Kau Yang Mendua

Kau Yang Mendua
Bertemu saudara kembar Andara


__ADS_3

Pukul sepuluh pagi, keduanya sudah berada di Lombok. Keduanya langsung menuju Hotel yang sudah di boking untuk satu minggu ke depan. Ayah Artha sengaja memesan resort ini untuk keduanya. Khusus untuk pasangan yang sedang bulan madu.


Keduanya berjalan memasuki Makarma resort Lombok. Kamar untuk keduanya sudah di persiapkan khusus untuk pasangan bulan madu seperti keduanya.


Salah satu staf Hotel membawa keduanya ke kamar yang sudah di reservasi atas nama Tuan Raden Mas Bratawijaya dan Istri, Andara Bratawijaya. Mendengar nama belakangnya itu, Andara terharu. Tidak menyangka, jika dirinya akan menyandang gelar nama belakang keluarga Rama. Jika dulu nama Tuan Arthajaya, kali ini Andara menggunakan nama belakang keluarga Rama sendiri.


Keduanya masuk ke dalam kamar Hotel itu. Andara tertegun melihat kamar untuk keduanya. Kamar yang di buat khusus untuk pasangan bulan madu. Ranjang berukuran king Size dengan seprei putih ada sepasang angsa di atasnya yang bertabur bunga mawar serta kelambu putih berbentuk love dan juga kelambu putih yang menggelantung di sisi ranjangnya.


Andara duduk di ranjang itu. Rama memberikan tips pada staf Hotel yang telah membawakan barang mereka berdua. Andara membuka niqob dan hijabnya hingga terlihat rambut Andara yang sudah terurai.


Ia berjalan mendekati jendela kamar itu yang langsung menunjukkan pemandangan kolam renang di bawah sana. Belum lagi pemandangan indah yang ada di belakang resort itu. Andara tersenyum saat merasakn semilir angin berhembus hingga membawa terbang rambut hitam miliknya yang sepanjang bahu itu.


Rama mendekatinya dan memeluk Andara dari belakang. Andara tersenyum.


"Terima kasih karena sudah mau menerima diriku yang tidak lagi gadis bang Rama. Aku sudah janda. Sudah memiliki anak bersama saudara tirimu dulunya. Aku tak menyangka, jika jodohku dengannya begitu pendek. Dan aku juga tidak menyangka jika jodoh terakhirku adalah kamu. Bang Rama.." lirih Andara kala merasakan kecupan ringan tetapi, berulang kali Rama labuhkan di puncak kepalanya.


"Jangan pikirkan itu. Itu hanya masa lalu. Masa lalu ada untuk masa depan. Dengan kamu mengingatnya, masa lalu akan tetap tinggal di sana. Jika tanpa masa lalu, apa mungkin saat ini kita berdua bisa berdiri di sini?" tanya Rama pada Andara yang semakin mengeratkan pelukannya di tubuh montok Andara.


Andara tersenyum haru. "Aku bahagia bisa kembali bersatu denganmu. Aku bersyukur, masih di berikan kesempatan untuk bisa kembali bersama kamu," ucap Andara mengurai pelukan Rama dan berbalik menghadap Rama yang kini juga menatapnya.


Rama memeluk pinggang Andara erat. "Jika suatu saat kamu merasa bosan padaku, tolong katakan dengan jujur agar aku bisa memperbaiki diri bagian mana yang kamu bosan dariku. Dan jika suatu saat kamu sudah tidak menginginkanku lagi, jangan menduakanku. Cukup beritahu aku dan aku akan pergi dengan cara baik-baik darimu tanpa terluka lagi," lirih Andara dengan mata mengembun.

__ADS_1


Rama tersenyum. Ia mengecup kedua mata Andara hingga tetesan buliran bening itu mengalir di kedua pipinya. Rama mengecup kedua pipi yang mengalirkan buliran bening itu.


"Itu tidak akan pernah terjadi, Sayang. Kamu segalanya untukku. Kamulah yang selama ini sering ku sebut di dalam setiap doaku. Ketika kecelakaan itu terjadi, aku berharap bisa bertemu denganmu. Dan ya, Allah mengabulkannya. Aku sudah lama menunggu kamu, Sayang. Lama.. Sekali. Jadi, itu tidak mungkin terjadi padamu. Bagaimana aku bosan padamu, sementara dirimu memiliki segalanya? Bagaimana aku bisa menduakanmu, sementara hati dan pikiran ini sudah di penuhi dengan namamu sedari dulu? Aku tidak bisa melihat wanita lain selain kamu! Jika itu terjadi, kenapa sekarang aku bisa menikah denganmu? Kenapa tidak dulu aku mencari wanita lain? Tidak kan?" ujar Rama menjawab semua keraguan Andara padanya.


Andara menangis lagi. "Maaf," cicit Andara.


Ia salah berpikiran demikian. Rama memakluminya. Ia tahu, jika Andara pernah gagal dan terluka akibat mantan suami yang merupakan adik tirinya. Maka dari itu, wajar kalau Andara meragukan dirinya.


"Tak apa, abang maklum, kok. Kamu pernah mengalami kegagalan dalam berumah tangga. Ya, sudah. Belum dhuhur. Istirahat dulu, yuk? Nanti, setelah ashar, baru kita jalan-jalan keliling resort ini. Mau?" tanya Rama yang diangguki oleh Andara.


Keduanya pun istirahat sejenak sebelum sore nanti keduanya kan jalan-jalan keliling resort yang mereka tempati.


*


*


*


Sambil berjalan, keduanya saling merangkul. Rama memeluk erat pinggang Andara. Begitu pun dengan Andara yang melingkarkan tangannya di pinggang Rama. Keduanya berjalan sambil bercakap-cakap membahas lokasi resort itu yang memang sangat bagus untuk bagi pasangan bulan madu.


Keduanya puas berkeliling hingga waktu maghrib. Saat Andara dan Rama berjalan memasuki resort saat waktu sudah memasuki maghrib, matanya menangkap siluet seseorang yang begitu ia kenal. Rama pun mematung melihat wanita itu.

__ADS_1


Ia melirik Andara yang juga menatapnya di kejauhan sana bersama seorang pemuda yang Andara kenal.


"Bukankah itu Atika? Saudara kembar kamu?" tanya Rama yang diangguki oleh Andara. "Sedang apa dia di sini? Pantas saja kemarin dia tidak bisa datang. Ternyata karena ini, toh?" Rama terkekeh kecil saat melihat Atika sedang berbicara serius dengan seorang pemuda yang juga menatap serius padanya.


"Kita kesana!" kata Andara yang diangguki Rama.


Tiba di dekat keduanya, Andara berdehem. Atika tersentak. Pemuda itu pun demikian.


"Kakak!"


"Mbak Andara!" ucap keduanya kompak yang membuat Rama dan Andara memicingkan kedua mata mereka.


Kedua orang itu mendadak salah tingkah karena tertangkap basah.


...****************...


Ada yang kenal dengan Atika? Kalau belum, yuk mampir di lapak berwarna hijau bergambar pulpen.


Othor tulis kisah Atika dan pemuda itu di sana. Cus, kepoin!😁


Seru, loh!

__ADS_1


Sayang kalau nggak ngikutin! 😁🙏


__ADS_2