Kehidupan Seorang Putri Tunggal

Kehidupan Seorang Putri Tunggal
CHAPTER 13 : BENCI TAPI RINDU


__ADS_3

Sosok pria berjalan mendekati Mala..


"Long time no see mala.." sapa seorang pria.


Mala kaget dan berdiri melihat ke sumber suara tersebut karena tidak mengira ada yang mengikuti sementara acara peresmian resto masih berlangsung,


"Reoo...kau.." ucap mala dengan terbata


"Sudah terlalu banyak kamu merokok bukan,hem" Reo mengambil rokok di tangan Mala dan menghisapnya sampai habis lalu mematikannya.


" kau..kenapa kamu ada disini, kenapa?" Mala mulai terisak laki laki yang dia rindukan tetapi sekaligus dia benci berada di hadapannya...tanpa aba2 reo langsung memeluk mala dengan erat.


"Aku mencarimu mala..aku sangat merindukanmu.." bisik reo..air mata mala pun menetes dengan derasnya...


....


Sementara itu...


"Ahh adikku..akhirnya kamu menemukannya" gumam Dian pelan tapi Steve mendengarnya


"Siapa?? Menemukan apa sih??" Tanya Steve bingung


"Itu (tunjuk Dian ke arah Mala) mala dan reo.." ucap Dian


Steve memperhatikan Mala dan pria di depannya...


"What, Reo dan Mala, wow" Steve terkejut


"Kamu kenal dengan tuan Reo, Steve?" Tanya Dian penasaran


"Tentu saja aku mengenalnya, dia temanku semasa kuliah S2 disini," jelas Steve


"APA!! Kamu..kenapa tidak cerita, apa kamu juga tahu cerita masalah Mala dan Tuan Reo?" Dian kaget dan menatap Steve dengan peuh tanda tanya


"Hemm..."jawab santai Steve


"Oh Steve, kenapa tidak cerita, dan kamu membiarkannya, hah!" Protes Dian


"Kamu khan tidak bertanya, tenang saja Dianku, kalau memang si brengsek itu akan menyakiti Mala tidak mungkin aku akan se santai ini,hem" Steve menaikkan alisnya untuk menggoda Dian.


"Hish, kau ini selalu saja terlalu pede, aku punya diriku sendiri ga usah ngaku2 " ucap Dian


"Cup, kamu punyaku,tingπŸ˜‰" Steve mengecup pipi Dian dan mengerlingkan matanya membuat Dian merona merah mukanya.


"Steve..." Dian mencubit tangan Steve, merasa malu dan canggung atas ucapan dan perilaku Steve.


.....


"Jangan menangis..please...maafkan aku,maaf melihatmu menangis seperti ini membuatku tersiksa.." Reo melepas pelukannya dan menghapus air mata mala dengan lembut.

__ADS_1


"Kenapa kamu bersikap seperti ini? Aku benci Reo, aku benci kata2 maafmu, aku benci setiap bertemu kamu selalu meminta maaf, aku ingin membencimu tapi aku ga bisa..huhuhu" isak tangis Mala pun kembali terdengar.


"Ok stop...please..jangan menangis lagi" Reo kembali memeluk Mala dengan erat...


"Lepaskan!" Seru mala dan mendorong dada reo


"Kamu tahu aku disini, kenapa baru sekarang datang? Kenapa ? Kenapa harus datang disaat aku sudah ingin melupakanmu!" Imbuhnya


"No, kamu tidak boleh melupakanku, aku tidak mengijinkannya, dan aku berjanji akan membuatmu selalu tersenyum dan menjagamu dari apa pun, aku janji Mala, mau kah kamu percaya terhadapku" ucap Reo


"Aku tidak butuh janjimu, tunjukan saja sikapmu baru aku bisa percaya" ucap Mala dengan tegas bahkan Mala sendiri kaget akan ucapannya, Reo tersenyum dengan lebar dan memeluk Mala dengan erat lagi wanita yang membuatnya penasaran sudah mulai membuka hatinya.


"Wuah..wah, ternyata kaliam sudah saling mengenal ruapanya," sapa Mr. Andre membuat Mala kaget dan melepaskan diri dengan paksa dari pelukan hangat Reo.


"Apa maksud anda Mr. Andre?" Mala mengerutkan dahinya


"Seperti yang pernah saya ceritakan nona Mala, saya ingin memperkenalkan anda dengan keponakan saya, tapi nampaknya kalian sudah sangat akrab" mr.Andre menepuk nepuk bahu Reo.


"Jadi, kalian? Apa maksud semua ini Reo?" Tanya Mala dengan bingung.


"Nona Mala, Andreo ini adalah keponakan saya, dan resto ini memang kepunyaan kita suatu kebetulan yang sangat tak terduga namun menyenangkan bukan" jelas mr.Andre


"Reo, kamu...ah aku makin tidak mengerti denganmu, apa maksud semua ini hah!" Nada suara Mala mulai meninggi


"Aku bisa menjelaskannya, tenanglah, please!" Pinta Reo


"Jadi resto Abigail ini memang kepunyaan om ku, aku memberikannya beberapa tahun yang lalu, karena kondisi resto yang sudah usang, omku meminta di desain ulang dan secara kebetulan om ku ini meminta referensi ke RMIT university, dari situ aku mengetahui bahwa kamulah yang menjadi desainernya, ini memang kebetulan Mala, mungkin takdir yang mempertemukan kita lagi" imbuhnya.


