
Andara menatap dingin datar pada Nicholas yang kini semakin menciut nyalinya. Cekalan tangan Andara begitu kuat memegang tangannya. Saking kuatnya, terasa ngilu hingga ke seluruh tulang.
"Kau menyiksa batinku hingga aku depresi! Setelah kau menyiksa batinku, aku, kau buang di tengah hutan! Aku, kau khianatai jauh sebelum aku tahu jika kau sudah meniduri adik kandung Kanya hingga mati karena depresi! Kau! Laki-laki baji ngan yang pernah aku temui! Karena kau! Aku sampai di hina oleh kedua orangtuaku dan memujimu laki-laki yang baik! Cuih! Padahal kau itu tak lebih buruk dari sekor binatang! Binatang saja masih sayang pada pasangannya! Sedang kau? Kau jadikan aku budak lampiasan kekerasan tangan kotormu itu!"
Kau siksa aku dan kau buang aku hingga aku mati menggenaskan! Kau membuat alibi pada semua orang, kalau aku mati kecelakaan, padahal kau dan gundik sialanmu ini yang sengaja membunuhku setelah aku tahu rahasia kalian berdua! Kejam! Sungguh kejam! Kalian pasangan yang cocok! Yang satu pembunuh dan yang satu lagi ja lang! Tega-teganya kau menyerahkan adikmu pada laki- laki ini untuk di nikmati olehnya karena kau cemburu? Dasar gila! Iblis jahannam! Terkutuklah kalian berdua! Bahkan kematian tidak cukup untuk kalian berdua! Kalian akan mati di tanganku! Aku akan membunuh kalian secara perlahan! Kalian akan meminta ampun padaku untuk melepaskan diri kalian dari penyiksaan yang akan aku lakukan sebentar lagi!" tukas Andara berapi-api.
"Kau!" tunjuk Andara pada Nicholas yang kini semakin ketakutan. "Dan kau!" tunjuk Andara pada Kanya, "Kalian berdua akan mati dan membusuk dengan sendirinya tanpa ada yang tahu kenapa kalian bisa mati! Ini tidak seberapa dengan yang sudah kalian lakukan padaku dan juga Andara!"
Dduuaarr!
Nicholas dan Kanya tersentak kala mendengar ucapan istri Rama itu. Tangan halus itu masih betah memegang lengan Nicholas hingga tubuh Nicholas bergetar karenanya. Sakit sekali. Lebih sakit saat dirinya di tusuk oleh pembunuh bayaran yang sengaja di suruh oleh ibu tirinya untuk melenyapkannya saat ia masih berumur 10 tahun.
Nicholas menatap pias pada Andara yang kini terlihat seperti Claudia. Sedangkan Kanya masih membatu di tempatnya duduk. Setelah sadar, ia kembali menyentak tangan Andara berharap bisa melepaskan cekalan tangan Andara di tangan Nicholas.
"Lepas! Sialan! Kau! Aku tak takut padamu! Kami berdua tak takut padamu! Selama ini, kami sudah melakukan banyak hal bersama! Kami tidak mudah di tindas olehmu! Lepas! Dasar wanita sialan! Ja laangg!" teriaknya menggelegar di dalam ruangan yang hiruk pikuk itu.
Andara terkekeh sinis. "Dasar bodoh! Maling teriak maling kau di sini! Lupa, siapa yang sebenarnya ja lang di sini? Aku atau kau, Kanya? Bukankah kau yang lebih tahu di bandingkan wanita hina ini? Hem? Jangan lupa diri, Kanya! Kau itu sama seperti ucapanmu itu! Maling teriak maling kau! Nggak sadar diri rupanya, heh?" ucap Andara mencibir Kanya yang semakin kesal padanya saat ini.
__ADS_1
Wajah Kanya memerah karena marah. Ingin sekali dia mencakar Andara dan itu terlaksana. Tanpa segan dengan tamu dan juga Rama yang kini sedang menatap datar padanya, Kanya segera menarik hijab Andara hingga istri Rama itu tertarik ke arah depan.
Hijab Andara hampir lepas dari tempatnya jika tidak Andara memegang tangan Kanya begitu erat. Rama terkejut melihat itu. Ia ingin menolong istrinya tetapi, lirikan mata Andara melalui ekor matanya membuat Rama kembali terduduk di tempatnya.
