
Kepulangan mereka di sambut senyum damai oleh para mertua.
“Semoga tidak ada lagi perdebatan, semuanya harus di bicarakan baik-baik ya..” Nasihat Nina.
“Kalau istrinya marah dan lari di kejar ya, supaya tidak lepas,” sindIr Lisa.
Lia tertawa melihat raut wajah Rey yang terlihat lucu. Ingin menjawab namun segan. Dan hanya bisa menjawab, “Baik Ibu mertua yang cantik,” dia tersenyum.
“Ayo Rey, aku lelah.”
Mereka pun pamit untuk naik ke atas, dimana kamar mereka berada.
“Rey, kau tak lapar?”
Sang suami menggeleng, “Harusnya aku yang bertanya,”
“Tenang saja, hari ini hari yang penting bagiku, jadi karena kau orang spesial kau yang utama untuk hari ini.”
“Hanya hari ini?’’
“Hanya hari ini.”
“Tidak ada perpanjangan hari?’’
“Ini bukan
kredit Rey,”
“Hehehe, baiklah. Istirahatlah, aku mau mandi,”:
Lia menurut. Dia beranjak dari tempatnya ke atas ranjang, meluruskan kaki dan merilekskan tubuhnya. Sementara Rey ada di kamar mandi. Pria itu bersenandung sembar menggosok gigi. Seperti ada yang hilang, begitu pemikirannya.
“Astaga! Kenapa aku bisa melupakan mereka? Dimana dua hantu jahil itu?’’ Keningnya tampak mengerut. Seperti karena terlalu serius mencari dan menemukan sang istri belakangan ini, sampai ia lupa dengan teman gaibnya.
“Wah, sudah lama sekali mereka menghilang.” Gumamnya.
“Merindukanku?’’
“Ah sial!” Umpat Rey. “Mana kembaranmu?’’
Yang di tanya masih tertawa di tempatnya, bagaimana tidak, saat Rey mengingat dua hantu iseng yang belakangan ini tidak terlihat, tiba-tiba saja muncul dan mengagetkan. “Dia bukan kembaranku dan dia sedang mengawasi istrimu,”
“Apa?’’ Rey panik.
“Tenang, si Hantu Junior sudah menyukai istrimu, dia akan bersikap baik,” Tatapan Rey tampak mengancam, “Aku menjamin itu,” mengangkat tangan dan membuat dua jari berbentuk V.
“Awas kalau kalian menyakiti Lia,”
“Cih, seingatku kau yang begitu jahat padanya.” Cetus Hantu Senior.
Rey membalas dengan mendecak, “Kalian dari mana saja? Lia pergi, kalian menghilang. Perempuan semua saja, hanya bisa meninggalkan,”
“Heh, sembarangan! Kami berdua itu lagi menjalankan misi.”
“Misi apa? Misikurang kerjaan? Atau mengacaukan pernikahan orang? Begitu?’’
Lagi-lagi hantu Senior mendecih, rasa tak terima hantu itu membuatnya melotot dan ingin melahap
Rey, “untung saja aku belum jadi roh jahat, kalau tidak, sudah ku pastikan kau
jadi abu.”
“Cih, memangnya misi apa yang kalian jalankan?’’
“Ada deh, blek”
__ADS_1
“Baiklah, aku penasaran. Aku merindukan kalian juga. Sebagai orang ganteng dan rendah hati, tolong beritahu aku,” Ucap Rey akhirnya mengalah.
“Oh, cup cup. Manis sekali jika melihatmu memohon seperti itu, seperti adsa najisnya sedikit’’
“Kalau tidak mau memberi tahu, ya sudah,”
Hantu Senior melipat tangan di dada, membuang tatapannya ke arah lain. “Kami berdua hanya ingin pergi ke alam kami yang seharusnya. Jadi kami mencari jalan kesana-kemari bertanya pada setiap hantu yang kami temui. Bisa dibilang berkelana sembari menunggu hubunganmu membaik dengan Lia,” ucapnya menjelaskan.
“Apa jawaban dari hantu yang lain?’’
“Kau melihat kami disini, berarti kami juga tak tahu bagaimana caranya pergi alam baka,
begitu.”
Rey mengangguk.
“Tapi ada beberapa dari mereka yang bilang, kalau manusia meninggal dan seketika masuk ke alam seharusnya, itu berarti masalah mereka sudah selesai di bumi.”
Buih di mulut Rey sampai mongering karena terlalu menyimak.
“Huff, bahkan namaku saja aku tak ingat, bagaimana mau pergi kesana.” Ia menoleh, “Aish! Bersihkan wajahmu! Kukira kau benar-benar tampan, ternyata jorok!”
Rey meraba dagunya, “hehehe, aku terlalu serius mendengarkan mu,”
“Sudahlah, curhat dengan mu taka da solusi,”
“Bukan taka da, kau belum menintanya.”
“Kalau begitu bantu aku,”
“Oke.”
“Pegang kata-katamu,”
Rey tersenyum, “Iya,”
“Lia,” tegur Rey yang mendapati istrinya sedang melamun di depan cermin. “Lia.” Dia mengguncang pundaknya.
