Kehidupan Seorang Putri Tunggal

Kehidupan Seorang Putri Tunggal
Chapter 7 : Kambuhnya penyakit Lama


__ADS_3

Mala sudah memberitahu hasil keputusannya ke bu Liza mengenai program sertifikasi desain interior di Melbourne Australia...dan bu Liza menerima dengan sangat senang sekali, bu Liza pun langsung dengan segera mendaftarkan keikutsertaan Mala. Jadwal keberangkatan Mala pun sudah ditentukan.


Hari ini adalah hari teraakhir Mala berangkat ke kantor Lezzy design untuk mendelegasikan beberapa pekerjaan nya ke Wishnu dan Shanty asisten bu Liza. Dikarenakan bu Liza meminta Mala untuk mempersiapkan keberangkatannya untuk minggu depan.


PT.Advtech.


Reo mendapat laporan dari anak buahnya bahwa Mala sudah tidak terlibat dalam pengerjaan desain interior PT.Advtech.


Sementara kantor pusat PT.Advtech direnovasi desain interiornya para pegawai sementara ini bekerja dengan menyewa ruko kecil yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor Lezzy design untuk memudahkan komunikasi dan proses lainnya yang berhubungan dengan proyek tersebut.


Reo langsung menuju taman sebelah kantor Lezzy design setelah mendengar laporan dari para anak buahnya karena ingin mengetahui apa alasan Mala dan rasa penasaran Reo ada apa dengan Mala Sebenarnya?? Karena setahu Reo, Mala lah yang paling banyak mendesain kantornya,


setelah cukup lama Reo menunggu Mala di taman..


Jam 3 sore...


Terlihat Mala berjalan seorang diri menuju taman karena Dian masih meeting diluar bersama klien.


“Hahhh...pegal2 sekali semua badanku, besok aku ingin pergi ke spa ah untuk memanjakan diriku yang sangat amat lelah ini” sambil memijat pundak dan tangannya sendiri setelah itu mulai menyalakan rokoknya dan meminum teh botolnya.


Saat melihat Mala sudah duduk di taman, Reo langsung menghampiri Mala


“Kenapa kamu mengundurkan diri dari proyek?” Tanya Reo tiba tiba


“Kauu...selalu saja muncul dan menganggu ketenanganku.”ketus Mala


“Kenapa kau mengundurkan diri?” tanya Reo lagi dengan suara agak kencang


“Bukan urusanmu.” Jawab Mala ketus


“Sudah pasti itu menjadi urusanku kau khan yang mendesain dan seharusnya kau juga yang mendampingi proses impplementasinya secara profesional begitu bukan prosedurnya.”Reo mulai meninggikan suaranya


“Maaf yah tuan Reo, saya tidak bekerja sendiri tapi bekerja bersama tim jadi tidak ada masalah selama proyek tetap berjalan dengan lancar.”Mala memberikan penekanan terhadap kata2nya


“Tentu saja masalah buatku,kau apa pantas seorang desainer berprilaku seperti ini, hah !!” Reo pun mulai emosi dan menaikkan intonasi suaranya


Dada Mala mulai.merasa sesak dia memegangi dadanya, tetapi Reo tidak memperhatikan karena sudah terlanjur emosi mendengar perkataan Mala yang memang benar sudah tidak terlibat dengan proyek desain interior kantornya.


“Kau memang tidak bertanggung jawab atas pekerjaanmu !!” Reo melanjutkan kekesalannya


“Tau apa kau tentang diriku sampai berani menyebutku tidak bertanggung jawab.”teriak Mala


“Beraninya kau berteriak sudah salah masih saja ngotot.” Emosi Reo pun langsung meledak


Sementara itu di depan lobby kantor Lezzy design, dian baru saja kembali dari meeting dan diantar oleh ferry karena kebetulan saat dian sedang meeting di restoran bertemu dengan ferry dan dian minta diantar adeknya itu untuk kembali ke kantor.


Ferry melihat kalau Mala sedang adu argumen dengan seseorang dan ferry melihat mala sampai memegang dadanya dan menunduk,ferry langsung mendekati Mala.


