
‘’Selamat pagi menantuku yang manis, bagaimana tidurmu? Nyenyakkah?’’
‘’Sungguh sangat nyenyak Bu, rotinya mau dioles selai rasa apa mertua yang cantik?’’ kala itu sedang membuat sarapan di meja makan.
“Berikan aku srikaya.” Membalikkan piring yang dihadapannya, “tahukah kau mengapa dari dulu aku lebih suka memanggilmu gadis manis daripada gadis cantik?”
Lia sudah selesai mengoleskan selai ke roti kemudian memberikannya ke piring sang mertua, “aku tidak tahu. Karena apa ya Bu?’’
“Karena kata cantik itu terlalu ramai di pakai orang untuk satu objek yang sesaat, bagiku kau spesial dan selalu.”
“Lalu hubungannya dengan panggilan manis?’’
‘’Cantik belum tentu manis. Manis sudah tentu cantik, iyakan Rey ?’’ Rey dengan wajah baru bangun tidur sedikit menoleh saat sang ibu bertanya. Pria itu hanya mengangguk sekilas.
‘’Ah kau ini!” omel sang ibu.
“Rey mau pakai selai apa?’’ tanya Lia pada Rey.
‘’Terserahmu.‘’
‘’Kau tahu cerita Adam dan Hawa? Manusia jadi berdosa setelah sang wanita mengambil keputusan yang dikenal dengan terserah dari pihak pria. Aku tak mau menirunya.’’
“Ahh, Lia, kau begitu manis.” Puji sang mertua. ‘’Baiklah, karena kau begitu pintar, aku kasih tahu satu rahasia, Rey suka sekali dengan selai kacang,”
“Ahh, Ibu mertua yang terbaik,” Lia mencium pipi Ibu Nina sekilas.
Lia dengan cekatan membuatkan roti selai untuk sang suami, melihat itu ada gejolak dalam diri Rey. Hatinya mulai memanas. “Apa kau masih suka cokelat?’’ tanyanya spontan.
‘’Em, masih.” Jawabnya tersenyum, eh, itu suara Rey! Dia masih ingat kesukaanku. Oh, ya ampun. Untung saja perempuan itu tak memekik dengan suara nyaring.
__ADS_1
“Baguslah, karena aku tidak suka cokelat.” Ketus Rey.
Lia tersenyum masam. Berpikir dengan cepat agar dapat membalas ucapan Pria yang sedang menyantap roti yang baru saja ia berikan. Haruskah ia membuka google dan bertanya “Mbah google, apa balasan untuk perkataan suami yang ketus di pagi hari?’' tapi itu terlalu lama. Berkat pekerjaannya yang menuntut untuk pandai berkomunikasi, akhirnya ia membalas,
‘’Bahkan aku lebih suka perbedaan asal itu dengan kau.’’
‘’Apa maksudmu?’’
‘’Eh, sudah… kalian makanlah dulu, Ibu akan pergi ke rumah Lisa. Sahabatku itu pasti sedang kesepian karena tak ada dirimu disana,” ia mencoel dagu Lia yang refleks tersenyum.
Kepergian sang mertua mampu menciptakan keheningan yang super mendadak. Lia sibuk dengan ponsel dan sembari mengurus pekerjaan disana, rey pun fokus agar tidak berbicara dengan para makhluk asing yang sedang berbisik-bisik disekelilingnya. Dengan erat Rey menggenggam sendok yang ada di tangannya, takut-takut ia melempar benda itu arah lawan bicaranya yang kasat mata.
‘’Seharusnya istrimu itu kau ceraikan saja,’’
‘’Ah kau ini, mana bisa langsung bercerai begitu saja, kau ini bodoh sekali.”
‘’Aku sudah senioran sebagai hantu, aku tahu kok banyak diluaran sana satu hari langsung bercerai jika kita memang sudah tak menyukai pasangan kita hantu junior,”
‘’Dasar kau ini, hanya tahu melawan saja!’’ Hantu Senior sedikit mendorong temannya itu hingga tak sadar yang di dorong sedikit mengeluarkan energi yang membuat dirinya mampu menyentuh suatu benda.
Prangggg!!!