“Ah, iya? Ada apa?’’
“Apa yang sedang kau pikirkan?’’
“Tidak. Tidak ada.” Jawabnya. Meraih sisir yang kemudian diberikannya pada sang suami.
“Apa?’’
“Sisir rambutku.” Permintaan yang terdengar perintah itu disambut senyum dari Rey.
“Baiklah. Kita mulai dari sini ya,” dia mulai mengelus rambut Lia dari arah kanan ke kiri, kemudian sebaliknya. Benar-benar di rapikannya. “Kau cantik setelah tidak terlihat beberapa lama ini,”
“Aku sudah terlahir cantik dari dulu. Karena terlalu cantik hingga Ibumu memanggilku menantu manis.”
Gemas dari Rey di lampiaskan dengan mengacak rambut istrinya, “Kau ini,”
“Ah, rambutku…” Lia mencubit Rey dan di balas gelitikan. Mereka berlari kesana-kemari di di dalam kamar mereka yang cukup Luas.
Hingga Lia terperangkap ke sudut dengan pintu karena Rey menghalanginya. “kenapa? Tidak bisa lari lagi?’’
Lia menyengir,
“Rey yang tampan, kita kan sudah berbaikan, aku..” Rey mulai mendekat, mengacungkan dua tangannya yang siap menggelitik istrinya, “ampun, ampun… hahaha, geli! Rey! Lepas.. “ Ia meronta sekaligus terbahak-bahak.
“Ampun?’’
“Iya, ampun..”
__ADS_1
Posisi mereka sekarang berada di lantai terduduk, sama-sama berusaha meredakan tawa. “Kau benar-benar gila,” omel Lia namun tetap tertawa, Ia menarik rambutnya dari setiap sisi dann merapikannya.
“Apa?” tanya Lia yang memergoki Rey tersenyum aneh. Lalu Rey merentangkan tangannya mengunci Lia dalam pelukannya.
“Aku merindukanmu,”
Lia tersenyum membalas tatapan sang suami. Kemudian berkata, “Cih, setelah aku kabur baru kau merindukanku,dasar”
Rey tertawa. “Dari dua tahun yang lalu aku sangat merindukanmu. Sangat.”
“Lalu kenapa kau mendiamkan ku? Seolah-olah aku datang membawa malapetaka.” Wajah manis Lia terlihat cemberut.
“Dasar kau ini!” Rey mencubit hidung Lia yang membuatnya mengaduh. “Kau pernah berjanji dengan ayahku untuk tidak meninggalkan ku.”
Lia tertegun. Jujur sekali suaminya ini. “Maaf,” ucapnya benar-benar menyesal.
“Ya sudahlah, kita lupakan saja. Yang penting kau sudah kembali itu sudah lebih dari cukup.”
Lia tersenyum. Seperti ada rahasia dibalik garis lengkung itu. Dan hal itu dapat ditangkap Rey. “Ada yang ingin kau beri tahu?’’
“Aku..”
Rey menunggu.
“Aku sangat merindukanmu disana.” Ucapnya jujur, meski itu bukan hal yang utama yang ingin dia beritahu. “Terimakasih sudah merindu,”
Cup.
Satu kecupan di bibir pria itu di berikan spontan oleh Lia. Dia pun mengerjap.
“Kenapa mencium ku?’’ tanyanya seperti tak terima.
“Tidak boleh?’’ tanya Lia heran, “Hei, aku ini istrimu, aku bisa menciummu dimana saja, kapan
saja semauku, aku,,”
Ucapannya terhenti saat satu kecupan mendarat di bibirnya.
“Harusnya aku yang lebih dulu, aku ini laki-laki,”
Dan keduanya pun melanjutkan aksi penyatuan bibir dengan mesra hingga memanas.
Rey mengiring Lia untuk berdiri. Dilihatnya tatapan sayu dari gadis itu, hal itu mengingatkannya akan sesuatu dan tersenyum.
“Kenapa?’’
“Ingat tragedi sofa tunggal, hahaha”
“Ihh..”berulang kali Lia melancarkan pukulan pada pundak sang suami dengan gemas. Kemudia terhenti saat Rey menangkapnya dan memberikan tatapan sayu.
“Lia?’’
“Hm?’’
Air liur Rey serasa tercekat di tengah leher, entah kenapa sangat sulit menelannya. Hati, pikiran, jiwa, raga, bahkan gilbirb menginginkan sesuatu yang lebih dari yang barusan mereka lakukan.
Lia mengerti. Dia hanya bisa mengangguk dan mulai memejamkan mata.
Darrr!
Keduanya tersentak. Jendela kamar mereka tiba-tiba pecah. Sepertinya ada seseorang yang sengaja melemparkan batu. Buktinya, Rey berjalan dan mendekati sebuah benda yang terlihat bulat dan tertutupi oleh kertas.
“Jangan dibuka, di lempar saja lagi. Takutnya bom Rey,”
“Hm? Sepertinya tidak. Ini cukup berat.” Ia pun mulai membuka benda itu. Yang di dapatinya hanya batu hitam dan terlihat ada tulisan bertinta merah di dalamnya.
__ADS_1
“GELAP ITU INDAH.”