
"Mba, tenang dulu yah," Ferry memeluk Mala dari samping
"Berapa persen om?" Tanya Mala sambil menunduk
"MBA..!!" Bentak Ferry
"Engga apa-apa Fer, tenang yah, om akan bantu jelaskan ke mba mu," dr. Wawan menepuk punggung tangan Ferry.
"Mala, sirosis mamamu sudah masuk dalam kondisi berat, jika yang kamu tanyakan berapa persen peluang hidupnya om tidak bisa jelaskan karena itu kuasa Tuhan kita sebagai hambanya hanya bisa berdoa dan berusaha semaksimal mungkin tapi jika yang kamu tanyakan berapa persen sirosisnya oom hanya bisa bilang sudah sangat parah hampir 75 persen, sebenarnya penyakit mamamu ini sudah lama karena di hiraukan perkembangannya pun menjadi sangat agresif," Mala mendengarkan dengan seksama penjelasan dr. Wawan dengan airmata yang sudah mengalir begitu derasnya.
"Apa yang harus dilakukan saat ini oom?" Tanya Mala lagi
"Saat ini mamamu sedang dalam proses pengeluaran cairan dalam tubuhnya dengan cara diberikan obat, tetapi rasanya kurang maksimal, besok siang kita akan melakukan pungsi asites untuk mengeluarkan cairan dalam tubuh dengan cara melubangi atea perut, jangan khawatir ini tidak berbahaya hanya di lubangi sedikit, om sudah menghubungi dr.irsan rekan om yang memang keahliannya sebagai hepatologi ( dokter penyakit dalam khusus untuk pengobatan liver), setelahnya cairan itu akan di observasi dan bisa kita lihat perkembangan selanjutnya, yang terpenting mamamu harus bedrest tidak boleh melakukan kegiatan yang berat karena fungsi hatinya sudah tidak maksimal." dr. Wawan menjelaskan sedikitnya mengenai pengobatan yang akan dilakukan untuk bu Moni.
Mala menghela nafas dengan berat "Jangan mamaku Ya Tuhan, ku mohon sembuhkanlah mamaku," doa Mala di dalam hatinya.
"Lebih baik saat ini kamu pulang dan istirahat dulu di rumah nanti sore kamu bisa kembali lagi, mamamu masih dalam kondisi stabil Mal, tenang saja om akan selalu mendampingi, ok " pinta dr. Wawan.
Setelah mendengar penjelasan dr. Wawan, Mala dan lainnya pulang ke rumah Mala, walaupun rasanya enggan tapi saran dr. Wawan tetap Mala ikuti.
Sesampainya di rumah Mala disambut oleh mbo Nem dan Ipah, mereka berdua terlihat begitu sumringah melihat nona mudanya kembali ke rumah, walaupun wajah Mala yang terlihat begitu lesu.
"Non Mala, mbo Nem senang non sudah pulang lagi, wuah bisa kembali ramai nih rumah ini,"sapa mbo Nem.
"Iya mbo, mbo bantu Ferry yah menurunkan koper2, Mala masuk dulu, mau mandi gerah banget," Mala langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya siapa tahu pikiran dan kecemasannya akan sedikit terobati dengan mandi air dingin, hanya itu yang bisa Mala pikirkan saat ini.
Dian pun ikut masuk ke dalam rumah,
"Aku masuk dulu yah Steve, aku juga bersih2 dulu kamu sama Ferry dulu engga apa-apa khan ?" Tanya Dian dan Steve pun menggangguk.
Ferry dan Steve mengobrol di taman belakang rumah bersama.
"Jadi apa yang bisa kamu jelaskan ?" Tanya Ferry membuka omongan sambil menghisap rokoknya.
"Ehhmm, maafkan aku Fer, sepertinya kamu sudah tahu cerita sebenarnya dari tante Liza, Maaf aku tidak bermaksud untuk membuat mbamu sakit hati, tapi kata- kata om Adhi ada benarnya, aku tidak mungkin mendampingi Dian tanpa persiapan apapun, saat itu aku hanya seorang pekerja biasa, aku tidak mungkin membuat susah wanita yang aku sayang dan sangat aku cintai, itulah sebabnya aku menghilang, aku ingin membuktikan kalau aku layak mendampingi mbamu, dan saat ini aku sudah siap ku mohon kamu mau menerimaku," jelas Steve dengan panjang lebar.
