
Ayah Artha dan Ibu Nawaning bisa bernapas lega setelah mendengar cerita Andara. Kini keluarga kecil itu sudah bahagia apalagi ketika dokter mengatakan jika Andara positif hamil, bahkan kantung janin itu terlihat banyak di sana.
"Beneran Dokter? Istri saya kembar tiga?" tanya Rama pada dokter spesialis Obgyn itu.
Beliau tersenyum."Benar, Pak. Selamat! Kalian berdua akan menjadi orangtua. Untuk saat ini, tolong di jaga mood dan juga makanan istri Anda. Makan makanan yang sehat, istirahat teratur dna minum yang cukup. Nanti tebus vitamin di apotek, ya?" balas dokter yang memeriksa Andara saat ini.
Sudah dua bulan usia kehamilan Andara. Istri Rama itu sengaja menunggu sampai dua bulan untuk memeriksakan dirinya. Andara harus mengurus Rama yang masih sakit anunya akibat tendangan darinya. Selama satu bulan perawatan intensif, akhirnya pisang boma milik Rama sembuh juga. Akan tetapi, untuk bisa menyentuh Andara, dokter belum mengizinkan.
Andara harus bersabar lebih banyak lagi. Walau dirinya sering menginginkan Rama, Andara berusaha mengontrol dirinya. Andara sering kali menagis bila keinginannya tidak terpenuhi dan itu tanpa sepengetahuan Rama. Andara sering menagis di kamar mandi saat malam tiba ketika Rama terlelap.
Andara tersenyum saat melihat wajah berbinar suaminya. Cinta pertamanya ketika ia masih kecil dulu. Hanya karena istri kedua Ayah Artha, ia terpaksa menikah dengan Faris, padahal yang sebenarnya Ramalah yang di jodohkan oleh Ayah Artha dengannya.
Ayah Artha tidak bisa berbuat apapun saat itu sebab dirinya sedang berusaha melindungi istri dan putra bungsunya dari kekejaman istri keduanya itu. Berat dan terpaksa itulah yang ayah Artha lakukan. Begitu pun dengan Andara. Walau dirinya tidak mencintai Faris, tetapi ia tetap menghormati Faris sebagai suaminya.
Saat ini semuanya sudah kembali seperti sedia kala. Seperti perjanjian ayah Artha dulunya pada Andara kini terlaksana juga walau membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa keduanya bersatu seperti sekarang ini.
Andara menyeka bulir bening yang mengalir di sudut matanya saat Rama menatap penuh cinta padanya. Rama memeluk Andara dengan erat sebagai ungkapan rasa bahagianya. Tak lupa, ucapan terima kasih terus Rama dengungkan di telinga Andara yang kini mengangguk dan tersenyum manis padanya di balik niqobnya itu.
Keduanya pulang dengan hati bahagia. Sesekali Rama mengelus perut buncit Andara yang sudah lumayan terlihat. Rama melajukan mobilnya berlawanan dengan arah rumah mereka yang membuat Andara mengernyit bingung.
"Kita kemana Bang? Ini bukan arah jalan ke rumah kita, loh!" tegur Andara pada Rama yang kini terkekeh mendengar teguran Andara untuknya.
__ADS_1
"Ya, abang tahu. Abang akan membawa kamu ke suatu tempat. Sudah lama sejak terakhir kali kita berlibur setelah ujian semester dulunya?" jawab Rama sembari memasuki kawasan indah yang mengelingi sisi jalan itu.
Banyak pohon kelapa dan juga tanaman lainnya yang tumbuh di sisi jalan itu. Suara deburan Ombak menggulung sudah terdengar sejak mobil Rama membelokkan ke arah sana.
Andara tertegun sejenak. Angin sepoi-sepoi mengibarkan hijab coklat susu dan juga niqobnya. Rama sengaja membuka kaca jendela mobilnya agar Andara bisa menikmati perjalanan mereka saat menuju ke pantai itu.
Rama menuju ke sisi yang lain. Sisi yang sepi yang tidak pernah di kunjungi oleh para manusia yang berlibur kesana. Andara masih terpaku melihat pantai dari dalam mobilnya.
Deburan ombak menggulung begitu terdengar jelas di sana. Belum lagi angin yang terus berhembus membuat wajahnya terasa dingin dan kering. Pohon kelapa berdiri berjejer di sana dengan tegapnya. Rama sengaja memarkirkan mobilnya agak masuk ke dalam kawasan pantai yang jarang di kunjungi orang itu.
