Kau Yang Mendua

Kau Yang Mendua
Penjelasan Rama


__ADS_3

Ayah Àrtha dan Antoni sudah berada di rumah beberapa menit yang lalu dan berhasil membujuk Andara untuk ikut dengannya. Walau menantunya berwajah dingin dan tidak menyahuti ucapannya, beliau tetap harus membawa Andara ke rumah sakit demi bisa menyelesaikan masalah dengan cepat.


Beliau pun menyuruh Antoni untuk melihat rekaman cctv di dalam ruangan Rama untuk mencari petunjuk masalah yang baru saja terjadi pada Andara dan juga putra bungsunya.


Ketiganya sudah berada di rumah sakit saat ini. Andara di tarik paksa oleh Ayah Artha untuk masuk ke ruangan Rama yang kini sedang mual muntah di dalam kamar mandi ruangan itu.


Ada Tante Kezia dan juga Om Dimas di sana yang kini menatap dingin padanya. Keduanya sudah tahu apa yang terjadi pada pusat tubuh Rama dan siapa yang membuatnya seperti itu. Kedua orang itu mendengkus kala melihat Andara.


Andara tidak peduli akan hal itu. Dirinya tetap berdiri diam mematung di tepi bangkar Rama. Ibu Nawaning menuntun Rama untuk menuju Andara yang kini menatap dingin pada keduanya. Ibu Nawaning tahu, ia bisa melihat itu dari tatapan mata Andara walau wajahnya tertutup niqob.


Rama yang mencium bau khas dari Andara mendongak. Spontan saja buliran bening itu mengalir deras di pipinya. Namun, Andara bergeming. Hatinya terlanjur sakit dan terluka melihat kejadian di dalam ruangan kantor suaminya tadi.


"Sayang," lirih Rama sambil memeluk erat tubuh istrinya. Ia sengaja menyingkap hijab Andara bagian leher dan menyurukkan wajahnya di sana. Rama merasa mualnya berkurang. Hanya tubuh Andara penawar mual dan muntahnya. Saat berada di dekat Andara, mual itu hilang seketika.


Om Dimas menaikkan satu alisnya kala melihat gelagat aneh dari keponakan sahabatnya itu dan juga anak dari sahabat lama ayahnya itu. Ia yang seorang dokter spesialis, tahu betul apa yang saat ini Rama rasakan.

__ADS_1


"Sayang, kamu slaah paham sama Abang. Yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan! Kamu mau dengar kan penjelasan abang?" bisik Rama di telinga Andara di balik hijab yang sengaja ia telusupkan kepalanya itu.


Andara diam bergeming. Dirinya tetap berdiri tanpa memeluk Rama yang kini memeluk erat tubuhnya yang sangat nyaman bagi Rama.


Rama menuntun Andara untuk duduk di bangkarnya. Rama keluar dari hijab Andara dan menatap lekat pada wajah istrinya yang begitu datar dan dingin saat ini. Rama sengaja melepas niqobnya karena ingin melihat reaksi wajah Andara saat nanti ia menjelaskan keadaan yang sebenarnya di kantor tadi.


Rama memegang tangan Andara. "Abang tidak melakukan apa yang kamu pikirkan, Sayang. Abang tidak sejahat itu, Sayangku.. Enggak!" ucap Rama pada Andara yang masih bergeming.


"Yang kamu lihat tadi, salah paham. Bukan seperti itu kejadiannya. Saat kamu datang, Dina sedang berusaha meletakkan bantal di kepala abang. Abang yang tidak sengaja bangkit tiba-tiba karena mencium bau menyengat dari tubuhnya ingin bangkit dan akan muntah lagi, padahal abang baru saja muntah. Tanpa sengaja kepala kami terantuk yang membuat Dina tanpa sengaja jatuh ambruk di tubuh abang. Abang sesak napas dan semakin ingin muntah kala bau tubuhnya tepat di depan wajahku," lirih Rama menunduk melihat Andara yang kini menatap dingin padanya.