"Aku tidak masalah asal mba ku juga happy tapi, aku sangat kecewa dengan sikapmu beberapa tahun lalu kamu tahu akibat perbuatanmu orang yang ku sayangi sangat terpuruk, fiuuhhh" helaan nafas Ferry membuat Steve merasa begitu amat bersalah.
"Maafkan aku Fer.." lirih Steve.
"Bukan permintaan maaf yang kuperlukan Steve, buktikan ucapanmu sebagai seorang laki-laki sesungguhnya aku akan merestui kalau memang mba Dian tidak pernah sakit hati atau terpuruk karena ulahmu lagi," Tegas Ferry dengan menatap tajam Steve.
Obrolan mereka terhenti karena datangnya ipah membawakan minuman dan cemilan.
"Silahkan dicicipi den, ini tadi mbo Nem yang bikin kuenya untuk menyambut kepulangan non Mala kata si mbo," ucap Ipah menjelaskan.
"Terimakasih yah pah, oia, mba Mala masih di kamar tah? Atau sudah selesai ?" Tanya ferry
"Masih den, mbo Nem juga sedang di kamar si non ," jawab ipah dan dianggukan kepala oleh Ferry, ipah pun kembali masuk ke dalam rumah.
"Satu lagi permintaanku Stev, kau hubungi lah temanmu itu, aku gak mau mba Mala kenapa-kenapa juga, kau tahu maksudku khan?" Tanya Ferry.
"Iya aku mengerti Fer," jawab Steve.
"Mba Mala baru kali ini beneran jatuh cinta, arrgghh aku blm bisa pastikan si brengsek itu yang terbaik atau bagaimana, rasanya aku kesal sekali Steve," Ferry mengacak rambutnya dengan kasar.
"Tenanglah Fer, jangan seperti itu kalo mba mu melihat bisa lebih kacau lagi, aku akan pastikan Reo tidak macam-macam."
"Yah sebaiknya begitu, aku tidak ingin terjadi hal-hal yang kutakutkan selama ini," jawab Ferry dengan pasrah.
"Mba Mala dan mba Dian segalanya buatku Steve tidak ada yang boleh atau sedikit pun menyakiti mereka jika ada yang berani kau akan tau akibatnya, aku tidak bercanda akan kupastukan orang itu menderita seumur hidupnya!"geram Ferry yang membuat Steve sedikit bergedik ngeri, Steve paham kalau sampai kedua wanita itu kenapa-napa anak buah om Anto dipastikan akan turun tangan juga.
Selebihnya mereka mengobrol santai mengenai penyakit bu Moni, kondisi Mala dan pekerjaan nya steve dan Ferry..
Sudah hampir 2 jam Mala berada di kamarnya,nbo nem juga sudah disuruh Mala keluar setelah mengantarkan cemilan. Dian memberanikan diri masuk ke kamar Mala.
"Mala, apa aku mengganggumu?" Tanya Dian hati-hati.
"Masuk di,"jawab singkat Mala.
Mala termenung di atas tempat tidurnya menatap langit2 kamarnyanya yang berupa kaca jadi bisa melihat langit luar secara langsung.
"Mal, kamu mau sesuatu ?" Tanya Dian lagi, dan Mala menggeleng dejgan lemah.
"Di, aku takut di, aku sangat-sangat takut," lirih Mala. Dian mendekati Mala dan mengelus rambutnya karena rasa takut itu pun juga Dian rasakan.
"Hemm, saat ini kita berdoa yang terbaik untuk mama Mal, dan berharap semoga mama bisa kembali sembuh, sehat seperti sedia kala." Ucap Dian.
Mala pun menggangguk dan memeluk Dian dan air matanya pun kembali mengalir di pipinya yang mulus, dan membuat Dian ikut menangis.
TOK...TOK...TOK...
(Suara ketokan pintu kamar Mala)
"Masuk ajah Fer, ga dikunci tumben banget kamu ngetok pintu," jawab Mala yang mengira Ferry yang mengetok pintu.