Bugg...bugggg


Tanpa ada peringatan apapun ferry langsung memukul lawan bicara Mala yang tak lain adalah Reo karena melihat Mala seperti sedang kesakitan


“Ferry cukup...cukup!! Jangan kamu kotori tanganmu untuk manusia macam dia. ” teriak Mala meminta ferry menyudahi pukulannya terhadap Reo.


“Tapi mba Mala..” belum sempat ferry menyelesaikan kalimatnya Mala sudah jatuh pingsan.


“MBA MALAAA...” teriak Ferry... lalu dengan segera mengangkat tubuh Mala, Reo langsung kaget melihat mala pingsan, dia ingin membantu ferry untuk membantu ferry namun..


“Mau apa kau?? Kalau sampai mba Malaku ini terjadi apa2,aku tak akan segan2 menghabisimu.” Dengan tatapan tajam ferry memperingati Reo lalu dia langsung membawa Mala masuk ke kantor lezzy design.


Dian melihat ferry yang sedang menggendong Mala...


“Ada apa fer?? Kenapa sama Mala??” tanya dian panik


“Cepat hubungi dr.wawan, dan satu lagi jangan biarkan ******** itu mendekati mba Mala.” Ferry langsung membawa mala menuju ruang istrirahat karyawan.


Dian langsung mengambil ponselnya dan menghubungi dokter keluarga itu. Saat menelpon dokter dian melihat ke arah taman, dian melihat Reo yang sedang menunduk, dian melihat juga ada darah mengalir dari hidung Reo.


Setelah menghubungi dokter dian membawa kotak p3k dan menghampiri Reo


“Sini aku bantu.”dian berkata dengan nada datar, dian membantu Reo membersihkan hidungnya yang berdarah dan memberikan plester.


“Terima kasih sudah mau membantuku.” Reo berkata lirih

__ADS_1


“ Tidak perlu berterima kasih , aku hanya kasihan terhadapmu dan aku beritahu kau sudah melakukan kesalahan besar sekali lagi, bagusnya adikku itu hanya meninju hidungmu.” Dian mencoba memperingati Reo.


“Adik??” Reo bertanya dengan bingung


“Ya adikku, kalau sampai Mala ada apa2 aku tidak tahu apalagi yang akan adikku buat untukmu, jangankan hidung nyawamu pun mungkin tidak akan selamat.”dian berkata dengan menatap tajam Reo


“Hemsss...dian, apa boleh aku melihat keadaan Malla? “ Reo bertanya dengan ragu


“Untuk apa, kau tidak lihat dia tadi sudah sampai jatuh pingsan setelah berdebat denganmu, kau sudah membuat luka dihati Mala terbuka, bahkan kali ini kau membuat luka di hatinya semakin besar” Dian mulai kesal


“Aku hanya ingin melihat kondisinya, aku menyesal dian, aku tidak bisa menahan emosiku,aku ingin meminta maaf.”Reo berkata lirih


“Tidak perlu!! Perbaiki sifat dan ucapanmu, nanti baru aku izinkan kau menemuinya.”tegas dian


“Maksudmu dian ??”Reo masih bingung dengan perkataan dian


“Kau pikirkanlah...!!” seru dian lalu beranjak pergi,dian langsung menuju ke tempat istirahat karyawan sesampainya disana, sudah ada dr.wawan yang sedang memeriksa Mala terlihat ferry dan bu Liza dengan raut muka yang panik.


Melihat kedatangan Dian..ferry langsung menarik tangan dian untuk berbicara diluar


“Darimana aja sih mba?” tanya ferry penuh selidik


“Aku habis menolong Reo dan memperingati dia.”jawab dian santai


“Untuk apa mba menolong dia, biarkan saja dia mati kehabisan darah.”ferry masih geram dengan Reo


“fer, sejahat atau sekejam kejamnya dia terhadap Mala , kita tidak boleh membalas dengan perlakuan yang sama karena itu akan menjadikan kita sama seperti dia kalau berprilaku kejam juga.” Dian mencoba menjelaskan maksud tindakannya tadi. Ferry mengangguk.


ferry sangat sayang dengan Mala, dia menganggap mala sudah seperti kakaknya sendiri, ferry merasa hancur melihat kondisi mala akhir2 ini, ferry membayangkan jika hal ini terjadi terhadap dian atau ibunya, ditambah ferry sudah berjanji sama papa Anto kalau dia akan menjaga mala sama seperti dia menjaga ibu dan kakaknya.


