
Andara berlalu dari ruangan setelah mengambil niqob miliknya dan menggenakannya kembali. Rantang makanna itu sengaja Anara tinggalakna di sana. Andara tahu, Rama tidak bisa makan jika bukan masakannya dan juga Ibunya.
Saat ini kedua orangtua Rama sedang menginap di tempatnya karena ingin bermain dengan Ita, putri kecilnya. Mengingat itu, Andara mendengkus. Langkahnya begitu cepat hingga Antoni tidka bisa mengejarnya.
Antoni dan dua orang karyawan kantor membawa bos dan sekretarisnya itu ke rumah sakit. Keduanya dengan cepat di tangani. Dokter yang menangani sekretaris Rama itu bergidik ngeri melihat luka di wajah serta di tubuh wanita itu begitu mengerikan.
"Seperti cakaran harimau?" batinnya menerka-nerka. Mulutnya terkatup rapat dengan tangan terus bergerak menangani pasiennya.
Sedangkan Rama sedang di periksa pusat tubuhnya saat ini. Antoni bergidik saat melihat lebam yang sudah membiru di sana. Dokter itu menatap Antoni dan menatalnya dengan tajam.
"Kenapa sampai Rama seperti ini? Siapa yang berani melakuakn ini pusat tubuhnya hingga membiru seperti ini? Tidakkah dia tahu, jika para laki-laki di sanalah nyawanya?! Dasar bedebah!" umpat laki-laki paruh baya itu dengan tangan cekatan mengurus pusat tubuh Rama yang terluka itu.
Antoni hanya bisa diam. Dia tidak punya hak untuk menjelaskan yang sebenarnya. Itu privasi bosnya. Dirinya hanya pekerja. Tidak lebih. Antoni menghela napasnya. Ia merogoh ponselnya dan menghubungi kedua orangtua Rama yang ia tahu jika saat ini ada di rumah Andara.
Kedua orangtua itu begitu syok saat tahu tentang kabar Rama yang saat ini berada di rumah sakit. Keduanya bergegas menuju ke rumah sakit. Ita, mereka tinggalakn dengan pengasuh serta bibi di rumah.
__ADS_1
Keduanya selisih jalan dengan Andara. Keduanya menuju ke rumah sakit sedangkan Andara tiba di rumah langsung masuk tanpa berkata sepatha kata pun. Dirinya masih emosi saat ini.
Ita yang melihatnya pun hanya berdiri mematung melihat wajah dingin sang ummi dan juga tangan umminya yang terluka. Ita segera menghubungi kedua Eyangnya dan menyampaikan kabar itu. Kedua orangtua itu begitu terkejut saat Ita mengatakan jika Anara pulang ke rumah bukannya menemani Rama.
"Pasti ada yang tidak beres, Bu. Ayah yakin, kedua anak kita dalam keadaan yang tidak baik-baik saja!" ucap Ayah Arthajaya yang diangguki oleh Ibu Nawaning dengan cemas.
Tiba di rumah sakit, keduanya langsung menuju ke kamar Rama. Yang baru saja siuman dan saat ini ada dokter yang tadj menanganinya.
Ceklek,
"Katakan Ram! Siapa yang sudah membuat pusat tubuhmu seperti itu? Tidakkah dia tahu? Kalau kelemahan laki-laki itu di pusat tubuhnya? Bersyukur kamu tidak langsung mati!" ketus dokter paruh baya itu.
Rama diam saja. Tatapan matanya kosong. Ibu Nawaning masuk segera memeluk putra bungsunya itu. Rama memejamkan matanya kal abuliran bening itu mengalir di pipinya. Ibu Nawaning mengusapnya dengan lembut.
Ayah Arthajaya mendekati dokter itu. "Kenapa dengan Rama, Mas? Apakah terjadi sesutu yang buruk padanya? Rama sakit apa? Kenapa pusat tubuhnya?" cecar beliau yang membuat dokter tampan di usia paruh bayanya itu menoleh padanya dengan mendengkus.
__ADS_1
"Tanyakan saja putra, Ayah! Kenapa pusat tubuhnya bisa membiru dan membengkak seperti itu? Lihat saja pipinya itu! Lebam! Sama seperti pusat tubuhnya! Untung saja tidak mati! Tanyakan pad aputra Ayah, siapa yang tega memukul pusat tubuhnya seperti itu! Aku harap, tidak bermasalah untuk keturunannaya kelak! Aku permisi!" ketus dokter Dimas dengan segera berlalu dari hadapan Ayah Artha yang kini kebingunagn dna menatap pada asiten Rama itu.
Seakan tahu arti tatapan mata sang tuan, Antoni menggeleng dan menunduk. Ayh Artha menghela napas panjang. Ia yakin,pasti terjdi sesuatu. Apa itu dengan Andara? Jika iya, kenapa menantu kesayangannya itu sampai teg amenendang pusat tubuh suaminya sendiri? Apakah ia tidak sadar jika itu akan berakibat fatal pada Rama dan keturunannya kelak?
Ayah Artha mengehla napas panjang. "Sekarang, katakan apa yang sebenarnya terjadi? Apa ini ada hubungannya dengan istrimu? Bukannya tadi istrimu tadi ke kantor? Kenapa saat ini ia tidak ada bersama kmau di sini?" tanya Ayah Artha yang membuat Ibu Nawaning mengurai pelukannya dan menatap pada Rama yang kini menatap dinding di hadapannya dengan tatapan kosong.
"Ram?" panggil Ibu Nawaning dengan suara lembutnya.
Rama menoleh dengan tatapan sayu dan sendunya. "Bisa bawa Andara kesini Ibu? Biar Adek jelaskan dulu padanya baru pada kalain berdua," lirihnya tak berdaya.
Ibu Nawaning melihat Ayah Artha yang mengangguk setuju. Beliau segera keluar dari rauangan itu menuju ke luar dan akan pulang untuk menemui menantunya itu.
Rama memilih memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit pada pusat tubuhnya dan juga kepalanya yang begitu pusing saat ini.
Sementara Ayah Artha dan Antoni kini segera menuju ke rumah Rama untuk menemui Andara dan akan membawa mennatunya itu ke rumah sakit sesuai dengan pwrmintaan Rama.
__ADS_1