
September 9, 2015
"Bisa tidak aku memanggilmu dengan sebutan Abang lagi?" Tanya Lia pada pagi itu. Tampaknya Rey masih mengantuk karena mereka saling berjaga-jaga semalaman, takut-takut si pria misterius muncul lagi dan melempar kaca jendela.
"Tentu boleh. Kenapa tidak?"
Lia sedikit ragu untuk mengutarakan maksudnya, Rey sadar akan hal itu. "Ada apa?" Ia membenarkan posisi untuk duduk di sofa ruang tamu. "Hei, kenapa?" Pria itu kemudian memberi syarat pada sang istri untuk mendekat.
Lia berjalan dengan lunglai, malu sekali jika dirinya meminta Rey agar memanggilnya dengan sebutan 'Adek' lagi. Tapi ia menurut saja, lalu duduk di samping Rey.
"Kenapa duduk di samping?"
"Hem?"
"Sini," Rey menepuk pahanya.
"Aku berat."
"Hahaha, tidak apa-apa. Berat badanmu tidak sebanding dengan berat rinduku. Kau tahukan, aku kuat." Lia hanya menanggapi dengan mencebikkan bibir. "Ada apa sih? Mau bilang apa?"
Lia sedikit menggeliat saat Rey mulai merengkuh dirinya. Panggil aku dek!!! plisss! Teriaknya dalam hati. Ia tetap saja bungkam.
"Lia?"
"Ih! Kau tak peka sama sekali!" Lia turun dari pangkuannya dengan cemberut. "Dasar tidak peka!" Ketusnya.
"Heh! Apa salahku?" tanya Rey saat istrinya meninggalkan ruang tamu dengan raut kesal. "Kenapa dia?"
"Dasar laki-laki! Tidak pernah peka!" Lia menggerutu sepanjang ia memotong timun. Dia pun sebenarnya tidak tahu apa tujuannya jadi memotong timun. Yang dia tahu, dirinya sangat kesal.
"Lia," panggil pria itu. Mengalah sudah jadi kodratnya. "Jelasin dong,"
"Ih, kau itu laki-laki, seharusnya sudah tahu apa yang aku mau,"
"Ya ampun, dasar wanita, makhluk paling susah dimengerti." Gerutunya. Bagaimana tidak, ia sendiri tidak tahu apa yang membuat istrinya itu sangat sebal, lalu dirinya dipaksa untuk mengerti. Mana bisa.
"Kau pergilah ke kantor, nanti terlambat." omel Lia.
"Ini weekend Lia."
__ADS_1
Tuh kan, kenapa sih harus manggil nama aku. Kesal.
Rey yang mendapat decakan jadi semakin gila. Aish! Apa yang harus ku lakukan? Teriaknya dalam hati. Kemudian ia mendapat ide cemerlang.
"Ih, apaan sih, lepasin aku Rey!"
Pria itu dengan gemas mengangkat tubuh Lia dari sana dan membawanya ke sofa tempat ia tidur semalaman. Lia semakin berteriak geli saat Rey dengan gencar menggelitik pinggangnya.
"Ampun!"
"Hei, ampun, hahaha"
Rey menghentikan aktivitasnya, mengunci tubuh Lia dalam dekapannya. "Jadi wanita itu jangan ribet, cukup kasih tahu apa yang kau mau, kami kaum Adam bukan dukun atau manusia spesialis telepati." Ungkapnya kesal namun masih sempat-sempatnya mencubit hidung sang istri.
Lia yang mendengar itu jadi tertawa, "kau sendiri yang salah."
"Tuh kan!"
"Ih, aku tuh ya Bang, kasih kode tadi, pura-pura nanya bisa panggil Abang atau tidak, ku kira kau akan berbalik memanggil ku dengan sebutan dek lagi," ungkapnya sedikit malu.
Rey jadi tertawa, setidak peka itu ternyata dirinya. "Maaf deh, lagian karena sudah terbiasa tidak ada kau di sini."
"Eh, bukan begitu maksudnya," salah ngomong atau gimana ini.
"Padahal di sana, Lia benar-benar rindu Abang." Air matanya dengan lembut mengalir, "satu detik tanpa Abang, Lia rapuh." Dia menyeka air matanya, "sudahlah, lagian semuanya sudah berlalu." Ucapnya berusaha tegar. Dia pikir selama ini pria itu juga mengalami hal yang sama, namun ternyata dia salah paham.
