
"Brun, kira2 aku melakukan apa yah untuk mendekatkan diri dengan Mala ?" Ucap Axel di sela-sela menghisap rokoknya.
"Kau yakin ingin mendekatinya lagi?" Tanya Bruno tangan kanannya Axel.
"Yakinlah, hatiku ini sudah buatNya dari dulu dan ingat aku tidak menerima penolakan," ucap Axel dengan seringai mematikannya.
"Haha..aku tau kau hanya ingin merebut kekuasaan tuan Anto kan, bukan Malanya," ucap Bruno meledek.
"Itu juga salah satunya tapi yang utama adalah hatinya bro."
"Kau lebih tau dia daripada ku Xel, tapi kuingatkan jangan main api jika tidak mau kebakaran."
"Hahaha..tidak ada yang tidak.mungkin bagi Axel," ucap Axel dengan penuh percaya diri.
"Sudahlah Xel, keluarga Noche bukan tandingan kita, hati2 kawan, bisa2 kita yang terlibat masalah," Bruno mencoba memperingati bossnya itu.
"Kenapa kau takut, sudah tidak mau bekerja denganku, Hah! Sana pergi aja kau!" Hardik Axel karena kesal mendengar ucapan Bruno.
"Terserah kau lah, aku sudah memperingatimu yah, jangan menyesal nantinya," Bruno meninggalkan sang boss yang sedang sedang di mabuk cinta sepertinya, karena tingkahnya setelah bertemu Mala sangat absurd kadang tersenyum sendiri, tertawa sendiri kadang marah2 tidak jelas.
"Aku akan mendapatkanmu Mala Angel Noche!" Gumam Axel.
Sementara itu di kamar Mala, terlihat Mala habis ber telpon ria dengan kekasihnya dan Dian masuk tanpa aba2 atau mengetuk pintu.
"Mal, ada apa sih sebenarnya?" Tanya Dian langsung.
"Kamu tuh, masuk ga permisi tau2 nanya ada apa, emangnya ada apa?" Tanya Mala balik.
" Mala aku serius loh, ini aku merasa ada sesuatu kenapa sampai Omo kau panggil, tadi juga Steve menjagaku seperti mata Elang, ga pernah2nya begini kan, kecuali....OH GOSH!!!" Tiba-tiba Dian terpekik sendiri.
"Apa sih di, malam2 teriak-teriak gitu."
"Ini Axel udah berulah yah, udah hubungi kamu pasti, bener ga, Mal...ayo bener ga ?" Tangan Dian menggoyang-goyang tangan Mala.
"Iya, tadi sore Axel menelponku," Mala masih menjawab dengan santai, tapi Dian tau banget sahabatnya ini semakin dia santai pasti dia sedang menutupi kecemasannya.
"Tuh kan bener, trus.. apa tindakan Omo kita harus ngapain ?" Tanya Dian dengan menggebu.
"Ya ga ngapa2in Dii, cuma kita harus Waspada aja, lagipula Axel kan cuma telpon ga ngapa2in juga."
"MAALLAAAA.... kamu kok santai banget sih, kalo dia berbuat nekad gimana, nyulik kamu trus dibawa kabur jauh," panik Dian.
"Amit2 Dii ah, jangan mikir yang negatif dulu kali, untuk itulah tadi aku manggil Omo, semoga aja kewaspadaan Omo ga berkurang."
"Aku jadi takut Mal."
"Sama Dii, kamu tau sendiri Axel gimana."
Mereka berdua sama-sama membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Sama-sama menerawang menatap langit2 kamar,sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kalo lagi begini aku kangen sama Mama Moni deh Mal, maaf... tapi kalo kita lagi sedih, bingung, cemas atau apapun mama Moni tuh selalu punya cara sendiri buat nenangin kita," Dian berkata dengan suara serak menahan air matanya.
"Aku juga sempat kepikiran sama Mama barusan Di."
