
Matahari mulai menampakan sinarnya..suara deburan ombak yang mengalun indah terdengar samar..dua pasang sejoli masih tertidur lelap saling memeluk satu sama lain.
Mala mulai mengerjapkan matanya yang terkena sinaran matahari pagj dari jendela kamar..
"Hems, wajah yang kaku ini ternyata begitu menggemaskan jika sedang tertidur," gumam Mala sambil mengusap lembut wajah pria tersebut.
Reo mengerjapkan matanya karena belaian lembut dari tangan Mala.
"Morning sweetie..." sapa Reo dan mencium kening Mala
"Mm..Re, maafkan aku yah, kalau mengecewakanmu tadi malam," ucap Mala malu malu
"Tidak ada yang dikecewakan sweetie, and kamu ada di pelukanku pagi ini sudah membuatku bahagia."
"Ahh, aku lupa mengabari Dian, waduh bisa diceramahin panjang lebar aku," Mala bergegas bangun dan mencari ponselnya, namun Reo menarik tangan Mala dan kembali memeluknya dengan erat.
"Tenang lah aku sudah mengabari Steve, diamlah disini sebentar, aku masih ingin memelukmu."
"Tapi Re, aku lapar,"
"Ok sweetie, aku akan membuatkanmu sarapan tunggu sebentar yah," Reo pun melepas pelukannya mengecup bibir Mala dan menuju pantry.
Setelah Reo keluar kamar Mala bangun dan bergegas menuju ke kamar mandi di kamar Reo dan membersihkan diri, selang 30 menit Mala sudah selesai, Mala mengambil kaos oblong putih Reo dan celana boxernya..setelah mengeringkan rambutnya
Mala menyusul Reo ke pantry.
"Hemmm smell so good Mr. Andreo..what's your cook?" Tanya Mala dan memeluk punggung Reo dari belakang
"My special omellete," ucap Reo dan menengok ke arah Mala.
Mala pun duduk di meja makan dan menunggu Reo menyelesaikan masakannya, dan mereka menikmati sarapan dengan mengobrol santai..
Mala membantu Reo mbersihkan piring dan peralatan masak.
Setelahnya Mala menikmati pemandangan di balkon apartemen Reo sambil menghirup Rokoknya..Reo menghampiri Mala dan membawakan ice coffee.
"Hei...ini untukmu."
"Mamacih Mr.Andreo, so sweet of you today,mm not just today from yesterday until now, uu aku terharu," ledek Mala.dan meminum ice coffee pemberian Reo.
"Hah, with my pleasure sweetie and remember not to much smoking,right ."
Mala menghembuskan nafasnya dan cemberut
"Hah, kenapa kamu semakin bawel seperti Steve dan Dian."
"Karena aku menyayangimu Mala, dan tidak mau kamu sakit atau kenapa-napa," ujat Reo dan mulai menghisap Rokoknya, Mala menghabiskan rokok, memeluk Reo dan bergelung manja di dadanya.
"Thanks for your attention," ucap Mala dan menghirup aroma badan Reo yang begitu menenangkan, entah sejak kapan Mala senang dengan aroma tubuh Reo.
"Hemm," jawab Reo sambil mengelus lembut rambut Mala, mereka menikmati cuaca pagi yang cerah di balkon apartemen.
Siang hari Mala kembali ke apartemennya di antar oleh Reo, mereka berjalan bergandengan tangan sambil tertawa riang, hari yang begitu menyenangkan bagi Reo dan Mala.
__ADS_1
"Hei, lovebird, blm puas kah kalian bermesraan, oia, tadi mama Moni menelponku, dan bertanya kenapa ponselmu tidak aktif Mal," ucap Dian menyapa Mala.
"Ah iya, aku lupa mencharge nya, sebentar yah aku charge dan mau menelpon mama, kamu duduk dulu yah Re," Reo mengangguk, Mala bergegas ke kamarnya dan mencharge ponselnya setelah ponselnya cukup terisi Mala menelpon Bu Moni.
Di ruang tamu apartemen Mala, Dian mengobrol dengan Reo.
"Ku harap kau tidak lagi mengecewakan Mala, tuan Andreo."
"Aku janji di, aku akan menjaga Mala dan akan membuatnya bahagia."
"Aku pegang janjimu, jika meleset, aku akan menghajarmu tidak hanya itu, aku pastikan kamu tidak akan pernah bertemu dengannya lagi!!" Dian memperingati Reo, membuat Reo tertegun dan meneguk salivanya.