'Waduh!Istriku seram juga kalau udah ngamuk? Jangan mempermalukan dirimu, Sayang.. Kita gunakan cara halus untuk menghukum keduanya.' Batin Rama menatap khawatir pada Andara yang kini sedang di kuasai oleh amarah.
"Aku tahu, Bang. Kamu tenang saja. Aku tidak akan melakukan tindakan yang merugikan diriku di sini. Kita di sini tamu. Hadir karena undangan. Mana mungkin aku membuat malu diri sendiri karena mereka!" jawab Andara taahu apa yang menjadi ke khawatiran suaminya itu saat ini.
Andara dengan telak menyindir Kanya yang membuat wajah wanita selingkuhan suami Claudia itu semakin merah padam.
Mendengar suara lengkingan Kanya, para teman sekolah mereka menatap heran pada Kanya yang kini sedang marah sedang tangannya berada di kepala Andara.
"Sialaann! Baji ngan!! KAU INGIN MENGHUKUMKU, HUH? SIAPA KAU BERANI MENGHUKUMKU? KAU TIDAK PUNYA APAPUN! KAU TIDAK PUNYA KUASA SEPERTI YANG NICHOLAS MILIKI! PANTAS SAJA NICHOLAS MENINGGALKANMU! KAU MURA HAN! APA KELEBIHANMU HINGGA KAU BISA DI BANGGAKAN OLEH NICHOLAS, HEH?! KAU HANYA BIDAK CATUR! KAU PIONNYA! KAU SENGAJA KAMI BUNUH AGAR RAHASIA KAMI TIDAK TERBONGKAR! SIALAN!!" Seru Kanya dengan suara rendah dan gigi yang menggelutuk kuat.
Wanita ini! Sial! Umpat Nicholas dalam hatinya.
Andara menyeringai. Rama menegakkan tubuhnya. Sementara Nicholas begitu malu saat ini. Tangannya yang sedang di pegang oleh Andara dan juga mulut Kanya yang terus membuka aib keduanya membuat wajahnya tak tahu harus di sembunyikan kemana saat ini.
__ADS_1
"Benarkah? Jika aku bidak catur dan pionnya, lantas kau itu apa? Ratu di dalam bidak catur begitu? Kau tahu arti ratu, Kanya? Ratu, jika di hati manusia yang memiliki hati itu segalanya! Tetapi, kau saat ini di dalam bidak catur, kau tetap pion yang dimainkan oleh raja! Kau dan aku, kita sama Kanya! Kita sama-sama bidak yang di mainkan oleh Nicholas demi mendapatkan apa yang dia mau! Kau tahu? Nicholas akan membuangmu setelah mendapatkan apa yang dia mau! Dia bukan mau denganku dan denganmu, Kanya!"
Kanya melotot mendengar ucapan Andara.
"Nicholas hanya menginginkan harta yang saat ini ada bersama suamiku! Tidak percaya? Coba tanyakan padanya! Jika dia laki-laki baik yang tidak berniat memainkan perasaan wanita, pastilah ia akan jujur padamu! Tanyakanlah!" ucap Andara sembari melepaskan cekalna tangan Kanya dan juga Nicholas bersamaan.
Nicholas menghela napas panjang. Ia sadar, ini permainan Andara. Andara ingin membalasnya melalui Kanya.
Sial!
Nicholas mengumpati Andara di dalam hatinya saking kesalnya. Tangannya mengepal dengan erat.
Andara menyeringai sinis melihat wajah dingin dan marah Nicholas padanya.
Itu tidak seberapa hukuman untukmu, Nicholas! Rasa sakit yang dulu kau berikan padaku, begitu menyakitkan! Kau tega melecehkanku di hadapan pemuda lain dan menyuruh pemuda itu untuk menodaiku! Lantas, apakah hukuman kecil dariku ini sebanding dengan penyiksaan yang dulu pernah kau berikan padaku?? Aku rasa tidak! Aku tidak akan mengotori tanganku dengan membunuhmu! Tetapi, akan ku siksa mentalmu hingga kau benar-benar jatuh dan terpuruk hingga kau mati! Itu lebih baik untuk pendosa dan pengkhianat seperti kau, Nicholas! Bukankah kau pria gila hormat? Maka inilah pembalasanku untukmu!
Batin Andara menatap marah pada dua manusia durjana di hadapannya saat ini.
__ADS_1