"Inget ga waktu aku abis di tinggal sama Steve dulu, bahkan Mama Moni sampai rela berdandan jadi badut dengan hidung merah untuk menghibur aku trus pas kamu takut karena mati lampu jaman SMA dulu, Mama moni rela beli genset berantem sama bapak2 rebutan karena di tokonya tinggal satu, waktu Ferry selalu mimpi buruk pas ditinggal papa, Mama Moni selalu nemenin Ferry tidur di elus di peluk sampai pagi, pas kita sakit semua makanan harus dia yang masak, trus disuapin kita sama sekali ga boleh turun dari tempat tidur semua disiapin mandi dimandiin dan perhatian2 kecil lainnya," ucap Dian mengenang segala macam kebaikkan dan tingkah konyol Mama Moni.
"Sekarang aku kangen Mama Moni banget Mal," Dian mulai terisak.
"Dii...kamu kenapa?" Tanya Mala yang langsung terduduk mendengar isakan tangis Dian.
Dian ikut duduk dan menundukkan kepalanya.
"Aku..seperti ga yakin dengan hubunganku dengan Steve, tadi itu dia salah duga dengan responku melihat Omo," Dian berkata dengan lirih.
"Dian...kamu tuh wanita yang paling bijak yang ku kenal, wanita dengan segudang kesabaran menghadapi apapun rintangannya bahkan aku yang keras kepala ini kamu bisa tahan, kenapa kamu sekarang jadi begini," ucap Mala dengan memegang kedua pundak Dian.
"Kan aku seharusnya yang lagi takut kok malah kamu yang melow gini sih Di," Mala bersidekap menatap Dian.
"Maaf..tapi emang tiba2 ajah aku sedih apalagi Steve nambah bikin aku kesel."
"Kenapa dia? Pasti gara2 Omo yah.. dasar protetif ga jelas, laki2 tuh sama aja yah..suka ga percayaan sama ceweknya," dengus Mala.
"Yah gitu deh.."
"Trus pulang Steve nya ?" Dian menggeleng menjawab pertanyaan Mala.
"Ada tuh di bawah, aku tinggal aja, lagipula ga mungkin dia pulang Uncle kan ga pulang hari ini, pasti ga mungkin lah dia pergi, aku tuh kesel bgt kalo dia lagi merundung gitu," Dian mencebikkan bibirnya.
"Hahaha...asisten Steve masa takut saing sama Omo..hahaha," Mala pun tergelak.
Tak berapa lama mereka pun menuju balkon apartemen dan melihat Steve yang masuh sibuk dengan ponselnya.
"Hei...udah malam masih sibuk aja," tegor Mala ke Steve.
"Biasalah liat laporan harian, Sayaaang... sini dong," Steve memanggil Dian yang masih berdiri di ambang pintu, dengan langkah gontai Dian menghampiri Steve.
"Sayang, jangan cemberut terus dong, hmm.."Steve mencolek dagu Dian.
Dian mendengkus perlahan... "Kamu tahu aku sangat membenci sikapmu yang tadi."
"Iya..iya aku tahu, maafkan aku yah," Steve menciumi tangan Dian dengan muka memelas.
"Eergghhh, Steve...biasa ajah kali, lebay " ucap Mala dengan santai sambil menghisap rokoknya.
.........
Pagi hari di Apartemen uncle Adam kembali terdengar riuh ramai karena kehadiran Dave, ada saja yang dilakukannya, seperti saat ini Dave sedang asik memukul mukul meja makan sambil bersiul menunggu masakan Dian matang.
"Dave, shut up...you make me dizzy!" Hardik Mala yang baru turun dari kamarnya..
__ADS_1
(Dave, diam kau membuatku pusing)
"This is so fun Ay..see i can make music."
TING..TONG...(suara bel apartemen )
"Sana lihat siapa yang datang," perintah Mala.
"Kamu saja lah aku sedang asik ini," elak Dave..
Mala hanya bisa menggelengkan kepala, melihat kelakuan adik angkatnya itu. Dan berjalan ke arah pintu.
"Coming."
"Dengan nona Mala Noche?" Tanya seorang pria memegang satu buket bunga.
"Ya, saya sendiri, ada apa yah?" Tanya Mala dengan bingung.
"Wah kebetulan sekali, saya dari seventh florist ingin mengantarkan bunga ini untuk nona," ucap pengantar bunga.
"Ok terima kasih, tapi dari siapa yah?" Tanya Mala.
"Saya kurang tahu nona, saya hanya ditugaskan untuk mengantarkan bunga ini saja, mohon diterima dan tanda tangan bukti penerimaannya," ucap pengantar bunga.
