
Malamnya, rumah Lia kedatangan banyak tamu. Hiasan dengan tema ulang tahun bertebaran dimana-mana. Balon warna-warni di setiap sudut cukup membuat keadaan jadi terlihat semakin ramai. Lain dengan suasana hati Rey yang mengurung diri di kamar. Menatap ke arah langit, memandangi sang bulan sabit. Bahkan ia cemburu dengan bentuk bulan itu, seperti membentuk senyum, tapi dia tak bisa senyum saat ini. Dia sangat gelisah, bagaimana kalau potongan kue pertamanya akan diberikan pada orang lain? Aku bisa gila.
Sementara di rumah Lia, gadis itu sangat terlihat bahagia. Gadis itu sedang menebak-nebak kira-kira apa yang menjadi kado dari tetangganya. Dia sungguh tak sabar menunggu kehadirannya.
“Lia…” Seru teman-temannya. “Selamat hari menetas,” ucap mereka bersahutan.
Lia menyambut dengan tak kalah heboh, “jangan terlalu banyak bergerak Lia, nanti make upnya luntur,” tegur sang Ibu yang kebetulan lewat hendak menyambut tamu di depan pintu.
“Iya, Bu.”
“Wah, anak dan ibu sama-sama seperti bidadari, gen apa yang ada di garis keturunan keluarga kalian?’’ tanya Syila.
“Yang pasti bukan gen yang mirip dari keluargamu,’ jawabnya bercanda. “Nikmati pestanya ya,”
Lia, gadis yang jadi tuan rumah, dengan gaun merah panjang, rambut sebahu yang terurai, make up tipis namun cukup mempertegas bentuk wajanya, membuat siapapun yang memasuki rumah itu langsung terpana dan terpesona. Sungguh indah ciptaan yang satu ini, pelukismu agung siapa gerangan, pelangi-pelangi. Cukup.
Rama dan teman-temannya mulai memasuki rumah Lia. Tak usah dijelaskan, sudah pasti anak ingusan seperti yang di ucapkan Rey itu pasti selalu lemas saat melihat Lia. “Kau terlihat sangat cantik,” pujinya saat sudah berada di hadapan gadis itu.
Lia tersenyum senang, “terimakasih,”
Acara sudah mau dimulai, Lia
celingak-celinguk mencari sosok yang sangat di tunggu-tunggunya. “Ah, mungkin dia sedang menyiapkan kejutan,” gumam Lia.
Sampai selesai acara, para tamu pun sudah tak ada lagi, Rey benar-benar tak muncul sama sekali. Dilihatnya Nina dan Lisa sedang bercerita, ia menghampiri mereka.
“Tante, Rey dimana?’’ tanyanya tanpa sungkan.
“Oh, katanya dia tidak enak badan, jadi tidak bisa kesini,” jawab Nina seadanya, dan terukir senyum disana saat melihat ekspresi Lia yang murung.
“Aku pergi dulu, Tante, Ibu,” pamitnya.
“Mau kemana?’’ tanya sang ibu.
“Mau ke Rey, mau kasih kue,” diapun bergegas dengan membawa setapak kue.
Nina dan Lisa saling tos. “Misi sukses.”
Lia bergegas ke rumah Rey dan menyelonong begitu saja. Dengan tidak sabar menegtuk pintu kamar pemuda itu dengan kasar.
“Siapa?’’ tanya Rey dengan nada yang malas.
Lia tidak mau menjawab. Wajanya cantiknya sekarang berubah jadi cemberut. Dia hanya mengetuk pintu saja terus menerus hingga akhirnya Rey menyerah dan membukanya.
“Lia?’’ Rey memperhatikan penampilan gadis pujaannya dari ujung kepala samapi ujung kaki, dia tersenyum. Kemudian beralih pada wajah Lia yang tampaknya tidak baik-baik saja.
“Are you okay?’’
Lia menggigit bibir bawahnya. “Kau jahat,” Lia memukuli dada Rey sambil terisak. “Kau sangat jahat, hiks, hiks.”
Kelemahan Rey selalu dengan mudah diobrak-abrik oleh gadis bergaun merah ini. Dia pun menghela nafas dan menarik Lia ke dalam kamarnya, menuntun gadis itu duduk di ranjang.
“Maaf, aku tak bisa datang,” sesalnya, dan Ibunya pun tak sepenuhnya bohong, Rey memang sedikit demam. Demam memikirkan keputusan untuk pergi atau tidak.
