
Ayah Artha menatap takut-takut pada Rama yang kini menatap ingin tahu padanya tentang Andara. Sesekali mata tampan itu menoleh pada wanita yang duduk di ujung sana. Ayah Artha menatap curiga padanya.
"Sebelum ayah mengatakan keberadaan Andara, katakan dulu siapa wanita itu? Kenapa begitu cepat dapat pengganti setelah sekretaris kamu di pecat? Ada apa Rama? Apakah ada yang tidak ayah ketahui?" tanya Ayah Artha pada Rama yang kini menyunggingkan senyum tipisnya.
Wanita yang duduk di sudut sofa sana pun tersenyum simpul mendengar ucapan Ayah Artha.
"Di mana Andara, Yah? Kenapa kalian datang berdua? Bukankah itu yang Rama tanyakan tadi sama Ayah?" ujar Rama bertanya balik pada ayahnya yang kini berdecak sebal padanya.
"Jawab dulu apa pertanyaan ayah!" tegasnya dengan mata sedikit melotot.
Wanita di ujung sama melipat bibirnya ke dalam ingin menyemburkan tawa. Antoni diam saja. Ia seolah patung hidup di sana.
Rama berdecak sebal. "Pertanyaan aku tadi aja belum Ayah jawab. Lalu, Ayah ingin aku menjawab pertanyaan Ayah, begitu?" ketus Rama tiba-tiba kesal pada Ayah Artha yang kini menyipitkan matanya tajam pada Rama yang terkesan tidak panik atau apapun kala Andara tidak datang kesana.
Malahan putranya itu semakin kerap curi-curi pandang pada wanita yang duduk dengan tab di tangannya itu.
"Andara ada. Andara! Masuk, nak!" jawabnya smabil berteriak dna membuka pintu untuk menemui Andara.
Wanita yang duduk di ujung sofa sana menegakkan tubuhnya dan menatap pada Rama yang juga menatap padanya saat ini. Seolah mata keduanya saling berbicara. Antoni bisa melihat itu. Ia pun ikut menelisik penampilan wanita itu, hingga matanya tertuju pada jari manis wanita itu yang menunjukkan sesuatu di sana.
__ADS_1
Deg, Deg!
"Nyonya Andara!" seru Antoni secara spontan yang membuat Ayah Artha menoleh ke belakang dan menatap pada Antoni.
"Andara? Di mana? Dia di sini, loh. Ayo, masuk, Nak!" titahnya lagi pada wanita di luar sana.
Rama mengerjab pelan dengan jantung berdegup tidak karuan.
"Bagaimana mungkin Andara berada di luar ruangan ini? Lantas, yang di sudut sana itu siapa? Hantu begitu?" lirih Rama yang terdengar jelas oleh mereka semua karena ruangan itu hening.
Ayah Artha menipiskan bibirnya. Begitu pun dengan Ibu Nawaning yang kini tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat pada wanita yang kini duduk tegap dengan mata tetap pada ipad di tangannya. Namun, telinganya itu mendengar apa yang mereka bicarakan semua.
"Benarkah Andara di sini? Jadi.. Wanita yang di sudut sofa itu menantu ayah? Menantu ayah yang nakal dan hampir saja membuat jantung ayah copot karena dia memilih kabur daripada menyelesaikan masalahnya dengan suaminya?" ucap Ayah Artha yang membuat Rama dan wanita tu terkesiap seketika.
Ibu Nawaning mendekatinya. "Nakal!" celutuknya sambil memeluk wanita itu.
"I-ibu?" lirihnya gugup dalam pelukan hangat ibu mertuanya.
wajah rama memerah karena malu ketahuan sednag bersandiawara. Rama meringis kala melihat ttapan horor Ayah Artha padanya.
__ADS_1
"Dasar anak nakal! Jelaskan sekarang!" tegasnya tak bisa di bantah.
Rama hanya bisa pasrah. Ia sudah ketahuan saat ini. Niat hati ingin membuat kejutan untuk kedua orangtuanya malah dirinya yang di buat terkejut dengan perbuatan ayahnya yang mengatakan istrinya ada di laur sana.
"Bagaimana mungkin istrimu berada di luar jika di dalam sini ia sedang bersama kita? Bukan begitu, Ram?" ucap Ibu Nawaning sembari mengurai pelukannya dari tubuh Andara.
Ya, wanita itu adalah Andara. Istri sah Rama. Bukan wanita lain seperti yang readers kira!
"Kenapa kamu melakukan hal ini, Ram? Ada apa? Apakah karena sekretarismu itu?" tanya Ayah Artha yang diangguki oleh Rama sambil terkekeh.
"Ayah jangan marah padaku. Marah saja pada menantumu itu! Ini semua ide darinya!" ucap Rama menunjuk Andara yang kini melotot padanya.
"Eh, enak aja Abang! Semua itu juga rencana Abang! Walau tidak sepenuhnya, sih. Wehehehe..." Andara nyengir setelah mengatakan hal itu.
Ibu Nawaning yang gemas memeluk erat menantu kesayangannya itu. "Ibu pikir, Rama benar-benar mendua seperti Faris dulu! Jika itu sampai terjadi, maka ibu sendiri yang akan menghukumnya!" Ketus beliau begitu kesal pada Rama saat ini.
Rama terkekeh. "Nggak akan, Bu. Bagaimana aku bisa mendua jika istriku lebih dari wanita di luar sana? Karena dirinyalah aku terbaring disini. Karena dia juga, perusahaan kita selamat! Terima kasih, Sayang." Jawab Rama sekaligus berterima kasih pada Andara yang kini mengangguk dan tersenyum padanya.
Ayah Artha berdecak. "Huh! Hampir saja ayah memukulmu! Ayah hampir salah pahan dengan wanitaitu! Ternyata.. Dia menantu ayah sendiri! Ck. Bukan hanya ayah, readers setia Kau Yang Mendua pun di buat salah paham! Dasar!" ketus Ayah Artha yang di tertawakan oleh Rama dan Andara.
__ADS_1
...****************...
Noh, mana yang salah paham kemarin? Udah, ye? Neng Andara kok wanita idaman lain Rama? 🤣🙏