"Hahaha...jangan kamu kira main2 ancaman Dian, Re," ucap Steve yang tiba-tiba masuk dan duduk di sebelah Dian.
"Hei Steve, kenapa kamu bisa menyelonong masuk kesini, tanpa permisi pula," tegor Reo.
"Aku khan penjaga 2 bidadari di rumah ini,jelas lah aku bisa masuk dengan mudah," Steve menaik turunkan alisnya menggoda Reo.
"Hish Steve, sudahlah jangan menggoda Reo," ucap Dian sambil memukul dada bidang Steve.
Tidak berselang lama Mala bergabung dengan Reo, Steve dan Dian.
"Asisten Steve kebetulan kamu sudah datang, aku ingin kamu mempersiapkan kepulanganku besok yah, bisa?" Mala bertanya ke Steve.
"Siap nona Mala," ucap Steve.
"Loh Mal, bukannya kamu masih ada penyelesaian pekerjaan dengan coffeshop disini?" Tanya Dian bingung.
"MALA,jaga ucapanmu!" Bentak Steve.
"APA !! Sudah kuduga kalian menyembunyikannya dariku khan, tidak mungkin kau langsung setuju seperti ini, tanpa minta penjelasan dariku, STEVE, IYA KHAN, ANSWER ME!" bentak Mala lagi dengan bulir.air mata yang mulai mengalir di pipinya, membuat Reo sedikit bingung ada masalah apa sebenarnya.
"Sweetie, are you alright, what happen, just sit down please, kita bicarakan baik-baik," Reo berusaha menenangkan Mala yang sedang berdiri di sebelahnya.
"Mala, ada apa kenapa kamu emosi seperti ini?" Tanya Dian dengan bingung
"Tidak usah berpura pura di, kamu sudah tahu semuanya khan, kenapa tidak memberitahuku, kenapa aku selalu tahu belakangan, kenapa? " Mala duduk terisak dan menutup mukanya dengan kedua tangannya. Steve memberikan minum ke Mala.
"Tidak ada yang ingin menyembunyikan apapun darimu Mal, kita hanya mencari waktu yang tepat," jelas Steve.
"Waktu yang tepat dan kau di, kamu mengenalku dengan baik dan kamu juga yang
menyembunyikannya dariku!" Kesal Mala lalu pergi meninggalkan mereka dan masuk kamar dengan membanting pintu..BRAGG
"Ada apa sebenarnya ini Steve, kenapa tiba-tiba Mala emosi seperti itu?" Tanya Reo yang sedang bingung melihat situasi saat ini
"Kau jelaskanlah Steve, sudah kuduga akan seperti ini dan jangan lupa untuk memesan ticket ku dan Mala untuk besok," Dian pun masuk ke kamarnya.
Steve dan Reo pun mengobrol di balkon apartemen
"Hei, ada apa sebenarnya?" Tanya Reo sambil menyenggol tangan Steve
"Fiuuhh, mamanya Mala masuk Rs sejak 2 hari lalu Re," jawab Steve dengan lesu dan mulai menyalakan rokoknya.
__ADS_1
"What, are you serious, dont be joking Stev."
"I'm not joking Re, aku dan Dian memang berencana memberitahukannya hari ini, tapi terlambat sepertinya Mala mengetahuinya terlebih dahulu."
"Dan kenapa Dian diam aja, sewaktu Mala membentaknya?" Tanya Reo lagi dengan bingung.
"Dian sudah menduga jika Mala tahu belakangan akan seperti ini reaksinya, kau tau Re, kenapa kita menyembunnyikannya dari Mala?" Tanya Steve dan Reo menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Mala itu mempunyai trauma tersendiri akan rs, semenjak papanya meninggal, kau mungkin sedikit tahu ceritanya, jadi kita harus berpikir dua kali untuk meberitahu Mala, kalau ada orang2 terkasihnya yang masuk rs,apalagi mamanya, kau tahu Mala itu putri tunggal, mamanya hanya punya seorang adik laki laki yang tinggal dan berbisnis di Miami selain itu tidak ada siapa siapa lagi hanya keluarga Dian, keluarga tante Liza yang mereka punya, trauma Mala dengan rs itu sangatlah besar Re, dia harus berjuang mati2an hampir 2 tahun lamanya, jadi itulah alasan kami menyembunyikan kesehatan mama Moni." Jelas Steve, Reo mendengarkan setiap perkataan Steve dengan cermat.
