
POV Mala Angel Noche
Suara gemericik air hujan masih terdengar begitu syahdu, menetesi setiap jalan dan pepohonan, Mala duduk termenung di dalam kamarnya memandangi jendela, sesekali terdengar suara desahan nafasnya yang terasa begitu berat.
"Aku harus bangkit, tapi kenapa dada ini terasa begitu sesak," gumamnya.
Kriieeettt...( suara pintu kamar terbuka)
"Mba, mau sarapan di bawah atau aku bawain ke atas ?" Tanya Ferry.
"Ternyata Ferry yang mengganggu lamunanku, ah anak itu selalu tahu saja kalo aku tidak bisa ditinggal sendiri," bathinnya.
"Aku ke bawah aja Fer, tapi sebentar yah aku mandi dulu,"jawabku ke Ferry
Setelahnya aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, pancuran air hangat sungguh menyegarkan di pagi yang dingin ini.
"Semoga hari ini aku bisa lebih baik," pikirku.
POV AUTHOR
Hampir 1 bulan Mala berdiam diri, hanya beberapa kalimat yang keluar daru mulutnya, dan baru beberapa hari ini Mala bisa berinteraksi dengan yang lain walaupun tidak seceria seperti biasa tapi membuat penghuni rumah dan sahabat serta orang2 terdekatnya merasa sedikit lega, terutama Ferry.
Mala bergabung bersama Dian, Ferry dan Bu liza di meja makan, Buni ( mamanya Dian ) sudah kembali ke Malang karena tidak bisa meninggalkan terlalu lama bisnis butiknya.
"Pagi semua," sapa Mala dan mencium pipi Bu Liza, Ferry dan Dian.
"Pagi sayang, kamu sudah lebih baik ?" Jawab bu Liza dan Mala mengangguk dengan pasti.
Mereka memulai sarapan, sesekali terdengar celotehan Ferry yang menambah suasana hangat di pagi yang dingin itu.
Mala bersyukur ternyata masih banyak yang menyayangi dan memperhatikannya, terlihat Mala bisa tersenyum sedikit hari ini.
"Pagiii...." sapa dr. Wawan yang batunsaja tiba dan langsung duduk di kursi sebelah Mala.
"Pagi om, wuah udah ganteng aja pagi2 pasti ada pasirn cantik yah pagi ini," jawab Mala, membuat yang lain sedikit tertegun karena Mala hari ini mau mulai berbicara banyak.
"Ah, om bangga sama kamu, perkembanganmu sungguh baik pagi ini sayang," dr.Wawan mengelus lembut rambut Mala.
"Hemmsss.. karena kalian sudah ngumpul bolehkah aku berbicara sesuatu," ucap Mala karena masih kaget yang lain hanya bisa menggangguk.
"Semalam uncle Adam menelponku, apa aku boleh mengunjunginya, aku sangat merindukannya, sewaktu mamaku meninggal aku hanya sebentar melihatnya," ucap Mala
"APA... engga, pokoknya mba Mala harus disini Ferry ga mau mba kenapa-napa disana," Ferry menolak permintaan Mala.
"Kenapa tiba-tiba sayang? Apa ada sesuatu ?" Tanya dr.Wawan dengan lembut
"Tidak ada apa-apa, aku hanya sedikit penat dengan suasana hatiku, mungkin kotanya uncle Adam bisa sedikit menjernihkan pikiranku, setahuku rumah uncle Adama di pesisir pantai bukan," jawab Mala.
"Tante akan mengijinkan mu asalkan Steve dan Dian mendampingimu," ucap bu Liza.
"Aku butuh waktu sendiri tante," jawab melas Mala.
"Tidak ada bantahan, atau kamu tidak pergi sama sekali!"jawab tegas bu Liza.
"Tapi tante, Dian dan Steve kan punya kesibukkan masing2, bener kan di?" Mala masih membantah.
"Tidak ada tapi sayang, pergi harus ditemeni mereka, atau tidak sama sekali," bu liza menjawab dengan lembut tapi masih terdengar ketegasan dalam nada bicaranya.
"Sayang, apa yang tante-mu bilang ada benarnya, kamu tidak mungkin berpergian sejauh itu sendiri," dr.Wawan mencoba membujuk Mala.