"Lia," Rey menahan tangan sang istri yang sudah tersedu-sedu saat hendak pergi entah kemana, "bukan begitu." Bagaimana cara pria ini menjelaskan bahwa ia tidak kesepian karena ada dua hantu yang menemaninya selama ini yang kebetulan penampilan mereka juga terlihat mirip dengan sang istri.
Lia berbalik, hidungnya terlihat memerah. "Sakit sekali rasanya Bang. Dua tahun Lia di sana, bukan satu dua orang yang Lia tolak. Banyak Bang! Abang jahat, hiks"
Kelemahan banyak pria sebenarnya adalah ketika melihat wanitanya lemah dan menangis. Rey juga merasakan hal yang sama, pria itu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan. "Maaf," hanya kata itu yang bisa ia ucapkan saat ini. "Maaf, maaf, maaf, maaf,"
Bahu Lia yang semakin bergetar tanda ia benar-benar terluka, Rey merasa jadi bodoh. "Lia, maaf." Ulang Rey lagi.
Lia menggeleng, "tidak, kau jahat," racaunya dalam tangis sembari memukuli dada bidang pria itu dengan lemah. Rey sudah tidak tahan, bahkan saat istrinya menangis pun pikiran kotor menghampiri dirinya. Bagaimana mungkin dia makin bertambah cantik jika menangis begini.
Perlahan Rey mengusap air mata Lia dengan tangannya. Mencoba mendaratkan beberapa kali ciuman di mata. Lia sempat terkejut, namun Rey menahannya kembali.
Keterkejutan itu seolah hipnotis yang memaksa Lia untuk menurut saja. Tak hanya sampai di mata, pria itu beralih pada pipi gadis itu. Ia mencoba menyalurkan perasaannya yang selama ini berusaha ia kubur, tapi ia gagal. Gagal total. Meski kebisingan dua hantu itu sedikit mengubahnya, tapi tetap saja lebih banyak juga ia merindu. Hanya saja, ia tidak tahu cara menjelaskannya melalui kata-kata.
__ADS_1
Lia terdengar masih sesekali sesenggukan. "Kau menggemaskan sekali," ucap Rey. Dia sedikit tertawa melihat wajah istrinya saat ini.
"Kau jahat," Ulang Lia lagi, "Abang jah..ump" Bibirnya sudah dibungkam. Mereka pun berciuman di sana, saling memberikan rasa rindu.
Saat nafas mulai terengah-engah, Lia memundurkan kepala. "Aku hampir mati," omelnya.
"Hahaha, sini." Rey merentangkan tangannya lagi. Lia tidak bisa menolak, dirinya juga merindukan pelukan ini.
"Heh, apa yang kau lakukan disini?"
Junior terlonjak kaget, "kau ini. Ssttt, nanti Rey dengar."
Senior mengikuti arah pandang hantu Junior. "Wau, lihat yang begini kan adem."
"Eh? Bukannya kau tidak suka ya pada wanita itu?"
"Ck, itukan karena Rey yang cerita pertama kali, padahal mereka sama- sama tersiksa." Jelas Senior, "itulah kenapa sifat kita yang selalu mendengar satu pihak saja, tidak mencari tahu kebenarannya hingga banyak membuat orang saling bersalah paham."
"Wah, bijak, tanda-tanda akan kembali pada alam masing-masing katanya sih begini, sok bijak." Seloroh hantu Junior.
"Aish kau ini!" Gerutunya, "tapi ketika aku melihat wanita itu, aku serasa dekat dengannya. Apa aku pernah ada ya dalam kehidupan wanita itu?" tanyanya, yang tak berharap ada jawaban dari hantu Junior. Karena ia tahu, pasti akan kembali berantem.
Nyatanya tidak. Hantu Junior malah menyahut, "Aku juga merasa begitu. Ada ketertarikan antara aku, kau dan dia."
Hantu Senior mengangguk, "Sepertinya kita memang saling mengenal sebelum meninggal."
"Hem, mungkin aku dan Lia berteman, lalu kau adalah pembantuku."
"Kau mau mati ya?"
"Tidak, ampunnnnn!"
Lia kaget ketika Rey tiba-tiba melepas ciuman mereka. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa, tadi aku mendengar suara-suara tak jelas." Ucapnya.
Dalam keadaan seperti ini, ingin melanjutkan sudah canggung, tidak dilanjutkan nanggung.
Ya, ampun.
__ADS_1