Setelah beberapa saat mala akhirnya sadar


Mala mulai mengerjapkan matanya merasa kepalanya masih sedikit pusing dan nafasnya yang masih terasa sedikit sesak.


“Mala....bagaimana rasanya sekarang, apa yang kamu rasakan sayang?” tanya dokter wawan


Mala melihat ke arah dr.wawan


“Hei..ponakan oom yang cantik, jangan nangis dulu yah istirahat dulu biar kamu agak tenang.”dr.wawan mengelus punggung mala dan mencoba merebahkan mala lagi...


“Om..nafas mala tadi sesak banget,mala takut om...mala gak mau..mala takut, hiksss....hiks....” mala masih menangis tersedu sedu..


“Mala...ada oom kamu ga perlu takut,kamu gapapa kok, hanya saja jangan terlalu banyak pikiran yah sayang.”dr.wawan mencoba menenangkan mala dengan mengusap lembut kepala mala


“Mala mau dirumah aja oom..mala ga mau..” mala masih terlihat takut


“Sayang,kalau sudah agak enakan dari sini kamu boleh pulang tapi om antar yah, khan sudah oom bilang kamu ga usah takut, ok.” Mala pun mengangguk.


Semenjak kehilangan sang papa Mala selalu takut dengan peralatan di rs, itu salah satu trauma Mala, dr.wawan lah yang merupakan dokter keluarga dan Juga adik dari buni(mamanya dian) yang selalu mendampingi Mala saat harus diterapi dan dirawat dulu, dr.wawan tau ketakutan mala dengan rs dan segala macam peralatan yang ada di rs.


“Sayang...disini ada tante dian sama ferry,kamu yang tenang yah..kamu coba istirahat disini dulu,setelah itu baru boleh pulang kerumah,ok” bu Liza mencoba ikut menenangkan mala


Ferry dan dian pun masuk ke ruangan setelah mendengar mala sudah sadar..


“Hai mal...kamu yah paling bisaan banget bikin jantung aku rasa mau copot” ucap dian menyapa mala


“Mmm dii..fer,tante,om, maaf yah aku udah bikin kalian semua panik,tapi... mama ga tau khan?” tanya mala


“Engga mal, tenang ajah aku udah bilang ke ferry untuk jangan kasih tau mama Moni dulu sebelum om wawan periksa kamu.” Jelas dian


“Oom..pulang yuks,aku pengen istirahat dirumah ajah, tapi boleh minum teh botol dulu khan om?” tanya mala dan berkedip kedip berusaha merayu dr.wawan


dr. Wawan menggelengkan kepalanya


“Kamu ini selalu aja punya seribu cara yah buat ngerayu om, yaudah kalau kamu mau pulang oom antar kamu, sudah bisa jalan sendiri atau mau digendong nih?”


“Gendong...aku lemes banget om..” mala menjawab dengan manja


Membuat ferry dian dan tante liza tersenyum senyum melihat tingkah mala


“Kamu masih aja yah manja nya ga hilang” dr.wawan sudah mengerti banget sama mala yang sifat manjanya akan keluar kalau sedang sakit.


“Oia fer, kamu bawain bohay pulang yah..mau khan?” tanya mala

__ADS_1


“Iya mba, tenang ajah, nanti aku yang urus bohay, mba istirahat aja ya” Jawab ferry


“Ayok oom..” mala sudah mengangkat tangannya ngasih kode supaya langsung di gendong, dr.wawan dengan sigap menggendong mala karena tubuh dr.wawan yang tinggi besar maka dia pun tidak kesulitan mengangkat mala ,dr.wawan berjalan keluar ruangan dan menuju parkiran mobilnya.


Reo yang saat itu masih berada di taman melihat mala di gendong seseorang keluar dan menuju mobil langsung dengan segera mengikuti menggunakan motornya. Reo mengikuti mobil yang membawa mala sampai tiba di depan sebuah rumah.