"Sesekali ini ajah, aku hanya membutuhkan beberapa hari untuk menenangkan diriku, pikiranku, aku cape dengan situasi diriku sendiri," Mala berkata sambil menundukkan dirinya.
"Mala... kita semua tahu kondisimu tapi jangan bertindak seperti ini, bagaimana kalo aku menyusul minggu depan, 1 minggu waktu yang cukup untuk dirimu kan, aku dan Steve akan menyusulmu 1 minggu setelah kamu tiba di tempat nya uncle Adam, bagaimana hemm?" Ucap Dian untuk menenangkan sahabatnya itu.
"Yah baiklah aku menyetujui usulmu di, bagaimana tante ?" Tanya Mala dengan sedikit senyuman.
"Tidak mba, Ferry tetap tidak setuju, lagipula kalo disini ada aku, aku bisa selalu menjaga mba, kalo disana mba butuh apa2 gimana, kalo mba sakit, kalo ada yang jahatin mba," Ferry nyerocos panjang lebar kepanikkannya.
"Ferry, tidak ada yang menyakiti mba disana, lagipula disana mba ada uncle Adam bukan, kenapa kamu panik seperti ini," Mala mengelus tangan Ferry untuk meyakininya.
"Ah uncle Adam, mba tau sendiri bagaimana kesibukkan pekerjaannya, aku tetap tidak bisa tenang mba," sahut Ferry.
"Solusinya tante tau, Omo akan menjagamu seperti biasa dari jauh, tanpa kamu sadari sedikit pun, kamu harus setuju,kali ini keputusan final dari tante tidak ada bantahan lagi, mau tidak mau kamu harus setuju,ok!" Bu Liza berucap dengan sangat tegas.
"Yah baiklah aku setuju," jawab Mala.
"Hah..tante ini," dengus kesal Ferry.
"Om, aku mau ngomong sesuatu sehabis makan, nanti di kamarku ajah yah om," pinta Mala.
"Ok sayang," jawab dr.Wawan
...
Saat masuk ke kamar Mala, dr.Wawan melihat Mala sedang membereskan tempat tidurnya.
"Sayang, kamu kenapa nak ?" Tanya dr.Wawan.
"Sini om, duduk disini," ajak Mala, duduk duduk di sofa dekat jendela kamarnya
"Ada apa ? Kok kayanya serius banget apa kamu baik2 aja, asma-mu kah?" Tanya dr.Wawan.
"Kok om tahu, beberapa malam lalu rasanya sesak banget om, apa aku bisa minta inhaler lagi, jaga2 aja, kalo sewaktu-waktu saat di negaranya uncle Adam aku kumat," ucap Mala.
"Apa kamu serius mau kesana nak ? Apa tidak mau berpikir ulang lagi, om tau kamu butuh waktu dan tempat baru untuk sedikit mengurangi beban-mu, tapi apa kamu yakin?" Tanya dr.Wawan.
"Mala yakin kok, apalagi jakarta sedang musim hujan gini, liat ajah sudah jam 9 pagi, hujan belum berhenti, membuat Mala semakin sesak aja," jawab Mala.
"Baiklah kita cek dulu yah."
dr.Wawan membuka tas nya dan mengeluarkan stetoskop untuk memeriksa Mala, hanya pemeriksaan dasar saja, dan sekalian memberikan Mala suntikan vitamin c untuk menjaga daya tahan tubuh Malabdi musim pancaroba ini.
Setelah melakukan beberapa tes dasar.
"Om akan memberikan resep untuk inhaler yah mal, dan ingat kamu harus jaga kondisimu juga, jaga hati dan pikiran kamu, om tidak banyak membantu, tapi kamu sendirilah yang bisa membantu diri kamu sendiri, menenangkan diri refreshing memang diperlukan untukmu saat2 ini, tetapi itu semua akan percuma kalo diri kita sendiri tidak mau merubahnya," dr.Wawan berucap dengan penuh makna..
Hal ini yang Mala kagumi dari dr.Wawan bisa menjelaskan segala sesuatu tanpa paksaan dan terdengar seperti obrolan biasa saja, Mala jadi lwbih bisa terbuka dengan dr.Wawan.
