Kehidupan Seorang Putri Tunggal

Kehidupan Seorang Putri Tunggal
CHAPTER 26 : MY MALA


__ADS_3

Mala masih termenung memandangi riak ombak di pinggir pantai.


Tiba-tiba...sebuah tangan kekar merangkulnya dari belakang dan berbisik dengan lirih


"Maafkan kecerobohan dan kebodohan-ku sweetie,"ucap pria tersebut.


Mala terkaget dan membalikkan tubuhnya menatap pria tersebut dengan intens tanpa bersuara.


"Please... maafkan aku, aku sangat mencintaimu dan begitu takut kehilanganmu, sewaktu melihatmu di peluk oleh pria lain membuatku semakin takut,emosi dan amarah menguasai diriku, and i'm jealous," ucap pria itu yang ternyata adalah Reo.


Mala mendesah dengan pelan "Jika tidak ada rasa percaya percuma kita bersama, karena percaya adalah kunci dari sebuah hubungan, apa tidak ada rasa percaya itu di hatimu." Kata-kata mala membuat Reo tertegun menyadari semua kebodohannya.


"Kau tahu, aku begitu senang melihatmu semalam, rasa rindu-ku begitu menggila terhadapmu, tetapi melihat responmu yang seperti itu, aku menjadi berpikir ulang, apakah hubungan kita ini layak dipertahankan? Apa bisa kita menjalaninya ?"setelah mengucapkan kalimatnya Mala duduk di bebatuan pinggir pantai diikuti Reo yang berdiri di sebelahnya.


"Maafkan aku sweetie," ucap Reo dengan lirih.


"Kedepannya akan semakin banyak masalah yang akan kita alami, tidak dari pihakku saja bisa jadi dari pihakmu, ini hanya masalah kesalahpahaman sedikit menurutku, " ucap Mala.


"Maukah kau memaafkanku sweetie, kita mulai lagi dari awal, and i promise i will be more wisely about us and our relationship," Reo melingkarkan kembali tangannya di leher Mala.


"Just keep your promise," Ucap Mala.


"Terima kasih my sweetie honey-ku," ucap Reo di telinga Mala yang membuat degub jantungnya menjadi tidak beraturan.


Selanjutnya mereka hanya menikmati pemandangan di sekitarnya , dan Reo masih memeluk Mala dari belakang sesekali ia mencium pipi Mala.


Puas melihat pemandangan, karena matahari yang sudah mulai bersinar dengan terik dan perut Mala keroncongan mereka memutuskan kembali masuk ke dalam apartemen dengan Mala yang bergelanyut manja.


"Sudah kembali kalian, sudah selesai?" Tanya dian, Mala menggangguk., dian menghampir Mala memeluknya "Aku bangga dengan-mu, kamu mengatasi masalah ini dengan bijak."


"Di..aku lapar," ucap Mala di sela2 pelukan mereka.


"Haha...yuks makan aku sudah bikin ayam goreng mentega," ucap Dian menarik tangan Mala ke arah meja makan.


"Hem, Mal..ku pinjam Reo sebentar yah ada pekerjaan yang mau aku tanyakn pendapatnya Reo," Steve meminta ijin Mala dan diangguki oleh Mala.


"Hiss, apaan sih kau ini, aku baru sebentar bersama wanitaku kau ini,"protes Reo.


"Cepatlah masalah IT ini, kau pasti bisa membantu ku mencari solusi," jelas Steve.


"Tak mau, nanti sajalah aku mau menemani wanitaku dulu."Reo duduk di sebelah Mala dan merangkul pundaknya.


"Ayolah...kasihani lah temanmu ini,"bujuk Steve.

__ADS_1


"Temanilah Re, nanti kau bisa kesini lagi, hari ini aku hanya di apartemen saja kok,"Mala mengelus lengan Reo, karena ucapan dan tatapan manis Mala dengan berat hati Reo mengiyakan ajakan Steve.


"Baiklah, semoga ini tidak sia2 Steve, awas aja kau!" Ancam Reo, dan dia pun mencium kening dan bibir Mala berpamitan.."Ayo cepat jadi pergi tidak," ajak Reo kemudian.


