
Tuan Arthajaya yang sejenak pingsan, kini sudah sadarkan diri saat mendengar suara tegas dan pelan milik putra bungsunya. Suara yang sama persis seperti dirinya jika sedang menahan amarah.
Sementara Andara saat ini tubuhnya bergetar hebat di dalam pelukan Zee, sang kakak sulung. Apa yang baru saja ia dengar? Calon istri Rama? Apa itu benar? Telinganya tidak salah dengar kan? Andara menatap lekat pada Rama saat ini.
"Jangan lagi saya mendengar jika Anda menjelek-jelekkan calon istri saya, Andara! Dia wanita terhormat yang pernah saya temui selama saya hidup. Dan wanita yang paling terhina, bahkan saya malu saat melihat Anda yang ternyata merupakan istri adik tiri saya berani menggodanya dan juga ayah saya! Wanita macam apa Anda ini? Jika sudah tidak memiliki urat malu, setidaknya tutup sedikit tubuh dan kelakuan burukmu itu! Anda, hanya seorang wanita penggoda! Sekali penggoda tetap penggoda! Tidak cukup satu lelaki saja yang menjadi mangsa, bahkan ayah mertua pun di hembat juga! Cih!" tukas Rama begitu jijik melihat wanita bermuka dua itu.
"Pergi! Sebelum kesabaran saya habis! Anda sudah terlalu lama merusak semua orang. Di mulai dari Ibu Marissa, Faris dan Anda! Kalian itu manusia yang tidak memiliki perasaan apapun! Sukanya main tikung dan menjebak, setelah ketahuan akal busuk kalian, kalian baru mengakui! Kalian itu bukan manusia! Tetapi iblis berwujud manusia! Jika kalian manusia, masih bisa memikirkan orang lain dengan nurani kalian yang hanya seujung kuku itu!"
"Saya sengaja diam selama ini. Karena saya memantau keadaan anda, Nyonya Marissa!"
Deg.
Ibu Marissa terkesiap melihat Rama. Ia menelan salivanya dengan susah payah.
Mati aku! Ternyata anak Nawaning sialan itu sudah kembali! Tetapi, bagaimana bisa?! Bukannya dia sudah di kabarkan mati saat bersama Andara? Dan wanita memakai baju hitam itu? Apakah itu Andara? Tidak, tidak mungkin!
Batinnya berkilah dan menolak kebenaran yang saat ini ada di hadapan matanya.
__ADS_1
"Dan untuk Anda, Faris Subroto! Anda itu lelaki! Tetapi, lelaki yang tidak memiliki hati nurani! Tega membunuh istri sendiri demi seorang wanita penggoda! Cih! Pantas saja semua orang mengatakan jika Anda itu pemuda gila ************!"
Deg.
Deg.
Kali ini Faris yang terbeliak mendengar ucapan Rama.
Apa maksudnya itu? Darimana dia tahu tentang diriku? K-kenapa wajahnya begitu mirip dengan Ayah? Ada apa ini? Siapa dia sebenarnya? Dan wanita bergamis hitam itu? Apakah itu Andara..?
Batin Faris berperang dengan kegalauan dan kecemasan yang begitu terlihat di wajahnya saat ini. Andara terpaku menatap Rama yang kini begitu marah pada manta suaminya itu. Saudara tiri bukan sekandung dengannya.
Rama menatap datar dan dingin padanya. "Kamu ingin tahu siapa saya? Kamu tidak akan takut, Faris? Yakin kamu ingin tahu siapa saya?" pancing Rama masih dengan wajah datarnya.
Faris yang begitu kesal dengan ucapan Rama membalasnya. "Ya! Saya ingin tahu siapa kamu! Apa hubunganmu dengan Ayah Artha! Apakah kamu anak dari wanita ja lang itu? Huh?"
Deg.
__ADS_1
Deg.
Rama yang mendegar jika ibunya di hina segera maju dua langkah dan menghadiahkan tendangan maut pada adik tiri tidak sekandung dengannya itu hingga ia jatuh terjengkang ke belakang.
Faris berteriak kesakitan. Ternyata, tulang rusuknya patah satu saat Rama menendangnya. Raungan pilu semakin terdengar keras di dalam ruangan Hotel itu. Acara yang tadinya berjalan dengan damai menjadi ricuh saat bukti demi bukti kebrobrokan Faris, Anita dan Ibu Marissa terungkap kini semakin gaduh.
Semua orang semakin berbisik-bisik membicarakan tentang keluarga Arthajaya itu. Rama mendekati Faris dan berjongkok di hadapannya.
"Wanita yang kau sebut ja lang itu IBU SAYA! IBU KANDUNG SAYA! ISTRI SAH DARI AYAH SAYA, ARTHAJAYA! MEREKA BERPISAH KARENA ULAH IBUMU YANG MENJEBAK AYAH SAYA SAMPAI TIDUR DENGANNYA DAN MENGATAKAN JIKA KAULAH PUTRANYA! PADAHAL KAU ITU BUKAN PUTRA AYAH SAYA! KAU PUTRA DARI LELAKI YANG ADA DALAM REKAMAN ITU! TUAN SUBROTO! BUKAN KAU PUTRANYA TETAPI, SAYALAH PUTRA BUNGSUNYA!" Tegas Rama begitu menusuk relung hati Faris yang kini menatap terkejut pada Rama.
"Semua bukti sudah menunjukkan siapa kau yang sebenarnya, Faris! Masih mau mengelak juga? Huh? Kau pembunuh! Ibumu perebut! Sedang istrimu penggoda! Itukah keluarga keturunan Arthajaya?! Kalian bertiga bukanlah keluarga saya! Saya tidak memiliki saudara yang kelakuannya melebihi iblis di alam neraka sana! Saya hanya memiliki satu kakak, yaitu komandan Farhan! Kakak kandung saya se-ayah dan se-ibu dengan saya! Sedang kalian? Bukanlah keluarga Arthajaya! Saya pewaris sah dari semua harta tuan Arthajaya! KALIAN DENGAR?!"
Ucapan Rama begitu membuat semua orang terkejut bukan main. Apalagi Faris dan Anita. Ucapan yang menuding mereka dan ketiganya sangat tertohok saat ini. Wajah ketiganya memucat seketika. Faris menggeleng tanda tidak percaya.
"Nggak! Saya nggak percaya jika kamu Raden Mas! Bukankah kamu sudah mati bersama Andara?" kilah Faris masih juga keukeuh mempertahankan prinsip yang sudah tidak berguna lagi.
Rama terkekeh sinis. "Jika saya mati, kenapa pula saya bisa berdiri di sini? Kamu pikir, saya ini hantu? Kamu lihat kaki saya yang menapak di bumi! Mata kamu sudah buta tidak bisa melihat mana yang mengambang dan mana yang menapak di tanah! Oh, ya, saya lupa! Kamu itu hanya bisa melihat wanita penggoda itu saja saat ini. Makanya kamu tidak bisa melihat saya yang menapak di sini! Mata kamu yang sudah buta dan picek! Yang terlihat olehmu hanya wanita yang rela membuka pahanya lebar-lebar hingga kamu tergiur melihatnya! Cih!"
__ADS_1
Faris tertohok lagi dengan ucapan Rama baru saja.