Kehidupan Seorang Putri Tunggal

Kehidupan Seorang Putri Tunggal
CHAPTER 19 : MAMA..YOUR THE QUEEN OF MY HEART


__ADS_3

Lewat 1 minggu setelah prosedur pungsi ascites yang dilakukan bu Moni, saat ini Mala, Dian , Ferry dan Bu eni sedang berkumpul dirumah Mala menunggu kedatangan dr.Wawan untuk menjelaskan hasil dari pungsi ascites tersebut.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang.


"Waduh udah pada ngumpul nih, ko kaya tegang banget nih," sapa dr.Wawab berusaha mencairkan suasana.


"Udah wan ojo guyon, ini loh Mala dari tadi udah ga sabar nungguin kamu , sampai belum makan dia dari tadi pagi, " ucap bu Eni memperingati adiknya itu.


"Iya tah mba, kenapa ponakan om ? Kalau kamu jadi ikutan sakit gimana , hems?" Tanya lembut dr.Wawan membelai rambut Mala.


"Hasil cairannya gimana om, mama gimana?" Tanya Mala langsung.


"Dari hasil cairan tersebut mamamu hepatitis c nya positif dan mamamu benar sirosis hati bahkan sudah masuk dalam kategori kanker, kamu yang sabar yah, bantu doa segala upaya sedang kita lakukan, semoga hasilnya bisa sesuai dengan kemauan kita," ucap dr.Wawan denga berat hati.


DUAAARRR...( Mala seperti tersambar petir di siang hari..mendengar penjelasan dr.Wawan)


"Mama...TIDAAAKKKKKK, kenapa harus mama om, kenapa ga Mala ajah, kenapa ? Apa salah mama, mama sudah begitu baik selama ini, kenapa bukan Mala,huhuhuhu... " Mala terisak dengan begitu kerasnya membuat yang lain terasa sangat pilu mendengar tangisan Mala.


"Mala sabar yah nak," bu Eni memeluk Mala dan mengusap punggung Mala dengan lembut.


"Mama, buni... mama... " isak tangis Mala pun semakin keras.


"Mba... sabar yah kita banyak2 berdoa yah mba," ucap Ferry mendekati Mala dan ikut mengusap kepala Mala.


"Mala ... kamu harus kuat nak, kabar baiknya hari ini mamamu sudah boleh pulang, nanti sore sudah bisa pulang nunggu ada beberapa pemeriksaan dari dr.irsan, ke depannya tetap harus bedrest dirumah, dan satu lagi terus beri semangat jangan seperti ini yah om ga mau kamu terlihat lemah seperti ini," ucap dr.Wawan mengingatkan Mala.


"Syukurlah mama sudah boleh dirawat dirumah, Mala tetap semangat yah kita akan selalu mendukungmu jangan patah semangat," ucap Dian.


Sore hari


Bu Moni tiba dirumah dijemput oleh Steve dan dr.Wawan, karena Mala enggan untuk balik ke rs. merasa terlalu menyeramkan menurutnya jika terlalu sering ke rs.


"Welcome home mama," ucap Mala menghampiri mamanya dan membantu memapah untuk masuk ke kamar.


"Nak, ambilkan mamamu minum yah," ucap bu Eni.


Mala bergegas keluar kamar dan mengambilkan air untuk mamanya.


"Jeng... " sapa bu Moni.


"Aku sudah tahu, istirahatlah.. aku pasti akan menjaga Mala, tidak perlu kamu cemaskan aku juga menyanyanginya seperti kamu menyanyangi Ferry dan Dian," bu Eni berucap sambil membenarkan selimut bu Moni.


"Terima kasih ... " isak bu Moni


"Hapus airmatamu jangan biarkan anak2 melihatnya, kita harus kuat, kamu kuat jeng," Bu Eni berusaha tegar walaupun hatinya merasa hancur melihat keadaan sahabatnya saat ini.


Satu minggu sudah bu Moni berada dirumah, Mala terus mendampingi dirumah Reo pun sering mampir ke rumahnya, sekedar mengobrol dengan bu Moni dan memberi kekuatan terhadap Mala dan juga yang lain bahkan Ferry terus2an berada di sisi bu Moni, kecemasan melanda keluarga Noche.


Sampai di suatu dini hari bu Moni sesak nafas sudah memakai tabung oksigen kecil tidak begitu membantu, akhirnya Ferry, Dian dan Mala membawa bu Moni ke Ugd rs. Mala tidak berani masuk Ugd dia hanya berdiam diri di taman depan rs tersebut meminum teh botolnya. Setelah ditelpon Steve, Reo pun mencoba mencari Mala dan menghampirinya.


"Hai sweetie, ini aku membawakanmu ini, " sapa Reo dan memberikan sebatang coklat


"Katanya coklat itu bisa membantu merilekskan pikiran loh, dicoba yah." Imbuhnya.