"Aku tak menyangka Mala yang terlihat begitu cerie mempunya sisi yang kelam juga," gumam Reo pelan namun Steve tetap bisa mendengarnya.
"Jika kau serius dengannya, kau harus ekstra sabar Re, Mala bukan wanita yang gampang jatuh cinta dan percaya laki-laki, selama 23 tahun ini hanya papa Anto, Ferry, aku, dan om nya laki-laki yang Mala dekat.Oia, satu lagi anak angkat papa Anto. Mala sebenarnya pribadi yang supel dan gampang bergaul banyak temannya baik laki-laki maupun wanita, tapi itu hanya teman biasa , teman bekerja teman hangout, yang bisa dekat hanya Dian dan satu lagi namanya Vina tapi sementara ini Vina sedang pulang kampung ke Belanda mengurus mamanya yang sedang sakit." Steve menjelaskan panjang lebar ke Reo, Steve percaya Reo bisa.menjaga dengan baik Mala
Reo sedikit terkejut dengan penuturan dari Steve...
"Tenang aja Re, walaupun Mala itu pendendam tapi terhadap Dian, dia tidak akan bisa marah terlalu lama, nanti sore juga sudah baik, kita tunggu saja."
"Yakin sekali kamu Steve, apa benar begitu?" Tanya Reo dengan mengkerutkan keningnya..
"Hahaha..kau belum mengenalnya Re, sudah kujelaskan tadi, Dian itu segalanya buat Mala begitu pun sebaliknya mereka sudah seperti saudara.kembar tapi beda ibu dan bapak,hahahaha" Steven tertawa terbahak bahak sambil menepuk pundak Reo.
"Dan Steve, kenapa terhadapku dia bisa marah sekali? dan tadi kau membentaknya tapi dia tidak terlihat emosi seperti aku membentaknya waktu itu?"Tanya Reo lagi, di dalam hatinya Reo sangat penasaran dengan Mala, karena sepenglihatan Reo, Steve sangat mengenal Mala, tanpa pikir panjang Reo pun sekalian menanyakan tentangnya ke Steve.
"Kau ini,jadi laki-laki tapi tak pernah peka terhadap perasaan wanita, Mala itu sangat menyukaimu Re, begitu kau menyakiti hatinya, untuk memaafkannya itu butuh waktu yang lama, beruntung kau dimaafkan, so..take good care of her, mengenai ku yang membentaknya, hahaha...itulah keunggulanku belajarlah nanti kau juga mengerti sifat Mala yang sebenarnya" Steve mengerlingkan matanya dan kembali menghisap rokoknya.
"Sepertinya kau tau banyak tentangnya Steve bahkan masa lalunya, hebat sekali, seingatku kau tak pernah cerita pernah dekat dengan keluarga Mala," selidik Reo dengan menyipitkan matanya
"Re..re..kau tahu aku anak angkat om adhi, dan apakah kau tahu kenapa aku yang diminta menjaga Mala selama disini,hem?" Tanya Steve
"Aku tahu kau anak angkat tuan Adiwara seorang nahkoda dan businessman terkenal itu, yang tak kutahu sejak kapan.kau dekat dengannya," kesal Reo.
"Aku mengenalnya belum sampai setahun ini Re, paling baru 7 bulanan, tante Liza dan om Adhi lah yang cerita dan memberikan semua dokumen mengenai Mala, tapi aku sudah dekat dengan Mama moni dan papa Anto sejak lama," jelas Steve lagi.
"Hemmmsss, sesuatu yang menarik dan sangatlah unik," Reo ikut menghisap rokoknya
"Emm, Steve apa kau juga mencintainya sepertinya kau paham sekali tentang Mala ?" Tanya Reo dengan gusar.
"Haha..Re, Re... Aku memang menyanyanginya tapi rasa sayangku terhadap Mala itu seperti rasa sayang kakak terhadap adiknya, Mala mengingatkanku dengannya, kau tahu maksudku?" Steve berkata dengan sendu.
"Yah, aku ingat itu, adik kecilmu yang dulu selalu mengikutimu kan, sabar lah Steve ku rasa dia sudah damai dan tenang disana," Reo menepuk pelan pundak Steve karena memahami rada kehilangan Steve terhadap adik kesayangannya.
.
.
.
.
yukss ikutin kelanjutan cerita Mala dan Reo ππ
ditunggu like komen dan votenyaπππππ
__ADS_1