Kehidupan Seorang Putri Tunggal

Kehidupan Seorang Putri Tunggal
CHAPTER 27 : SEDIKIT TAKUT..SEDIKIT CEMAS


__ADS_3

"Dave kemana dii?" Tanya Mala ditengah kunyahannya.


"Katanya sih mau berangkat kuliah tadi, hari ini kamu benar tidak mau kemana-mana ? Tidak mau ikut aku?" Tanya Dian.


"Hemm (sambil mengangguk) eh tapi kamu mau kemana?"


"Kebetulan ada client tante Liza disini yang ingin bertemu sehabis itu aku ingin membeli beberapa keperluanku," jawab Dian.


"Tidak ah, aku malas eh tapi aku titip shampoo strawberry ku yah udah mau habis ok, sayanggg..." pinta Mala dengan senyuman manisnya.


"Baiklah, kau ini kenapa tidak ikut saja sekalian cuci mata, hihihi.." kikik Dian.


"Engga ah, aku mau bersantau dirumah aja," dan Mala melanjutkan makannya.


Siang hari...


Saat Dian hendak pergi menemui client nya Steve dan Reo datang


"Honey, mau kemana?" Tanya Steve menghampiri Dian dan mencium pipinya.


"Aku mau bertemu client-ku, client LEZZY DESIGN tepatnya bukankah sudah kuceritakan tadi pagi."


"Baiklah, ayo ku antar," ucap Steve.


"Tidak apa, aku bisa sendiri lagipula tidak terlalu jauh aku perginya kok," sahut Dian.


"Untuk kondisi saat ini sebaiknya kamu tidak berpergian sendiri," Steve langsung menarik tangan Dian.


Dian berpaling ke arah Reo "Mala ada di balkon Re, kau temani dulu yah," ucap Dian dan diangguki kepala oleh Reo.


Reo masuk.ke dalam apartemen dan langsung menuju balkon apartemen tersebut mencari wanita-Nya, terlihat Mala sedang memainkan ponselnya dengan satu tangan dan tangan satunya memegang rokoknya. Reo menghampiri Mala dan langsung mencium pipinya.


"Sweetie, aku merindukanmu," ucap Reo.


"Eh..hah, Re... kamu tuh ya seneng banget ngagetin aku, kalo aku beneran punya penyakit jantung udah kena serangan kali nih," ucap Mala sambil memoyongkan bibirnya yang membuat Reo semakin gemas melihatnya.


"Sedang apa sweetie?" Tanya Reo dengan cuek dan langsung mengambil rokok di tangan Mala.


"Re..kenapa diambil, hah!" Gerutu Mala.


"Tidak baik kalo terlalu banyak sweetie, lihat di asbak itu sudah hampir 4 batang bukan," jawab Reo dengan santai sambil menghisap rokok yang diambil dari tangan Mala.


Mala kembali meneruskan memainkan ponselnya karena sudah malas berdebat dengan Reo.


Setelah beberapa lama Reo kembali bertanya


"Kamu sedang apa? Sampai aku dicuekkin seperti ini," Reo mengelus lembut rambut Mala.


"Ohh...maaf, aku sedang melihat2 tren baru design interior,emm..Re, sepertinya aku ketinggalan banyak sekali, apa bisa aku mengikuti nya yah?" Mala balik bertanya dengan lesu.


"Sweetie, aku beritahu ya..perkembangan akan selalu ada, kita tidak bisa selalu terpaku di satu sisi saja atau merasa minder, seperti aku misalnya di dunia IT, kau tahu perkembangan IT saat ini sudah semakin pesat aku pun kadang kewalahan tapi aku berusaha untuk selalu belajar dan terus belajar setidaknya kita bisa mengikuti walaupun kadang tidak semua kita bisa pahami, mengerti sweetie?" Ucap Reo dengan lembut membuat Mala semakin jatuh cinta jika Reo berkata dengan lembut.


"Ya..ya..semoga aku bisa.mengikuti perkembangan ini."


"Oia, kenapa kamu selalu memanggilku sweetie sih Re?" Tanya Mala dengan penasaran.


"Karena kamu manis dan aroma mu pun juga manis strawberry campur nikotin, haha," jawab Reo dengan cengiran membuat kadar ketampanan nya bertambah sedikit.


"Gombal, ah sampai lupa kamu mau dibikinkan minum?" Tanya Mala.


