
Mala berjalan dengan sangat cepat bahkan hampir berlari, tidak terpikirkan kenapa Reo, pria yang dicintainya bisa2nya berpikir negatif tentangnya kecewa dan kesal yang dirasakannya saat ini.
"Ay...slowly..ay...!" Dave berteriak-teriak memanggil Mala.
"Hish, wanita ini sungguh susah sekali dikejar," gumam Dave sambil berlari mengejar Mala.
Karena jarak kedai ice cream dan apartemeb uncle Adam yang tidak terlalu jauh, mereka tadi memang memutuskan untuk berjalan kaki alih2 menggunakan kendaraan.
Sesampainya di apartemen uncle Adam, terlihat uncle Adam sedang minum air es di ruang tamu.
Uncle Adam merasa bingung melihat Mala yang tiba2 masuk sambil menangis.
"Darling, hei kenapa?"tanya uncle Adam namun tidak digubris Mala, melainkan Mala langsung masuk ke kamarnya dan membantingnya dengan keras.
"Ay..."panggil Dave dengan ngos2an setelah masuk ke dalam apartemen. Membuat uncle Adam mengernyitkan keningnya.
"Hei young boy what happened?" Tanya uncle Adam.
"Yah..my Aya...dia..dia..." Dave langsung mengambil gelas di tangan uncle Adam dan meneguknya sampai habis.
"Kau..ada apa? Kenapa dengan Mala ? Kau apakan lagi dia, bocah nakal!" Tanya uncle Adam yang hendak menjewer kuping Dave tapi tidak sempat karena Steve dan Dian masuk.
"Bukan Dave uncle tapi Reo," Dian berkata dan menghampiri uncle Adam
"Kau sudah datang?" Uncle Adam memeluk Dian dan mengecup pipinya.
"Sudah dari sore tadi uncle, tuh Steve," tunjuk Dian ke arah Steve yang baru masuk.
"Ah Steve, long time no see," sapa uncle Adam.
"Uncle, kau tambah gagah sekarang, pasti lebih banyak wanita yang mengincarmu," Steve menjawab sapaan uncle Adam dan memeluknya.
"Dan sekarang ceritakan," Adam beranjak duduk di sofa singlenya diiikuti Dian , Steve dan Dave yang langsung duduk di tengah2 memisahkan Dian dan Steve.
"Jangan terlalu dekat dengan mba Ai-ku!" Seru Dave.
"Davee..." tegor Adam.
"Yes Yah, dia terlalu dekat, nanti aku.."Dave tidak melanjutkan kalimatnya karena tatapan tajam uncle Adam.
"It's ok uncle, aku sudah terbiasa," ucap Steve dengan senyum simpul dan menggeser duduknya.
"Hah, bocah ini, lalu ada apa dengan Mala? Bukankah dia sudah baik2 saja dengan Reo, tadi kau bilang karena Reo," tanya uncle Adam.
"Reo melihat Mala dengan Dave di kedai ice cream paman Sam, Uncle," jawab Dian.
"Daveee... sudah berapa kali ku peringatkan!" Tegor uncle Adam.
"Yah...kita biasa saja, pria itu saja yang berlebihan, lagipula siapa dia, kenapa membuat aya-ku menangis," jawab Dave dengan merengut.
"Biasanya kau tidak seperti pada umumnya Dave, kau tidak ingat pernah di hajar oleh Steve karena tingkah manjamu?" Adam memijat pangkal hidungnya melihat tingkah Dave.
"Jika dia memang orang special harusnya lebih mengerti dong," kata Dave ber argumen.
"Boy... dia belum mengenal jauh keluarga kita, wajar sikapnya seperti itu," Steve menepuk pundak Dave.
__ADS_1
"Aku akan berbicara padanya, panggil dia kesini besok pagi Steve dan Dave jangan berulah lagi, kenapa kau suka sekali membuatku pusing kepala," ucap Adam.
"Aku tidak melakukan apa2 Yah, kenapa kau malah membela pria tidak jelas itu," kesal Dave.
