ia keluarkan. Dilema pun melanda hatinya ditengah rembulan malam ini. Usai pertemuan mereka di taman tadi, Lia hanya terpaku menatap ke arah langit yang tampak cerah malam itu.
Kamar mereka yang berseberangan dengan jendela kaca besar, membuat sepasang kekasih malam ini saling berhadapan. Rey tersenyum bahagia. Lain di sana Lia terdiam. Diam-diam meneteskan air mata.
"Bagaimana? Bagaimana mungkin aku sanggup menghancurkan hatimu Abang,"
__ADS_1
"Dulu satu buku perhatian dan segudang sayang tak hiraukan. Namun sekarang, sejengkal pun aku tak mau pisah dari mu Rey." -Lia-