
Atika dan pemuda yang bersamanya kini terkesiap melihat pengantin baru yang baru saja menikah kemarin. Keduanya tidak datang karena sedang membahas hal penting dan itu harus di Lombok.
Andara memicingkan kedua matanya saat melihat saudara kembarnya yang kini kelihatan seperti orang yang sednag tertangkap basah saja.
"Kakak di sini juga? Sedang apa?" tanya Andara pada Atika yang kini masih menatap saudara kembarnya itu dengan tatapan menilisik.
Atika dan pemuda tampan itu jadi salah tingkah di buatnya.
"Jangan salah paham Mbak, kami di sini sedang membahas masalah pekerjaan yang sedang di rancang di sini. Tidak hanya kami berdua. Ada asisten saya dan juga asisten Atika. Keduanya sednag izin untuk sholat maghrib lebih dulu," ujar pemuda itu menjelaskna yang sebenarnya, takut akan kemarahan Andar padanya.
"Benar, Dek?" tanya Andara masih dengan tatapan menelisik pada saudara kembarnya itu.
Atika mengangguk cepat yang membuat Rama dan pemuda itu terkekeh kecil melihat ketakutan Atika pada saudara kembarnya.
"Uda, Sayang. Biarkan keduanya bekerja. Jangan di ganggu. Kita cukup memperhatikan keduanya saja. Kapan pun keduanya siap untuk melangkah ke arah yang lebih serius, abang siap membantu pernikahan keduanya!" Rama tergelak kala Andara menatap hororpadanya.
Atika dan pemuda itu semakin salah tingkah di buatnya. Keduanya pamit untuk ke kamar demi menunaikan ibadah sholat maghrib berjamaah. Sebelum pergi, Andara mengatakan sesuatu pada kedua orang itu.
__ADS_1
"Tunggu kakak siap sholat! Kalian harus menjelaskan semua ini! Terutama kamu, Arya!"ucap Andara segera mengikuti suaminya yang sudah lebih dulu berjalan menuju ke kamar mereka.
Keduan orang itu terpaku di tempat saat tatapan mata Andara menghunus jantung keduanya. Andara melangkah masuk ke kamarnya untu k menunaikan sholat bersama Rama.
Cukup lima belas menit keduanya kini sudah selesai. Keduanya langsung menuju meja makan yang sudah di siapakan oleh pihakHotel yang terletak di pinggirkolam renang. Ada Atika dan juga asistennya sednga menunggu keduanya di sana.
Sedangkan pemuda yang bernama Arya sedang tidak berada di tempat. Keduanya langsung duduk dan menyuruh mereka untuk duduk di kursi dan meja yang lain. Meja keduanya berdekatan saat ini.
Andara danRama segera makan malam untuk mempercepat waktu. Sebab Andara ingin mengintrogasi keduanya tentang hubungan keduanya sudah sejauh mana. Sebab, setahu Atika, keduanya sudah lama putus hubungan sejak Atika menikah dengan Raffi, lelaki sialan dan pengkhianat itu.
"Sabar.." bisik Rama di telinga Andara.
Mereka pun akhirnya makan malam bersama. Walau suasana sedikit mencekam akibat Andara yng tidak ingin berbicara, mereka tetap makan dengan nikmat.
Selesai makan, barulah Andara buka suara.
"Katakan, kenapa kalian berdua bisa di sini? Kenapa kalian berdua bisa bersama? Bukan Mbak tidak tahu kalau kalian berdua itu memang saling menyukai sedari dulu. Akan tetapi, kenapa kalian menutupinya? Apakah ada hal yang terlewat? Hingga Mbak mu ini tidak tahu Arya? Atika?" tanya Andara pada Atika
__ADS_1
Kedua anak muda itu menunduk. Keduanya bingung ingin bicara apa pada Andara. Mbak Dewi yang mrasa kasihan, mencoba untuk berbicara.
"Maafkan saya, Nona Andara. Miss Atika dan Tuan Arya kesini bersama kami dalam rangka urusan kerja. Untuk masalah hati, saya tidak tahu akan hal itu. Hanya mereka berdua yang bisa menjawabnya," ucap Mbak Dewi yang diangguki oleh Andara.
"Jawab kakak, Atika!" seru Andara dengan suara lembutnya tetapi, penuh penekanan.
Atika menghela napas panjang. "Kakak jangan salah paham dulu padaku. Untuk masalha itu, aku masih seperti yang dulu. Tidak ada yang berubah. Kami berdua memnag rekan untuk saat ini sebab, perusahaanku dan Kak Arya memiliki kerja sama di bidnag fashion muslimah yang di kirimkan ke Paris. Kami kesini pun dalam rangka untuk bekerja. Bukan hal yang lain, Kak. Kalau Kakak tidak percaya juga, akan aku kirimkan bukti proyek yang kami jalankan saat ini. Kami mengadakan pertemuan di sini sebab klien kami ini sednag berlibut bersama istrinya. Kakak lihat orang bule yang duduk di meja ujung sana?" tunjuk Atika pada sudut kolam renang yang saat ini sedang makan malam berdua saja.
Andara menghela napas panjang. "Oke! Kakak percaya. Dan kamu, Arya! Belum bisakah kamu melunakkan karang setegar baja ini? Sudah sejauh mana kamu menkalukkannya? Kenapa belum berhasil juga? Bukankah ini sudah berjalan sangat lama? Belum ada perunahan juga?" tanya Andara yang membuat Atika menatap lekat pada kakaknya itu.
"Apa maksudnya, Kak? Proyek apa yang sednag kamu bahas saat ini? Apa kamu tahu masalah ini Mbak Dewi? Selly? Ada hal yang tidak aku ketahui? Masalah apa yang sedang kalian bahas ini?" tanya Atika pada mereka semua yang kini saling pandnag menatap satu sama lainnya.
Atika menatap Arya yang kini menunduk. "Untuk saat ini, belum bisa Mbak. Dia masih terllau tegar untuk bisa di taklukkan. Sulit tetapi, tetap akan aku usahakan demi semuanya. Mbak doakan saja, ya? Semoga cepat selesai. Kalau pun tidak, Mbak akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," ujar Arya menjawab ucapan Andara yang kini menatap lekat pada adik kembarnya.
"Benar begitu, Dek?"
"Hah? Apa Kak?" jawab Atika terkejut dengan pertanyaan Andara baru saja, padahal saat ini ia sedang memikirkan ucapan Andara dna Atika baru saja.
__ADS_1