
Dua bulan berlalu setelah kejadian itu. Kini kehidupan Andara dan Rama sudah kembali normal. Keduanya sedang menikmati hari-hari sebagai pasangan pengantin baru.
Sudah tiga bulan usia pernikahan keduanya. Andara belum lagi terlihat hamil atau apapun itu. Rama tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya, bisa bersama Andara saja sudah cukup. Keluarga besarnya pun tidak menuntut untuk segera memiliki momongan.
Mereka tahu jika Andara baru saja melewati masa-masa sulit. Sebulan lamanya Andara mengalami depresi akibat tidak bisa menolong saudarinya yang kini sudah pergi untuk selama-lamanya.
Claudia pamit padanya dan pergi meninggalkan Andara dengan setiap kata indah keluar dari bibir saudarinya itu.
"Kita bertiga di lahirkan di hari yang sama. Kita bertiga memiliki nasib yang sama. Aku,kamu dan adikku, Atika, kita sama-sama di kecewakan oleh suami kita. Takdir hidup kita sama, Dek. Akan tetapi, takdir kehidupan kalian berdua itu masih panjang. Jadi, jangan menyalahkan takdir dengan apa yang terjdai padaku saat ini. Hiduplah bahagia bersama suamimu. Atika pun demikian. Bukalhah hatimu agar kamu bisa melihat ketulusan orang-orang yang menyayangimu di sekitarmu. Kakak pergi. Sampai bertemu di keabadian saudariku..." Claudia petgi dengan senyum manis tersungging di bibirnya.
Ucapan itu terngiang-ngiang di telinga Andara dan juga Atika. Andara sempat stress saat tidak bisa menerima kenyataan jika Claudia kini pergi untuk selamanya. Rama dengan setia menemani Andara saat dirinya dalam keadaan tidak baik. Rama menemani Andara saat Andara dalam masa kritisnya hingga ia bangkit kembali.
Semuanya kembali dengan damai saat ini. Kedua pembunuh Claudia itu pun sudah di kurung di rumah sakit jiwa karena mereka mengalami kegilaan yang begitu parah. Keduanya selalu berteriak ketakutan kala malam hari. Jika siang hari, keduanya termenung dan melamun saja. Menurut yang Andara lihat, keduanya sudah tertekan saat bisa melihat arwah Claudia ketuka dirinya tewas dengan tubuh penuh luka dan bersimbah darah.
Itulah yang mereka lihat hingga saat ini. Andara menunaikan janjinya untuk menghukum kedua orang itu. Jangankan untuk hidup, bahkan kematian pun enggan mendekati keduanya. Inilah yang Claudia inginkan dulunya sebagai hukuman yang pantas. Membuat keduanya gila hingga akhir hayatnya.
*
*
*
Siang ini, Andara akan mengantarkan makan siang untuk Rama ke kantornya. Selama mereka menikah, pusat perusahaan yang berada di Singapura Rama serahkan pada orang kepercayaannya dalam memimpin perusahaan milik James itu.
Rama memilih menetap di Indonesia saja. Lebih tepatnya di Jakarta. Di sanalah pusat kantornya saat ini. Sedari pagi, Rama merengek tidak ingin ke kantor lantaran tubuhnya yang begitu lemas juga kepalanya yang begitu pusing kala melihat sinar matahari.
Andara tidak menghiraukan rengekan Rama. Ia tetap menyuruh suaminya itu bekerja dengan catatan, saat makan siang, dirinya akan ke kantornya nanti. Rama menyetujuinya dengan berat dan sangat terpaksa.
__ADS_1
Dalam keadaan pusing dan wajah pucat, Rama tetap bekerja. Walau pada kenyataannya, Rama hanya tertidur sepanjang hari di dalam kantornya. Toni, selaku asisten pribadinya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sang bos seperti itu.
"Yang kayak orang ngidam aja, sih?" gumam Toni segera keluar untuk mengambil berkas yang ia serahkan pada sekretaris Rama baru saja.
Tinggallah Rama seorang diri di dalam ruangannya itu. Toni keluar bertepatan dengan sekretarisnya masuk ke dalam ruangan itu.
