
Kesokan harinya.
Ayah Artha dan Ibu nawaning datang dalam keadaan hati yang begitu gelisah. Mengingat Andara yang tidka tahu di mana, membuat keduanya takut berhadapan dengan Rama.
Apa yang akan keduanya klatakan nanti pada Rama tentang Andara jika Rama bertanya? Kedua paruh baya itu di buat merinding kala tatapan menghunus Rama tujukan pada sang sekretaris dan juga orang kepercayaan Rama di sana selain Antoni.
Wanita memekai masker dengan gamis coklat susu dan blazer senada dengan gamisnya. Hal yang baru saja Ayah Artha ketahui hari ini tentang orang kepercayaannya itu.
"Baik, karena kamu sudah berada di sini, maka saya akan memutuskan untuk memecatmu dan menggantikanmu dengan wanita yang duduk di ujung sana!" tunjuk Rama pada mereka semua yang kini menoleh pada wanita yang saat ini duduk begitu tenangnya di dalam ruangan yang kini super dingin itu.
Antoni melirik melalui ekor matanya tentang wanita itu. Ia terkesiap kala melihat tatapan mata itu. Antoni melihat pada Rama yang kini mash menatap pada sekretarisnya itu.
Dina acuh tak acuh saat ini. Ia pun sudah siap menerima jika Rama akan memecatnya. Toh, tak ada gunanya bertahan dengan laki-laki impoten dan kere, bukan?
Buat apa aku bertahan dengan pemuda loyo dan tanpa harta? Yang aku cari itu pemuda kaya yang anunya bisa memuaskanku dan membahagiakanku dengan hartanya! Jika tidak, maka sorry ye? Batin Dina menatap malas pada Bosnya itu.
Antoni menaikkan satu alisnya kala melihat sikap biasa saja dari sekretaris bosnya itu. Ia pikir, akan ada kejutan di pagi ini. Tak tahunya?
__ADS_1
Antoni menghela napas panjang. Ia kembali melirik wanita yang duduk di sudut sofa dengan tangan terus bergerak memegang tab milik sekretarisnya bosnya itu.
Kenapa aku merasa beliau seperti...
Siapa wanita itu?
"Antoni!"
Antoni tersentak dan terkesiap kala Rama menatap dingin padanya.
Rama menerimanya dan mengulurkannya pada Dian yang semakin acuh melihat padanya. Berbeda dengan kemarin. Wajah yang sengaja di buat sedih dan menghiba di depan Rama.
"Karena kamu menolak saya yang anunya sudah loyo," Rama melirik wanita yang duduk di sudut sofa sana terkikik geli. "Dan juga tidak memiliki harta lagi, maka saya memecat kamu. Bukan karena masalah pribadi. semua ini permintaan dari pemilik yang sah perusahaan saya. Karena kamu bekerja pada saya, maka sayalah yang memecat kamu. Ini gaji terakhir kamu di bulan ini!" ucap Rama dengan tegas dan dingin pada Dina.
Dina menerima amplop coklat itu dan segera angkat kaki dari sana. Ayah Artha dan Ibu Nawaning di buat menganga dengan sikap sekretaris anaknya itu. Tanpa pamit atau apapun itu, ia keluar melewati kedua paruh baya kedua orangtua bosnya itu.
"Apa itu, Ram? Kenapa sombong begitu sekretaris kamu itu?" ketus Ayah Artha yang di tertawakan oleh wanita yang duduk di ujung sofa sana.
__ADS_1
Rama terkekeh. Ayah Artha mengerutkan keningnya melihat wanita itu. "Siapa dia, Ram? Kenapa ayah familiar dengan suaranya itu?" tanya Ayah Artha yang diangguki oleh Antoni juga.
Rama tersenyum saja. Ia melirik dengan penuh cinta pada wanita yang sibuk mengerjakan pekerjaannya itu.
"Oh, ya, Yah? Andara mana? Kenapa tidak datang menemuiku pagi ini? Apakah benar Andara pulang ke Medan? Ita sama siapa di rumah?" cecar Rama pada ayah Artha yang kini menelan salivanya dengan sulit itu.
Sengaja bertanya demikian untuk mengalihkan kedua orantuanya pada wanita yang sibuk dengan ipadnya itu.
Ibu Nawaning melengos ke arah lain. Ia pura-pura sibuk dengan rantang makanannya. Rama menatap bingung kedua orantuanya.
"Yah, Bu? Kok, kalian aneh, sih? Kenapa? Ada masalah dengan Andara?" tanya Rama melirik wanita di ujung sofa sana terkikik geli.
Ayah Artha bingung mau jawab apa. "A-anu, rama. I-itu.. Di-dia.. A-anu.. Maksudnya.. I-itu.. Bu! Bantuin, ih!" katanya pada Ibu Nawaning yang menggeleng dengan wajah pias.
Rama melihat ibunya yang ketakutan melihatnya. Ia menghela napasnya. "Kenapa kalian diam? Adek lagi nanya, loh?" tuitur rama sengaja menegur dnegan kata halus pada kedua orangtua yang kini tidka berani melihatnya itu.
Othor tak mau berurusan sama ulat bulu, gate! 🤣🤣
__ADS_1