"Siap om, Mala akan berusaha i'll try my best to be a better person," ucap Mala dengan seringai.
"Good girl... dan satu lagi yang harus selalu kamu ingat nak, kamu tidak sendiri, kita selalu ada disini walaupun kita tidak selalu dekat tapi akan selalu ada untukmu,ok sayang," dr.Wawan mengelus lembut rambut Mala.
__ADS_1
......
Jam 11 siang Mala sudah rapi dengan setelan jeans dan kemeja putihnya dengan memakai sepatu kets warna merahnya membuat tampilannya semakin cantik terkesan tomboy tapi masih terlihat unsur feminimnya, memakai make up tipis flawless membuat tampilannya semakin cantik, karena pada dasarnya Mala sudah cantik walau tanpa menggunakan make up sekali pun.
Mala keluar kamarnya dan menuruni tangga terlihat Ferry sedang sibuk di depan laptopnya di ruang tv dengan berbagai camilan di meja.
"Hei Fer, lagi ngapain ?" Tanya Mala
"Eh mba, wuidih udah cakep sama wangi ajah mau kemana ?" Tanya Ferry yang kaget melihat Mala.
"Ditanya malah nanya balik, kebiasaan," Mala mendengus dan mengambil keripik nachos di meja.
"Hehehe... aku lagi edit skripsiku, nanti siang mau ketemu dosen pembimbing semoga bisa langsung di acc, biar cepet sidang," jawab Ferry dengan cengirannya.
"Oohh, mba mau keluar dulu yah, mau sekalian ke apotik nebus obat trus mau sekedar jalan2 ajah beli keperluan untuk pergi nanti," sahut Mala den meminum gelas berisi teh dingin di meja.
"Obat ?? Dan mba yakin jadi mau pergi ke tempat uncle Adam, aku kok masih gak rela yah mba," ucap Ferry.
"Hemm.. mba gak apa2 Fer, apa kamu mau mba stress lagi ? Semua ini mba lakukan supaya mba bisa menjalani hari2 ke depan lebih baik aja," tutur Mala menjelaskan ke Ferry.
"Aku tau, yah semoga mba bisa cepat baik2 saja, oia, obat apa mba ?" Tanya Ferry denganendelikkan matanya
"Oh inhaler asma ajah kok, buat jaga2, tenang aja, mba gak apa2," jawab Mala.
"Belum pergi aja aku udah kuatir mba, gimana kalo mba disana, kalo skripsiku ini udah selesai aku mau deh nemenin mba kemana pun," kesal Ferry dengan keadaannya yang tengah disibukkan dengan skripsinya.
"Santai aja Fer, semoga semua akan kembali seperti semula, ok, mba pergi dulu yah, mba pake si bohay yah, masih ok kan dia," pamit Mala
"Ok sih, tapi hati2 yah mba habis hujan licin kalo ada apa2 atau hujan lagi cepat telp aku," sahut Ferry, lalu Mala berjalan keluar rumahnya dan Ferry kembali sibuk berkutat dengan laptopnya.
"Mau pergi non ?" Tanya mbo jem yang sedang menyapu halaman depan.
"Iya mbo, ada perlu, Mala pergi dulubyah mbo," pamot Mala ke mbo nem.
"Hati2 yah non, abis hujan licin jalanan," jawab Mbo nem.
Mala menyalakan motornya dan berlaju dengan kecepatan sedangenembus jalanan kota Jakarta di siang hari, Mala melajukan motirnya menuju area pemakaman, Mala hendak berpamitan ke kedua orangtuanya karena niat untuk pergi dalam kurum waktu tak ditentukan ke negara tempat uncle nya tinggal.
Sesampainya di area pemakaman Mala bersimpuh menangis tersedu, berkeluh kesah dan menaburkan mawar merah putih di kedua malam orang tuanya, sungguh berasa hampa dunia ini seperti ada lubang hitam di dada ketika kedua orangtua sudah tidak bersama kita lagi, sangat menyakitkan dan menyesakkan dada. Hanya doa2 yang bisa di panjatkan untuk kedua orangtua.
"Mala pamit yah pa...ma..selalu bantu doakan Mala yah, semoga bisa melewati ini semua, seperti janji Mala i'll try my best," pamit Mala di kedua makam orangtuanya.
