
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tapi Mala masih betah bergelung di kasurnya karena lelah setelah setengah harian menangis mengingat mamanya dan kekecewaannya terhadap sahabatnya.
Mala mengerjapkan matanya dan merasakan pusing karena telat makan dan terlalu banyak menangis suara ketokan di pintu kamar mengagetkannya..
TOK..TOK..
Mala enggan menjawab dan tetap diam tanpa bergeming.. Dian membuka kamar Mala menggunakan kunci cadangannya, karena ulah sahabat nya di masa lalu Dian selalu menyiapkan kunci cadangan di setiap ruangan tempat Mala tinggal karena tidak ingin terjadi lagi peristiwa mengerikan di masa lalu.
"Mala...aku membawakan teh botol pakai es dan mie ayam kesukaanmu, kita makan dulu yuk, atau mau aku suapin?" Dian meletakkan nampan di meja sebelah tempat tidur Mala, karena melihat reaksi Mala yang masih memunggungi Dian, Dian pun hendak pergi meninggalkan Mala sendiri lagi.
"Jangan tinggalin aku di.." Mala berucap sambil terisak yang membuat Dian merasa terenyuh mendengarnya, Dian pun berbalik dan menghampiri Mala.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Mal," ucap Dian sambil mengelus rambut Mala.
"Kenapa kamu tidak cerita kalau mama sakit Di, bahkan sampai mama harus di opname ?" Tanya Mala dan mmembenarkan posisi dengan duduk bersandaran di tempat tidur.
"Aku kira kamu akan lama ngambeknya, ternyata," Dian pun terkikik melihat Mala yanga sudah menyuap mie ayam yang di sediakan Dian tadi.
"Aku masih ngambek, tapi aku lapar," sungut Mala...
Dian pun langsung tertawa dengan keras..."Buaahahahahaha....Mala, kamu tuh yah memang ga pernah berubah, selalu menggemaskan pantas saja tuan Andreo sampai tergila gila padamu."
"Kenapa sih,kamu tuh selalu saja sukses membuatku tidak bisa berlama-lama ngambek denganmu, huh sebal," Mala merengut tapi tetap meminum teh botolnya.
"Loh aku engga melakukan apa-apa kok,"jawab Dian tanpa rasa bersalah.
"Ini buktinya teh botol dan mie ini, aku kira kamu mau trus mendiamiku sampai pagi," Mala masih cemberut yang membuat Dian gemas dan menggelengkan kepalanya.
"Yasudah kamu mandi dulu sana, Tuan Reo mu masih cemas nungguin kamu di balkon tuh, sampai kering kayanya, aku beresin bekas makan mu, nanti kita lanjut ngobrol lagi okeh,' Dian mengacak rambut Mala dan keluar dengan membawa nampan bekas makan Mala. Mala langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selang 30 menit Mala keluar kamar dan langsung menuju balkon apartemennya, dan mendudukan dirinya di sebelah Reo yang sedang melamun menatap bintang bintang di langit malam kota Melbourne.
"Hem,aku akan merindukan kota ini," gumam Mala sambil mengambil rokok dan menghisapnya.
"Ah sweetie, kamu sudah lebih baik? Aku sangat mencemaskan dirimu, apa ada yang perlu aku bantu ?" Tanya Reo dengan membelai lembut punggung Mala.
"Tidak perlu Re, semua pasti sudah disiapkan oleh asisten Steve, kau sudah makan?" Tanya Mala balik. Reo menjawab dengan anggukan kepalanya dan terus memperhatikan Mala, karena merasa diperhatikan membuat Mala merasa jengah.
"Ada apa ? Kenapa kamu melihatku seperti itu, i'm fine just a little bit shock, don't too worry, okey."
"Of course i'm worried, you're my everything sweetie," Reo memeluk Mala dari samping.
"Gombal " Mala mendorong badan Reo dan menghabiskan rokoknya.
Malam yang indah di kota Melbourne tapi tak seiindah hati Mala yang terus kepikiran kondisi Mamanya setelah mendapat telpon dari tante Liza tadi siang.
"Hei lovebird, kita ganggu dulu yah,hehehe," ledek Steve menghampiri Mala dan Reo.
"Kenapa ? Mau menjelaskan apa Steve ?" Tanya Mala tanpa melihat ke arah Steve dan tetap asik dengan rokoknya.