Pecahan piring itu dianggap Lia sebagai perasaan tak suka dari Rey terhadap dirinya. Dengan cepat wanita itu membersihkan semua yang telah berantakan dengan menunduk dalam. Sementara rey yang masih menyantap roti buatan sang istri hanya geleng kepala melihat dua makhluk halus yang ada disitu.
‘’Ups, maaf Rey…’’ Ucap hantu Junior cengengesan.
‘’Kurasa kita sudah berlebihan, ayo kabur Junior,’’ Sang hantu Senior menariknya.
Ingin sekali rey menjawab andai kalian tahu yang kalian lakukan sebelumnya juga sangat keterlaluan! Tapi ia lebih mengutamakan kewarasan di depan perempuan yang dulu sangat ia cinta. Mungkin sekarang um, anu. Entahlah.
__ADS_1
‘’Ah, tidak, kita jangan pergi, nanti Rey diambil sama perempuan genit itu.”
‘’Hentikan!’’ Nada suara Rey meninggi, ada gejolak tak terima yang membuat dirinya melepas amarah, ia sedikit kesal ketika Lia dikatai seperti itu.
‘’Sedikit lagi, ijinkan aku membersihkan ini sebentar lagi,” jawaban itu sedikit berat namun tenang diucapkan Lia, sungguh pemeran tokoh yang baik, dia patut jadi idola.
Dengan gusar Rey memijat pelipisnya. Ia menatap tajam dua hantu perempuan yang masih tersenyum cerah karena berhasil membuat istri Rey jadi sakit hati. Sebenarnya ada apa dengan dua hantu ini? Mengapa niat mereka sepertinya ingin memisahkan dua insan yang baru saja disahkan? Toh jika mereka bersatu dan berpisah, apa untung dan ruginya bagi mereka?
‘’Aku tidak mau pergi Senior, pokoknya tidak mau.”
Hantu senior mendecak, “kau pernah melihat Rey marah pada kita?’’
“Ah, sudah terlalu biasa, aku sudah kebal Senior,”
Rey memberi isyarat agar mereka pergi dengan mengacungkan dagu ke arah pintu keluar. Namun tak digubris oleh hantu Junior meski sudah ditarik-tarik oleh hantu Senior. “Pergi,’’ ucap Rey dengan pelan.
Lia yang baru saja selesai, langsung mengangguk. “Baik.” Ia berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya yang sedikit kotor, namun belum sempat Lia sampai, Rey kembali mengeluarkan suara.
“Ku bilang pergi!”
Lia terlonjak. “Baik, aku akan pergi. Maaf mengganggu mu. Lanjutkanlah sarapanmu,” kemudian berlalu dengan tenang. Alih-alih merenungi nasib, Lia malah salut pada dirinya sendiri karena tak menangis di hadapan pria itu. Ia sampai berlari girang menaiki tangga menuju kamar. “Bagaimana mungkin aku bisa akting dengan hebat? Astaga, luar biasa hahaha. Seandainya ditawari main film dan ada acara penghargaan aktris terbaik, mungkin aku sudah menjadi pemenangnya. Namun ketahuilah wahai penghuni bumi, bahwa di sela-sela hatinya ada sesak yang harus
ia tutupi dengan sandiwara, dan mengatakan dirinya hebat adalah satu cara menenangkan jiwa dan raganya.
Sementara dua hantu itu langsung menghilang begitu saja, takut Rey benar-benar marah pada mereka. “Huff,” Rey menarik nafas dalam dan bersandar pada kursi, “Lia… aku merindukanmu. Sangat.”
Terbersit bayangan masa lalu yang indah saat dirinya menjadi bucin kelas dewa saat sekolah dasar hingga kuliah. Ia tiba-tiba saja mengulas senyum manis dibibirnya, istrinya itu selalu mampu membuatnya melupakan semua masalah. Oh Lia, andai kau tahu, jika dulu kau tak meninggalkan aku tanpa alasan, aku pasti tidak akan gila dan akan tetap waras mengejarmu. Tak peduli kau bohong atau tidak. Gumam tak jelas dari bibirnya menandakan bahwa ia merasa bersalah meninggikan suara di hadapan perempuan itu, meski tak di tujukan padanya. Ya, pada dua hantu itu.
Menepi bukan saat yang tepat, karena kita sudah terikat. –Lia.
__ADS_1
Bertahanlah. Aku lemah jika itu tentang dirimu. –Rey.