
Andara berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Rasa hati yang terluka dan juga kecewa, membuatnya abai akan kesehatan Rama saat ini.
Andara masih mengingat perbuatan Faris dulunya. Walau sudah berlalu, tetap saja. Kenangan itu bagai kaset rusak yang terus menerus berseliweran di otaknya. Luka yang Faris torehkan begitu dalam hingga Andara sulit untuk bisa memaafkannya. Anadar wanita yang lemah dan tidak bisa merasakan pengkhianatan sekecil apapun. Sebb, mulai dari nenek hingga Ummimy, ia bisa melihat sendiri kalau mereka di khianati oleh pasangannya.
Luka akibat senjata tajam masih bisa di obati. Sementara luka hati? Apa yang bisa menyembuhkannya selain waktu? Wanita itu makhluk lemah, tetapi peka. Mereka bisa tahu tanpa diberitahu sekali pun. Wanit, jika sudah terluka maka akan sulit bagiya untuk bisa kembali seperti sedia kala.
Wanita itu ibarat cermin. Pantang baginya jatuh dan pecah. Walau bisa di perbaiki, tetap tidak akan sama lagi.
Benar kata orang. Wanita jika sudah terluka, maka apapun kenangan pahit itu akan terus teringat olehnya. Setahun, dua tahun, tiga tahun, bahkan seribu tahun pun jika kenangan buruk yang terlalu banyak ia dapat, maka ia akan terus mengingatnya bagai kaset yang terus di putar secara berulang.
Andara mengusap bulir bening yang terus menerus mengalir di pipinya. Ia tak ingin pulang ke rumah orangtuanya. Itu hanya ucapannya saja. Andara tidak seceroboh itu. Ia harus menjaga semua rahasia rumah tangganya dari semua keluarga besarnya, jika tidak ingin di pisahkan dengan Rama. Ucapan abang kandungnya masih terngiang olehnya dulu.
"Jika sampai Rama membuat ulah sama seperti Faris, maka abang akan menjemputmu pulang! Ingat ini Andara! Abang tidak terima jika kamu di sakiti oleh laki-laki untuk yang kedua kalinya. Jangan salahkan abang jika abang akan menjemputmu kembali!"
Ucapan tegas yang tidak bisa Andara bantah itu terngiang terus di kepalanya saat ini. Andara pulang menggunakan taksi menuju ke rumahnya dan Rama.
__ADS_1
Sementara itu di dalam ruangan VVIP, saat ini Rama sedang di periksa oleh Om Dimas. Tante Kezia pun ikut membantu memegang tangan Rama dan memeriksa urat nadinya.
"Seperti yang Papi tebak. Benar, adik kamu ini sedang mengalami Couvade Syndrome atau kehamilan simpatik!"
Deg.
Deg.
Ayah Artha dan Ibu Nawaning terkejut mendengarnya. "Maksud kamu, kalau Andara saat ini sedang hamil, begitu? Dan Rama yang mendapatkan jatah nyidamnya?" tanya ayah Artha yang diangguki oleh tante Kezia sambil terkekeh kecil.
"Benar, Yah. Aku pernah mengalami hal seperti ini ketika Kezia hamil dulunya. Jadi, yang saat ini Rama rasakan merupakan efek ngidam dari Andara yang saat ini sedang mengandung. Rama bisa merasakan ini karena keduanya memiliki ikatan batin yang kuat. Atau bisa jadi, keduanya akan memiliki bayi kembar? Seperti kami?" timpal Om Dimas yang diangguki Tante Kezia.
( Mana yang belum tahu siapa Om dimas sama tante Kezia, kalian boleh mampir di karya Othor MENJEMPUT MAAF ISTRIKU cek aja profil menulis othor, cari dengan judul itu.)
Sedangkan Rama saat ini sudah sadar, tetapi enggan untuk membuka kedua matanya lantaran masih pusing dan juga hatinya sedih melihat Andara yang pergi tanpa menerima penjelasan darinya.
__ADS_1
Apa benar yang Andara katakan? Apakah Dina sejahat itu padaku? Aku sangat mengenal siapa istriku. Dia tidak mungkin melakukan hal yang bisa merugikan diriku, jika bukan hal yang ia ucapkan itu benar adanya? Aku harus menyelidiki ini!
Batin Rama berkecamuk bingung antara senang dan sedih. Satu sisi, ia merasa senanng dengan kabar kehamilan Andara. Rama tahu persis kapan terakhir kali Andara mendapatkan tamunya yang membuat dirinya pusing tujuh keliling karena kepala atas bawahnya cenat cenut.
Rama mempercayai ucapan Om Dimas dan juga Tante Kezia. Karena dirinya sendiri yang lebih tahu tentang tubuh istrinya. Ini benar-benar di luar ekspetasinya.
Pantas saja selama satu bulan full aku bisa menyentuhnya? Bahkan dirinya sellau yang meminta duluan? Apakah ini karena pengaruh hormon?
Batin Rama lagi terus menerus berkecamuk sambil mendengarkan penjelasan Om Dimas.
"Untuk masalah lato-lato kamu yang membiru dan bengkak itu, tidak usah khawatir. Mungkin terjadi sedikit cidera dan itu akan sembuh jika kamu sering membawanya kesini untuk di periksa. Untuk tiga bulan ke depan, kamu bisa jadi tidak bisa menyentuh Andara karena pisang boma kamu itu sedang hibernasi. Butuh waktu untuk pisang itu kembali berdiri lagi seperi pohon kelapa!" Om Dimas tergelak kala Tante Kezia menepuk lengannya.
Benar, jika bagian sensitif itu yang kena serangan akan sulit untuk bisa berdiri dengan cepat. Masih beruntung jika tendangan Andara tidak begitu kuat. Hanya setengah dari kekuatannya saja. Walaupun begitu, tetap saja. Pisang boma milik Rama tidak secepat itu kembali berdiri lagi.
"Tenanglah Ram. Abang pernah mengalami hal itu ketika remaja dulu. Abang juga mengalami impoten sementara. Akan tetapi, setelah sering mengobatinya, si pisang itu kembali berdiri tegak lagi hingga menghasilkan banyak anggota kami!" ucapnya percaya diri sekali.
__ADS_1
Rama tersenyum tipis saat mendengarkan ucapan Om Dimas. Bukan itu yang menjadi ke khawatirannya saat ini. Andara. Andara yang Rama khawatirkan saat ini. Entah apa yang istrinya itu lakkan di rumah saat ini.
Rama hanya bisa menghela napas panjang kala mengingat Andara di rumah mereka. Dan bukan pulang ke rumah orantuanya seperti perkataannya tadi.