"Tidak nanti saja, aku sangat merindukanmu," Reo memeluk Mala dari samping dan Mala menghadapkan tubuhnya ke arah Reo membalas pelukan Reo, mereka pun saling memeluk satu sama lain, "aku juga merindukanmu Re, seharusnya kita seperti ini kemarin bukan saling bentak atau curiga," ucap Mala di sela pelukannya dengan menyindir.


"Maafkan aku sweetie," ucap Reo dengan penuh penyesalan.


Siang itu selain berpelukan melepas rindu, Mala dan Reo sibuk bercerita mengenai perkembangan design interior ataupun IT diselingi dengan candaan dan celaan, situasi yang sangat menyenangkan bagi kedua sejoli itu.


RINGGG..RINGGG


Dering ponsel Mala sedikit mengganggu keintiman mereka.


"Ya hallo.." jawab Mala.


"Selamat sore nona cantik," sapa suara di ujung telpon, dan Mala mengenal pasti suara orang tersebut.


"Ax..el," dengan terbata Mala menyebut nama orang tersebut, membuat Reo sedikit tertegun dan menajamkan pendengarannya.


"Kau mengingat persis suaraku yah, apa kabar nona cantik,"

__ADS_1


"Mau apa kamu menelponku?" Tanya Mala dejgan sinis setelah meredamkan kepanikkannya.


"To the pint seperti biasa nona cantik, hanya ingin menanyakan kabarmu saja,bukankah sudah lama kita tidak berkabar," jawab Axel.


"Baik, sangat baik, tapi bisa berubah buruk kalo kau menggangguku,"


"Hahaha...kita lihat nanti nona noche, kau pasti akan menyesal dan aku pastikan kita.akan berhubungan lagi, hahaha..." Axel menutup telponnya dengan tertawa.


Mala mendengus dengan kesal "darimana dia mengetahui nomerku, haisshh pria tidak jelas."


"Siapa sweetie?" Tanya Reo dengan pura2 tidak tahu siapa Axel yang diucap Mala tadi.


"Hemmm....Axel dia..dia...teman kuliahku dulu," Mala menjawabnya dengan ragu.


"Kenapa kau begitu kesal di telpon olehnya?" Reo bertanya untuk memancing Mala cerita.


Mala kembali mendengus "janji kau tidak akan emosi jika kuceritakan?"


"Baiklah aku janji," Reo mengelus lembut pipi Mala, padahal dia menahan kekesalan di hatinya.


Dan Mala pun mulai bercerita siapa Axel itu bagaimana dia bisa berkenalan dengannya. Seperti apa orangnya.


Axel tipe pria yang tidak mudah menyerah dia akan dengan gigih berusaha mendekati Mala apapun caranya baik secara lembut bahkan menggunakan kekerasan sekali pun.


Di akhir cerita Mala berkata "sebenarnya ada sedikit ketakutanku sewaktu bertemu dengannya beberapa hari lalu Re, aku mengetahui persis Axel dan bagaimana seorang Axel akan bertindak."


"It's okay sweetie, aku akan selalu menjagamu dan akan kupastikan dia tidak akan berbuat macam2 denganmu," jawab Reo berusaha menenangkan Mala, sedangkan hatinya sudah penuh dengan amarah.


"DAMN YOU!!" umpat Reo dalam hati.


Dan sore itu berakhir dengan sedikit rasa cemas dan kegundahan di hati Mala, Malam pun datang dengan penuh misterinya.


Ketika jam menunjukkan pukul 7 malam.


"Sweetie, aku pamit pulang dulu yah, ada keperluan yang harus sedikit kuurus," ucap Reo.


"Kau mau kemana? Dian belum pulang sedangkan aku masih sendirian di sini," protes Mala.


"Sebentar lagi pasti Dian kembali, aku ada sedikit pekerjaan sweetie, maafkan harus meninggalkanmu sendiri," Reo membelai pipi Mala.


"Jangan seperti ini, kau membuatku gemas sweetie," ucap Reo yang langsung mengecup bibir Mala karena gemas dan kecupan berubah menjadi *******2 lembut, Mala pun tidak menolak membuat Reo semakin ********** dengan lebih dalam, setelah keduanya sama-sama kehabisan udara barulah mereka menyudahinya.