Uncle Adam berdiri dan menundukkan kepala seraya berbisik ke Dave "pria tidak jelas itu adalah pria yang dicintai your Aya, Dave." Dan uncle Adam berjalan ke arah kamar Mala meninggalkan Dave yang terbelalak kaget mendengarnya.
"Mba ai... Steve ?" Dave bertanya memastikan. Steve dan Dian menganggukkan kepalanya.
"Waw great news actually.but WHATTTT!Steve aku tidak mau dia memukuliku sepertimu," setelah kekagetannya timbul kepanikkan Dave, dia mengingat persis kejadian Steve memukuli perut dan wajahnya karena memeluk dan bermanja-manja dengan Dian, dan dilihat secara langsung oleh Steve yang pada waktu itu belum mengetahui siapa Dave sebenarnya.
"Haha..terima nasib mu buddy," ucap Steve dan berlalu meninggalkan mereka menuju balkon.
"Mba ai, aku tidak mau babak belur lagi,"ucap memelas Dave dan memeluk manja Dian.
"Tenanglah, uncle Adam akan berbicara pada Reo, dan aku akan menjagamu young boy," Dian mengelus lembut punggung Dave.
...
Pagi di apartemen uncle Adam terlihat ramai oleh celotehan Dave, Dave memutuskan bermalam di apartemen uncle Adam,yah walaupun dengan rengekkannya. Uncle Adam tidak pernah melarang tapi dengan sifat manjanya Dave, dia ingin merubahnya menjadi lebih mandiri, maka dari itu Dave dibelikan apartemen untuk dirinya di dekat sekolahnya, letaknya memang tidak terlalu jauh agar bisa selalu di awasi oleh uncle Adam.
"Kau ini selalu saja berisik Dave, kapan kau dewasanya," ucap uncle Adam menegor Dave saat dia baru bergabung dengan Dave dan Dian di meja makan.
"Hehehe..." Dave menjawab dengan cengiran dan menggarruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa Mala sudah keluar kamar sayang?"tanya Uncle Adam ke Dian.
"Belum uncle, tadi ku cek dia sedang di kamar mandi," jawab Dian yang sedang menyiapkan makan pagi.
"Hemm... semoga baik2 aja yah dia, oia, jam berapa Steve akan membawa Reo sayang?" Tanya Uncle Adam
"Kopi saja, terima kasih sayang," jawabnya dengan lembut.
Uncle Adam selalu memperlakukan Dian dan Mala dengan lembut, membuat kedua gadis itu merasa nyaman, perhatiannya seperti seorang bapak ke anak gadisnya.
Tak lama berselang Steve dab Reo pun datang.
"Masuk bro ikut sarapan yuk, mba Ai-ku memasak makanan yang enak,"ucap Dave saat membukakan pintu untuk Steve dan Reo, sewaktu pandangan mata Dave bertemu dengan Reo, dia menundukkan kepalanya, Steve pun tertawa melihat tingkah Dave.
"Hati2 boy, pukulannya sangat mematikan,haha.." goda Steve membuat Dave semakin pucat pasi.
"Steve...jangan di goda-in terus adikmu," tegor Adam yang melihat kedatangan Steve.
"Bercanda uncle, morning uncle, honey.." sapa Steve mencium pipi Dian dan menyalimi tangan Adam.
"Ah ini yang bernama Andreo Baylor," ucap Adam dan bersalaman dengan Reo.
"Perkenalkan saya Adam, Uncle-nya mereka termasuk kekasihmu, sedangkan ini perkenalkan anak angkat saya David," Adam menepuk punggung Dave.
Reo sedikit kaget dan merasa bersalah karena berpikiran buruk tentang Mala semalam.
"Saya meminta-mu datang hanya ingin membantu meluruskan permasalahan, dan meminta pengertianmu dengan keluarga kami, keakraban di keluarga kami memang berbeda dengan keluarga yang lain atau umumnya, kadang terlihat sedikit vulgar hubungan antara kakik-adik, om-keponakan, yah..setiap keluarga kan mempunyai keunikkan masing2, bukan begitu tuan Andreo," ucap Adam.
"Maaf Mr.Adam, panggil saya Reo saja, saya memohon maaf juga karena sudah berburuk sangka sebelumnya," ucap melas Reo.