"Mal, kamu tahu alasanku tidak langsung memberitahumu secepatnya?" Tanya Dian yang ikut duduk di sebelah Mala dan menggenggam tangan Mala.
__ADS_1
Mala menghembuskan nafasnya
"Yes i know, tapi kan.."
"Apa kalau aku langsung memberitahumu kamu tidak histeris,hem?" Tanya Dian lagi.
Mala hanya terdiam mendengar pertanyaan Dian, Mala menyadari kalo dirinya akan histeris kalau langsung diberitahu dia sangat paham dengan dirinya sendiri.
"Tidak pernah ada dalam benakku untuk menutupinya, semoga kamu paham, aku hanya mencari waktu terbaiknya untuk memberitahumu, kamu lah yang lebih tahu dirimu, apa aku salah jika menundanya?" Mala menunduk dan menggelengkan kepalanya dengan perlahan menjawab pertanyaan Dian.
Melihat reaksi Mala Reo pun langsung memeluk Mala dari samping
"It's ok sweetie, everything gonna be alright, i promise i will stand beside you no matter how hard it is, ok" Reo merasa sangat iba dengan kondisi Mala dan berharap dengan perkataannya bisa sedikit menenangkan wanitanya itu.
"Iya di, aku mengerti, fiuuhhh...aku istirahat dulu yah di, asisten Steve jangan lupa besok penerbangan paling awal yah, pleasee..." rengek Mala
"Tapi mal..."
Belum selesai Steve berbicara Dian sudah memegang tangan Steve dan menggelengkan kepalanya, Steve pun mengerti apa yang dimaksud.
"Ayo aku temani kamu istrirahatlah supaya besok bisa lebih fit," Reo merangkul Mala untuk masuk ke kamarnya.
Mala merebahkan dirinya di tempat tidur, Reo tak henti2nya menatap dan mengelus rambut Mala.
"Daripada kamu menatapku lebih baik kamu sini memelukku saja," Mala menepuk nepuk kasurnya dengan sigap Reo berbaring di sebelah Mala.
"Re, kalau ada apa-apa sama mamaku bagaimana?" Lirih Mala dengan air mata yang sudah mengalir.
"Ok, sekarang istirahatlah," Reo mengelus punggung Mala, entah karena ucapan Reo pelukan atau ciumannya Mala merasa nyaman dan sedikit tenang dan akhirnya bisa tertidur dengan pulas.
Reo menghembuskan nafasnya dengan pelan, "Aku berjanji akan membuatmu bahagia sweetie, i promise...promise," gumam Reo.
Jam 6 pagi, Mala, Dian dan Steve sudah berada di airport kota Melbourne, karena Mala merengek tadi malam untuk bisa pulang secepat mungkin ke Indonesia. Dengan segala koneksi yang Steve dan om Adhi punya Mala pun bisa langsung mendapatkan ticket pesawatnya.
Dian pun akhirnya mengerti bahwa tante Liza sengaja memberitahu kondisi mama Moni dengan harapan Mala tidak panik, tapi ternyata membuat Mala semakin panik, bahkan di bandara Mala sudah gelisah dengan menggigit kuku jarinya.
"Ingat ada aku disisimu Mal, mama Moni akan baik-baik saja, om Wawan sudah mendampingi mama Moni,ok," Dian menggenggam tangan Mala supaya kebiasaan menggigit kukunya tidak berlanjut jika dibiarkan Mala akan terus menggigit sampai jarinya berdarah.
Tak berapa lama akhirnya Mala bisa naik ke dalam pesawat, kali ini Steve ikut menemani sampai ke Indonesia karena melihat kondisi Mala dan perintah langsung dari om Adhi yang harus selalu menjaga Mala dan Dian.
Di dalam pesawat Mala terus menghentakkan kakinya, dan mulai menggigit kukunya kembali namun Dian dengan sigap menggenggam tangan Mala kembali dan memberikan Mala minum agar sedikit tenang akhirmya setelah menempuh waktu hampir 5 jam pesawat Mala mendarat dengan mulus di bandara Soekarno Hatta, Mala berjalan dengan lemas dilema dengan ketakutannya akan rs mulai membayangi dirinya tapi merasa khawatir dengan kondisi mamanya.
Dian dan Steve sepakat membawa Mala ke coffeeshop terlebih dahulu untuk menenangkan hati Mala dan membuatnya sedikit relax.
"Hems, asisten Steve kemana Reo, katanya mau ikut pulang denganku?" Tanya Mala tiba-tiba setelah dirinya merasa relaks dengan segelas ice cappucino dan sebatang rokoknya.
