
Medan, 8 september 2007
“Selamat ulang tahun ke delapan belas pemberi harapan palsu,” ucap Rey gemas.
“Hahaha, terimakasih Abang,” senyum Lia merekah.
Meninggalkan semua kenagan di satu tempat dan mulai mengisi lembaran baru di tempat lain menjadi keputusan yang tepat bagi dua keluarga ini. Mereka masih tetap jadi tetangga. Dan status keluarganya juga sama, tidak punya ayah, hanya Ibu. ibu yang sangat cantik.
Setiap tanggal kelahiran dua anak ini, mereka sama-sama berusaha menepis ingatan pahit. Ibu dan anak dua pasangan ini sepakat tak akan mengingat kejadian di masa lalu. Dan saling menguatkan satu sama lain. Wah, luar biasa.
Lia saat ini duduk di bangku kelas tiga SMA, Rey berkuliah sambil membantu sang Ibu mengurus bisnis yang ditinggalkan sang ayah. Tapi jika di ikuti kesehariaannya, pria yang tumbuh jadi tinggi dan tampan itu tampaknya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Lia yang entah sejak kapan susah di lepaskan dari pandangannya.
“Yeay, kuenya cokelat, kecil lagi,” sindir Lia dengan wajah yang berseri. Ekspresi macam apa itu.
Rey tertawa. “Kalau banyak-banyak, takutnya si lemak jadi lupa diri,” ucapnya bercanda.
Di kafe kecil dengan nuansa tenang itu cukup membuat Lia senang. Dia tahu, setelah dari sini Ibunya yang super heboh dan tante Nina yang super cantik akan membuat kejutan yang sangat mudah ditebak.
“Aaaa… buka mulutnya Rey,” perintah Lia.
“Aku tidak mau, nanti buncit,”
Lia cemberut menarik kembali sendok yang dia genggam, “padahal make a wish tahun itu tuh tentang kita,” ucapnya mengelabui.
“Ah, kenapa tak bilang dari tadi, sih?’’ Rey menarik tangan Lia dan mengarahkan sendok yang penuh cokelat ke dalam mulutnya.
“Rey, kau tahukan aku suka bohong?’’
“Aku tahu. tapi setidaknya kebohonganmu bisa membuatku bahagia, meski sesaat,”
Lia tertegun. “Masa bodoh,” balasnya cengengesan dan menyuapkan kue ulang tahun spesial dari orang spesialnya ke dalam mulut dengan lahap.
“Makan yang pelan,” ia mengusap kepalah Lia.
Selesai dengan kuenya, Lia menghabiskan minumnya. Dia mencari-cari lagi makanan yang lain. Disaat begini, Rey tahu Lia sedang tak baik-baik saja. Lia merogoh ke dalam tas sekolahnya, dan di dapati sebungkus cokelat, sungguh obat mood anak yang satu ini hanya manisan.
“Lia,” Rey menahan tangan Lia yang hendak membuka bungkus cokelat, ia merangkul gadis itu dan di balas pelukan dari Lia.
“Aku rindu Surabaya Rey,” gadis itu mulai terisak.
Yang dapat dilakukan Rey adalah
menenangkannya. Wajar perasaan sedih dan rindu itu masih ada. Namanya juga masih waras, otaknya juga juga masih berfungsi dengan baik, apalagi memori di dalamnya masih awet. Tidak akan mudah untuk melupakan semuanya begitu saja.
“Ah, andainya kau memelukku tiap hari begini, aku akan memberimu cokelat setiap hari,”
Lia menepuk dada bidang Rey dan mendecak sebal, “ngeselin ih,”
“Kenapa sih, setiap lagi sedih atau marah, hanya makanan yang jadi obatmu?’’ tanya Rey heran dan baru menyadarinya.
“Entah, kemauan dedek bayi mungkin,” ucapnya asal.
Rey tertawa ringan, “nanti kita buat yang betulan ya, nunggu kau besar dulu,” ucapnya sembari mencoel hidung Lia.
__ADS_1
“Emangnya aku kurang besar apa lagi?’’ ucapnya tak terima.