“Ternyata disini dia tinggal.” Gumam Reo setelah melihat mala kembali di gendong dan dibawa masuk ke dalam rumah Reo pun langsung pergi dia tidak ingin menimbulkan keributan lagi jika terlalu lama mengawasi mala.


-----


Di sebuah club


“Ndo...cepat dateng ke club biasa yah” Reo menelpon Ando


“Yaudah tunggu ajah” jawab ando


Selang 30 menit ando dan jimmy memasuki club.


“Hei bro..kenapa masih sesore ini udh disini ajah sih, botol udah 2 ajah tuh” jimmy menyapa Reo yang bingung melihat tingkahnya Reo


“Hah, beirisik.” Ucap Reo


“Kenapa lagi sih re...kaya remaja labil ajah lo..dikit2 mabuk...dikit2 emosi...dikit2 kabur...kenapa?” tanya Ando


Reo menghela nafasnya dengan kasar..tidak menjawab lagi pertanyaan Ando hanya meminum minuman berwarna coklatnya itu dan merokok dengan tampang frustasi...membuat ando dan jimmy terheran heran dengan tingkah sahabatnya itu...


“Tadi aku sudah membuat kesalahan fatal lagi terhadap gadis itu..”akhirnya setelah beberapa saat Reo mulai bicara “kali ini apa yang sudah kau buat?” tanya Ando dengan penuh selidik


“Aku kembali membentaknya dan membuatnya jatuh pingsan” Reo kembali menghela nafas dengan muka penuh penyesalan


“Apaaa!!! Sudah gila kau re...sudah kuperingati beberapa kali masih saja kau menuruti emosimu” ando sangat terkejut mendengar penjelasan reo


“Bro...kau benar sudah jatuh cinta padanya hah??” Tanya jimmy


“Hei..jangan jadi sok tau kau playboy!” hardik reo ke jimmy


“Coba kau tanyakan isi hatimu, bukan aku yang sok tahu..tapi kau yang mengingkari isi hatimu.” Jawab jimmy santai dan meminum minuman berwarna birunya.


Waktu sudah menunjukkan jam 1 dini hari...bahkan mereka bertiga sudah terlalu banyak meminum karena club tersebut memang kepunyaan mereka bertiga para pegawai pun tidak ambil pusing dengan tingkah bossnya itu.


Salah satu bartender dengan inisiatifnya menelpon asisten Rai untuk membawa para boss nya yang sudah setengah sadar karena terlalu banyak menghabiskan minuman pulang ke apartemennya Reo..


------


Pagi hari di Rumah Mala


Matahari sudah menampakkan sinar cantiknya di langit, aktifitas para manusia pun sudah dimulai begitu juga yang terjadi di kediaman sederhana keluarga Noche.


Mama Moni sedang membuat soup jagung untuk Mala... soup kesukaan tuan Anto dan Mala...karena mendengar penjelasan dr.wawan semalam yang memberitahu bahwa penyakit asmanya mala mulai kumat lagi, mama Moni nampak bingung karena sudah hampir 2 tahun ini penyakit asma mala tidak pernah kambuh dan kebetulan juga saat ini tidak dalam kondisi musim hujan.


Mala menuruni tangga dan menghampiri mama Moni


“Pagi ma..” sapa Mala


“Pagi sayang, kebetulan soup jagung mama sudah jadi yuks dimakan dulu, biar badan kamu hangat” ajak mama Moni


“Terima kasih yah ma..maaf sekali lagi yah ma, karena lagi2 mala sudah buat mama khawatir” mala berkata dengan wajah sedih dan menundukkan kepalanya


Mama Moni mengangkat dagu mala


“Tidak sayang, yang penting sekarang kamu makan dan istirahat biar cepat pulih yah” mama Moni mencium kening mala.


Mala segera duduk di kursi makan dan memulai makan soup jagung hangat buatan Mama tercinta.


.


.


.


.Bersambung...


tetap ditunggu yah like komen kritik dan sarannya harap dimaklumin yah karena masih amatir banget ini sayah😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2