
1 minggu setelah acara pemakaman nyonya Moni Sriwedari Noche yang diiringi isak tangis dan duka yang mendalam. Mala sudah beberapa kali jatuh pingsan membuat Reo mencemaskan kondisinya. Dan terus bolak balik untuk melihat kondisi wanitanya itu.
Suasana duka masih terasa kental menyelimuti kediaman keluarga Noche,seluruh ajudan pun masih berkumpul di kediaman keluarga tersebut.
"Omo, sepeninggalnya bu Moni apa aku bisa memintamu dan seluruh ajudan tetap menjaga Mala dan keluarga Noche ini, kau tau penerusnya hanya Mala ?" Tanya bu Liza ke Omo yang merupakan salah satu orang kepercayaan tuan Anto dan keluarga Noche.
"Sumpah setiaku dan anak buah sampai ke penerus terakhir keluarga ini Nyonya, bahkan sampai ke anak ataupun cucu Mba Mala nantinya," kata Omo dan diangguki oleh bu Liza
"Kau tahu kondisi Mala, jaga dia seperti sebelum2nya aku dan yang lain percaya padamu, sebelum saya lupa terus awasi tuan Andreo seperti perintah terakhir bu Moni, aku sendiri masih belum terlalu percaya padanya, kau mengerti khan!" Perintah bu Liza lagi
Omo pun mengganguk dengan pasti.
Sementara ini, komando pindah ke tangan bu Liza karena kondisi Mala yang masih terpuruk karena kepergian mamanya, semua ajudan pun sangat mengerti kondisi ini.
Keluarga Noche memang bukan keluarga mafia tetapi mempunyai pengaruh besar di pemerintahan dan para Mafia karena balas budi kedua pihak tersebut atas jasa tuan Isgianto Noche dan para anak buahnya.
Usaha memang tidak semuanya legal ada beberapa usaha ilegal, tetapi tenang saja untuk keluarga dan orang2 terdekat hanya dibolehkan mengurus usaha legal yang ilegalnya hanya di kelola para anak buah dan beberapa relasinya. Dan itu pesan mutlak terakhir tuan Anto yang tidak bisa di ganggu gugat.
.....
Sementara itu di kamar Mala masih terbaring dengan lemah, Mala menatap langit2 kaca di kamarnya, pikirannya sedang mengingat masa2 indah bersama kedua orangtuanya, air mata masih mengalir dengan deras di kedua pipinya tanpa suara isakan membuat Dian dan Ferry merasa iba melihatnya, tidak ada yang berani mengganggunya karena memahami di saat seperti ini Mala membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya.
Andreo memasuki halaman kediaman keluarga Noche dan terlihat bingung karena masih banyak sekali pasukan berbaju hitam2 di halaman rumah Mala, karena sebelumnya Reo tidak terlalu memperhatikan dan hanya fokus dengan kondisi wanitanya.
"Permisi tuan, mau bertemu siapa?" Sapa salah satu anak buah Omo.
"Ah, saya ingin bertemu Mala, apa bisa ?" Tanya Reo dengan sopan
"Hei biarkan dia masuk, kau ini selalu saja membuat masalah," ucap Omo yang baru saja keluar dari dalam rumah dan melihat anak buahnya sedang menghadang Reo, dn mempersilahkan Reo masuk.
Setelah diberikan ijin Reo pun langsung masuk dengan banyak tanda tanya di benaknya, siapa mereka kenapa banyak sekali pasukan di rumah ini.
"Nak Reo, kau baru datang ?" Tanya bu Liza yang melihat Reo.
"Iya bu Liza, emm... maaf bu boleh saya bertanya, siapa mereka kenapa begitu banyak sekali pasukan di depan dan di halaman rumah ?" Tanya Reo dengan mengernyitkan dahinya.
"Hahaha... mereka hanya orang2 yang setia sama keluarga ini dan mereka sudah seperti keluarga sendiri, tenang saja nak Reo, kau mau bertemu Mala ? Dia ada di kamarnya masih mengurung diri, kuharap kau bisa membujuknya," jawab bu Liza sambil menepuk nepuk pundak Reo dan berlalu ke arah dapur rumah tersebut.
Setelah bertemu dengan bu Liza, Reo menuju kamar Mala.
TOK...TOK..TOK...
TOK..TOK..TOK...
