Kau Yang Mendua

Kau Yang Mendua
Bukti akurat


__ADS_3

Rama segera menghubungi Antoni dan meminta rekaman cctv selama dua bulan ini di kantornya. Om Dimas dan Tante Kezia sudah kembali ke ruangan mereka. Yang tersisa hanyalah Ayah Artha yang sednag menghubungi seseorang di rumah rama untuk mengawasi Ita serta mengurus masalah Rama ini. Beliau juga menghubungi Komandan Farhan untuk datang ke rumah sakit.


Ibu Nawaning sendiri sedang membuka rantang makanan dan akan menyuapinya pada Rama. Semenjak pagi, Rama hanya bisa makan buah. Selebihnya, Rama tidak bisa. Ia akan muntah berulang kali hingga hanya tersisa cairan pahit yang keluar dari kerongkongannya.


Benar-benar menyiksa!


Hufftt..


Rama hanya bisa menghela napas panjang. Mengingat Andara, ia memeriksa ponselnya. Rama tersenyum kala melihat isi di dalam ponselnya itu. Ia semakin bersemangat untuk cepat sembuh dan mengurus masalah rumah tangganya dengan Andara yang sedang salah paham padanya karena ulah sekretarisnya itu.


Rama makan dengan lahapnya langsung dari tangan Ibu Nawaning yang begitu senang melihatnya lahap makan. Hanya tangannya dan juga Andara, Rama bisa makan sampai kenyang. Selebihnya, jangan harap!


Setelah kenyang, ia meminta pada Antoni tentang rekaman cctv di kantornya selama dua bulan Dina bekerja padanya. Jangan salahkan Rama kalau dirinya tidka peka akan perbuatan sekretarisnya itu. Tanyakan pada Andara, apa yang sudah istrinya itu lakukan hingga Rama sesulit itu untuk bisa melihat keburukan orang lain yang begitu dekat berada dengannya.


Antoni menyerahkan laptop pada Rama untuk melihat rekaman di kantor mereka selama dua bulan ini. Kening rama mengkerut dalam saat melihat rekaman cctv itu. Sesekali mengernyit, sesekali juga tertegun. Ayah Artha memperhatikan wajah putra bungsunya itu dengan lekat.


Ingin bertanya, beliau tahu belum waktunya. Ibu Nawaning pun demikian. Beliau lebih penasaran dengan apa isi laptop itu karena beliau bisa mendengar sekilas suara dari dalam sana yang cukup hanya Rama saja yang mendengarnya.


Rama terdiam dan mematung di tempat kala melihat aksi sekretarisnya sebelum ia jatuh menimpa Rama. Wajahnya mendadak dingin dan datar seketika. Antoni mengngguk kala Rama menyerahkan kembali laptop itu padanya.


"Bawa dia kesini!" titahnya pada Antoni yang segera diangguki oleh asisten setianya itu.


"Untuk ayah dan Ibu, sebaiknya kalian pulang. Sudah sore. Tidak seharusnya kalian menungguku di sini. Ada Antoni yang akan menemaniku. Pulanglah," tuturnya lembut pada kedua orangtuanya yang kini saling pandang karena keberatan.


"Ibu dan ayah tidak usah khawatir. Rama bisa, kok. Pulanglah. Ingat? Ita sendirian di rumah saat ini," lanjut Rama yang dengan terpaksa keduanya patuhi walau berat.

__ADS_1


Keduanya berpamitan setelah Antoni masuk bersama sekretarisnya. Rama menatap hangat padanya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rama pada Dina yang di jawab isakan oleh wanita itu.


Ayah Artha dan Ibu Nawaning saling tatap. "Ada apa dengan putramu, Yah? Kenapa dia begitu hangat dengan ulat bulu berwujud rubah itu?" ketus Ibu Nawaning tiba-tiba.


Ayah Artha terkekeh mendengar ucapan istrinya. "Tenanglah, sayang. Ayah tahu, Rama sedang menjalankan misinya saat ini." Jawabnya sambil merangkul istrinya menuju ke lobi rumah sakit.


"Misi? Misi apa? Misi ingin mendekati ulat bulu itu?" ketus Ibu Nawaning lagi. "Dengar, ya, Yah! Sampai kapan pun, hanya Andara menantu ibu! Nggak akan ada wanita lain! Andara sepuluh kali lebih baik daripada ulat bulu berwujud rubah betina itu!" lanjut Ibu Nawaning masih saja ketus.