Mala hanya menatap kosong ke arah jalan pikirannya berkecamuk dan kacau bahkan Reo sulit sekali mendekatinya...


"Ikut aku yuk, kita ke coffeshop seberang," ucap Reo dan diangguki oleh Mala, sesampainya di coffeshop Mala tetap terdiam menyalakan rokoknya dan masih dengan tatapan kosong ke arah jalanan, seperti sibuk sendiri dengan pikirannya.


Terdengar lantunan lagu dari cafe tersebut entah kenapa Mala merasa sangat cocok dengan kondisinya saat ini.


*You were there for me to love and care for me


When skies were gray

__ADS_1


Whenever I was down


You were always there to comfort me


And no one else can be


What you have been to me you will always be


You will always be the girl


In my life for all times


Mama, Mama you know I love you


(You know I love you)


Mama, Mama you're the queen of my heart


Your love is like tears from the stars, yes it is


Mama I just want you to know lovin' you is like food to my soul*


( boyz II men - a song for mama )


"She is my queen Re, if something happen with her, i really don't know what to do," lirih Mala tetap dengan pandangan ke arah jalan.


"Sweetie, kamu harus percaya mukjizat, kita berdoa mama akan baik2 saja, apapun yang terjadi itu sudah kehendakNYA, kamu ingat masih banyak orang2 yang sayang di sekelilingmu, ada aku," Reo memeluk Mala danengecup pucuk kepalanya.


"Kuatkanlah wanitaku ya Tuhan, jangan biarkan dia terpuruk, aku tidak sanggup melihatnya seperti ini," doa Reo dalam hatinya.


1 jam sudah Mala berada di coffeshop sampai dering ponsel Mala berbunyi


Drrttt...drrrttt....(suara getar ponsel Mala)


"Mba dimana ? Masuk ke dalam ugd bisa mba ? Ada sesuatu," pinta Ferry di telp. Tanpa menjawab lagi Mala langsung berlari ke arah rs dengan menarik tangan Reo.


"Sweetie, slowly what happened ?" Tanya Reo bingung dengan perilaku Mala.


"Mama... " jawab Mala dan tetap berlari menarik Reo.


Sesampainya di dalam ugd dengan tubuh bergetar Mala diajak masuk ke ruang dokter, dokter menjelaskan secara rinci kondisi mamanya yang sudah komplikasi, ginjalnya sudah mulai tidak berfungsi karena itu komplikasi pemyakitnya sudah merembet ke organnya yang lain dan juga jantungnya sedikit membengkak segala jenis obat2an sudah diberikan tetapi tubuhnya seperti menolak dan harus dipasangkan ventilator karena nafasnya sudah sangat berat, hal ini untuk sedikit meringankan kerja otot pernafasannya.


Bruggg...


Mala tersungkur lemas dengan penjelsan dokter, membuat yang lainnya panik


"Aku ingin bicara sama mama dulu, sebelum dipasangkan alat2 itu boleh dok ?" Tanya mala dengan lemas.


"Silahkan, jika sudah selesai bisa panggil kami kembali dan ada beberapa dokumen persetujuan yang harus ditanda tangani nona sebelum kami melakukan tindakan," ucap sang dokter ugd.


"Mama.. maafin Mala yah, belum bisa membahagiakan mama, " ucap Mala dengan terisak sesampainya di sebelah sang mama, bu Moni hanya tersenyum menanggapi Mala, dan mengangkat tangannya ingin menggenggam tangan Reo yang berada di sebelah Mala. Reo pun menyambut dan memegang tangan bu Moni.


"Mama titip Mala, nak Reo," ucap Bu Moni dengan pelan karena kondisinya yang sudah semakin lemah.


Ferry pun menghampiri ranjang bu Moni


"Mam, yang kuat mam, Ferry belum sanggup tanpa mama, jangan tinggalin Ferry, hikss... " tangis Ferry yang dia tahan dari tadi pun akhirnya pecah, membuat kaget yang lain, setegar tegarnya Ferry melihat mama Moni terbaring lemah membuatnya begitu terpukul.


"Sayang, anak ganteng mama.. ingat selalu jagain kakak2mu yah, jangan nangis dong, doain mama yah, mungkin memang sudah waktunya mama bertemu papa Anto," dengan suara terbata-bata bu Moni memberi pengertian ke Ferry


Ferry menggeleng dengan kuat.


"Engga mam..engga mama harus disini mama harus tetap ada sama kita, mama berjuang dong, ferry ga mau," ferry memeluk Bu Moni dengan air mata yang semakin deras, Dian mengelus punggung Ferry.

__ADS_1


"Fer, kasihan mama...Ferry! Kamu tidak boleh seperti ini," Dian mencengkeram lengan Ferry


"Dian sayangnya mama, jaga selalu adik2mu yah... " ucap bu Moni, Dian pun mengangguk dan ikut terisak.