“Setiap ku lontarkan penolakan, kau pasti bersikukuh seperti menginginkan ku. Setelah itu melemparku tanpa perasaan. Cih!”
“Yah, curhat,” ledek Lia.
‘’Kang php! Sana-sana jangan peluk-peluk,” Rey berpura-pura sebal. Dan itu hanya di sambut tawa oleh Lia.
Kenyamanan adalah alasan yang tepat untuk sebuah kedekatan. Hal itu terjadi di antara ke dua anak remaja yang menuju dewasa ini. Bahkan sampai mereka terkadang lupa sudah berapa usia mereka, yang nyatanya tak pernah berpacaran atau berkencan dengan siapa pun. Nyaman yang mereka ciptakan lebih terasa adem nan sejuk di bandingkan dengan yang lain.
Pribadi Lia yang riang dan pintar di sekolah, menjadikannya salah satu murid favorit. Terutama bagi seorang Rama, sang ketua OSIS, yang kebetulan melihat sosok yang dikagumi berada di kafe yang sama. Dengan sikap pria sejati, ia mendatangi meja Lia dan Rey. Rama mengulurkan tangan, “selamat ulang tahun Lia,” ucapnya.
“Hai, terimakasih ya,” Lia membalaskan jabatan tangan pemuda itu. Rey masih kalem.
“Boleh bergabung?’’
“Tentu,” jawab Lia ramah. Ah, benar-benar wanita idaman. Tapi tunggu, siapa lelaki ini? Pandangannya terus bertanya.
“Dia abangku, abang angkat.” Lia yang mengerti langsung menjawab. Rey terbatuk santai.
“Oh, syukurlah.”
“Syukur untuk apa?’’ tanya Lia.
“Berarti aku bisa langsung minta restu dong, hehehe”
“Hahaha, lucu sekali kau,,” jawab Rey. Dengan nada suara yang berdesiran kegeraman. Ku hancurkan saja kepalanya ini. Umpatnya dalam hati.
“Terimakasih pujiannya Bang,’’ Berhubung sudah berada di Medan cukup lama, panggilan mereka pun mengikuti orang sekitar.
Rey mengangguk menanggapi. Tidak berapa lama, dua murid SMA itu saling bercengkrama, Rey yang gusar tidak sengaja menumpahkan minuman hingga mata pengunjung mengarah pada mereka.
“Hati-hati Rey,” Lia membereskan yang berserak, lalu kembali asyik mengobrol bersama teman sekolahnya itu.
Entah kenapa suasana hati Rey jadi begitu galau. Biasanya ia bisa menahan rasa kesal pada siapapun yang dekat dengan Lia, tapi kenapa dengan hari ini moodnya cepat sekali kacau. Mungkin karena terlalu lama dipendam. Sadis sekali.
Rey pamit. “Aku pulang,”
Hanya di balas kata oke dari gadis yang disukainya itu sejak kecil. Lagi ia memastikan, “Aku pulang ya,”
Lia mengangguk dan focus lagi dengan si ketua OSIS. Sabar Rey, sabar… rapalnya dalam hati dan benar-benar pergi dari situ. Di buat cemburu oleh anak ingusan seperti itu terasa sesak. Apa-apaan ini.
Diparkiran kafe, kegeraman Rey dilampiaskan dengan menendang bebas ke udara. Spesies orang gila sepertinya bertambah lagi saudara-saudara.
“Ck, anak ingusan itu, awas saja kalau bertemu di tempat lain, habis dia, sialan!” umpatnya lagi dan lagi. Kurang puas menendang asal, sampai-sampai jaket yang dikenakannya sedari tadi terasa sanagt menyemakkan. Dia melepas dengan kasar lalu membanting jaket itu di motor besarnya.
“Sengaja tidak bawa mobil supaya bisa boncengan berdua, malah ditikung, parah” gerutunya, “anak ingusan lagi, ahhhh siallllllll!”
\*\*\*
Rey sengaja tak kuliah dan mengambil cuti hanya untuk bisa merayakan ulang tahun Lia dan berencana menghabiskan waktu berdua bersama. Nyatanya di tikung. Kasihan.