Mala kembali melajukan motornya menuju sebuah apotik untuk menebus resep obatnya, sambil menunggu obatnya siap Mala memainkan game di ponselnya, tak lama ponselnya berdering.
Riinnnggg...riiinggg..
"Ya hallo,"jawab Mala.
"Hai sweetie, how are you today ?" Tanya si penelpon yang ternyata adalah Reo.
"I'm good, much better," jawab Mala.
"Kamu lagi dimana ?" Tanya Reo.
"Aku di apotik," jawab singkat Mala.
"Apotik ? Siapa sakit? Kamu kah? Katanya tadi sudah baik2." Reo langsung panik mendengar Mala sedang di apotik.
"Ok..ok, maaf... kita makan siang bareng yah, kau sudah makan sweetie ?" Tanya Reo dengan nada suara yang sudah kembali normal.
"Tapi...ah yasudah baiklah, ketemu di tempat makan ayam goreng biasa aja yah, aku sedang ingin makan ayam goreng" sahut Mala.
"Ok sweetie, see you there." Kata Reo mengakhiri pembicaraan di telponnya.
Tak berapa lama obat Mala siap setelah mengambilnya Mala kembali ke parkiran motor dan kembali melajukan si bohay motornya. Tak perlu waktu lama, Mala sudah tiba di resto ayam goreng favoritenya...
Suasana resto tidak begitu ramai karena sudah lewat jam makan siang, sangat menguntungkan bagi Mala, Mala memilih tempat di luar ruangan agar bisa sedikit menikmati udara luar yang tidak begitu panas dan semilir angin yang lumayan menyejukkan akibat hujan yang mengguyur Jakarta hingga pagi hari tadi.
"Permisi mba, mau pesan apa ?" Tanya pelayan resto.
"Emm, aku 1 ekor ayam goreng, 2 nasi putih, 1 porsi ampela hati goreng, sayur asem dan 2 teh botol pake es yah mba." Pesan Mala ke mba2 pelayan.
"Siap mba, sebentar pesanannya yah." Jawab pelayan.
Setelah memesan Mala mengirim teks ke Reo.
(Mala ) : "aku sudah sampai, sudah pesan makanan juga yah"
(Andreo) : "baiklah tunggu sebentar yah, sedikit lagi aku sampai"
Mala menunggu pesanan sambil menyalakan sebatang rokoknya, dihembusnya perlahan dengan menatap hiruk pikuk jalanan kota.
"Semoga saja keputusanku tepat," gumam Mala.
Para pelayan resto kembali mendatangi meja Mala dan membawakan pesanannya..
"Terima kasih mas dan mba nya." Ucap Mala.
"Silahkan di nikmati mba." Jawab para pelayan.
Dan tak beberapa lama sesosok pria menghampiri Mala dan mencium pucuk kepalanya.
"Ah..." Mala kaget tiba2 ada yang mencium kepalanya, namun segera tersadar setelah menghirup aroma sang pria.
"Hehehe... sudah lama ?" Kenapa bisa kaget seperti itu," goda si pria.
"Kamu, kupikir orang jahat yang tau2 menciumku, huh!" Dengus kesal Mala ke pria tersebut yang ternyata adalah Reo.
"Makanlah, aku juga sudah sangat lapar," ucap Reo
"Hem.. kamu mau minum apa ? Akunbaru memesan minumanku," Mala menuang tehnya di gelas dan menyeruputnya.
"Es teh manis saja, biar ku pesan sebentar," Reo memanggil pelayan dab memesan tambahan minuman.
Mala langsung memakan makanannya dengan lahap, membuat Reo tersenyum senang karena hampir satu bulan kemaren Mala susah sekali disuruh makan.
"Apa kamu masih ada pekerjaan sehabis ini?" Tanya Mala dan mulai membakar rokoknya kembali, karena makanannya sudah habis bersih di piringnya.
"Tidak, besok atau dirumah bisa ku lanjutkan lagi, sudah tidak ada yang begitu penting lagi," jawab Reo.
"Baguslah, kamu mau menemaniku, aku ingin sekali melihat pantai," ucap Mala.
