
Tujuh bulan berlalu.
Sedari tengah malam tadi, kediaman Rama dan Andara begitu gaduh. Sebab, Andara sedang mengalami kontraksi sedari pukul sepuluh malam. Andara yang memang tahu dirinya akan segera melahirkan, cukup menjalani rasa sakit itu seorang diri.
Ia menikmatinya seperti melahirkan Ita dulu juga demikian, bahkan lebih parah lagi. Andara sakit sampai melahirkan, Faris tidak menemaninya. Faris lebih memilih tidur hingga bayinya itu keluar . Andara pergi bersama pembantu rumahnya ke rumah sakit untuk melahirkan bayinya dan Faris.
Berbeda dengan saat ini. Di sela-sela rasa sakitnya, ia terkekeh melihat suaminya itu di serang panik. Ia berteriak tidak karuan kala melihat Andara kesakitan seperti itu. Ibu Nawaning di buat kesal oleh putra bungsunya itu. Abi Ragata dan Ayah Artha hanya tertawa saja melihat kehebohan Rama sampai tubuhnya bergetar.
Andara menikmati setiap sakitnya. Ia menikmati perannya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Jika dulu dirinya yang mengidam hingga tujuh bulan, maka kali ini Rama yang mendapat bagian itu.
Rama di buat mual muntah hingga lima bulan lamanya. Selesai dengan mual muntah, dirinya mengalami selera makan yang meningkat. Begitu pun dengan Andara. Siang malam kedua orangtua itu tidak berhenti mengunyah akibat perutnya yang terus merasa lapar. ( Seperti othor ngidam anak ketiga. Lapar mulu bawaannya! 🤣🙈)
Berat badan keduanya semakin meningkat saat ini. Tetapi, keduanya tidak saling mengejek atau menjatuhkan karena berat badan yang semakin meningkat. Malahan keduanya sering tertawa bersama ketika menimbang berat badan keduanya yang hampir sama beratnya.
"Kayaknya anak-anak kita doyan makan, ya, Bang?" ucap Andara yang diangguki oleh Rama.
"Biarlah ketiganya kuat makan. Itu artinya, papi mereka bertiga tidak akan sia-sia mencari uang setiap hari untuk mereka. Kita harus bersyukur memiliki anak yang kuat makan. Bukan apa abang bilang begini. Masih teringat dulu saat abang kelaparan karena kekuarangan uang. Ibu waktu itu baru saja berhenti bekerja. Belum lagi ayah waktu itu menikah lagi. Kami berdua hidup serba pas pasan. Kadang bisa makan pagi, tidak bisa makan siang. Makan siang tidak bisa makan malam. Kami pernah merasakan hal seperti ini. Untuk itu, kalau ketiga anak kita doyan makan, tak apa. Abang punya banyak uang untuk bisa mencukupi mereka berempat. Kalau uang kita habis, akan abang cari lagi. Semua itu untuk anak kita dan juga kamu!" Ujar Rama satu bulan yang lalu sebelum saat ini.
Sekarang keduanya sedang berada di ruangan bersalin. Rama terus menyemangati Andara walau tubuhnya bergetar. Andara berusaha mengeluarkan putra dan putrinya satu persatu di dampingi oleh Ummi Ira dan Abi Ragata sebagai dokter spesialis kandungan Andara.
Abi Raga sendiri yang memantau janin itu keluar dengan selamat dari rahim Andara, putrinya. Bayi pertama lahir dengan jenis kelamin laki-laki dengan berat 2, 220 gram. Bayi kedua juga berjenis kelamin laki-laki dengan berat yang sama. Sedangkan yang terakhir berjenis kelamin perempuan wajahnya begitu mirip dengan Ita, kakak kandung seibu dengan bayi itu.
Lahir dengan berat 2,550 gram. Berat yang sangat berbeda dengan kedua abangnya. Abi raga dna Ummi Ira sempat tertawa melihat jika si bungsu lebih padat tubuhnya ketimbang kedua abangnya.
Rama terharu, bahkan sampai pingsan karena tidak kuat melihat darah Andara yang keluar begitu banyak. Andara pun sempat pingsan karena kelelahan. Dari pukul sepuluh malam hingga pukul 7.30 pagi barulah bayinya itu keluar dnegan selamat. Makanya Andara pingsan karena sudah tidak sanggup menahan lelah mengeluarkan ketiga buah hatinya dan juga karena mengantuk.
__ADS_1
Saat ini, ruangan inap Andara di penuhi dnegan keluarga besar Andara yang baru tiba dari kota Medan. Rencananya, enam hari ke depan, akan ada acara aqiqahan untuk ketiga bayi kembar itu.
*
*
Enam hari kemudian.
Kediaman Rama dna Andara sudah dipenuhi oleh tamu dan juga para tetangga sekitar yang di undang dalam acara aqiqahan si kembar tiga. Semua keluarga Rama yang di Yogya ikut datang untuk melihat anak pertama Rama dengan Andara itu.
