
Hari demi hari bahkan tak terasa sudah berganti tahun. Namun keadaan langit masih sama. Hujan juga sama. Matahari masih di sana. Dan rahasia Lia pun tetap sama, rapat disimpan olehnya.
Terlalu lama memberitahu, hingga ia pun sampai lupa kalimat pembuka untuk memulainya.
Ditengah ramai dan hebohnya suasana perpisahan sekolah, Lia tampak murung. Marcia pun menghampiri.
"Hei, sebentar lagi kita akan menjalankan misi." Ucapnya yang tanpa nada riang. Entahlah dia juga dilema, di satu sisi ada keadilan yang wajib di tegakkan, di sisi lain, pembengkok keadilan itu adalah ayah kandungnya.
Situasi yang mulai canggung ini membuat Lia menoleh, "apa kau baik-baik saja?"
"Tentu. Justru aku yang ingin menanyakan keadaanmu,"
"Aku tidak dalam keadaan baik-baik saja Marcia." Tatapannya melekat, "tolong ajari aku pidato untuk menolak pinangan dari pujaan hatiku." Suaranya melemah.
"Ha?" Alis Marcia pun saling bertaut, "apa maksudmu?"
"Setengah tahun yang lalu keluargaku dan keluarga Rey sepakat untuk mengadakan pesta pernikahan tahun ini setelah kelulusanku. Aku akan menikah dengan Rey. Sementara kita harus menyelesaikan misi ini," keluhnya benar-benar lemah.
Marcia merenung sejenak. Mencoba berpikir dengan jernih. "Aha!" ia menjentikkan jarinya.
"Halo, Wil,"
"Apa?" ketus yang di seberang telepon.
"Dih, emosian. Nanti cepat tua loh,"
"Aku tidak punya banyak waktu, berhenti bermain-main," ia pun makin kesal.
"Hahaha, baiklah. Jika kau disuruh untuk memilih antara menikah muda atau menuntaskan misi, apa yang akan kau lakukan?" Lia melotot ke arah temannya itu, tidak punya akhlak sekali terang-terangan membeberkan masalah.
Marcia menutup telepon setelah mendapat omelan tak jelas dari sahabatnya. "Lia, jadi bagaimana?"
"Anu,"
"Lia."
Pemuda yang sangat dikenalinya datang menghampiri dan memeluknya meski seragam yang digunakan Lia saat ini penuh coretan warna pertanda kelulusan.
"Abang." Jawabnya lirih. Sementara, Marcia menghindar secepat mungkin. Dia masih ingin hidup, karena peringatan dari Wilona untuk tak menunjukkan wajahnya pada Rey.
"Selamat untuk kelulusanmu sayang."
Pelukan mereka terlepas, kini di ruangan kelas itu hanya ada mereka berdua. Kalimat pembuka, tolonglah aku malaikat, berikan aku ide untuk sebuah pembukaan. Rintih Lia.
Lia tahu tindakan Rey selanjutnya adalah melamarnya secara resmi. Rok abu-abunya ia cengkeram dengan kuat. Mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ada dalam dirinya.
"Dek,"
"Bang,"
Nah kan, rumit ini. Bahkan mereka sama-sama memanggil satu sama lain dengan bersamaan.
"Lia duluan Bang,"
"Aku duluan Dek,"
"Lia Bang," ucap gadis itu sedikit memaksa.
__ADS_1
Seperti tidak biasa melihat gerak-gerik Lia, kekasihnya itu pun mengangguk.
"Oke, mau bilang apa?" tanyanya lembut sembari mengusap kepala gadis itu.
"Lia.. Lia, anu,"
Apa yang harus ku katakan?
"Hem?"
"Lia mau kuliah Bang," Ya, mungkin alasan ini bisa mengulur waktu. Sabar ya Bang, nanti Lia datang lagi untuk Abang sepenuhnya.
Rey mengulum senyum. "Kalau jodoh itu memang satu pikiran,"
Raut menyesal nan tunduk itu seketika mendongak bingung, "Ha?"
"Abang tadi mau bilang, masa muda kamu sayang kalau langsung hilang hanya untuk Abang. Masih banyak mimpi yang harus kamu kejar," ucapnya sembari menyelipkan anak rambut Lia ke belakang telinga. "Tapi dengan syarat, jodoh kamu harus Abang."
Mereka pun tertawa, "mana bisa Abang, jodoh Tuhan yang atur."
"Hahaha, habisnya kamu ngangenin, kuliahnya jangan jauh-jauh."
"Iya, hanya di Australia kok,"
Sontak Lia pun makin tertawa keras. Wajah tanda tak terima itu membuatnya sungguh bahagia hari ini. "Uhh, manisnya kalau panik begini," Pipi Rey di goyang ke kiri ke kanan. "Bercanda sayang."
Rey pun tak mau menghentikan senyumnya. Memang sangat jarang gadis ini memanggilnya dengan sebutan 'sayang', sekali mendengar hal itu, bagai balon terbang secara bebas di udara, Rey hampir tak ingat masih berada di bumi.
"Kau ini!"
***
"Tapi ayahku sudah lama tak pulang, hampir setahun. Tidak mungkin dia ada di sana."