Sesosok pria muncul di di depan pintu kamar Mala, yang membuat Dian dan Mala kaget.
"Tuan Andreo," kaget Dian.
"Masuk Re,sini." Ajak Mala dengan senyum terpaksa membuat Reo merasa menjadi serba salah melihat keadaan Mala.
"Aku tinggal dulu yah Mal, tuan Andreo," Dian beranjak pergi keluar.
Reo mendekati Mala dan duduk berhadapan dengannya
"Kau baru datang Re, kamu berbohong katanya mau pulang bareng denganku, kenapa baru sekarang kau muncul, hah.. sudah kuduga kamu akan selalu seperti ini " kesal Mala.
__ADS_1
"Maafkan aku sweetie, saat aku mau menuju bandara tadi pagi uncle Andre menelponku jadinya aku menemuinya terlebih dahulu, maaf sudah membuatmu kecewa lagi," Reo membelai lembut rambut Mala.
"Hem..." jawab singkat Mala
"Kau sudah makan ?" Tanya Reo dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Mala.
"Sudah kuduga, yuk kita turun sudah ditunggu sama yang lain dibawah ," ucap Reo.
"Nanti saja lah Re, aku blm lapar," jawab Mala.
"Atau mau ku gedong ke bawah supaya kamu mau ikutan makan atau bagaimana, hem?" Goda Reo.
"Hisshh, baiklah baiklah aku turun."
Mereka pun keluar kamar dan menghampiri yang lain yang ternyata sudah berada di meja makan menunggu Mala dan Reo.
"Mba yakin mau ke rs lagi apa ga besok ajah nanti kalau mba kecapean gimana?" Tanya Ferry
"Mba ga apa2 Fer, mba mau nemenin mama, mba kangen sama mama kalau dirumah kepikiran sama mama lagi, mba ga mau kejadian sama papa keulang lagi," jawab Mala dengan lemas.
"Sweetie, yang diomongin Ferry ada benarnya lebih baik hari ini kamu istirahat dulu besok pagi kita ke rs bersama sekalian aku mau kenalan dengan calon mertua." Ucap Reo dengan mengelus punggung Mala dengan lembut.
"Engga.. pokoknya aku mau ke rs sekarang TITIK TANPA KOMA!" Tegas Mala.
Dan karena mereka tidak mau ribut akhirnya mensetujui niat Mala walaupun berat karena kondisi Mala yang terlihat pucat dari pulang rs tadi.
...........
Mala, Dian, Ferry dan Reo tiba di rumah sakit jam 8 malam hanya Steve yang tidak ikut karena harus mengurus pekerjaan yang diberikan om Adhi.
TOK..TOK..TOK..
(Mala mengetok perlahan kamar rawat inap mamanya)
"Mama... " panggil Mala dengan hati-hati
Di dalam kamar tampak bu Liza yang sedang tertidur di sofa
"Mama, gimana sekarang rasanya ?" Tanya Mala diikuti Dian dan Ferry yang menyalimi tangan bu Moni, hanya Reo yang diam memperhatikan.
"Mama sudah agak enakkan, hemm.. ada wajah baru ini ? Siapa dia darling?" Tanya Bu Moni yang melirik ke arah Reo.
"Ah perkenalkan saya Andreo nyonya, teman dekat Mala anak nyonya," ucap Reo memperkenalkan dirinya.
"Kau yang bernama Andreo, yang sudah membuat anakku uring2an beberapa bulan yang lalu," ucap bu Moni.
"Maafkan atas sikap saya beberapa bulan yang lalu nyonya," ucap Reo, nyonya Noche terlihat lemas dan pucat tapi tidak mengurangi kecantikan dan keanggunannya nampaknya aku tahu darimana kecantikkan Mala berasal " bathin Reo.
"Ma ... apa ada yang mama perlukan, loh mana om Wawan kok tidak ada ?" Tanya Ferry sambil mengecup pipi bu Moni dan bergelanyut manja.
"Hei ini mamaku kenapa kamu yang bermanja manja," protes Mala.