Belum lagi keluarag besar Andara yang lumayan ramai. Mulai dari kakak kembar Andara yaitu, Zee dan Arga, Atika, serta adik bungsunya Prince Arryan beserta istri dna anaknya. Adik Ummi Ira, Mami Annisa dan anak-anak dan juga mennatu serta cucunya, Om Lana dan juga anak dan menantunya serta cucunya, Papi rayyan dna keluarganya, tak ketinggalan Om Algi juga bersama istrinya yang sering mengunjungi mereka karena jarak tinggal mereka yang lumayan dekat.
Belum lagi saudara dari Abi Ragata. Lumayan ramailah kediaman Rama saat ini. Rumah yang berlantai tiga khusus Rama beli untuk Andara dan ke empat anaknya cukup untuk menampung tamu dari kedua belah pihak keluarga untuk menginap di sana. Rumah itu bukan lagi rumnah saat ini. Tetapi Mansion Mr Raden Mas Bratawijaya dna Mrs Andara Bratwijaya yang terjkenal di komplek perumahan sederhana itu. Di antara semua rumah yang berlantai dua, hanya rumah mereka yang paling megah saat ini di sekitar komplek itu.
Acara aqiqahan sedang berlanjut saat ini. Lima ekor kambing sudah di masak dengan bumbu khas dari Aceh yang di bawa langsung oleh adik ipar sekaligus adik sepupu Andara.
Andara dan Rama tertawa melihat itu. Keduanya saling pandang dalam tatapan penuh cinta. Acara berlanjut dengan khidmat sampai malam.
Pukul delapan malam waktu Jakarta, semua tamu sudah kembali ke rumah mereka. Si kembar tiga pun sudah larut dalam buaian mimpi. Yang tersisa hanya Rama dan Andara saat ini.
Keduanya duduk di balkon dengan saling berpelukan.
"Terima kasih, kamu sudah memberikan kebahgiaan yang tak terhingga untukku, Sayang. Hal yang hanya menjadi impianku dulunya kini sudah terwujud karena dirimu. Maafkan suamimu ini jika khilaf atau apapun itu. Aku hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan," lirih Rama sembari memeluk erat tubuh Andara di tengah deru angin malam yang membuat tubuh keduanya terasa dingin.
Andara tersenyum dan mengangguk. "Aku pun demikian. Aku juga tidak luput dari kesalahan. Aku juga tidak sempurna untuk menjadi istrimu. Aku percaya padamu bang Rama. Satu keinginanku yang harus kamu penuhi,"
__ADS_1
"Apa? Katakan saja. Selagi abang bisa, akan abang lakukan!" balas Rama
Andara memejamkan kedua matanya dengan erat kala rasa nyaman itu semakin terasa hingga ke hatinya.
"Aku hanya meminta. Cukup aku yang menjadi istrimu. Jangan lagi ada orang lain. Aku tak ingin kau mendua bang Rama. Jika suatu saat kamu sudah muak dan jemu denganku, tolong katakan padaku agar aku bisa pergi dengan baik dan tanpa tersakiti oleh pilihanmu itu. Aku trauma dengan pengkhianatan Bang Rama," lirih Andara dengan leher tercekat.
Rama semakin erat memeluk tubuh chubby Andara yang kini bergetar karena menangis.
"Aku tak akan pernah menduakanmu, Sayang! Cukup kamu, tak ada lagi yang lain. Jika aku ingin menduakanmu, sudah sedari dulu aku lakukan. Jika aku tidak mencintaimu sedalam ini, mana mungkin aku memilih menunggumu hingga bertahun lamanya?"
Andara diam. Tapi Rama tahu, jika Andara saat ini sedang menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Dengar, Sayang. Sekali pun nanti kita berpisah, itu hanya takdir Allah yang memisahkan kita berdua. Kamu tidak berpisah denganku dan tidak akan pernah menduakanmu. Cukup bagiku kamu seorang. Kita akan hidup bersama hingga ajal menjemput kita. Kalau pun salah satu dari kita yang pergi lebih dulu, maka bisa di pastikan. Abang atau kamu hanya akan memilih menduda atau janda hingga akhir hayat kita."
"Kita akan bersama selamanya. Takkan ada yang memisahkan kita. Walau nanti banyak ulat bulu yang sengaja menebar buluny agar abang kegatalan, tetap saja,. Abang tidka akn pernah tergoda. Kalau abang gatal, tinggal pulang dan menyuruh kamu untuk menggaruknya?"
Andara tertawa dengan lelucon suaminya itu. Benar, itulah sosok Rama yang sebenarnya. Rama laki-laki setia. Jika saja ia ingin menikah, sudah sedari dulu bisa menikah. Tetapi tidak. Rama memilih setia pada satu orang wanita saja. Yaitu Andara Prameswari Haryawan.
Cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya. Rama tidak akan pernah menduakan Andara hanya untuk mengejar kesenangan semu belaka.
Begitu pu dengan Andara. Dirinya yang sudah pernah terluka begitu takut akan di duakan kembali. Tetapi, kali ini, Andara sudah mendapatkan pria yang benar-benar tulus mencintainya.
...Jika mencintai tak perlu menyakiti. Jika saling cinta tak perlu mendua. Karena dengan mendua, bukan kesenangan dan kebahagiaan yang di dapat melainkan kesengsaraan seumur hidup yang akan kita rasakan. Jika kamu setia, tidak akan pernah bisa mendua....
... ~ Rama & Andara ~...
__ADS_1
...TAMAT...