"Hish, pria ini..sungguh aneh, bisa2nya kau jatuh cinta dengannya Mal," gerutu Steve mencium kening pipi dan bibir Dian dan pipi Mala ikutbberpamitan juga..


"Steve..cepattt!!" Teriak Reo dari luar


"Iya2..cerewet sekali kau ini," Steve berlari keluar.


Steve membawa Reo ke sebuah coffeshop, mereka mengambil duduk di pojokan supaya lebih leluasa untuk mengobrol, setelah memesan minum dan snack, Steve membuka obrolannya.


"Maaf tidak bermaksud membohongi-mu dan Mala tapi ini semua demi kebaikkan Mala."


"Ada apa sebenarnya, kenapa sampai harus dibicarakan diluar rumah, seserius apa?" Reo sedikit mengernyitkan dahinya.


Steve menunjukkan ponselnya, terlihat foto pria dengan banyak tato di tubuhnya


"Kau mengenali wajah ini?" Tanya Steve



Axel Donovan ( sumber foto from pinterest)


"Bukan, tapi kita harus waspada tehadapnya, uncle Adam memintaku untuk memberitahumu perihal ini, kau ingat ceritaku tentang Mala yang pernah terjerumus narkoba? Dia adalah dalangnya."


"APA! Bukankah kau bilang sudah diberesi oleh anak buah tuan Anto," kaget Reo.


"Ya memang, sebenarnya ada beberapa orang yang terlibat salah satunya adalah dia..Axel namanya, yang lainnya sudah tidak bergelut di bisnis narkoba karena ancaman papa Anto pada waktu itu, tetapi Axel ini sangat licik dia melarikan diri terlebih dahulu, dengan bantuan seseorang yang sangat berpengaruh."


"Lalu..?" Tanya Reo


"Dia akan menjadi masalah terbesar Mala, selain licik dia punya berbagai macam cara untuk mendekati Mala, banyak keuntungan yang akan dia dapatkan jika Mala menjadi wanita-nya."


"APA!! Jangan harap dia bisa mendapatkan Mala, selagi aku masih bernapas," emosi Reo pun mulai tersulut.


"Tahan emosimu dulu sebentar, Mala itu mempunyai pendirian dan prinsip hidup yang kuat dia tidak akan mudah terpengaruh, tetapi jika dengan cara.halus lembut di bumbui dengan perhatian yang lebih lambat laun akan goyang juga walaupun memerlukan waktu lama dan Axel ini sangat amat mengetahui itu, Axel pernah dekat dengan Mala lama, sejak Mala duduk di bangku SMA."


"Bukankah Mala tidak pernah berpacaran sebelumnya, coba jelaskan, kenapa aku semakin bingung, Steve?" Tanya Reo.


"Dekat bukan berarti berpacaran kan, Mala itu pribadi yang menyenangkan Re, supel dan mudah bergaul di lingkungan baru, pertemanan nya sangatlah luas dari berbagai macam kalangan semenjak papa Anto meninggal, Mala baru tersadar jika tidak semua temannya itu baik, dan dia mulai sedikit menutup diri dan memilih dalam berteman."


"Axel ini mengenal Mala jauh sebelum papa Anto meninggal niat awalnya memang baik tapi seiiring berjalannya waktu dan mulai mengetahui siapa Mala sebenarnya, niat baiknya itu berubah jadi memanfaatkan Mala, dulu ada satu titik kenapa Mala bisa terjerumus ke dalam lubang gelap narkoba, kunci nya adalah perhatian dan kasih sayang Re, Axel memahami itu dan masuk lewat cara tersebut," ucap Steve menjelaskan dan meminum kopinya sambil menghisap rokoknya.

__ADS_1


"Sebentar Steve, bukankah Mala dari keluarga harmonis? Kenapa bisa kau bilang mengenai perhatian dan kasih sayang?" Reo sedikit bingung dengan penjelasan Steve.