"Ahh dia, entah,"jawab Steve bingung dengan melirik Dian di sebelahnya. "Kebiasaan si brengsek selalu menghilang tiba-tiba," bathin Stev.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa, sudah sering dia menghilang dan hadir dengan tiba-tiba, huh!!
Antarkan aku ke rs langsung yah, kalian berdua harus menemaniku, tidak boleh pacaran dulu ok," perintah Mala dan menyelesaikan minumannya lalu beranjak berdiri.
__ADS_1
Perjalanan ke rs Permata Ibu memakan waktu kurang lebih 2 jam dari bandara, dengan sedikit kemacetan kota Jakarta akhirnya Mala, Dian dan Steve sampai di rs menggunakan taksi online.
"Kalian berdiri di kanan kiri ku yah, please, aku ... aku..." tanpa menjawab Dian dan Steve langaung memegang kiri dan kanan tangan Mala, koper2 mereka punn ditiltipkan di pos satpam rs tersebut supaya tidak terlalu repot.
"Relaks, take a deep breath you can do it, ok" ucap Steve menenangkan Mala yang sudah nampak pucat.
"Fiuuhh..ok kita masuk" sepanjang koridor rs Mala merasa begitu cemas, keringat dingin sudah menjalar di tubuhnya seakan sedang memasuki arena uji nyali.
Sesampainya di depan pintu kamar rawat inap mama Moni terlihat Ferry sedang memainkan ponselnya.
Begitu melihat Mala, Dian dan Steve, Ferry langsung menghampiri dan memeluk Mala.
"Mba, kamu bisa, kamu kuat, Ferry akan menemani mba yah jangan panik," lalu Ferry melirik Steve dengan tajam, "Dan kamu, berhutang penjelasan kepadaku, right" ucap Ferry dengan dingin ke Steve.
"Mama.." lirih Mala pas masuk kamar inap mamanya,
Di ruang inap tersebut terlihat tante liza, dan dr.wawan, mama Moni berbaring dengan wajah pucatnya membuat hati Mala seperti luluh lantak melihat kondisi mamanya, mama yang selalu tersenyum hangat setiap melihat kedatangan Mala selalu berucap lembut seperti sirna seketika.
"Mama...huhuhu,"isak tangis Mala semakin deras dan memeluk Mamanya dengan erat panik dan takut yang Mala rasakan saat ini.
"Darling," mama Moni kaget melihat anak semata wayangnya sedang memeluknya dengan air mata yang terus berderai di pipinya.
"Kenapa mama ga telpon Mala, kenapa waktu Mala telpon 2 hari lalu mama ga bilang apa-apa, kenapa ma?" Tanya Mala dengan isakan tangisnya.
"Mama baik-baik ajah, darling, it's ok, kamu harus kuat yah,janji sama mama,"ucap Mama Moni dengan pelan.
"Janji,kenapa Mala harus janji, engga mau, pokoknya mama harus sembuh, mama ga boleh kaya begini, mama yang harus janji sama Mala," Mala menggelengkan kepalanya.
Bu Moni melihat dr. Wawan seakan memberikan kode untuk membantunya, dr.Wawan pun langsung bertindak.
"Mala, ikut om sebentar ya, biarkan mama mu beristirahat ditemani sama tantemy yah," dr.Wawan memegang pundak Mala, tadinya Mala engga dan ingin menemani mamanya saja, tapi melihat kondisi mamanya akhirnya Mala pun menyetujui ajakan dr.Wawan . Mala, Ferry, Steve, Dian dan dr.wawan pergi ke coffeshop seberang rs.
"Mama sakit apa om?" Tanya Mala membuka omongan karena sudahb30 menit berlalu mereka hanya diam saling lihat2an tanpa ada yang bersuara karena mengkhawatirkan kondisi Mala.
"Ehem, tapi janji sama om, sehabis om ceritakan kamu tidak boleh berbuat hal2 yang aneh dan tidak boleh histeris,ok." Ucap dr.Wawan dan Mala mengangguk dengan lemas.
"Mala, mamamu sakit liver sirosis," jawab dr.wawan dengan cepat.
"APA? Jangan bercanda om, ini ga lucu, mama ga mungkin, ENGGAAAAA." Teriak Mala.
.
.
.
.
.
masih bersambung yah...😉😉🙏🙏🙏
__ADS_1