Kehidupan Seorang Putri Tunggal

Kehidupan Seorang Putri Tunggal
CHAPTER 14 : LOVE


__ADS_3

Mala mengerjapkan matanya, memegang kepalanya yang sedikit pusing.


"Hah, kepalaku aduh, pasti ini karena kebodohanku lagi" gumam Mala dan duduk di tepi tempat tidurnya, melihat sekeliling setelahnya langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat keluar kamar Mala melihat Dian sedang membuat sandwich.


"Pagi tuan putri, tidur nyenyak kayanya nih" sapa Dian dengan menggoda Mala.


"Apa sih di, biasa aja kok, malah pusing banget kepalaku sekarang," jawab Mala


"Tapi tetap senang khan, di gendong pujaan hati pula" seringai Dian


Byurrr...Mala menyemprotkan minumannya kaget dengar ucapannya Dian.


"Hati-hati, ini tissuenya, ga usah kaget biasa ajah dong seus,hihihi"ucap Dian yang masih menggoda Mala.


"Aku di gendong siapa di?" Tanya Mala bingung


"Lain kali jangan pernah minum2 beralkohol selain sama aku, Steve, Ferry dan Tuan Andreo, ingat itu Mala" Dian melototkan matanya untuk menegor Mala.


Mala mempunyai kebiasaan kalau terlalu banyak minum alkohol, paginya ketika bangun tidak pernah mengingat kejadian sebelumnya, hal ini yang selalu membuat Dian mencemaskan kondisi Mala.


"Tuan Andreo yang mengantar dan menggendong kamu sampai kamarmu" jelas Dian.


"APA!!!" Kaget Mala


"Ah sudah nih minum vitamin dulu, dan makan sandwichmu nih baru ngopi yah" ujar Dian


"Baik nenek Dian,hehehe" Mala menjawab sambil nyengir.


"Sekitar jam 4 pagi Reo pulang setelah menungguimu selama beberapa jam Mal, hems, ternyata dia pria yang baik dan bertanggung jawab yah, kukira hatinya beku seperti tampang kakunya" Dian mencoba menjelaskan kejadian semalam.


Mala mendengar penjelasan Dian dan pipinya merasa panas , rona merah diwajahnya pun mulai terlihat.


"Cie...memikirkan sang pujaan" ledek Dian


"Diannnn, udah ah, godain aku terus sih" sungut Mala.


Mereka pun menikmati sarapan sambil bersenda gurau dan mengobrol santai mengisi waktu pagi yang terasa begitu indah.


Ting..tong..( bel apartemen berbunyi)


"Siapa yah pagi2 udah bertamu, ah kamu ajah yang buka di, aku ke balkon dulu mau nge bul bentar, tingπŸ˜‰" Mala mengedipkan matanya.


Dian berjalan ke arah pintu dan mengintip, ternyata..


"Ah tuan Reo, rajin sekali dia" gumam Dian, lalu membuka kan pintu.


"Morning Dian, gimana kondisi Mala apa baik baik saja?" Reo menyapa dan bertanya ke Dian.


"Baik, sangat baik, masuk saja tuan, Mala ada di balkon silahkan" Dian mempersilahkan Reo masuk, Reo segera masuk ke dalam, sebelum menghampiri Mala dia kembali menengok ke arah dian


"Kamu bisa panggil aku Reo, tidak perlu dengan embel embel" ucap Reo, Dian pun mengancungi jempolnya dan kembali menikmati sarapannya. Saat sedang asik mengunyah bel apartemen kembali berbunyi


TIing..tong...


"Rajin banget bel nya berbunyi" kesal Dian, saat Dian mengintip siapa yang datang terlihat Steve dengan membawa beberapa plastik.


"Steve, tumben banget pagi pagi udah datang, dan kau menganggu makan pagiku sama seperti tuan Andreo sahabatmu itu" sungut Dian yang kesal karena sarapannya terputus putus dan mendudukan tubuhnya dengan keras di bangku.


"Sabar sayang, pasti lagi laper bangett yah" ucap Steve dengan lembut dan tersenyum.


"Eh di, tadi kamu bilang tuan Andreo, memangnya dia sudah datang sepagi ini?" Tanya Steve dengan bingung, dian menjawab dengan anggukan kepalanya.


Di balkon apartemen Mala..


"Pagi cantik" sapa Reo yang membuat Mala kaget dan terbatuk karena sedang mengisap rokoknya.


Uhuk..uhuk... batuk Mala


"Kamu, kenapa pagi pagi ada disini?" Tanya Mala dengan mengerutkan dahinya lau secara spontan menutup mukanya karena merasa malu.