"Tidak apa2, itu sudah wajar terjadi siapapun akan merasa kesal melihat orang yang dicintainya dipeluk atau dicium pria lain, sebaiknya bertanya terlebih dahulu dan mengesampingkan emosi kita, jika belum mengetahui kondisi sebenarnya,"ucap bijak Adam.
__ADS_1
"Sekali lagi saya memohon maaf Mr.Adam," ucap Reo
"Tidak perlu sungkan Reo, bukan kepada saya kamu harus minta maaf tetapi kepada Mala, pesan saya lebih bersabar menghadapinya dan tekan emosi kita," ucap Adam.
Mala terlihat keluar kamarnya dan menuju meja makan tempat yang lain ngumpul.
"Morning uncle..Dii..Dave, and Steve tumben pagi2 sudah datang," Mala mencium pipi semua yang di sapanya saat menyadari ada Reo...
"Mau apa kamu disini, belum cukup puaskah kamu menghinaku!" ucap sinis Mala.
"Darling, uncle yang mengundangnya, duduk sini sebelah uncle," Adam menepuk kursi kosong di sebelah kirinya.
"Tidak mau selagi ada Dia, aku sudah tidak nafsu untuk sarapan," ucap Mala dan berlalu pergi, dan Dian mengikuti kepergian Mala setelah melihat isyarat uncle Adam sedangkan Reo hanya menatap kepergian Mala dengan rasa bersalah yang semalin besar.
"Begitulah Reo, Mala agak susah memaafkan kesalahpahaman , mungkin butuh sedikit waktu, tapi jangan menyerah, baiklah sepertinya hanya ini yang ingin saya sampaikan, bicarakan baik2 dengannya,oia Steve ikut ke ruangan kerja ku sebentar," ucap Adam mengakhiri pembicaraan dengan Reo dan diikuti Steve yang mengekori Adam.
Dave agak sedikit canggung ditinggal berdua dengan Reo mereka terlihat sibuk dengan pemikirannya masing2 sampai Dian menghampiri.
"Boy tidak kuliah kamu hari ini?" Tanya Dian dan duduk di sebelah Dave.
"Nanti siang, Aya-ku dimana mba?" Tanya Dave balik, Reo pun mengernyitkan dahinya mendengar percakapan Dian dan Dave.
"Di tempat biasa,"jawab Dian dan meminum orange juicenya.
"Kau..bicaralah dengan Mala,dia ada di pinggir pantai dan ingat jaga emosimu," ucap Dian menatap Reo, Reo menggangguk dan berlalu pergi untuk menemui pujaan hatinya itu.
Sementara itu di ruang kerja Adam
"Steve seperti kau tau Axel berada disini, dan se-pengamatanku dia semakin nekad dengan bisnis nya itu, kita harus lebih extra waspada mengenai ini.
"Yes uncle, aku sudah memerintahkan beberapa orang untuk menjaga Mala, tapi yang belum bisa ditebak akan aksi apa yang dia perbuat, dia juga mulai mengawasi gerak gerik Mala," jawab Steve.
Adam menganggukkan kepalanya.
"Kita hanya bisa berjaga jaga Steve dan jangan sampai lengah,suruh Omo perketat semuanya jangan biarkan Mala berpergian sendiri dan untuk Reo coba jelaskan lebih detail kepadanya termasuk mengenai Axel, semoga kesalah pahaman mala dengan reo kali ini tidak berbuntut panjang agar dia juga bisa ikut membantu menjauhkan Mala dengan Axel," jelas Adam.
"Baik uncle," jawab Steve.
......
Mala berdiri termenung di pinggir pantai, sesekali dia mendesah kesal, suasana pagi yang begitu indah dengan suara ombak dan angin yang berhembus perlahan tidak membuatnya merasa tenang seperti biasanya, sebenarnya dia sangat merindukan Reo dan senang sewaktu melihat Reo di meja makan pagi ini,tapi karena ego nya sedang tinggi, maka ucapan sinis yang keluar dari mulutnya.
Tiba- tiba....
.
.
.
.
Bersambung dulu yah gaesss....semoga masih mau membaca yah🙏🙏🙏mamacih sebelumnya gaess..
__ADS_1