Entah apa tujuannya, hanya dia yang tahu. Andara menoleh pada Rama saat tangannya di pegang erat oleh Rama sesekali mencium lembut tangan halus itu.
Andara menatap lekat pada suaminya itu. Rama tersenyum. Satu tangannya ia lepas dan membuka niqob Andara. Wajah putih mulus tanpa cela yang membuat darah Rama berdesir kala menyentuh pipi halus itu. Begitu pun dengan Andara.
Andara terkekeh saat paham kenapa Rama sengaja membawanya ke tempat sepi. Andara menepuk lembut dada terbuka milik Rama.
"Kenapa, hem? Bukankah ini yang kamu mau selama satu bulan ini? Kamu pikir, abang tidak tahu kalau kamu sering menangis selama satu bulan ini? Abang suamimu, Sayang. Abang tahu kamu mau apa." Tuturnya lembut sembari memgaut mesra putik ranum milik Andara yang kini tertegun dengan ucapan Rama baru saja.
Rama tidak mengizinkan Andara untuk menjawabnya. Ia terus membuat istrinya itu terbuai dengan sentuhannya. Deburan ombak yang menggulung serta hembusan angin sepoi di tepi pantai itu menjadi saksi bisu pertempuran sepasang suami istri yang sudah halal dalam melepas rindu.
Lokasi yang Rama pilih sungguh ekstrim. Andara takut-takut memikirkan hal itu. Akan tetapi, Rama berusaha menenangkannya dengan mengatakan,
__ADS_1
"Tidak akan ada yang datang kesini. Abang sudah memantau tempat ini dari dua minggu yang lalu," katanya di sela-sela akvitasnya membuat peluh bersama Andara.
Dinginnya mobil itu karena ac yang sengaja Rama nyalakan tidak membuat keduanya kedinginan saat ini. Malahn keduanya semakin kepanasan kala deburan ombak di dalam tubuh keduanya akan segera meledak.
Keduanya saling berpelukan kala pelepasan yang sudah sekian lama keduanya tunggu itu akhirnya melebur juga. Rama mengecup kening Andara yang saat ini bersandar di dada bidangnya.
"Terima kasih, Sayang. Karena kepekaanmu membuat hubungan kita menjadi awet seperti sekarang ini. Mungkin, jika aku tidak menuruti mau kamu dulunya, pastilah kita sudah berpisah saat ini. Dan itu yang aku tidak mau. Aku ingin hidup bersama kamu dan juga anak kita nanti. Menua bersama hingga ajal menjemput kita. Sedari dulu hingga saat ini, inilah yang aku mau. Aku bahagia bisa bersama kamu lagi, Sayang.." ucap Rama pada Andara yang kini menatap teduh padanya.
Andara tersenyum dan mengangguk. "Demikian juga dneganku. Selama aku menjadi istrinya, aku tidka pernah mencintainya. Aku hanya bisa menghormatinya sebagai suami dan imamku. Jika untuk cinta, kamu tahu untuk siapa, bukan?"
Rama mengangguk dan mengecup pundak Andara yang polos saat ini.
"Ya, abang tahu. Sedari dulu hingga saat ini, hanya suami mu inilah yang ada di hatimu," balas rama dengan bibir terus tersenyum menatap Andara yang kini juga tersenyum sama dengannya.
"Karena bahagiaku hanya bersamamu!" ucap keduanya sambil tertawa bersama dalam keadaan tubuh polos.
"Ck! Kamu, kok, nakal sih, Bang? Masa iya, memilih tempat seperti ini untuk kita menyatu?" cebik Andara pada Rama yang kini tertawa melihat wajah gemas Andara padanya.
"Biarin! Ketimbang di rumah, kamunya sering menangis? Lebih baik abang bawa kesini bukan? Di sini, kamu bebas untuk melakukan apapun yang kamu mau pada tubuhku! Termasuk seperti saat ini! Sstt.." Rama mendesis lagi kala Andara nakal menggoda miliknya untuk kembali mengacung.
Andara tertawa kala Rama membalasnya dengan perbuatan yang lebih nakal lagi.
__ADS_1
Satu lagi, Ye? Nggak jadi tiga.🤣🙈