"Hahaha, kenapa menutup muka, bukannya semalam ada yang minta aku supaya tidak pergi,hem," goda Reo.


"Kamu...hish, diaaannn...." teriak Mala, dan Dian lari tergopoh gopoh menghampiri Mala diikuti dengan Steve karena kaget dengan teriakan Mala.


"Kenapa lagi? Ini tuan Reo disini juga, kenapa tetap aku yang dipanggil," protes Dian


"Gapapa di, Mala nya lagi malu," jawab Reo dengan berseringai.


"Anak ini kebiasaan, kenapa?" Dian duduk di sebelah Mala dan mengambil bungkus rokok, membakar dan mengisapnya.


"Kenapa ga cerita detail, semalam aku ngapain ajah, aku khan jadi malu tau" bisik mala ke telinga Dian.


"Hahaha, Reo, nih wanitanya malu,hahaha...makanya kalo minum jangan banyak2 begini khan akibatnya," Dian tertawa dan menggoda Mala. Steve dan Reo pun ikut tersenyum.

__ADS_1


"Ah Mal, untungnya Reo ini gentlemen yah, jadi tetap mengantarmu pulang dengan selamat sampai apartemen coba kalo engga, udah di tinggal kali kamu di pinggir jalan" Steve pun ikut menggoda Mala.


"Kalian yah memang pasangan serasi, kalo ngegodain aku bisa kompak" sungut Mala kesal.


"Re, Mala ini punya kebiasaan buruk setelah minum2 beralkohol dan mabuk dia akan lupa kejadian semalam sewaktu dia minum, bahkan dia pulang bagaimana pun dia ga akan ingat, makanya kubilang semalam jaga dia" Steve mencoba menjelaskan ke Reo.


"STEVE.." teriak Mala protes dan mencubit lengannya karrna kebetulan Steve berdiri bersender di pintu dekat dengan Mala duduk.


"Akan kuingat itu, jangan sampai kamu minum dengan pria asing, awas ajah kamu yah" tegor Reo dan mulai memasang wajah kakunya.


"Santai bro, ga usah tegang gitu, Mala ini banyak penjaganya apalagi ada nenek cerewet di sebelahnya" jelas Steve dengan menaik turunkan alisnya melihat Dian yang mulai merengut karena ucapannya.


"Hahaha..memang kau di, nenek cerewet" Mala pun tertawa.


Suasana pagi yang begitu hangat dan indah dengan candaan mereka, menikmati segelas kopi, Dian tersenyum dengan ceria melihat sahabatnya yang begitu ceria, begitu juga dengan Mala yang merasa bersyukur, ternyata kepergiannya ke Melbourne ini membawa berkah yang tak terkira.


Reo menghampiri Mala yang sedang mencuci bekas2 gelas kopi dan sarapan, dan memeluknya dari belakang.


"Kita jalan-jalan yuk, menikmati indahnya kota Melbourne, aku akan menjadi tour guide mu dan membuatmu bahagia," ajak Reo.


"Reo, kamu ngapain sih ih.." Mala mencoba melepas pelukan Reo dan berbalik badan.


"Kenapa, kamu wanitaku, dan aku masih merindukanmu, tak apa khan aku memelukmu," jawab Reo santai.


"Sejak kapan? Dibaikkin kok ngelunjak" kesal Mala.


"Hem, kalo lagi cemberut gini jadi makin gemas tahu, yaudah siap2 yah aku tunggu" Reo mencubit pelan hidung Mala mengecup bibir Mala dan berbalik badan untuk kembali ke arah balkon menemani Steve.


"Hish, dasar pria..." gumam Mala, dengan pipi merona merah dan kembali membersihkan gelas menaro di raknya dan masuk ke dalam kamar untuk bersiap.


"Eh tuan putri sudah siap, mau kemana?" Tanya Dian sambil meledek Mala.


"Diaaannn, udah ah, aku pergi sama Reo yah kalian mau ikut?" Tanya Mala


"Hems, engga Mal, aku mau menyelesaikan laporan ku tadi pagi tante liza udah bawel namyain" sahut Dian


"Hei, asisten Steve jagain kakakku ini yah, awas jangan macam2" ucap Mala


"Siap Nona" jawab Steve sambil mengacungi jempol.


"Ku pinjam Malanya dulu yah," pamit Reo


"Sip, hati hati bro" jawab Steve.