"Benar. Dan itu bagus. Banyak informasi dari sana. Kita mulai hari ini, ayo."
Kertas-kertas pun berserak dimana-mana akibat ulah tiga gadis itu. Kini mereka menjelma jadi detektif. Sepertinya.
"Apa ini?" Tanya Marcia saat mendapati amplop kecil berwarna merah.
"Angpao itu, wih, enak nih dapat rejeki." Seloroh Lia.
Daripada penasaran, Marcia kemudian membukanya. Didapatinya sebuah foto lama. Ada tiga pemuda dan tiga wanita muda di sana. Lia mengamati foto itu lama, dan sadar akan sesuatu.
"Ini foto ayahku,"
"Ini juga foto ayahku."
"Lalu yang di tengah foto siapa?" Tanya Wilona pada mereka.
"Seperti paman Bima, tapi aku tidak yakin."
"Siapa itu Lia?"
"Ayahnya Rey, Wil."
Wilona mencoba berpikir lebih jauh. Kasus ini sungguh sulit namun menarik. Sangat. Kemudian terdengar lagi ocehan dari teman-temannya.
__ADS_1
"Tidak mungkin, ini foto ibuku dan ibunya Rey sewaktu muda. Karena di kamar ibuku ada foto mereka bertiga dengan wanita ini," tunjuknya pada gadis berparas cantik dan bergaun merah muda di foto itu.
"Aku tidak pernah melihat ibuku, tapi itu sepertinya dia. Karena mirip dengan foto pernikahan yang di pajang di kamar ayahku."
"Tunggu. Kalau mereka tampak akrab di foto ini, mengapa ayahmu membunuh teman-temannya?" tanya Lia bingung.
"Itulah kenapa kita ada disini. Kita harus mengungkap kasus ini dengan sebenar-benarnya."
"Kau benar Wil," Marcia mendekat, "terimakasih sudah membantuku dari dulu."
"Iya tahu kalian sudah dekat dari dulu, jangan buat aku jadi nyamuk dong," ucap Lia pura-pura cemberut.
"Kemari lah aku ingin memeluk kalian,"
Marcia merentangkan tangannya dan di sambut tawa oleh mereka. Rasanya mereka bertiga bukan lagi hanya sekedar teman, mungkin sudah seperti sahabat.
***
"Tuan, nona Marcia sudah sangat jauh mengambil langkah. Bagaimana jika benar dia akan mengejar Tuan?"
"Dia putriku. Aku percaya dia tidak akan melukaiku. Tenang saja Bram. Tapi untuk temannya yang cukup pintar itu, kau perlu menghabisinya."
Bram tahu ini adalah perintah. Tapi dia masih punya nurani, "Tuan, jika nona Wilona dibunuh, nona Marcia akan kesepian lagi."
"Bram,"
"Saya mengerti Tuan."
Usulan sekaligus bantahan itu di tolak detik itu juga. Bram hanya bisa menghela nafas. Pria bertubuh tegap dan berusia tiga puluh lima tahun itu hanya akan hidup jika menuruti perintah sang Bos. Ia pun merogoh saku celananya, menghubungi orang-orang di bawahnya.
"Tolong hanya buat dia sekarat, jangan sampai meninggal."
***
Lia memang bisa bela diri, akan tetapi kemampuan Wilona jauh di atasnya. Wanita itu lebih pendiam dari mereka tapi banyak sekali menyimpan ilmu pengetahuan.
''Itu mereka, serbu!" Ucap salah satu dari beberapa pria bertubuh besar berpakaian hitam yang kira-kira ada sepuluh orang di seberang jalan sana.
Kala itu, Lia dan dua sahabatnya sedang menikmati minuman di sebuah kafe setelah merasa penat berada di ruang bawah tanah.
Marcia teriak histeris saat dirinya ditarik oleh dua pria yang cukup besar badannya. Senjata api sudah ada di belakang kepala Lia. Dia hanya bisa diam.
Wilona berdecih. "Besar, tinggi, tapi bodoh." Kalimat melecehkan itu menguak emosi. Hal itu sengaja untuk mengalihkan perhatian semua orang terhadap dirinya agar Lia fokus menyelamatkan diri.
Kebetulan kafe itu memang sedang sepi dan baru buka, jadi hanya beberapa pelayan yang menyaksikan itu dan mereka pun perlahan mundur satu persatu.
Ouht!
Kelincahan Lia untuk hari ini patut di uji. Bahkan pistol api sudah berada di tangannya sekarang, dia mengacungkannya pada lawannya.
Mereka serentak terlonjak saat suara tembakan terdengar menggelegar. Wilona mengeluarkan pistolnya dari saku jaket hitam miliknya yang tak pernah di ketahui siapapun termasuk Marcia, tembak-tembakan pun terjadi.
"Lia, bebaskan Marcia, setelah itu lari,"
Lia menurut, meski tak seimbang, tapi Lia berusaha melawan dua orang yang menahan Marcia. Saat keduanya hendak berlari menjauh, suara mengerang membuat langkah mereka terhenti.
"WILONA!!!"
__ADS_1