Ayah Artha tergelak keras. Ia tahu, jika menyangkut Rama dan Andara, Ibu Nawaning begitu sensitif.


"Kamu ini! Anak kamu itu bukan ingin menggantikan Andara. Putramu itu sedang mencari bukti!" balas Ayah Artha yang lagi dan lagi di jawab oleh Ibu Nawaning dengan ketus.


"Buktine? Bukti opo? Bukti yen dheweke arep nggawa menyang kulawarga kita uler awujud rubah, iku? Aku ora pengin!"


Ibu Nawaning membalas ucapan Aya Artha semakin ketus hingga membuat suaminya itu semakin kuat tertawa. Ibu Nawaning sangat kesal pada suaminya itu.


Kembali ke ruangan Rama.


Dina terisak saat Rama menanyakan tentang dirinya. Dina sengaja membuat tangisnya semakin tersedu hingga Rama turun dari bangkarnya dan berjongkok di hadapan kursi roda Dina.


"Sudah, jangan menangis. Saya salah menilai istri saya selama ini. Saya akan melepasnya jika kamu bersedia hidup bersama saya!" ucap Rama begitu lembut dan membuat Dina mendongak dengan air mata terus beruraian.


"Apakah Bapak tidak apa-apa? Emm, maksud saya, kenapa Bapak jadi berubah hangat begini? Bukannya Bapak selama ini cuek dengan perhatian saya? Apakah saya kurang menarik di mata Bapak? Saya beneran cinta, loh, sama bapak?" ucapnya mendayu-dayu dan begitu manja di hadapan Rama yang kini tersenyum lembut padanya.

__ADS_1


Rama mengangguk. "Maaf, kalau saya kurang memperhatikan kamu selama ini. Saya tidak peka akan hal itu. Maafkan saya, Dina. Mulai hari ini, kita mulai dari awal lagi, ya?"


Dina menganggguk dengan senyum antusias di bibirnya. Ia tidak menyangka, jika pengorbanannya tadi tidak sia-sia. Ia bersorak dalam hati kala mendengar ucapan Rama baru saja.


Rama yang tadinya tersenyum tiba-tiba murung. Dina melihat perubahan itu.


"kKenapa? Kenapa wajahmu begitu, Ram?" tanya Dina langsung memanggil nama pada Rama.


"Aku tidak apa-apa. Hanya saja.. Akibat tendangan Andara tadi, pusat tubuhku tidak berfungsi untuk selamanya. Apakah kamu sanggup hidup dengan pemuda impoten sepertiku?" ucap Rama dengan raut wajah sendunya.


Dina membeku di tempat mendenganya.


"Belum lagi.. Gara-gara dia melihat kita seperti itu tadi, semua hartaku di ambil alih olehnya. Tak bersisa. Baik itu perusahaan, tanah, mall, Hotel dan juga yayasan anak yatim, kini di ambil alih olehnya. Apakah kamu tidak apa-apa Dina? Apakah kamu mampu hidup dengan laki-laki penyakitan sepertiku ini yang tidak memiliki apapun lagi?" ucap Rama semakin lirih dan menunduk di hadapan Dina yang kini wajahnya terlihat pias.


Antoni menatap datar pada keduanya. Seolah dia tidka melihat kejadian saat ini di hadapannya.


"Ka-kamu miskin?! Nggak punya uang? Ka-kamu impoten? A-anu mu loyo?!" seru Dina dengan suara naik satu oktaf.


Rama mengangguk sendu. Bahu Dina merosot seketika dengan wajah semakin pias. Ia terkesiap kala memandangi tonjolan yang dulunya ia lihat besar kini berubah menciut dan kisut.


Dina menggeleng tidak percaya.


"Kenapa? Kamu tidak mau denganku yang impoten dan kere ini?" ucap Rama ingin menangis melihat wajah Dina semakin pias.


Dina tidak menjawab, tetapi ia menarik kursi rodanya dan akan kembali menuju ke ruangannya lagi.

__ADS_1


Rama mencegahnya. "Dina,"


"Maaf, Ram! Aku tidak bisa! Aku manusia realistis! Tanpa anumu, aku tidak akan puas! Dan tanpa uangmu, aku tidak bisa hidup! Buat apa aku bertahan dengan laki-laki kere seperti kamu?! heh? Mimpi kamu! Aku nggak sudi! Maaf," ucapnya dengan segera berlalu meninggalkan Rama yang kini mematung melihat kepergian Dina baru saja.


__ADS_2