“Padahal kau yang paling ku harapkan datang dan aku sangat ingin memberikan suapan pertama,”
__ADS_1
“Benarkah?’’
“Iya, tapi karena kau tidak datang, kau jadi orang ketiga tahun ini.”
“Cih, kau jahat sekali,” Rey memalingkan wajah, dia terlihat gusar.
Lia tertawa terbahak. “Jangan marah, lihat aku, hei, lihat aku Rey,”
Rey sebal saudara. Sementara Lia tetap tertawa riang melihat eskpresi Rey. “Kau lucu sekali,” teriak Lia girang.
Pria itu memalingkan wajahnya
kesana-kemari karena Lia terus mengejek raut wajahnya.
“Hahaha,” tawa besar Lia sangat tidak bisa diterima oleh pihak satu lagi. Dia menangkap tangan Lia dan menariknya hingga masuk kepelukan pemuda itu.
“Hei, lepaskan aku, aku sesak nafas,”
“Tidak usah mengelabui. Kau sungguh jahat ternyata,” pria tampan setengah matang itu terus mencubiti hidung Lia hingga memerah, namun tetap saja gadis itu tertawa.
“Tenang dulu, aku punya sesuatu untukmu,”
“Apa?’’ tanya Rey saat keduanya sudah tenang namun gadis itu sekarang berada di
pangkuan Rey.
“Yah, kuenya ancur, hehehe”
“Sudah jadi yang ketiga, hancur lagi,” sindir Rey.
“Itu karena ulahmu,” omel Lia. “ya sudahlah kue ini tidak penting,” Lia meletakkannya sembarang. “Mau tahu sesuatu?’’ gadis itu melingkarkan tangannya ke leher Rey.
“Suapan pertama itu, Ibu. suapan kedua tante Nina, kamu yang ketiga, tapi kuenya hancur, jelas?’’
Penjelasan yang tak diminta itu pun sungguh sangat melegakan perasaan Rey. Dia menarik leher Lia dan membuat kening mereka bersatu dan tertawa bahagia di sana. Iya, Rey bahagia. Dan semakin ia dewasa di waktunya yang sekarang, ada pihak yang lebih bahagia lagi. Gilbird.
“Hadiahku spesial hari ini,” Rey kembali membuka percakapan di antara mereka, karena sesuatu dalam dirinya sedang meminta sesuatu yang tidak mungkin dituruti oleh Rey. Ah, sial. Dia merajalela.
“Wahh, apa itu? Harus di berikan sekarang,” rengek Lia.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. “Em, masih ada waktu. Ayo pergi,”
“Tidak mau, aku mau kadonya sekarang,” Lia menggoncang tubuhnya yang sedang dipangku, membuat Rey hampir melayang. Sial, sial!
‘’Kadonya di tempat lain, Ayo kesana,”
“ Yeay,” Lia turun dari paha laki-laki itu dan diapun bernafas lega.
“Untunglah, huff.”
***
“Ahhh, terharu, makasih Rey…” Lia memeluk Rey dengan bahagia. Ini seperti museum khusus untuk keluarga kita. Cantik sekali” Lia masih terkagum. “Terimakasih, Rey yang ganteng nan baik hati,”
Cup!
__ADS_1
Rey menatap Lia yang tertawa padahal baru saja mengecup pipinya. Kenapa perempuan ini biasa saja? Bagaimana kalau aku yang mulai dulu.
“Aku sudah tidak bisa menahannya Lia,”
Tawa Lia terhenti. “Hem? Apa?’’
Satu tarikan namun pasti, kedua bibir pucat yang tadinya dingin terkena angin malam, kini menjadi hangat. Bahkan sekujur tubuh mereka kian memanas. Bibir mereka sudah menempel. Lia sempat membelalakan mata, namun merasakan suatu gerakan, bibirnya dimanja oleh buaian yang lembut, membuatnya jadi tak berdaya. Dia hanya diam saja.
Entah apa yang merasuki Lia, gadis itu menikmatinya. Tangannya sebelah mencengkram dada Rey dan di sambut dengan genggaman pria itu. Rey tersenyum, dia tahu dirinya sudah mendapat ijin.