"Steve...ingat pesan saya dan papa Anto ?" Tanya bu Moni, steve pun mengganguk dengan lemah.


Tak lama dr.wawan, tante Liza dan Bu Eni datang mereka bergantian memeluk bu Moni yang terlihat semakin lemah.


"Mama... nanti Mala gimana ma, mama... " Mala masih memeluk mamanya.


"Aya darling, ingat Mala harus janji sama mama, Mala harus bahagia tidak boleh terlalu lama.bersedih, mama dan papa sayang sama Mala, mama dan papa merasa bangga mempunyai anak seperti Mala dan mama juga bangga terhadap Ferry dan Dian," Bu Moni tersenyum dengan manis.


Ferry dan Mala pun masih bergelayut ditangan bu Moni, membuat yang lain merasa iba melihatnya.


"Mama... " airmata Mala semakin deras, bu Moni melihat ke arah dr.wawan dan seperti biasa dr.wawan sudah mengerti apa yang dimaksud.


"Sayang yuk, biar mama istirahat dulu," ajak dr.wawan ke Mala.


"Engga, engga mau.. mala harus disini mama ga boleh pergi ENGGAAAA... " Mala mulai histeris di bantu dengan Reo , dr.Wawan menarik Mala keluar ruangan.


"MAMAAAA... !!" Teriak Mala saat digandeng keluar.


"Sweetie... " Reo memeluk Mala dengan erat bulir2 airmata pun mengalir di pipi Reo melihat wanitanya begitu sedih.


Tak pernah terbayangkan oleh Reo akan seperti ini keadaan Mala nangis dan berteriak begitu kencangnya.


"Fer.." Dian memanggil Ferry untuk keluar ruangan juga karena bu Moni akan dipakaikan ventilator, nafas dan suaranya sudah semakin melemah.


"Engga mba, biar Ferry temani mama, ferry ga mau mama sakit, mam.. " ferry masih sesenggukan hal yang paling jarang Ferry lakukan.


"FERRY.. " panggil Dian lagi. Ferry tetap menggeleng dan mendekap bu Moni semakin kuat, akhirnya Steve pun turut berbicara.


"FERRY... jangan seperti ini, lihat mba mu sudah histeris FERRYYY!" Panggil Steve dengan agak meninggikan suaranya.


Dengan terpaksa Ferry melepaskan pelukannya terhadap Bu Moni, dengan dirangkul Steve ferry keluar ruangan diikuti dengan yang lain.


Dokter dan tenaga medis pun segera bertindak memasang alat ventilator.


Di ruang tunggu Steve terus memberikan semangat untuk Ferry, banyak yang tidak menyangka ternyata Ferry juga sangat terpukul.melihat kondisi Bu Moni.


Bu Eni pun menghampiri dan memeluk Ferry.


"Fer, saat ini semua orang juga sangat bersedih tapi kamu harus kuat, tidak boleh seperti ini, kamu lihat mba Mala masih histeris diluar, kalau melihatmu seperti ini apa mba mu tidak semakin histeris, ibu tahu kamu juga sedih, demi kebaikkan ibu, Mba ai dan Mba Mala, kamu mengerti khan," ucap Bu Eni dengan lembut. Ferry pun tersadar dan mengangguk dengan lemah.


Kondisi Mala masih teriak2 memanggil mamanya membuat Reo semakin panik, dr.Wawan menyuruh Reo membawa Mala ke ruangan sendiri agar tidak mengganggu yang lain. Setelah diberi minum dan sedikit tenang Mala bersih keras untuk kembali menemani mamanya.


Selang ventilator sudah terpasang di tubuh Bu Moni kondisinya pun sudah semakin melemah. Tidak hanya keluarga tetapi para ajudan keluarga Noche yang tidak pernah terlihat juga sudah berkumpul diruang ugd rs, seakan merasakan kembali kesedihan keluarga tersebut, suara2 mesin dan isak tangis memenuhi ruang perawatan. Lantunan ayat-ayat suci sudah dikumandangkan di telinga Bu Moni.


Dan sampai waktunya bu Moni menghembuskan nafas terakhirnya...


"Mama.... " dan Mala jatuh pingsan.


Langsung segera Reo membopong Mala ke ruang perawatan di sebelah ruangan tempat bu Moni terbaring. dr.wawan ikut menemani Mala sesuai janji dengan Bu Moni, Steve memegang bahu Dian dengan erat yang mulai limbung seperti mau pingsn juga, Ferry berteriak-teriak dan dibujuk oleh bu Eni, bu Liza dan beberapa ajudan. Suasana yang begitu menyedihkan terlihat diruangan tersebut bahkan beberapa perawat dan dokter ikut meneteskan airmata harunya melihat begitu banyak orang2 yang mencintai bu Moni.


.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung lagi yah pemirsah...tetap ikuti perjalanan hidupnya MalaπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2