Rama malu bukan main saat ini. Antoni mengulum senyumnya. Sedangkan Tante Kezia terkikik geli. Ayah Artha menganga mendengar ucapan menantu kesayangannya itu.


"Nggak gitu, Sayang! Kamu kenapa nuduh abang begitu, sih?" kilah Rama tidak membenarkan ucapan Andara baru saja.


Andara tergelak sinis. "Akui saja bang Rama! Bukankah wajahmu tepat di depan dada wanita itu? Kamu bahkan melenguh menikmati besarnya nen sekretarismu itu! Kurang apa aku sama kamu? Apakah karena diriku janda? Makanya kamu mencari yang lain agar batinmu terpenuhi? Bukankah kamu dulu sudah setuju menerima diriku yang janda ini? Kenapa baru sekarang kamu berbuat demikian? Kemana janjimu dulu yang tidak akan menduakan ku? Kamu pembohong Bang Rama!"

__ADS_1


Deg!


Rama menggeleng. "Nggak! Abang nggak bohong sama kamu! Demi Allah, Sayangku! Hanya kamu satu-satunya! Nggak ada yang lain!"


"Bulshit!" ucap Andara mematahkan argumen Rama


Rama mengeleng lagi. "Nggak! Abang nggak bohong sama kamu. Kalau kamu tidak percaya, tanyakan pada Antoni. Apakah selama ini abang pernah membawa wanita ke dalam ruanganku selain istriku? Dina? Dia hanya karyawan! Tidak lebih! Yang kamu lihat tadi, tidak seperti yang kamu pikirkan! Oke, abang salah. Tetapi, abang tidak berniat untuk merasakan nennya itu! Nen kamu lebih besar daripada miliknya! Buat apa abang mau nennya itu jika nen kamu lebih besar dan bisa memuaskan?" lanjut Rama lagi tak kalah frontalnya dari ucapan Andara baru saja.


Ayah Artha sampai mengap-mengap sembari memegangi dadanya. Ibu Nawaning memijit pelipisnya. Antoni memilih keluar untuk tidak berada di dalam ruangan itu. Sedangkan Tante Kezia sudah tertawa terbahak di samping Om Dimas yang kini melengos sambil berdehem karena malu mendengar ucapan Rama, adik angkatnya itu.


Andara masih menatap sinis pada Rama yang kini menatap lekat padanya. "Tetap saja. Aku tidak bisa menerima perbuatan kamu, Bang Rama. Jika hanya sekedar meletakkan bantal, kenapa dirinya sampai jatuh sebab tersenggol kamu? Jika pun jatuh, tidak mungkin nennya tepat berada di wajah kamu bukan? Pastilah ia jatuh ke samping? Sedang ini? Bagaimana aku tidak salah paham jika dia jatuh dengan nennya itu tepat berada di wajah kamu? Enggak! Kamu pengkhianat Bang Rama! Aku kecewa! Untuk sementara, kita menjauh dulu. Aku ingin menenangkan diriku untuk sesaat. Luka hatiku tentang perbuatannya dulu masih membekas di ingatanku! Kamu bisa mengelak sekuat yang kamu bisa. Tetapi, apa yang aku lihat sesuai naluriku sebagai seorang istri dan juga seorang wanita, tidak pernah salah Bang Rama. Aku pulang ke rumah orangtuaku," imbuh Andara dengan bibir bergetar sekaligus meminta izin pada Rama yang kini mematung karena ucapan Andara baru saja.


Tangan Rama bergetar kala buliran bening di sudut mata istrinya berjatuhan di tangannya. Andara berlalu tanpa melihat lagi pada mereka semua. Rama merasakan gelap seluruh dunianya dan tubuhnya terjatuh di bawah bangkar dengan mata terpejam erat.


Masih ada beberapa bab lagi sebelum kita launching dikamar Bang Gading. Othor siapakan ini dulu, baru kita lanjut kesana.

__ADS_1


Pantengin terus, ye?


__ADS_2