Setelah menerima bunga tersebut Mala mengernyitkan dahinya "siapa yang mengantarkan bunga untukku, apa Reo? Tapi tidak mungkin, bunga ini...Aaarrrggghhhhh" Dengan refleks Mala berteriak yang membuat Dian dan Dave menghampirinya
"Ada apa Ay?" Tanya Dave.
"Ini..bunga ini...bunga...Dii, cepat telp Uncle, aku akan menghubungi Omo," ucap Mala dengan gemetar.
Saat melihat buket bunga yang di pegang Mala, Dian ikut tegang dan langsung dengan segera lari ke kamarnya untuk menghubungi uncle Adam.
"Ada apa sih ay? Kenapa heboh banget?" Tanya Dave yang bingung melihat tiingkah kedua kakak angkatnya itu.
"Ssttt...sebentar aku mau menelpon Omo dulu."
"Hish, wanita2 ini sungguh aneh," dengus Dave dan berjalan dengan santai menuju balkon.
.......
"Jadi dia sudah memulai pergerakan sepertinya, hemm..." Adam menganggukkan kepala setelah mendengar penjelasan Omo.
Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga, ada uncle Adam, Omo, Mala, Dave dan Steve dengan muka kesalnya memandangi Omo tapi tidak bisa berbuat apa2 karena Omo masih orang terpenting dalam keluarga mereka.
"Ya Tuan, sepertinya dia memulai pergerakan dengan mendekati Mala seperti dulu," jawab Omo.
"Bagaimana dengan Alejandro (dibaca : Alehandro) apa dia masih di kuba?" Tanya Adam lagi.
"Iya Tuan, hubungan nya dengan Axel sedikit memburuk pasca anak sulungnya putus cinta dengan Axel." Ucap Omo.
"Hah!!******** tengik, kenapa papa Anto tidak pernah menangkapnya dari dulu!" Sungut Dave.
"Maaf yah.." ucap Dave dan menunduk.
"Lanjutkan Mo.." ucap Adam.
"Axel sudah semakin teliti tuan, perdagangan ilegalnya semakin sulit terendus, jika pun ada masih dibawah toleransi pemerintahan Miami, walaupun bisnisnya agak menurun tuan karena Alejandro menarik sedikit modalnya."
"Hemmm...ya..ya..,saya juga sudah mendengar itu, lalu apa kau sudah tau selain memulai dengan bunga lily ini?" Tanya Adam
"Sepertinya akan terus diteror dengan bunga2 lily seperti ini dulu tuan, karena Axel ingin tahu reaksi Mala selanjutnya, setelah itu dengan coklat dan berbagai barang kesukaan Mala dan akan membuntuti Mala kemana pun, ini langkah yang pernah dia lakukan sebelumnya, Axel masih menggunakan cara lamanya,"jelas Omo.
"Dan satu lagi tuan terutama Mala, hati2 kalau bisa jangan bertengkar dengan satu sama lain terutama dengan tuan Andreo, jangan biarkan Axel melihat celah sedikit pun, bisa dimengerti Mal?" Omo memandang Mala, dan diangguki oleh Mala.
"Kau dengar Darling, jaga emosimu untuk kebaikkanmu juga," Adam mengelus dengan sayang keponakan manjanya itu.
"Ya uncle, i promise," Mala merangkul manja tangan pamannya.
"Good girl,ooh shouĺd i call you good woman?" Adam meledek Mala dengan terkekeh.
"Unclee.... i will be and always be your little girl," protes Mala dan Adam mencium dengan lembut kening Mala. "Yes, you always be my little girl darling."
Dan yang lain tersenyum melihat Mala bermanja manja dengan uncle Adam, karena hal ini sudah sering dia lakukan.
......
"Apa reaksinya menerima bungaku?" Tanya Axel pada si pengantar bunga.
"Agak bingung Tuan, tapi tetap menerimanya," jawab pengantar bunga.
"Bagus besok kau kirimkan buket bunga lily lagi dan sertakan sebatang coklat di dalam buket bunga itu, kau taro saja di depan pintunya!" Perintah Axel.
"Baik tuan, ada lagi?" Tanya pengantar bunga.
