KAU CAHAYAKU

KAU CAHAYAKU
Kecewa


__ADS_3

Lia menceritakan segala sesuatu yang terjadi selama beberapa tahun belakangan ini dengan tersedu-sedu di hadapan Rey.


"Kan aku sudah pernah bilang Dek, jangan cari orang itu lagi,"


Lia masih saja menangis. Seharusnya dulu dia mengatakan sudah memaafkan Sergio San pada Marcia, pasti semuanya tidak akan jadi seperti ini.


"Aku kecewa Lia."


Lia menggeleng, air matanya terus saja mengalir. Mereka sekarang berada di kamar yang baru saja di renovasi, usai pemakaman sang Paman tadi siang, mereka memutuskan untuk membicarakan masalah ini sekarang juga.


"Kenapa harus balas dendam Lia?"


Rey berdiri dan berkacak pinggang, sementara Lia duduk di ranjang dengan keadaan masih menangis.


"Kita sudah berjanji tidak akan mengejar pria misterius itu, bahkan membahasnya pun jangan!"


"Tapi kenapa kau begitu keras kepala Lia!"


Rey mengguncang pundak istrinya dengan kuat, "lihat aku Lia! Lihat!" Lia terpaksa mendongak hidung wanita itu memerah matanya pun sangat sembab, "berapa nyawa lagi yang harus hilang karena ambisi mu yang menyebalkan itu?!"


Lia tahu Rey sedang kecewa besar padanya saat ini, tapi dirinya juga sedang terluka. Hatinya seakan terbanting ke sana ke mari. Dia ingin sekali dipeluk dan di tenangkan. Dirinya sangat berharap amarah dari sang suami di undur dulu, entah besok atau lusa saja meluapkan amarah.


"Lia! Jawab aku!"


"Maaf," Jawab Lia setelah dia terlonjak kaget. Seumur hidupnya belum pernah pria itu mengeluarkan emosi seperti itu, apakah Rey-nya sudah berubah?


"Mengucapkan maaf itu sangat mudah Lia, semua orang bisa. Tapi perbuatanmu yang tak bisa di maafkan."


"Lia hanya mau keadilan Bang." Jawab Lia kemudian, mendengar itu Rey melepas tangannya dari pundak wanita itu. Ia mendengus kesal.


"Kalau begitu, ayo kita cari dia, kita harus tegakkan keadilannya bersama-sama."


Air mata Lia semakin deras tak menentu, bahkan otaknya sangat lambat mencerna perkataan dari sang suami.


Lama ia berfikir, sampai senggukannya menghilang, lalu mendongak mendapati sang suami tersenyum. "Abang.. huaa"


Rey tersenyum puas saat istrinya langsung berdiri dan memeluknya. Mana mungkin ia membiarkan perjuangan gadis itu pupus begitu saja hanya karena dirinya yang tak seberapa, katanya. Lia jadi tertawa kecil, "Abang itu memang tak seberapa, tapi berharga," Jawab sang istri.


Rey membalas pelukan itu semakin erat, "bisa tidak penyelidikannya di tunda jadi besok?"


"Kenapa gitu?" tanya Lia masih berapa di posisinya.


"Abang rindu."


"Hem?"


Ditatapnya wanita itu dengan senyum penuh arti, bahkan hanya diam membisu saja istrinya sangat manis, apalagi ketika hidungnya memerah, matanya sembab, rautnya sedih tapi sudah bahagia, Rey sadar mimik ini jadi salah satu favoritnya mulai saat ini.


"Abang.."

__ADS_1


"Abang kenapa?"


"Eh, anu."


"Apa sih Bang?" Reaksi Rey berubah tiga ratus enam puluh derajat dari semula, tadinya wajahnya memerah karena marah, sekarang merah bersemu entah karena apa.


"Lia itu lagi berduka Bang, belum bisa tebak isi hati," Melepaskan pelukan, "Lia tuh takut lihat Abang,"


"Tidak ada apa-apa, hanya saja kenapa tak mengajakku dulu sewaktu kau dan teman-teman mu itu berjuang keras?"


Tuh kan, masih marah ternyata. Aku pikir sudah selesai.


"Marahnya boleh tidak besok saja, air mata Lia sudah masuk ke dalam lagi, susah buat keluarnya Bang," Tapi melihat reaksi Rey yang hanya diam saja Lia jadi bingung, apa sih mau suaminya ini, "ya sudah, hukum saja aku, supaya kau senang,"


Rey tertawa kecil, "baiklah. Kau akan di hukum. Karena Gilbird sudah gila di bawah."