"Take care my sweetie, i will call you later," Reo kembali mengecup singkat kening bibir dan semua wajah Mala membuat Mala sedikit terkekeh dengan ulah Reo.


Mala mengantarkan Reo sampai pintu depan Apartemen, setelahnya Mala masuk ke dalan kamar untuk berendam di bath up kamar mandi di dalam kamarnya, hampir 45 menit lamanya Mala berada di kamar mandi.


"Ahh segarnya..." ucap Mala, dengan masih menggunakan jubah mandinya Mala duduk di depan meja riasnya memakai lotion dan krim malam di wajahnya.


Tiba2 dia teringat untuk menghubungi seseorang.


Mala langsung memakai baju santai celana jeans pendek dengan t-shirt berwarna merah, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Setelah nada dering terrsambung..


"Hallo...kau dimana?" Tanya Mala


"...."


"Datang ke apartemen uncle Adam, sekarang kutunggu!" Perintah Mala, tanpa menunggu jawaban Mala langsung mematikan panggilannya.


Selang 30 menit kemudian bell apartemen berbunyi.. Ting..Tong....


Mala langsung membuka kan pintu apartemen dan menyuruh orang tersebut masuk, mereka mengobrol di meja makan.


"Darimana ajah sih Kak Mo, kok tumben lama banget datengnya?" Tanya Mala, orang yang ditelponnya adalah Omo sang ajudan.


"Maaf nona, saya habis membantu tuan Adam tadi," jawab Omo, Mala terkadang memanggil Omo dengan panggilan kakak kadang hanya memanggil nama tergantung moodnya.


"Kau ini, sudah kubilang tidak perlu memanggilku nona, aku tidak suka panggilan itu," dengus Mala.


"Maaf tapi saya tidak enak kalo hanya memanggil anda nama," jawab Omo.


"Kenapa dengan dave saja bisa, pokoknya mulai sekarang aku tidak mau dipanggil nona olehmu, kalo masih memanggilku dengan sebutan nona aku tidak mau lah kau berada dekat disisiku mengerti, tidak ada bantahan!" Tegas Mala.


"Emm..baik no..emm Mala," jawab Omo dengan sedikit terbata.


"Bagus, oia..kau tahu kenapa kau kupanggil kemari?" Tanya Mala dengan menyelidik, karena biasanya Omo selalu lebih tahu dari dirinya.

__ADS_1


Apa ada hubungannya dengan Axel?" Tanya Omo hati-hati.


Mala pun mengangguk "Tadi sore dia menelponku, entah dapat darimana nomer telponku itu, aku sedikit takut Kak Mo, kau tau sendiri Axel itu pemaksa bagaimana nanti kedepannya itu yang membuatku takut."


Omo mendengarkan cerita Nona nya itu dengan seksama memang beberapa kali Mala suka bercerita pada Omo dan entah bagaimana Omo selalu punya solusi terbaik buatnya.


Sejak hubungan Dian dan Omo tidak berhasil, Mala agak jarang bercerita, Dian sahabatnya pernah berhubungan dekat dengan Omo tapi entah karena masalah apa, mereka meregang hubungannya, seingat Mala, Dian hanya bercerita bahwa Omo tidak ingin Dian terlibat masalah atau terluka karena efek dari pekerjaannya Omo, sangat klise.


"Lalu aku harus bagaimana ?" Tanya Mala dengan raut muka bingung.


"Saat ini memang agak sulit untuk mengambil langkah apa, tapi yang pasti sebisa mungkin menghindarinya, dan sekarang-sekarang ini dia sedang sangat gencar mendekatimu, ku sarankan jangan bepergian sendiri dam selalu waspada," ucap Omo memperingati.


"Ya..kalo itu sih aku juga tau, apa Uncle Adam sudah mengetahui ini?"


"Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?" Tanya balik Omo dengan seringai.


"Kebiasaan ditanya balik nanya,huh!" Dengus Mala dengan kesal.


"Hehe..aku sangat senang kau mau bercerita lagi denganku Mala, sudah lama kita tidak se akrab ini," seringai Omo lagi.


"Makanya jangan cinlok," ucapan Mala langsung membuat Omo malu dan bersemu merah, si sangar Omo bisa juga merona malu.