"Tidak kau boleh pergi," ucap Axel
"Aku akan mendapatkanmu nona Noche," gumam Axel dengan seringainya...
Hari-hari selanjutnya Mala di sibukkan dengan kiriman2 Axel dari bunga, coklat, boneka teddy bear pernak pernik berwarna merah, sampa jam dinding bergambar tazmania tokoh kartun kesukaan Mala dan masih banyak lagi.
"Ay, kenapa ga dibuang ajah sih bunga2 ini...udah tau dari Axel kenapa di taro di sini," protes Dave.
"Heii...apa kau tak tahu, ini memang kiriman dari Axel tapi bunga ini, bunga favorite mama Moni," Dian menjelaskan pada Dave.
"What? Tak mungkin..ternyata dia sangat memahami Ayaku." Dave berbicara dengan lesu.
"Yah seperti itulah, makanya tidak.mudah menyingkirkannya, ingat kita harus selalu menjaga Aya apapun permasalahannya nanti."
Mala pun ikut bergabung setelah menyusun dengan rapi bunga2 lily di ruang keluarga apartemen tersebut.
__ADS_1
"Mal, apa Axel menyisipkan sesuatu di setiap.pemberiannya..?" Tanya Dian.
"Engga kayanya dii, sudah di cek kok sama anak buahnya Omo setiap barang kiriman ini dateng " ucap Mala dan merebahkan badannya di samping Dave.
"Yah tetap ajah kita harus waspada, kamu tahu kan selicik apa Axel itu," ucap Dian.
"Hummm," Mala mengganggukkan kepalanya yang masih bersandar di dadanya Dave. Dan sesekali Dave mengelus lembut rambut Mala.
"Eehhheemmmm..." suara deheman mengagetkan Dian yang sedang menikmati pemandangan bunga2 lily di ruang keluarga. Sedangkan Mala sudah mulai memejamkan matanya, Dave jangan ditanya dia selalu sibuk main game di ponselnya.
"Eh sayangg..." kaget Dian melihat Steve dan nampak Reo yang melihat Mala dengan tampang datarnya.
"Dave..minggir," ucap Steve menegor Dave.
"Ah Steve, kenapa sih Ayaku ajah ga keberatan kok!" protes Dave yang belum menyadari kehadiran Reo, karena sedang asik memainkan ponselnya di satu tangan dan tangan satunya mengelus kepala Mala.
"DAVEE..." Steve menaikkan nadanya.
"Apaan sih Steve," protes Dave, dan saat itulah dia menyadari kehadiran Reo, dengan sigap Dave menarik tangannya dan duduk menjauh, merasakan pergerakan dari Dave, Mala pun terbangun.
"Ada apa?" Tanya Mala bingung, dan Dave memegang kepala Mala untuk mengarahkan ke arah belakangnya.
"Haii.."sapa Reo dengan datar.
"Ohh..." ucap Mala karena rasa kantuknya yang belum hilang, dia kembali bersandar di sofa, untuk memecah suasana canggung Dian pun berdiri.
"Aku buatkan es kopi sebentar," ucap Dian dan berlalu ke pantry yang diikuti Steve dari belakang, tinggallah Dave dengan bingung dan takut terjadi kesalahpahaman lagi.
" Du..du..duduk tuan Andreo," Dave berkata dengan terbata-bata membuat Mala terkikih geli.
"Santai ajah Dave, sini Re duduk," Mala menarik tangan Reo yang berdiri di sebelah Mala duduk untuk duduk di sampingnya.
Karena masih takut dan segan, setelah berucap Dave melarikan diri ke pantry menghampiri Dian dan Steve.
"Fiuuhhh..hampir saja copot jantungku" gumam Dave sambil berjalan.
"Harus yah semesra itu?" Reo bertanya dengan nada datar menahan rasa cemburunya, ya walaupun tahu Mala memang bersifat manja terhadap pria2 didekatnya tapi tak di pungkiri rasa cemburu itu masih tetap ada di hati Reo.
Dan Mala hanya menyengir mendapat pertanyaan Reo, dan memeluk tangannya.
"Kamu mau kupeluk juga?" Ucap manja Mala.