Wajahnya yang uring-uringan kembali ke rumah membuat sang Ibu jadi salah fokus.
__ADS_1
“Hei, mana Lia?’’
“Dalam mode tidak mau di ganggu, jangan berbicara dengan ku Bu,” Rey terduduk lemas di sofa.
“Ibu sedang mode kepo, jadi harus di jawab,”
“Perempuan mah gitu, suka maksa.” Saut Rey.
Ibunya tertawa kecil, “kau sudah besar, jangan mudah cemberut begitu. Ada masalah apa? Kenapa kau pulang sendirian? Lia dimana? Ini kan hari ulang tahunnya harusnya kalian bersama, kemana dia? Kenapa jam segini belum pu..”
“Ibu,, satu persatu.” Rey memohon dengan wajah memelas.
“Oh, baiklah kita ralat. Lia dimana?’’
“Di kafe,”
“Dengan siapa?’’
"Temannya"
“Lalu kenapa tak kau bawa pulang dia?’’
“Aku ditikung Bu…” wajanya sangat gusar, sama seperti hatinya berantakan. Pusinggg.
Nina mengerjap, anak laki-laki satu-satunya ini benar menyukai Lia tidak sih? Dia menimang-nimang sendiri. Pasalnya, dari dulu sejak pertemuan mereka yang pertama kali, tampaknya Rey menyukai gadis itu. Tapi Nina menganggapnya hanya sebagai teman dekat atau abang adik. Namun sepertinya kali ini berbeda. Melihat dari segi umur, anak semata wayangnya ini sepertinya menyukai Lia sebagai seorang wanita.
“Kau menyukai Lia?’’ tanya sang Ibu.
Rey menarik rambutnya frustasi, “jadi selama ini semua ungkapanku kalian anggap lelucon, Bu? Wah,, parah sekali,” dia mendengus sebal.
“Habisnya, kau itu sangat sering mengungkapkannya, jadi dianggap tidak serius. Jadi lelaki itu tak perlu banyak omongan, tindakan saja yang perlu kau tunjukkan, nanti si perempuan pasti berbalik.”
Rey mendecak, “tindakan mana lagi yang harus kutunjukkan Bu, aku hampir selalu ada saat di butuhkan. Mungkin aku tidak menyenangkan baginya. Aku tidak pandai membuat suasana lucu,” curhatnya, karena masih panas dengan ingatannya mengarah ke kafe tadi, dimana Lia sangat mudah tertawa bersama pemuda lucu itu, sang ketua OSIS.
“Tak perlu berusaha jadi lucu. Kau cukup beri perhatian lebih dan memberi harapan kemudian jadian sama orang lain saja sudah lucu kok,”
“Itu aku yang ngalamin Bu, gimana sih.” Gerutunya lagi. “Itu ceritanya si Lia yang buat lucu,”
Nina tertawa puas melihat raut wajah putranya, memukul pundak Rey dengan gemas. “Wanita itu cenderung sadar sedang kehilangan, saat pria yang biasanya perhatian tiba-tiba cuek,”
Rey menoleh, “Ibu sedang mengajariku untuk jadi cuek?’’ Nina tersenyum mengangguk, “Cih, bahkan tak melihatnya dua menit saja aku sudah panik, mana mungkin aku bisa cuek,”
“Ah, kau ini,” Rey mengaduh sang Ibu kembali memukul pundaknya, tapi kali ini dengan tenaga, “coba saja. Nanti kan ada pesta di rumahnya, tak usah datang. Kita lihat, apakah dia mencarimu atau tidak,”
“Aku? Tidak datang kesana? Aku bisa gila Bu,”
Nina yang awalnya bersikap manis mengahadapi Rey, berubah jadi geram. “Kau payah!”
“Bu, mau kemana?’’ Rey menarik pergelangan snag Ibu yang hendak pergi.
Bukannya menjawab, sang Ibu malah semakin kesal, “lepaskan, kau susah sekali di beri saran,”
“Baiklah, baiklah. Tapi apa cara ini akan berhasil?’’
__ADS_1
“Dijamin.”