__ADS_1
"As you wish my lady," jawab Reo dengan seringai.
"Kau kesini dengan siapa?" Tanya Reo.
"Dengan si bohay motorku, tenang saja akan kusuruh Omo membawa pulang," sahut Mala.
"Baiklah... " ucap Reo dan ikut menghisap rokoknya.
Setelah selesai makan, Mala menghubungi Omo dan menyuruhnya untuk membawa si bohay pulang dan Mala masuk ke dalam Reo untuk menuju pinggiran Jakarta melihat pantai sesuai permintaan Mala.
Tapi Reo mengemudikan mobilnya menuju apartemennya, karena secara kebetulan apartemen Reo berada di pesisir pantai, kebetulan yang sangat menguntungkan.
Walaupun sedikit bingung setelah tiba di tempat tujuan Mala langsung keluar mobil dan berjalan menuju pantai.
Reo berlari mengejar wanitanya itu.
"Sweetie, kamu meninggalkanku!" Teriak Reo yang melihat Mala sudah berjalan menjauh sedangkan dia masih sibuk menutup pintu mobilnya.
Mala tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang, Reo pun berlari mengejarnya dan langsung menggenggam tangan Mala setelah mereka berjalan beriiringan.
"Kenapa terburu-buru sekali, matahari pun belum terbenam sayang, ini masih jam 4 sore," protes Reo sambil mengatur nafasnya karena berrlarian.
"Aku hanya ingin menikmati pasir hangat ini Re, yah tidak begitu hangat tapi aku suka," sahut Mala.
"Apa yang kamu cemaskan sweetie?" Tanya Reo karena sedikitnya Reo tahu jika pantai itu merupakan salah satu tempat Mala untuk merilekskan pikirannya jika sedang terlalu jenuh atau cemas.
"Tidak ada...aku hanya ingin menghirup udara laut saja." Jawab cepat Mala membuat Reo sedikit mengernyitkan dahinya tapi dia enggan bertanya lebih lanjut takut suasana hati Mala memburuk.
Puas berjalan di pinggir pantai, Reo mengajak Mala ke dalam apartemennya karena terlihat wajah Mala yang sedikit memucat.
Tiba di dalam apartemen Mala langsung antusias dan duduk di area balkon untuk menunggu waktu terbenamnya matahari. Suasana yang begitu Mala sukai, matahari terbenam deru ombak yang bersahut-sahutan dan suara gesekkan daun2 karena tertiup angin, membuat Mala sedikit rileks.
"Ada apa sweetie ?" Tanya Reo yang duduk di sebelah Mala setelah membawakannya segelas ice coffee kesukaan Mala.
"Tidak ada apa2 Re, kenapa kamu selalu bertanya ada apa, aku sudah sedikit membaik, kamu bisa lihat kan kita sudah banyak mengobrol hari ini," jawab Mala.
"Ya, tapi... " Reo belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Tidak ada tapi, aku hanya ingin bersantai saja kamu mau menemaniku atau meneruskan pekerjaanmu," ucap Mala yang mulai kembali menghisap rokoknya.
Reo tetap menemani Mala dan memandangi wajah wanitanya itu, sungguh sangat cantik menurut Reo, dan membuatnya berpikir "semoga kamu bisa melewati semua cobaan dalam hidupmu my sweetheart my honey..my everything i guess," gumamnya dalam hati.
Mala mengurungkan niatnya memberitahu Reo perihal keberangkatannya minggu depan ke negara tempat tinggal uncle Adam, entah apa yang ada dibenaknya, saat ini dia hanya ingin menghabiskan waktu berduan dengan Reo.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu ?" Tanya Mala membuyarkan lamunan Reo.
"Ah tidak, aku.. hanya menikmati pemandangam indah di sebelahku yang nampak sedang menyembunyikan sesuatu," jawab Reo dengan seringainya.
"Hemm... gombal," sahut Mala.
"Re, jika aku pergi apa kamu akan merindukanku ? Apa kamu akan mencariku ?" Tanya Mala tiba-tiba.
"Of course i will, aku tidak akan pernah mengijinkanmu pergi tanpa ku ketahui sebelumnya," jawab pasti Reo
menatap Mala dengan tatapan penuh makna.