Melihat tingkah dan ucapan Mala membuat Reo semakin gemas terhadap wanita-nya dan membalas pelukan Mala
"Kamu tampak lelah sekali sweetie," ucap Reo memperhatikan Mala.
"Hemm..dari tadi pagi aku menata bunga2 itu," tunjuk Mala ke arah bunga2 lily yang sudah berjejer dengan rapi.
Salah satu sudut yang sudah dirapikan mala.
"Dia masih mengirimi mu bunga2 itu?" Tanya Reo dengan sedikit geram.
"Yah bisa kau lihat sendiri ruangan ini sudah penuh dengan bunga2 lily."
"Apa aku boleh bertanya?"
"Ada apa Re?" Mala bertanya balik ke Reo.
"Bukankah kau hanya menyukai bunga mawar seperti alm. Tuan Anto? Maafkan aku sweetie, aku hanya penasaran kenapa laki-laki itu mengirimkan begitu banyak bunga lily putih dan warna warni ini." Ucap Reo dengan berhati-hati.
"Hmmm, ini bunga favorite mamaku Re, kau tahu arti lily ? Seingatku lily mempunyai banyak arti di setiap jenisnya salah satunya kesucian dan kemurnian untuk lily putih ini dan yang paling kuingat lagi adalah lily orange ini karena melambangkan kebencian penghinaan dan kebohongan, tapi yang kusuka adalah aroma parfum bunga lily yang mamaku selalu pakai, mama dulu pernah bilang salah satu bunga favorite mama adalah lily putih yang kalo aku melihat ini sebagai kesederhanaan seperti sifat mamaku. Dan lily kuning ini melambangkan persahabatan tapi jika berlebihan bisa melambangkan rasa tertekan atau depresi ataupun kepalsuan. Aku tahu kamu pasti bingung kenapa aku malah menyimpannya bukan langsung membuang, mamaku pernah berkata setiap pemberian orang harus selalu kita hargai walaupun dari orang yng paling kita hindari, Tuhan saja tidak pernah menghakimi kita secara langsung masa kita mahkluk ciptaannya begitu egois." Ucap Mala dengan panjang lebar.
Reo begitu kagum dengan sikap Mala, pantas saja dia menjadi pribadi yang sangat menarik untuk banyak orang, dan Reo sangat beruntung Mala mau membuka hati untuk dirinya.
"Kamu tahu, aku semakin mengangumi mu sweetie, kamu sangat luar biasa menghadapi semua persoalan." Reo mengecup dengan gemas pipi Mala.
"Tidak semua Re, tetapi karena berhubungan dengan bunga aku bisa.berpikir dengan rasional, karena dulu mama sering berpesan dengan menganalogikan bunga." Ucap Mala lagi dan berdiri menarik tangan Reo.
"Mau kemana sweetie?" Tanya Reo.
"Ke balkon yuks, gabung sama yang lain," ucap Mala yang langsung berjalan ke arah balkon dan tentu saja diekori oleh Reo.
"Mal, kamu ga lihat nih adikmu sudah pucat pasi gini ngelihat Reo," canda Steve melihat kedatangan Mala dan Reo.
"Hehehe...take it easy boy, he can punch you on your stomache later," canda Mala menimpali perkataan Steve.
"No..Ay,mba Ai..pleasseee...aku tidak mau, tuan Andreooo maafkan aku yah," ucap Dave dengan memelas dan membuat semua orang tertawa melihatnya.
"Take it easy bro, this time i forgive you.." ucap Reo
Dan Steve masih tergelak melihatnya.
"Mba Ai..." Dave meminta pertolongan sama Dian.
"Uuu..kasihan...mungkin lebih sakit pukulan Reo daripada Steve yah," dan Dian pun ikut meledek Dave yang membuatnya semakin pucat dan merengek.
Disaat mereka sedang bersenda gurau di sudut lain tampak seorang pria sedang melakukan siasat untuk membuat Mala berpaling kepadanya, ditemani dengan beberapa anak buahnya.mereka mengatur strategi untuk mendekati Mala, beberapa dari mereka sudah mencatat dan membuntuti Mala beberapa hari ini bahkan hafal dengan kegiatan Mala...
.
.
.
.
bersambung....
__ADS_1
yuhhuuuu aku kembali....hanya sekedar mengingatkan jangan lupa like yah😉😉