Rey menarik tengkuk gadis itu, menyatukan kembali bibirnya, dan menyalurkan hasratnya dari sana. Semakin lama semakin tak terkendali. Rey hampir gila. Kenapa bibir gadis ini sangat manis? Kenapa? Kenapa? Sampai sesuatu yang lain menuntut lebih. Sial, sial! Umpat Rey dalam hati. Ciuman itu jadi semakin panas. Gaun pesta yang di pakai oleh Lia pun sedikit terbuka di bagian dada. Mata Rey tak lepas dari sana.
Lia tak bisa berbuat apa, ia sendiri mengakui bahwa ia sangat terlena. Rey mengusap pipi gadis itu, tatapannya yang sayu itu sangat memabukkan. Ruangan yang dirancang khusus untuk memori indah itu di desain dengan sangat rapi dan terang benderang namun sangat sepi. Hanya mereka berdua di sana.
“Lia,” Rey kembali mengusap jarinya ke pipi mulus gadis itu. Lia tak menjawab, hanya bungkam. Para penghuni di pikirannya sedang berteriak untuk berhenti dan menayangkan semua ketakutan, sementara jauh di hatinya, ia sudah lama jatuh ke lubuk hati pria yang sedang bersamanya saat ini.
Dengan diamnya Lia, pemuda itu pun melonggarkan kancing dress Lia bagian belakang, membuat penampilan Lia sangat siap untuk diterkam. Rey mulai menciumi lehernya dengan lembut, kiri-kanan di hisapnya, Lia hanya melenguh merasakan sensasinya. Makin lama, ia juga ikut terbuai dan mengambil bagian. Tangan kirinya menjambak rambut Rey, tangan kanannya membuka kemeja pria itu. Hingga Baju Rey terlepas, mereka belum bisa merasakan kepuasan.
Jika sama-sama menikmati seperti ini, kenapa Lia selalu menolak ku. Di tengah permainan bagian atas itu, Rey teringat Lia pernah bercerita ia takut malam pertama. Dan yang mereka lakukan saat ini sepertinya menuju malam pertama. Dimana ketakutan gadis itu. Rey menghentikan kegiatannya. Lia sangat berantakan dan semakin menggoda. Posisi mereka sekarang berada di sofa panjang satu-satunya yang ada disitu, tentu saja menindih Lia. Gadis itu tidak berani membuka mata saat kesadaran mulai menghampiri. Sekelebat ketakutan membuatnya mencengkram lengan Rey hingga berbekas.
“Tidak apa-apa,” Rey menenangkan. “Maaf,” sesalnya. Rey mengancing kembali dress Lia bagian belakang. Entah kenapa tangan Lia berubah jadi dingin seketika.
“Aku takut,” ucap Lia lirih.
Rey mengelus puncak kepala Lia terus-menerus hingga gadis itu sampai tenang.
“Kukira kau tidak takut lagi tentang hal seperti itu, karena sepertinya kau menikmatinya,” Rey berusaha bercanda.
Lia tak bergeming.
“Hei, maafkan aku, hem?’’
Lia mengangguk. “Aku yang salah.”
“Tidak, seharusnya aku menjagamu,” Rey memeluk tubuh Lia. Apa sebenarnya yang membuat gadis ini takut untuk hal seperti itu. Bahkan jika dia menonton drama-drama korea yang ada scene romantisnya kadang raut wajah Lia langsung ketakutan.
“Tadi di awal aku hanya ingin mencoba melawan rasa takutku,” balas Lia sepenuhnya tidak menyangkal.
“Ayo pulang,” ajaknya.
Rey mengangguk. Dilihatnya Lia yang begitu kacau bagian leher akibat ulahnya, dia pun melingkarkan kemejanya yang sempat terlepas di tubuh gadis itu.
“Kenapa di buka?”
“Tidak apa-apa, aku hanya takut kau kedinginan. Di mobil masih ada kaos yang bisa ku pakai.”
Lia mengangguk. Dan beranjak pergi.
“Em, Lia.”
“Iya?’’
“Anu, itu lehermu jangan sampai di lihat siapapun.”
“Kenapa?’’ tanya Lia bingung. Sepolos itu dirinya saudara.
__ADS_1
Kenapa hanya aku yang gugup disini? Padahal aku hampir tak bisa berkata-kata saat kesadaran memenuhi pikiranku. Oh, Lia. Aku gila.
Di mobil, keduanya diam membisu. Lia benar-benar canggung untuk berbicara. Padahal dirinya sangat takut pada hal yang sensitif seperti itu, kenapa Rey malah membuatnya jadi melayang dan rasa takut itu hilang begitu saja? Ah, pikiran apa ini.