
Hari-hari yang keduanya lewati sebagai pasangan pengantin baru begitu menyenangkan bagi keduanya. Andara yang tidak mendapatkan kelembutan seeprti yang Rama lakuakn saat bersama Faris begitu bahagia.
Rama tahu saat kapan dan bagimana menyenangkan hati dan persaannya. Tak pwrnah sekalipun Andara marah padanya. Jika kesal ada. Itu semua karena dirinya yang terbakar api cemburu kala melihat petigas Hotel tempat mereka berdua bukan madu begitu jelas terlihat tertarik pada suaminya.
Andara panas an terbakar kala melihat keduanya tertawa tanpa peduli padanya. Andara yang kesal memilih pergi meninggalkan keduanya dan berkeliling pantai seorang diri tanpa Rama. Sementara itu, Rama yang kebingungan mencari Andara di buat panik bukan main. Dirinya gelisah dan juga marah bersamaan.
Marah padanya lantaran terbawa suasana saat bertemu temna lama saat ia kulaih dulunya. Keduanya bertukar cerita dan juga saling tertawa bersama. Tanpa sadar, Rama sudah mengabaikan Andara yang mungkin membutuhkannya saat itu.
Rasa marah itu semakin menjadi ketika ia tidak mendapati Andara di kamar mereka. Dan saat ia melihat jam, Rama tetsentak. Jika dirinya meninggalakn Andara tanpa kabar hampir dua jama lamanya. Rama panik dan khawatir memikirkan Andara yang entah berada di mana.
Rama menyusuri pantai bersama. Petugas Hotel yang ia minta tolong untuk mencari istrinya. Rama ingin menangis kala pencariannya tidak membuahkan hasil. Sementara saat ini, waktu sudah menunjukkan maghrib. Warna kekuningan di cakrawala menunjukkan matahari sudah kembali ke peraduannya.
Rama tetus menyusuri Hotel itu hingga dua kali. Sayangnya, Andara tak juga ia temukan. Putus asa dengan pencariannya, ia kembali ke kamar karen asudah maghrib.
Saat dirinya mmebuka pintu, Rama di buat terkejut melihat Andara yang sufah terlelap di ranjang mereka. Rama masuk dalam keadaan hati yang sangat bersalah padanya.
"Maaf," bisik Rama di telinga Andara yang belum terlelap itu.
Dirinya baru saja kembali saat sudah puas berjalan-jalan di pantai seoramg diri sedari tengah hari tadi. Andara tidak ingin membalas ucapan Rama hingga memilih diam. Bukan karena marah. Akan tetapi, perutnya begitu sakit setelah mendapatkan tamu bulanannya.
__ADS_1
Rama memakluminya. Ia pun meninggalkan Andara yang sudah terpejam tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Rama masih saja merasa bersalah pada istrinya. Ia memilih betwudhu dan sholat demi mengurangi sesak di hatinya.
Sholat pun selesai. Namun, Andara tak kunjung turun untuk melaksanakan sholat. Ia masih betah berbaring di ranjangnya. Sadar, jika waktu magjrib akan segera habis, Rama membangunkan Andara biar sholat dan juga makan malam yang sudah ia pesan.
"Sayang, bangun. Udah maghrib. Sholat dulu, yuk? Setelahnya kamu makan dan berbaring lagi," ucap Rama yang membuat mata Andtra terbuka perlahan.
Dirinya bukan tidur, hanya memejamkan mata saja sebab perutnya begitu sakit saat ini. Andara bangkit dengan wajah meringis menahan sakit yang membuat Rama cemas.
"Kamu kenapa? Apanya yang sakit? Mana, bair abang periksa!" ucapnya nik sambil membuka baju Andara.
Andara teersenyum lirih. Walau kesal, ia tetap haris menjawab pertanyaan suaminya yang begitu khawatir padanya.
Mata Rama mengembun. Secepat kilat ia memeluk tubuh Andara dna berbisik lirih sambil mminta maaf berulangkali pada Andara yang telah lalai memperhatikan keadaannya.
Andara memakluminya. Ia pun sudah tahu saat salah satu petigas Hotel yang mengantar minuman hangat untuknya tadi menjelaskan jika Rama dan wanita itu berteman sedari mereka SMA hingga kuliah. Keduanya tidka memiliki hubungan apapun. Andara paham.akan hal itu.
Hanya saja, jika ia cemburu terhadapa wanita lain yang delat dengan suaminya, itu wajar bukan?
Besok, keduanya harus kembali ke Jakarta. Mereka akan melakukan penerbangan pagi. Keberangkatan kali ini bersamaan dengan Atika yang juga akan kembali besok paginya.
__ADS_1
Rama memaklumi keadaan Andara. Ia makan sambil sesekali menyuapi Andara yang ia paksa walau sudah makan tadi sore. Setelah kenyang, Rama menemani dan memeluk Andara semabri mengelus lembut perutnya hingga Andara terlelap.
Rama tersenyum sendu melihat Andara. Ia baru sadar saat Atika mengirinkan pesan padanya kalau Andara sakit hati akan kedekatannya dengan temannya itu. Rama menyesal telah membiat istrinya kesal hingga mmeilih pergi dan meninggalakannya. Cukup sekali dan tidak akna terulang lagi. Rama berjanji dalam hatinya.
Keesoakn paginya, mereka bertujuh sudah berada di dalam pesawat dan akan kembali ke Jakarta. Atika duduk bersama Arya sembari membicarakan masalah pekerjaan mereka. Sementara Andara duduk bersama Rama yang di depannya ada wanita yang saat itu berbicara dengan suaminya juga ikut pulang ke Jakarta bersama mereka.
Rama masih saja berbicara dengan wanita itu. Sesekali ia melirik Andara yang hanya diam saja melihat keluar jendela di mana awan putih bergelantunagn di mana-mana.
Rama memeluk Andara di hadapan wanita itu yang membuat tubuh Andara tersentak kaget.
"Kenapa? Kok, melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan, hem?" tanya Rama pada Andara yang kini menatap lekat pada Rama.
Sejak kejadian kemarin sore, Andara begitu irit betbicara. Belum lagi saat ini. Rama juga masih membalas setiap ucapan gadis itu yng terang-terangan berbicara dengan Rama di hadapannya tanpa peduli padanya. Bahkan, dirinya tidak di ajka sedikit pun.
"Tak ada. Apa yang harus pikirkan sementara di hadapanku kini sudah terlihat dengan jelas keadaannya?"
Deg.
Rama terkesiap mendengar ucapan Andara yang kini berpaling kembali ke arah jendela pesawat yang menunjukkan awan putih dan cahaya matahari yang menembus cahaya jendela di tempatnya duduk.
__ADS_1