Andara yang sudah tiba di lobi, tersenyum di balik niqobnya kala satpam penjaga serta resepsionis menuntun mereka sampai ke ruangan Rama. Andarq berjalqn sambil meninting rantang makna siang untuk Rama. Tiba di sana, keduanya pun undur diri.
Andara mengernyitkan dahinya saat melihat meja sekretaris Rama kosong. Begitu pun dengan meja Antoni yang berada di sebelahnya. Dengan jantung yang berdebar dan pikiran negatif menghantuinya, Andara melangkah masuk ke dalam ruangan Rama.
Tangan halus itu bergetar kala telinganya sayup-sayup mendengar suara lenguhan Rama dan juga seorang wanita. Jantung Andara berdentam sangat kuat. Bibirnya memucat seketika.
Ia segera pintu ruangan itu dan mematung di tempatnya berdiri kala melihat Rama yang kini berada di bawah seorang wanita yang sibuk mencum bui suaminya. Darah Andara mendidih. Tangannya terkepal dengan erat. Wajahnya memerah.
Antoni atau Toni yang baru saja kembali dari ruangan sebelah untuk mencari sekretarisnya di buat bingung saat melihat Nyonya Bos ada di sana. Ia segera melangkah masuk dan berdiri di belakang Andara.
"...Bang.. Rama!!!!!"
Duaar!
Bruaak!
"Aduh.. Kok, di tendang sih, Pak Bos?" keluhnya manja terdengar di telinga Andara.
Rama yang mendengar suara lengkingn istrinya spontan berdiri dengan tangan menutup mulutnya karena hendak muntah.
Wajah Andara merah padam dengan napas memburu. Ia melangkah mendekati Rama dan melayangkan tendangan pada pusat tubuh Rama hingga suaminya itu jatuh dan pingsan seketika. Sementara sekretaris sialannya itu berdiri dengan tubuh bergetar dan wajahnya memucat seketika.
__ADS_1
Mati aku! Nyonya Bos! Mampus!
Batinnya gelisah saat melihat Andara mendekati dirinya dan segera ia tarik baju wanita itu hingga robek di sana sini. Antoni melotot melihat itu. Ia segera menutup ruangan itu dan menguncinya.
Ia mendekati Rama terlebih dahulu sambil menghubungi dokter mereka. Andara masih sibuk menarik dan menjambak wanita itu.
"Sialan! Inikah yang kau kerjakan di belakangku?! Heh?!" teriak Andara terus menyiksa sekretaris yang baru saja satu bulan bekerja dengan Rama itu.
Rama yang belum sadar berusaha Antoni sadarkan segera. Takut dirinya melihat singa betina mengamuk. Hanya Rama yang bisa menenangkannya. Serangan Andara terus menghantam wanita itu hingga dirinya pun ikut pingsan.
Setelah melihat lawannya pingsan, Andara duduk manis di samping Rama yang kini masih pingsan. Andara yang geram segera meninju perut Rama dan menampar pipi suaminya itu hingga Rama terlonjak kaget.
Antoni lagi dan lagi terkejut melihat aksi Nyonya Bosnya itu. Rama mengerjabkan matanya dengan semua tubuhnya terasa sakit. Ia tidak tahu dan melihat Andara yang kini berada di belakangnya dengan napas memburu. Niqob miliknya entah sudah terbang kemana. Wajahnya merah padam saat ini.
Antoni menatap takut wajah Nyonya Bos yang kini terlihat menyeramkan itu. Antoni benar-benar tidak menduga, jika Nyonya Bos sangatlah galak melebihi singa. Dirinya semakin takut saat melihat tatapan mata Andara padanya yang menghunus jantung seakan memutus cepat aliran jantungnya yang masih berdegup kencang itu.
"Bawa Bos mu ke rumah sakit! Saya mau pulang! Dan ya! Singkirkan wanita siluman ular itu! Jika sampai saya melihatnya lagi ada di kantor ini, maka akan saya hancurkan gedung ini sekalian dengan penghuninya!" ketus Andara begitu sarkas hingga membuat Antoni mengangguk dengan wajah memucat.
Antoni sungguh syok dengan kejadian tidak terduga yang datang dari Nyonya Bosnya ini.
...****************...
Nah, loh.. Bang Rama!
Habis kamu! Singa betina ngamuk!
Kamu, sih! 🤣🤣🤣
__ADS_1