"Baiklah, hah.. suasana yang indah disini," Mala mengalihkan pembicaraannya dan bergelung manja di lengan Reo.
Membuat Reo semakin bertanda tanya ada apa dengan wanitanya ini, nampak sekali dia menyembunyikan sesuatu.
Karena suasana yang begitu nyaman membuat Mala tertidur dengan lelap di teras balkon apartemen Reo, membatalkan niat sebelumnya ia untuk membeli beberapa keperluan untuk kepeergiannya.
Hari-hari berikutnya Mala tetap disibukkan dengan Reo yang entah kenapa jadi semakin lengket terhadapnya, Mala pun belum mengutarakan tentang niatnya untuk pergi ke negri tempat tinggalnya uncle Adam, ada rasa keengganan di diri Mala, ia hanya ingin menata kembali dirinya.
.....
Hari keberangkatan Mala pun tiba, segala persiapan sudah rampung, bahkan uncle Adam sudah beberapa kali menelpon dan memastikan kedatangan Mala.
Semua nasehat dari tante Liza dan Ferry sudah diterima Mala. Bahkan pesan2 Ferry yang sudah begitu banyaknya untuk sang kakak tercintanya itu.
Mala diantarkan Ferry ke bandara, dian tidak bisa ikut menemani karena kesibukkan pekerjaannya, dan juga dikarenakan Dian akan menyusul Mala nantinya, pekerjaannya harus segera du selesaikan terlebih dahulu.
Coffeshop bandara Soekarno-Hatta
"Mba, mau nanya boleh?" Tanya Ferry dengan ragu.
"Hmmm..."jawab Mala.
"Aku perhatikan mba kok ga kasih tahu si brengsek itu,kalo mba mau pergi?" Tanya Ferry yang masih enggan menyebut nama Reo.
"Dia punya nama Fer, kenapa kamu selalu seperti itu menyebutnya, hmmm... aku ingin menata hidupku agar lebih baik kedepannya Fer, memang ku akui bersama dengannya membuatku nyaman, tetapi masih tersisa ketakutan dalam diriku, aku ingin memastikannya jika berjauhan dengannya," ucap Mala mencoba menjelaskan.
"Apa mba sendiri belum yakin terhadapnya?" Tanya Ferry.
"Mungkin..., yang jelas mba pengen menenangkan diri aja dulu," sahut Mala sambil menyesap ice coffe kesukaannya.
"Yah terserah sih, aku hanya mengingatkan saja, tidak semua pria itu bisa menunggu lama mba, aku tidak tahu si brengsek itu masuk tipe yang mana, yang jelas apa pun pilihan mba nantinya akan aku dukung, kecuali kalo dia menyakiti mba, jangan harap hidupnya akan baik2 saja!"tegas Ferry.
"Hehehe...."Mala mengacak rambut Ferry dan terkekeh mendengar ketegasan Ferry.
Akhirnya waktu keberangkatan pun tiba, Ferry memeluk Mala dengan erat rasa khawatir dan cemasnya memang kadang sedikit berlebihan.
"Hati2 yah mba, ingat pintar-pintar jaga diri disana, jangan macam2, kalo minum harus sama uncle Adam, jaga kesehatan, kalo bisa jangan.terlalu sering keluar malam dan bla..bla..bla...,"nasehat2 Ferry yang sepertinya tidak akan habis2 jika diladeni terus.
"STOP!! Aku bisa telat kalo kamu cerewet terus, yasudah mba berangkat yah,bye," Mala mengecup pipi Ferry dan Ferry mengecup balik pipi Mala, jika dilihat dari jauh seperti sepasang kekasih tapi tidak sebenarnya kecupan itu, hanya kecupan rasa sayang adik ke kakak dan sebaliknya, dan merupakan kebiasaan di keluarga Noche serta para sahabatnya.
Mala duduk di cabin pesawat sambil menerawang melihat pemandangan dari jendela pesawatnya.
"Semoga keputusanku ini memang yang terbaik untuk diriku and i'll do my best to be the best of me," gumamnya dan menghela nafas.
.
.
.
.
yahh bersambung lagi yah pemirsah...
semoga ada yang mau baca sampai sini...😉😉😉
__ADS_1