Reo mengajak Mala berkeliling kota Melbourne menikmati keindahan kota, berjalan jalan santai melihat keramaian menyusuri degraves street melihat seni jalanan di setiap sudutnya dan ke restoran ayam yang sangat terkenal pelicana resto.


Mala dan Reo memesan makanan sambil menunggu makanan mereka datang, mereka.mengobrol santai karena Reo ingin mengenal Mala lebih dalam


"Kamu suka restoran ini?" Tanya Reo


"Sangat suka, restoran yang elegan dan romantis" jawab Mala dengan berbinar dan melihat sekeliling.


"Kira2 kamu berapa lama lagi tinggal disini, mal?" Tanya Reo


"Hem, aku masih ada beberapa pekerjaan mungkin di akhir februari ini paling cepat kalo engga yah di pertengahan maret" jawab Mala


"Kamu?" Tanya Mala balik


"Aku mengikutimu saja, aku akan tetap disini selama kamu disini, aku akan memenuhi janjiku untuk selalu menjagamu dimana pun kamu berada" jawab santai Reo sambil menghisap rokoknya.


"Mulai gombalnya,huh" sungut Mala membuat Reo terkekeh...


Makanan mereka pun tiba, mereka menikmatinya tanpa bersuara, Reo tetap memperhatikan Mala dengan lekat membuat Mala sedikit canggung dibuatnya..


"Re, nanti aku mau pesankan di bawa pulang untuk Dian yah," pinta Mala


"Kamu perhatian banget sama Dian yah" ucap Reo


"Tentu saja, she's my everything apapun akan aku lakukan untuknya begitu pun sebaliknya, dan ayam ini sungguh lezat membuatku teringat kepadanya, ayam adalah makanan favorite kita," jelas Mala


"Aku iri terhadapnya, aku juga ingin kamu memperhatikanku seperti itu" ucap Reo sekenanya


"Kalau kamu tidak menyakitiku dan menepati janjimu mungkin aku akan memperhatikanmu juga sama seperti Dian, Ferry, asisten Steve, dan yang lain" ucap Mala santai dan menikmati makanannya


"Siap nona manis, kamu bisa pegang kata2 dan janjiku,πŸ˜‰" Reo mengerlingkan matanya.


"Sehabis ini kamu mau kemana?" Tanya Reo lagi


"Emmm,,aku ingin menikmati sunset di pantai, apa waktu kita keburu ?" Jawab Mala


"Bisa diatur cantik, tenang saja" jawab Reo lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Setelah mereka menghabiskan makanannya Reo mengajak Mala ke rooftop restoran tersebut.


"Untuk apa kita kesini Re?" Tanya Mala bingung

__ADS_1


"Aku ingin mengabulkan permintaanmu nona manis, kamu tinggal mengikuti ku saja, ok" jawab Reo dengan lembut, entah kenapa setiap Reo berkata lembut membuat debaran jantung Mala berdegup dengan sangat kencang dan pipinya mulai bersemu merah.


Mala dibuat takjub oleh Reo, mereka menaiki helikopter untuk menuju pantai, Helicopter dengan lambang ADV, dengan interior yang sungguh mewah dengan kursinya yang berbahan kulit berwarna coklat gelap, dan sangat nyaman diduduki.


"Kamu tidak salah Re, hanya kepantai kita menggunakan ini?" Tanya Mala denganenunjuk sekeliling helicopter.


"Hanya dengan ini kita bisa tepat waktu sayang, kalo pakai mobil aku takut kita akan terlewat melihat sunset dan aku tidak mau mengecewakanmu" jawab Reo dengan mengelus pipi Mala.


"Terima kasih" Jawab Mala dengan menunduk karena malu. Reo menarik tubuh Mala untuk berhadapannya dan mengangkat dagu Mala danengecup bibir Mala dengan lembut.


"Anything for you, my dear" ucap Steve dan memeluk Mala denga erat.


....


Sementara itu di Apartemen..


"Sibuk banget bu, sampai aku di cuekin" tegor Steve ke Dian yang sedang serius depan laptopnya


"Sebentar yah, kamu lapar yah sedikit lagi aku selesai, ok" jawab Dian tanpa melihat ke arah Steve.


Karena bosan Steve berjalan ke arah balkon untuk menghirup udara segar, selang 5 menit Dian pun menghampiri Steve dan berdiri di sebelahnya.


"Kamu ingin makan apa Steve, aku hanya punya mac n cheese, apa mau kepesankan?" Tanya Dian


"Engga perlu, itu saja cukup asal makan berdua denganmu," ucap Steve


"Ok, sebentar ku hangatkan dulu" Dian menuju kulkas , mengeluarkan mac n cheese menghangatkannya di oven, dan kembali ke balkon menemani Steve sambil menunggu makanannya selesai di hangatkan.