Sebenarnya wajah Omo cukup ganteng dan sedikit manis, wajar Dian sempat terpesona dengan senyum manis Omo, tapi ketika emosi dan amarahnya sedang muncul, wajahnya bisa berubah sangat menakutkan dan menyeramkan, seperti bisa membakar orang hodup-hidup.


"Padahal rencana aku kesini untuk refreshing, kenapa, juga harus bertemu lagi dengan dia!" Umpat Mala.


"Untuk itu maafkan saya Mala, saya berpikir dia tidak akan berani lagi mendekatimu tapi ternyata dugaan saya salah, obsesinya tentangmu sangat besar, seperti dulu pernah ku beritahu dia jatuh hati dengan pesonamu dibalik keinginannya untuk.menguasai bisnis tuan Anto," ucap Omo merasa bersalah.


"Hah..tidak apa2, aku tidak menyalahkan siapa2 hanya sedikit takut dan cemas saja, kau tau kan seberapa nekadnya dia, dan sifat pemaksanya itu yang aku takutkan."


"Saya akan selalu berjaga Mala, semoga kamu selalu aman, penambahan jagaan juga sudah diperintahkan, saya tau kau tidak begitu menyukainya tapi ini demi kebaikkanmu begitu juga dengan yang lainnya."


"Dian maksudmu? Kau tahu dia sudah berhubungan kembali dengan Steve kan, kau tidak patah hati?" Tanya Mala dengan meledek.


"Aku tau, mungkin memang itu yang terbaik untuknya, dan untuk keselamatannya juga, dari dulu Dian hanya mengagumiku tapi hatinya sudah untuk tuan Steve," ucap Omo dengan pasrah.


"Kau hebat Omo, bisa meredam rasa mu sedemikian rupa, semoga kelak kau akan mendapatkan pendamping yang cocok untukmu," senyum Mala dengan tulus sambil menepuk lembut punggung tangan Omo.


"Thanks Mal."


Pintu apartemen berbunyi seperti seseorang sedang memasukkan kata sandi dan masuklah Dian dan Steve sambil berbicara riang, begitu mengetahui ada Omo yang berbicara dengan Mala, membuat Dian terpaku kaget dan Steve sedikit kesal melihatnya, bukan Steve cemburu karena Mala dekat dengan Omo tapi ada ketakutan di hati Steve kalau - kalau Dian berpaling darinya.


"Kau untuk apa kau disini?" Tanya Steve dengan kasar.


"Sayang.." Dian menenangkan Steve dengan mengelus lembut lengannya, ulah Dian ini membuat Omo sedikit merasa iri.


"Ah seandainya aku yang di posisi Steve pasti sangat bahagia, ah tidak - tidak aku sudah mengambil keputusan yang tepat" bathin Omo berkata.


"Kalian baru kembali, darimana aja sih? Oia, kamu sudah membelikan titipanku?" Tanya Mala memecah ketegangan diantara mereka.


"Ah iya udah...ini..eh, ada Omo, tumben," ucap Dian dengan kikuk.


"Sepertinya saya sudah selesai disini, saya pamit dulu yah Mala, mari tuan Steve..Aii..eh Dian saya pamit," ucap Omo dengan terbata dan canggung.


"Hemm.." jawab Steve yang masih merasa kesal.


"Ok, hati2 yah Kak Mo," jawab Mala dengan anggukan sedangkan Dian hanya terdiam karena agak canggung setelah sekian lama sudah jarang berkomunikasi dengan Omo.


Sepeninggal Omo dari apartemen, Steve memberondong Mala dengan pertanyaan "Kenapa harus dibawa kesini Omo sih Mal ? Tak bisa dengan yang lain ? Hah!" dengus kesal Steve.


"Ga usah lebay, aku ada perlunya dengan Omo, lagipula wanitamu sudah tidak bisa pindah ke lain hati kenapa masih khawatir sih," Mala menepuk pipi Steve dan meraih kantong belanjaan di tangan Dian dan pergi meninggalkan mereka berdua untuk masuk ke dalam kamarnya.


.


.


.


.


.


Yah sekian dulu yah, maksud hati ingin update tiap hari tapi kadang ide suka berubah rubah dan kendalanya banyak, semoga masih ada pembacanya sih yah...walaupun belum nampak..hihihi..😁😁😁


tunggu kelanjutan kisahnya yah🙏🙏🙏🥰🥰🥰


"

__ADS_1


__ADS_2