"Kamu tuh Fer, masih ajah suka godain mba mu." Ucap bu Liza yang terbangun karena kebrisikan oleh celoteh Ferry dan Mala.
"Om kalian sedang visit pasien Fer, baru sekitar stengah jam sebelum kalian datang, Mala apa kamu baik2 saja, kenapa tidak istirahat dulu dirumah, kan ada tante disini " bu Liza pun bangun dari sofa dan menghampiri Mala.
"Mala gak apa2 tante, Mala kangen sama Mama dirumah rasanya berbeda kalau engga ada mama," lirih Mala dan melihat ke arah mamanya dengan sendu.
"Darling, mama juga kangen sama kamu, sini peluk mama nak," pinta bu Moni.
Ferry , Dian dan Reo duduk di sofa sebrang tempat tidur memperhatikan keintiman ibu dan anak tersebut. Mala menyuapi mamanya buah potong yang sudah disiapkan oleh pihak rs dengan telaten.
"Di, temani tante ke coffeeshop sebrang yuk, tante mau ngopi ngantuk banget, biar Ferry dan Reo yang menemani Mala," ajak bu Liza ke Dian.
"Ok tante, ditinggal dulu yah ma, Mal ,"Dian pun mengikuti bu Liza.
"Udah darling, mama sudah kenyang," ucap sang mama.
"Yaudah mama rebahan lagi yah banyak2 istirahat yah biar bisa cepat sembuh " Mala membantu membaringkan mamanya dan mengatur posisi tempat tidur agar lebih nyaman.
"Darling, mama boleh bicara sama tuan Andreo sebentar, kamu sama Ferry nyusul tantemu dan Dian yah," pinta bu Moni.
"Tapi Mala masih mau sama mama," Mala bergelayut manja di lengan mamanya.
"Sebentar saja sayang, nanti kamu bisa kembali kesini lagi, mama hanya mau berbicara sebentar"
"Ok, baiklah... ayukk Fer," Mala bangun dari sebelah mamanya dan menggandeng lengan Ferry dengan erat, berjalan di koridor rs masih membuatnya sport jantung.
"Ok, aku tinggal sebentar yah ma, hei kau jagain mamaku dengan baik yah," Ferry mencium pipi bu Moni dan memperingati Reo.
Mereka berjalan keluar kamar rawat inap bu Moni.
Setelah Mala dan Ferry keluar kamar.
"Mendekatlah sini nak Reo," pinta Bu moni
"Iya nyonya, "Reo duduk di bangku sebelah tempat tidur.
"Hem, sebenarnya aku tidak ingin mencampuri urusan anakku dan kamu, tetapi aku hanya ingin menanyakan sesuatu apa kamu serius dengan Mala ? Kalo iya bagaimana hubunganmu dengan Dina apa nanti tidak jadi masalah kedepannya bagi hubungan kalian, karena saya tidak ingin kedepannya Mala akan kembali tersakiti, Mala itu bukan pribadi yang kuat, dia gampang down mentalnya dan emosinya kadang sulit dikendalikan, dia bukan wanita seperti pada umumnya kamu harus lebih sabar menghadapi Mala, dia tidak bisa di bentak ataupun dikerasi kalau kamu melakukannya dia bisa saja langsung pergi dari sisimu, maafkan saya karena terlalu berterus terang terhadapmu karena melihat kondisi saya yang tidak mungkin selalu menemani anak semata wayangku itu." Ucap Bu Moni dengan panjang lebar,
Reo nampak mengernyitkan dahinya ternyata nyonya di depannya tahu banyak tentang latar belakangnya.
"Saya serius dengan Mala nyonya, hanya dia yang bisa meluluhkan hati saya, masalah dengan Dina saya sudah menyelesaikannya mudah2an ke depannya tidak akan ada masalah lagi." Jawab Reo dengan pasti
"Apa kamu bisa menjamin itu?" Tanya bu Moni lagi.
"Bisa nyonya, saya jamin, saya juga tidak mau Mala bersedih," ucap Reo.