"Dii, mau kah kamu menungguku?" Tanya Steve tiba tiba


" Menunggu apa?" Dian pun balik bertanya.


"Aku sedang ada proyek penting, selesai proyek ini aku ingin melamar dan menikahimu, kamu mau khan" ucap Steve


"Hah, kamu ingin melamarku, kau tidak sedang sakit khan? Atau kenapa?" Dian terkekeh dengan ucapan Steve.


"Aku serius di, aku sangat mencintai dan menyayangimu, tapi sungguh saat ini aku sedang di tengah2 proyek yang tidak bisa kutinggalkan, kamu mau kan?" Tanya Steve dengan muka memohonnya


"Kamu juga merasakan halnyang sama khan di?" Tanyanya lagi.


"Steve, kamu sudah tahu perasaanku dari 2 tahun yang lalu, saat kamu meninggalkanku tanpa penjelasan dan menghilang tanpa kabar, aku mencintaimu, tapi...Ting" bunyi suara.microwave, "sebentar" ucap dian dan bergegas ke dapur, mengeluarkan mac n cheese dan menyiapkannya di piring lalu memanggil steve untuk bergabung.


"Kita makan dulu baru melanjutkan obrolan tadi, ok" ucap Dian, mereka pun memakan dalam kondisi diam dan sibuk dengan pikiran masing2.


30 menit pun berlalu, Steve membantu Dian membereskan bekas makan mereka masih dalam kondisi saling membisu, setelah selesai membantu Dian, Steve kembali ke balkon langit sudah mulai berwarna jingga, nampak indah sekali, tapi hati Steve merasa aneh ketakutannya kehilangan Dian membuatnya terlihat cemas, gurat2 ke khawatiran terlihat jelas di raut wajahnya..


"Steve, apa kamu mau kopi?" Tanya Dian ber basa basi mencoba mencairkan suasana.


"Nanti saja, aku ingin meneruskan obrolan yang tertunda tadi dii," jawab Steve sambil menghadapkan badannya ke arah Dian dengan memasukan kedua tangannya dalam saku celananya.


"Mmm, baiklah, jadi sampai mana?" Tanya Dian dengan gugup.


"Fiuuuhhh (helaan nafas Steve), tentang perasaanmu, apa kamu masih ragu terhadapku?" Tanya Steve memastikan


"Aku, aku, bukannya aku meragukanmu steve, aku hanya takut kejadian 2 tahun lalu akan terulang, aku masih mencintai dan menyayangimu, kehilanganmu membuatku sangat sakit, aku tidak mau mengalaminya lagi," jelas dian walaupun dengam suara.sedikit serak karena air matanya mulai mengalir.


"Jangan menangis sayang, kali ini aku janji akan terus mengabarimu, walaupun kita nanti akan berjauhan, aku janji setiap 1 bulan aku akan mengunjungimu." Ucap Steve dan menghapus air mata Dian di pipinya..


Lalu steve pun bertekuk lutut mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya membukanya dan memperlihatkan ke arah Dian.


"Will you marry me my Dian sweetheart? And please waiting for me just for a couple of month, please.." Tanya Steve dengan penuh harap membuat Dian kaget dan membisu, setelah beberapa lama Dian menganggukan kepalanya..


"Thank you," ucap Steve dan memasangkan kalung berlian berbentuk kura2 ke leher Dian, kenapa kura2, karena itu hewan favorite Dian..setelahnya steve memeluk Dian.


"Aku pun merasa tersiksa sewaktu berpisah denganmu,tapi keadaan yang membuatku tidak bisa bertemu denganmu,kali ini kamu bisa pegang janjiku " ucap Steve sambil memeluk Dian, dan dijawab anggukan kepala Dian, Steve melepas pelukannya danengangkat wajah Dian untuk mengamati wajahnya yang sedang bersemu merah.


Steve mendekatkan dahinya ke dahi Dian, dan bibirnya mulai mengecup bibir Dian dengan lembut, dari kecupan menjadi lumatan lumatan lembut karena tidak ada penolakan Steve mencium Dian lebih dalam memainkan lidahnya dan saling bertukar saliva, sebuah sore yang romantis dengan saksi balkon apartemen dan langit senja yang memerah.


.


.


.


.


..


...


....


.....


Nantikan ke romantisan selanjutnya yah...ditunggu like dan komennya, πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2