Kehidupan Seorang Putri Tunggal

Kehidupan Seorang Putri Tunggal
CHAPTER 23 : BAHAYA


__ADS_3

Bayfront Park, di sisi timur Biscayne Boulevard, adalah ruang hijau seluas 32 acre, bersebelahan dengan Bayside Marketplace. Taman ini memiliki beberapa monumen dan patung yang menarik. Salah satu fitur unik adalah Pepper Fountain yang dikendalikan secara elektronik. 


Setelah bujuk dan rayu yang Dave lakukkan, akhirnya disinilah saat ini Mala berada Bayfront Park tempat yang sangat indah untuk melepas kepenatan dan relaxing, Dave berusaha menghibur Mala dengan segala kekonyolannya membuat Mala tertawa terbahak-bahak.


Keceriaan tersebut mendadak berubah saat seseorang menyapa Mala


"Mala, is that you, i know it's you..."sapa seseorang.


"Hei, don't touch her with your dirty hand!" Hardik Dave yang kesal melihat tingkah pria tersebut.


"Well..well..well, another bodyguard of you," sindir pria tersebut.


"Ax..Axel"ucap Mala terkaget melihat pria tersebut.


Axel teman kuliah Mala yang turut serta menjerumuskan Mala ke dunia hitam narkoba.


"Waw..kau tambah cantik nona Noche," ucap Axel dengan senyum manisnya.


"Cih, hentikan senyuman palsumu itu, dan jangan sekali-kali kau menggodanya lagi!" Hardik dave dengan menunjukkan jarinya.


"Ayo kita pergi dari sini," Dave langsung merangkul Mala membawanya pergi.


"Kita akan bertemu lagi nona Mala Noche," Axel berkata dengan senyum liciknya.


Sore yang indah itu berubah menjadi tegang karena pertemuan Mala dengan Axel, Mala tetap bersikap santai karena tidak merasa kan ada bahaya apa pun tapi tidak dengan dave.


"Omo... bagaimana kerjamu,HAH!! ******** itu masih berkeliaran dan kenapa dia harus bertemu dengan Ayaku!"hardik Dave saat bertemu dengan Omo di apartemen uncle Adam. ( panggilan sayang Dave untuk Mala \= Ayaa )


Setelah pertemuan dengan Axel, Dave langsung mengajak Mala kembali pulang karena panik dan memanggil Omo sang ajudan.


"Maafkan kelalaian saya Dave, saya akan pastikan keamanan nona Mala kedepannya,"omo berbicara sambil menundukkan kepalanya.


"Jangan lengah lagi, aku yakin dia akan berusaha mendekati Mala lagi," geram Dave.


"Baik Dave." Sahut Omo.


"Hei young boy, take it easy, i'm fine.. ga usah terlalu berlebihan,"ucap Mala menenangkan Dave.


"Tapi Ay, kamu tidak tahu seperti apa ******** itu!" Seru Dave.


"Language Boy," ucap Mala memperingati.


"Sorry..aku terbawa emosi," jawab Dave dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Kau boleh kembali Omo, be careful, ok"ucap Mala ke Omo dan di jawab anggukan kepala Omo.


"Nih minum dulu, kenapa kamu se panik ini sih, aku aja biasa saja, kau terlalu berlebihan dave," Mala memberikan minum ke dave.


"Dia Axel, kau tidak ingat seperti apa dirinya, akan kupastikan ini pertemuanmu terakhir dengannya."


"Tidak perlu seperti itu, aku tidak akan kembali seperti dulu Dave."


"But Ayaa... "protes Dave.


"Tidak ada tapi Dave, kamu bisa pegang kata2ku, aku memang sedang terpuruk tapi bukan berarti aku akan melakukan kesalaham yang sama, i'm not a stupid person," tegas Mala.

__ADS_1


"Ok, i'll take your promise," pada akhirnya Dave percaya ucapan Mala. Tapi masih ada sedikit kekhawatiran di hatinya, Mala memang tidak akan masuk ke lubang yang sama tapi Axel pria itu tidak akan pernah menyerah dengan niatnya.


"Sudahlah aku lelah, aku ingin membersihkan diri dan beristirahat, kau beristirahatlah juga," Mala masuk ke kamarnya.


Saat Mala sudah masuk ke kamarnya Dave dengan segera menghubungi uncle Adam untuk memberitahu pertemuan Mala dengan Axel di taman tadi. Tidak ingin mengambil resiko selain menghubungi umcle Adam, Dave juga memerintahkan untuk memperketat penjagaan Mala, dengan syarat tidak terlihat oleh Mala.


....


Ting..tong...


(Suara bel apartemen uncle Adam )


"Dave..buka kan dulu!"perintah Mala


"Haa..aku sedang main, kamu saja lah"jawab Dave dan tidak lama mendapatkan jeweran di kuping.


"Kamu ini,kalo dimintain tolong ada saja jawabannya, cepat bukakan, aku mau bikin sesuatu di dapur," kesal Mala dengan bertolak pinggang.


"Baiklah princess.." Dave akhirnya menurut dan berjalan menuju pintu rumah.


Saat Dave membukan pintu langsung di semprot oleh Dian, ternyata Dian dan Steve yang datang.


"Kenapa lama sekali, pasti kamu malas membukakan, apa game-mu lebih penting dariku, hah" gerutu Dian saat melihat Dave membuka pintu.


"What a nice day, i met 2 beautiful ladies today," kaget Dave dan langsung memeluk Dian dengan erat.


"Hai handsome, kau sudah tinggi sekali sekarang dan tambah tampan," goda Dian sambil mencubit gemas pipi Dave.