__ADS_1
"Baiklah saya pegang kata2mu, pesan saya temani dan bimbing anakku dengan tulus dan ekstra kesabaran dan jauhi sikap jealousmu karena ada beberapa pria yang Mala manja dengannya selain Ferry dan Steve, karena pada dasarnya Mala anak yang manja serta rapuh tetapi dia pribadi yang baik dan sopan tapi kamu tenang saja Mala merupakan tipe wanita yang setia jika dia sudah jatuh cinta pria tersebut akan merasa beruntung karena semua perhatiaannya akan tercurah ke orang yang dia cintai," ucap bu Moni lagi.
"Baik nyonya saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk srlalu membuat Mala ceria dan tidak bersedih," ucap Reo.
"Dan satu lagi mungkin Steve gampang memberikan ijin untukmu berdekatan dengan Mala tapi tidak dengan Ferry, kamu juga harus ekstra bersabar menghadapinya karena Ferry ekstra bahkan over protective terhadap kakak2 perempuannya itu, kau mengerti ?"
"Iya nyonya saya sufah diberitahu oleh Steve beberapa hal tentang Ferry, saya mengerti akan itu."
"Bagus, tak perlu sungkan nak Reo kamu juga bisa memanggilku mama, aku merestuimu dengan Mala," bu Moni pun tersenyum dengan manis
"Ba...baik.. mama ," ucap Reo dengan Regu.
"Jangan kau lupakan janjimu, walaupun nanti saya sudah tidak ada tetapi orang2 dibelakang saya dan Mala bisa melakukan hal2 yang tidak akan kamu kira nak Reo," bu Mpni tersenyum dengan penuh arti.
Reo agak bertanya tanya dalam benaknya "Siapa sebenarnya keluarga Noche ini, kenapa bisa sehebat dan sedetail itu mengetahui ku," bathin Reo.
"Sudah selesai ini saja yang ingin saya bicarakan denganmu nak Reo, kau susullah Mala dan yang lain nanti aku akan ditemani dengan adikku Wawan," selesai mengucapkan kalimatnya masuklah dr.Wawan yang disebut sama bu Moni tadi.
"Malam mba, maaf agak lama, tadi ada pasien yang konsul agak lama," ucap dr.wawan sambil duduk di pinggir ranjang bu Moni dan menatap Reo dengan penuh tanda tanya.
"Tak apa Wan, santai saja, oia perkenalkan ini Andreo teman dekatnya Mala," bu Moni tersentum danperkenalkan Reo ke dr.wawan
"Ah, kau saya Kurniawan Saputro, " dr.Wawan menjabat tangan Reo dan menatap tajam Reo.
"Saya Andreo dokter bisa panggil saya dengan Reo," ucap Reo.
"Hem, kau teman dekat keponakanku ? Apa kau yakin ?" Tanya dr. Wawan masih dengan pandangan penuh selidik terhadap Reo.
"Wan ... sudah, tak perlu kamu seperti itu," ucap bu Moni sambil mengelus tangan dr.Wawan
"Tapi mba, aku harus tahu siapa dia," protes dr.Wawan.
"Sudah-sudah, kau boleh pergi sekarang nak Reo, " ucap bu Moni dan diangguki oleh Reo.
"Baik ma, saya permisi... mari dokter saya permisi duliu," pamit Reo
"Mba.. kenapa ? Aku kan ingin tahu juga siapa anak itu apa iya memang sudah pantas untuk ponakan cantikku itu," protes dr.Wawan lagi saat Reo sudah keluar ruangan.
"Aku sudah tahu info detailnya Wan, kamu tanyakan sama Omo lah dia ada info detailnya," ucap bu Moni.
"Aku hanya berhati-hati mba, kau tahu sendiri anakmu itu, dia ke rs hari ini ajah aku sungguh takjub, yah walaupun tangannya masih gemeteran kalau melewati koridor2 rs, hihihi" kikik dr.Wawan.
"Hems, yah Mala masih sulit sepertinya hilangin traumanya itu, kau bantulah Wan, aku tahu penyakitku ini sudah sangat parah," bu Moni kembali berwajah murung
"Mba, aku akan berusaha keras untuk.mengobati mba dengan baik, mba ga boleh berpikiran jelek, ingat mukjizat itu ada," dr.Wawan berusaha menyemangati bu Moni
"Iya Wan, tapi aku tahu badanku, aku sudah sangat cape mungkin sebentar lagi aku akan menemui mas Anto, aku titip Mala, Dian dan Ferry, terutama Mala, jangan sampai rasa traumanya akan semakin besar," Bu Moni pun mulai terisak.