"Ha? Gilbird?" Sering mendengar nama itu, tapi tidak tahu itu siapa. Ia pun bertanya, "itu siapa?"


"Mau kenalan?" Lia mengangguk. "Baiklah,"


"Eh, kok buka baju sih?"


"Katanya mau kenalan sama Gilbird, gimana sih"


"Abang sembunyikan di baju ya?"


Rey merengkuh istrinya, menjatuhkannya ke ranjang, memberi tatapan sayu adalah langkah pertama yang ia lakukan. Kebetulan Lia sedang memakai kemeja hitam, Rey perlahan membuka kancingnya satu persatu.


"Gil-gila. Bird- burung." Rey menatap Lia, "Itu arti Gilbird."


Wanita itu mencoba berpikir, tapi tentu saja terhalang. Sebab sang suami sudah menciumnya. Mulai dari bibir, pipi, leher, hingga akhirnya menuntut ke arah yang lebih panas.


"Lia takut Bang," Menarik kembali kemejanya.


"Kita pelan-pelan."


Lia menggeleng, "aku tidak mau, aku takut,"


"Tidak apa-apa, pelan kok," bujuk sang suami.


Dan di siang hari ini, cahaya matahari dan para benda yang ada di kamar itu menjadi saksi atas aksi panas keduanya, yang pastinya sudah sangat pantas di lakukan oleh sepasang suami-istri. Tentunya dua hantu yang sedari tadi menguping sudah ngacir entah kemana.


***


"Kita harus bantu Rey dan istrinya,"


"Hei"


"Aish! Junior!!!"

__ADS_1


Hantu Junior menoleh, "sebentar, aku sedang berfikir."


"Eh, tolong ya, beli telur dulu sana, terus pergi ke dapur, dadar tuh telur biar dadar diri."


"Sadar diri."


"Nah itu, sadar diri, kan kita otaknya kosong,"


"Mohon maaf, belum bisa mengerti maksud makhluk aneh."


"Sesama hantu tuh harus kompak,"


"Ya kan memang kompak."


"Kompak apanya coba?"


"Kompak bodohnya," jawab Junior asal, tidak seperti biasanya gadis ini, eh, hantu ini begitu pendiam.


"Ah, jangan-jangan kau sedang memikirkan tentang Lia dan Rey ya? Ah, dasar mesum!" tuduh Senior.


"Ck, kau ini! Aku sedang berfikir, tolonglah kau diam dulu hantu Senior."


Diam dari hantu Junior jadi hal aneh bagi hantu Senior. Tidak biasanya hantu gresek ini diam begitu saja. Hantu Senior pun, yang merasa dirinya Senior kemudian bertanya,


"Kau memikirkan apa?" Nadanya tampak serius.


"Entahlah, saat aku mendengar nama Marcia atau Wilona, nama itu terdengar akrab di telingaku."


Tak bisa dipungkiri, Senior pun merasakan hal yang sama. "Jangan-jangan, kita memang ada hubungan dengan orang-orang ini dulu." Tebak Senior.


Junior mengangguk, "kau benar, kita harus membantu mereka menemukan keberadaan Sergio San yang telah membunuh ayah Rey dan Lia, setelah itu kita bisa meminta bantuan kepada mereka agar mencari tahu siapa kita sebenarnya dan kenapa kita meninggal."


"Hem, dan kita bisa pergi dari sini ke alam kita yang sesungguhnya. Dari pada bertahan lama disini dan akhirnya berubah jadi roh jahat" Tambah hantu Senior.


"Eh tapi aku sih penasaran, gimana ya bentuk wajahmu nanti jika seandainya kau berubah jadi roh jahat?"


"Yang pastinya menyeramkan. Begitu sih menurut informasi dari grup persatuan hantu-hantu kece"


Junior ber-oh ria, "berarti kau akan jelek sekali ya?" Mengambil ancang-ancang untuk berlari, "ku harap kau tak mengingat bagaimana kau bisa meninggal dulu."


"Kenapa?" Hantu Senior bertanya, ia melirik pergerakan hantu Junior yang mencurigakan.


"Agar kau berubah jadi jelek, hahaha, kabur...."


"Ah, sial, kemari kau, hei! Hantu Junior!!!"


***


UNTUK SEMENTARA AKU PASANG LOGO "END" YA TEMAN-TEMAN. BERHUBUNG CERITA AKU YANG JUDULNYA PEMILIK HALU SUDAH TAMAT, JADI MAU HIATUS DULU BEBERAPA MINGGU. NOVEL INI PASTI AKAN BERLANJUT. MAKASIH YANG UDAH PERNAH MAMPIR MENGISI RELUNG DISINI.

__ADS_1


__ADS_2