Steve berhembus pelan dan menyandarkan punggungnya di sofa kemudian kembali bercerita "karena ucapan uncle Adam aku akan menceritakan ini, dulu papa Anto dan Mama Moni itu sangatlah sibuk dengan pekerjaannya masing2, papa Anto memegang begitu banyak bisnis dari yang legal maupun ilegal dan juga pekerjaan lainnya kau tau maksudku kan?! Sedangkan Mama Moni tidak kalah sibuknya, sehingga Mala kurang perhatian dan kasih sayang dirumah sedangkan Mala anak yang manja..yah mungkin karena dia anak satu2nya yah, oleh sebab itulah Mala mencarinya dari luar, sayangnya beberapa orang memanfaatkan kerapuhan Mala itu dan kau tau sendiri bagaimana jaringan narkoba itu merekrut atau memanipulasi pikiran korbannya kan?" Ucap Steve mengakhiri penjelasannya.


Reo menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan lengkap mengenai keluarga Mala.


"Sekarang aku mulai memahami sedikit, lalu mengenai Axel kenapa kau bilang kita harus waspada, seberapa berbahayanya orang tersebut?"


"Seribu trik yang dia punya bahkan obsesinya untuk menguasai salah satu bisnis papa Anto yang akan membuatnya nekad menggunakan berbagai cara mendekati Mala dan mungkin sedikit obsesi untuk mendapatkan hati Mala juga." Reo kembali terkaget mendengar ucapan Steve.


"Untuk Axel sendiri is piece of cake membasminya tapi tidak untuk orang dibelakangnya, Axel didukung salah satu orang terkuat dijajaran pemerintahan dan bisnis narkoba, orang tersebut merupakan rival papa Anto, tapi kita juga tidak bisa mengganggap enteng, walaupun mudah, baiknya sekarang ini sih kita menjaga Mala dari Axel dan selalu memantau pergerakan Axel berikutnya, karena terkadang pergerakannya tidak bisa kita tebak."


"Steve, bukankah Mr.Adam bekerja di jajaran kepolisian Miami ini? Apa langkahnya untuk mencegah? Kenapa tidak ditangkap saja?" Tanya Reo dengan penasaran.


"Tidak semudah itu bro, banyak faktor yang harus dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum mereka melakukan pergerakan yang signifikan kita tidak bisa berbuat sembrono."


"Ya..aku paham, aku tidak ingin berjanji yang terlalu berlebihan, tapi aku akan menjaga Mala dengan sebaik mungkin tidak akan kuijinkan siapa pun atau apapun menyakitinya."


"Hahaha...tapi kau sendiri yang membuatnya nangis kemarin bukan? Hahaha.." Steve tergelak mendengar perkataan Reo.


"Sial kau... itu kan kesalahpahaman." dengus Reo dengan kesal.


"Berbesar hati lah jika ingin di dekatnya Re, ada begitu banyak orang terdekat Mala, masalah di depan yang akan kalian hadapi bisa jadi lebih besar tapi bisa jadi tidak ada masalah jika kau bisa mengendalikan emosimu." tutur Steve dengan bijak.


Pembicaraan mereka terus berlanjut dengan pembahasan strategi yang terbaik menjaga Mala, bahkan Steve mengenalkan dengan beberapa ajudan tersembunyi yang menjaga Mala, Dian dan keluarga Noche lainnya termasuk Dave si bocah nakal anak angkat keluarga Noche.


"Apapun bahaya di depannya nanti, aku akan selalu menjaga dan menjauhkan bahaya itu darimu, aku tidak bisa memastikan apa pun tapi yang jelas dalam setiap hembusan nafasku tidak akan pernah kubiarkan orang2 menyakitimu, walaupun itu harus mengorbankan nyawaku, aku siap!" Bathin Reo


.


.


.


.


.


Bersambung....maafkan jika kepanjangan penjelasannya dan sedikit membosankan hanya sedang menulis sesuai yang ada di otakku dan alurnya aja dan maaf kalo masih berantakan banget...


Aku masih belajar dalam hal tulis menulis ini..


Tetap berikan like kaliaann yah...love you allπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜πŸ˜

__ADS_1


maaf kalo foto ilustasinya kurang berkenan πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2