"Pasti mba, aku akan menjaga anak2 dengan baik, aku akan pastikan Mala juga akan baik2 saja, mba tetap harus semangat segala upaya akan kita coba, besok mba harus siap kita akan pungsi ascites dengan dr.Irsan yah," ucap dr.Wawan dan diangguki oleh bu Moni.
"Mba harus kuat jangan menampakkan kesedihan depan anak2, aku tahu mereka semua cemas akan kondisi mba," dr.Wawan menghapus air.mata di pipi Bu Moni , walaupun bukan Kakak kandung tapi bu Moni sudah dr.Wawan anggap seperti kakaknya sendiri karena dengan bantuan mas Anto dan Bu moni dr.Wawan bisa menjadi dokter hebat seperti sekarang ini.
@coffeshop
"Kamu tak.makan Mal, nyemil gitu ?" Tanya bu Liza
"Engga ah tante, aku kenyang tadi dirumah sudah makan," ucap Mala dengan meminum ice kopinya.
"Ingat dijaga, jangan merokok terlalu banyak, ingat asmamu, ok" ucap bu Liza sambil membelai rambut Mala.
"Mba, aku mau nanya sebelum si brengsek itu dateng, mba serius mau sama dia, hah, aku belum yakin mba, dia ajah udah bisa bikin mba pingsan kalo ingat itu aku masih emosi banget," geram Ferry.
"Hush Fer, engga boleh gitu toh," Dian memperingati Ferry
"Bener tah, kenapa ga pria lain ajah sih mba jatuh cintanya, aku belum ikhlas sepenuhnya awas ajah kalo sampai dia nyakitin mba," Ferry mengepal tangannya dengam geram.
"Fer, makasih yah atas perhatianmu ini, tapi tenang aja mba akan baik2 saja," Mala memegang tangan Ferry supaya rasa kesalnya sedikit menghilang.
"Wes toh Fer, mbamu gak apa2, sudah gak perlu emosi gitu ga enak dilihatnya nih makan brownies enak loh manis," ucap bu Liza menyodorkan brownie ke mulut Ferry.
Tak lama berselang Reo menghampiri mereka di coffeshop
"Loh Re mama sama siapa kok kamu ikutan kesini ?" Tanya Mala.
"Yes sweetie, ada dr.Wawan tadi aku disuruh mama ikut menemanimu disini," ucap Reo dan duduk di sebelah kanan Mala karena di sebelah kirinya ada Ferry yang menatap Reo dengan penuh selidik.
"Hei itu mama kita kenapa kamu ikut2 panggil mama juga ?" Ucap Ferry dengan Kesal.
"Hahaha, santai bro, mama kalian lah yang minta," Reo tersenyum dengan senang "ternyata benar kata bu Moni, Ferry belum terlalu menyetujui hubunganku dengam Mala," bathin Reo.
"Mama.. selalu deh," kesal Ferry lagi, Dian dan bu Liza pun hanya geleng2 kepala melihat tingkah Ferry, memang diantara yang lain, Ferry paling over protective kalau sedang menginap di rumah Mala pun Ferry lebih suka tidur bersama Bu Moni dibanding dikamarnya.
Keeasokkan harinya tepat nya jam 2 siang, bu Moni melakukan prosedur pungsi ascites di dampingi dr. Wawan, Mala pun ikut hadir ditemani dengan Ferry, Dian dan Steve, Reo belum hadir karena ada meeting dengan klien katanya hari ini dan berjanji nanti malam akan menemani Mala.
Mala ketakutkan sampai tubuhnya bergetar membuat Ferry pun ikutan panik, akhirnya karena saran dari dr.Wawan, mereka menunggu di coffeshop sebrang rs.
**prosedur pungsi ascites bisa dilihat di www.sehatq.com terima kasih sebellumnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Tunggu episode2 berikutnya yah pemirsa😉😉😉