"Hahaha..tentu saja aku memang tampan," sombong Dave. Lalu melihat ke sebelah Dian dan terlihat Steve yang sedang memainkan ponselnya.


"Ah, Dave..dave...kamu mau membuatku sesak nafas," protes Steve karena Dave memeluknya terlalu erat.


"Ah sorry Man, i'm too excited," cengir Dave dan melepaskan pelukannya.


"Ayo masuklah, Mala sedang memasak fettucini, kalian pasti lapar," ajak Dave menarik tangan Dian dan Steve.


"Ayaaa...hei, lihatlah siapa yang datang," teriak Dave.


"Dave, tak bisakah kau tidak berteriak-teriak, seharian ini senang sekali kamu berteriak," jawab Mala dari dapur sambil berjalan menuju ruang tamu dan langsung tersenyum senang melihat tamu yang datang.


"Diiaaannn...Steve, kalian akhirnya sampai juga," Mala pun memeluk Dian fan Steve bergantian.


"Ayo duduklah biar Dave yang mengambilkan minum, ok boy ," kerling Mala ke Dave dan disambut Dave dengan gerutuannya.


"Haha..grumpy Dave, kamu tidak pernah berubah yah," Steve tertawa menyindir tingkah Dave.


Mereka pun mengobrol santai di ruang tamu tersebut, bercerita keseharian selama seminggu lebih tidak bertemu, seperti biasa Mala selalu antusias bertemu dengan Dian, nampak Mala sudah sangat membaik tidak seperti sebelum berangkat yang lebih banyak termenung dan sedikit berbicara.


"Perkembanganmu disini sangat bagus nampaknya Mal, tak salah om Wawan menyarankanmu berlibur," ucap Steve.


"Apanya yang bagus, tadi pagi aja masih banyak bengongnya," sahut Dave dan mendapat cubitan di lengannya oleh Mala.


"Hei, mulutmu ini selalu saja tidak di filter," kesal Mala.


"Hahaha..dave..dave..dave, beruntungnya Mala disini ditemani dirimu,kau tahu Ferry saja sudah seperti cacing kepanasan dirumah memikirkan kondisimu Mal,"ucap Dian.

__ADS_1


"Ah Ferry, sudah lama aku tidak bertemu dia, kenapa dia tidak ikut?" Tanya Dave.


"Mana mau dia ikut walaupun segitu besarnya kecemasannya dengan kakaknya ini, tapi kalo di sana tante Liza tidak ada yang menemani, tidak mingkin lah dia berangkat kesini,"jelas Dian. dannDave mengangguk dengan paham.


Dave dan Ferry memang seperti itu rasa pedulinya terlalu besar terhadap orang2 terdekatnya. jadi jelas saja Dave sangat mengerti keadaan Ferry.


"Yuk makan yuk, aku sudah memasakkan fetucini spesial untuk kalian," ajak Mala.


"Loh Mal, apa uncle Adam belum pulang, kok dari tadi aku tidak melihatnya?" Tanya Dian.


"Belum, hari ini mungkin tidak pulang lagi banyak kasus di kantor katanya,"jawab Mala, sambil menyiapkan hidangan yang dia masak tadi.


Makan Malam terasa begitu ramai di apartemen uncle Adam, begitu banyak canda tawa dan obrolan santai yang dilontarkan mereka, terasa begitu menyenangkan di hati Mala, begitu pun Dian yang tersenyum sangat bahagia melihat sahabatnya sudah bisa menguasai dirinya tidak terlalu terpuruk, hal yang begitu melegakan.


Selesai makan malam Dian dan Mala membersihkan bekas2 makan mereka sementara Dave dan Steve melanjutkan obrolannya di teras balkon apartemen.


"Steve, kita harus waspada kau tahu Axel berada disini, tadi sore aku dan Aya sempat bertemu dengannya di taman," ucap Dave dengan serius.


"Ya aku tahu, tadi uncle Adam sudah memberitahuku di telpon, lalu bagaimana dengan reaksi Mala?" Tanya Steve sambil menghisap rokoknya.


"Dia hanya kaget melihat Axel setelahnya terlihat santai saja, Aya memang tidak berminat untuk bertemunya tapi tidak dengan Axel, ku tahu pria licik itu pasti akan melakukan berbagai cara untuk mendekati Mala lagi,"geram Dave.


"Tenanglah bro, kau terlalu cemas, we can handle it,"jawab santai Steve.


"Aku tidak bisa tenang keselamatan Ayaku yang terancam Steve,"Dave masih dengan kekesalannya.


Tak lama berselang Mala dan Dian bergabung bersama mereka.


"Sudah kamu laporannya," sindir Mala ke Dave.


"Laporan apa?" Tanya Dian bingung


"Ay ini serius loh, kenapa kamu se santai ini sih," protea Dave lagi.


"Sudah kubilang jika aku tidak berminat tidak akan pernah bisa dia menghasut atau membujukku Dave, kau tenanglah," jawab Mala.


" ini ada apa sih, kok aku ga dikasih tau," Dian masih bingung dengan obrolan Dave dan Mala.


"Kau tahu. Mba Ai, tadi kita itu bertemu dengan Axel, ******** itu kenapa juga masih berani menampakkan wajahnya," kesal Dave. Dave memang memanggil Dian dengan sebutan Mba Ai mengikuti Ferry.


"Hei language young boy," tegor Mala.


"APAA!! Axx...Axel?? Axel donovan?" Kaget Dian.


.


.


.


.


.


Bersambung dulu yah..

__ADS_1


__ADS_2