Suasana pun kembali cair setelah ada ketegangan sebelumnya, Mala mulai bisa menikmati jalan nya acara di dampingi Reo yang terus memperhatikan Mala dan membuatnya menjadi salah tingkah.


"Stop it Reo!!" Tegor Mala


"What? Aku tidak melakukan apapun" jawab Reo


"Kau melihatku seperti itu membuatku jengah" ucap Mala.


"Kamu semakin cantik Mala, beberapa bulan tidak bertemu kadar kecantikanmu bertambah berkali kali lipat, aku tidak mau menyia nyiakannya" goda Reo


"Gombal" Mala berucap dan pergi menuju meja bar


"Apple martini please" pesan Mala ke bartender


"Make it two, dave" ucap Reo ke bartender dan duduk di sebelah Mala.


" kenapa kamu mengikuti ku terus,hah! Apa tidak ada pekerjaan lain?" Tanya Mala dengan kesal karena semenjak di taman belakang Reo terus mengekor dimana pun Mala berada selama pesta, bahkan saat Mala hendak ke toilet, Reo dengan setia menunggu Mala di depan pintu toilet.


"Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, aku lelah mencarimu, kamu tahu bagaimana frustasinya aku mencarimu selama 7 bulan terakhir ini dan aku tidak mau kehilanganmu lagi," jelas Reo


"Ah come on, berhentilah untuk menggombal, kupingku panas mendengarnya" Mala mendengus kesal

__ADS_1


"Kamu memang menggemaskan " Reo mencubit kecil pipi Mala


Acara peresmian pun usai, Mala sudah sedikit mabuk dan tetap meminum terus minumannya sambil menundukkan kepala, Reo tetap berada di sisi Mala untuk menjaganya.


Steve menghampiri Reo..


"Bro, tunduk juga kau akhirnya sama wanita " ucap Steve menepuk bahu Reo.


"Haisshh, kau ini, kenapa tidak cerita kamu bekerja dengannya, kau tahu aku mencarinya, hah" kesal Reo


"Hahaha..kau lucu, kalau langsung kuberitahu, tidak akan se indah ini hasilnya, tidak ada pengorbananmu" tawa Steve meledek Reo.


Reo memukul pelan lengan Steve.


"Kau semakin hebat saja nampaknya steve" ucap Reo


"Yes i am " sombing Steve dengan mengangkat kerahnya


"Jaga dia Reo, kali ini kau ku beri kesempatan tetapi jika kau menyakitinya lagi, tanganku sendiri yang akan memberimu perhitungan, antarkan dia pulang ke apartemennya alamatnya akan ku share," ucap Steve dan menepuk nepuk bahu Reo lagi.


"Ok bro, thanks sudah mempercayaiku,pasti aku akan menjaganya " ucap Reo sambil menaikkan jempolnya.


Dilain sisi Dian nampak cemas, ketakutan akan trauma Mala membuat pandangan Dian tak lepas selalu mengawasi gerak gerik Mala dan Reo.


"Kau tenanglah,yuk ku antar kamu pulang, Reo akan mengantarkan Mala, tidak perlu terlalu khawatir seperti itu, aku mengenal baik siapa tuan Andreo Baylor si berengsek itu" jelas Steve.


"Tapi.." belum sempat Dian menyelesaikan kalimatnya Steve langsung menarik tangan Dian menuju mobil.


Reo pun memapah Mala menuju mobilnya untuk mengantar pulang, karena kondisinya yang sudah tidak kuat berjalan sendiri, Reo mengecek ponselnya untuk melihat lokasi apartemen Mala yang di share oleh Steve, dan langsung mengendarai mobilnya, sesampainya di apartemen Mala, Mala sudah tertidur di bangku penumpang


"Kenapa kamu selalu penuh misteri mala, dan aku sungguh tergila gila denganmu" gumam Reo dan mengelus pipi Mala


"Erghhh, Reo..Re..." Mala bergumam dalam kondisi tidur, karena tidak tega Reo membopong Mala ala bridal style untuk masuk ke apartemennya, setelah dengan bersusah payah memencet bel pintu apartemen dibuka


"Tuan Andreo, maaf jadi merepotkan anda, ayo bawa Mala ke kamarnya" ucap Dian. Reo mengangguk dan meletakkan Mala dengan hati2 di kasurnya, menyelimuti tubuh Mala dan mengecup pelan keningnya, saat Reo hendak keluar kamar tangannya di pegang Mala.


"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku lagi, kamu sudah menyakitiku, kamu harus mengobati luka ini, kamu sudah janji" gumam Mala membuat Reo kaget saat hendak membalas ucapan Mala, Mala sudah kembali memejamkan matanya.


"Aku.berjanji Mala, aku akan mengobati luka di hatimu, tak akan kubiarkan satu orang pun menyakitimu,bahkan diriku sendiri" batin Reo.


Reo mengurungkan niatnya untuk keluar kamar, Reo duduk di tepi ranjang memegang tangan Mala dan memperhatikan Mala yang sedang tertidur ada rasa bahagia, sedih dan menyesal dalam dirinya, entah sejak kapan Reo sudah jatuh hati terhadap gadis di depannya, gadis yang selalu Reo hina, bentak, sekaligus sangat dicintainya.


.


.


..


...

__ADS_1


...bersambung lagi yah...


sangat ditunggu komen like dan votenya πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2