( karena tidak ada jawaban Reo beberapa kali mengetok pintu kamar Mala)
"Hei... berisik kau mengganggu saja," Ferry keluar kamarnya dan berkata sinis pada Reo.
"Maaf Fer, aku sudah mengetok beberapa kali tapi tidak ada jawaban dari Mala,' ucap Reo
"Masuk saja pelan2 jangan berisik," Ferry berkata sambil melewati Reo dan menuruni tangga.
CEKLLEK...(Reo membuka pintu kamar dwngan perlahan)
"Sweetie...are you ok," sapa Reo memasuki kamar dan mencari keberadaan Mala. Tetapi Mala tidak terlihat di sana, Reo mencari di dalam kamar mandi dan .....
"SWEETIIIEE... honey... Oh my God, what are you doing ?" Reo kaget melihat Mala sedang terduduk di bawah pancuran shower, dengan sigap Reo mematikan shower mengambil handuk, membungkus tubuh Mala, mengangkatnya keluar kamar mandi dan mendudukkannya di sofa.
"Apa yang kamu lakukan sweetie ?" Tanya Reo perlahan sambil mengeringkan rambut Mala.
"...." Tidak ada jawaban dari mulut mungilnya, Mala hanya diam membisu
"Sayang... " ucap Reo lagi.
"...."
"Sebentar tunggu disini, aku akan memanggil Dian untuk membantumu," Reo berdiri dan melangkah keluar kamar
Saag keluar kamar Reo panik dan berteriak...
"DIIAAANNN... FERRY... HELP ME!!" teriak panik Reo
"Hei..hei... sudah kubilang jangan berisik, ini malah berteriak2 mau membangunkan orang sekampung, hah," Ferry menghampiri Reo.
"Dian mana, Mala fer... Mala... dia.. dia.. " Reo kehabisan kata2.
"Ada apa ? Kau apakan dia, setengah jam yang lalu aku masih melihatnya diatas tempat tidur," ucap Ferry dengan sinis.
"Dia... di kamar mandi.. pancuran.." Reo berkata dengan terbata-bata namun Ferry langsung membelalakan matanya dan memanggil Dian.
"MBAA AIIII... cepat hubungi om Wawan, " teriak Ferry yang melihat Dian dan bu Liza menaiki tangga karena mendengar teriakan Reo sebelumnya.
Dian langsung mengambil ponselnya dan menghubungi om Wawan, Ferry, bu Liza, Reo masuk ke kamar Mala untuk melihat kondisinya, mereka pun kaget, karena ketakutan trauma di masa lalu Mala saat papanya meninggal.
Sekitar 30 menit kemudian dr.Wawan datang dan disambut oleh bu Eni
"Wan, apa traumanya Mala bisa sembuh ? Aku semakin prihatin dengannya wan," ucap bu Eni.
"Semoga bisa mba, kita usahakan yang terbaik buat Mala, saat ini mungkin rasa kehilangan sedang meliputi dirinya, dengan bantuan orang2 yang sayang dan mencintainya biasanya bisa lebih cepat terobati tapi kita harus waspada jangan sampai ada yang menyakiti dirinya karena bisa berdampak sangat fatal untuk penyembuhan trauma," ucap dr.Wawan yang langsung datang saat di telpon Dian yang masih menggunakan seragam dokternya.
"Aku liat Mala dulu mba, tadi katanya dia berdiam diri di shower lagi," dr.Wawan pun menuju kamar Mala dan diangguki oleh bu Eni.
"Semoga kau baik2 saja nak,"gumam bu Eni.
Di dalam kamar Mala.
"Mala... hei cantik, gimana kabarmu hari ini,hem ?" Sapa dr.Wawan saat memasuki kamar Mala.
"..." Mala tetap berdiam diri
dr.Wawan memberikan kode untuk yang lain supaya keluar ruangan dulu, agar Mala bisa lebih leluasa dan tidak terlalu terintimidasi.
"Sayang, ponakan om yang paling cantik, masih mau dicuekin nih om yang ganteng ini?" Tanya dr.Wawan saat yang lain sudah keluar ruangan.
"Oom...." Mala memeluk dr.Wawan dan mulai terisak
"Kenapa begini om, kenapa Mala ditinggal, kenapa.. apa salah Mala om, rasanya Mala engga kuat om," ucap Mala di sela isakan tangisnya.
"Sayang, semua yang terjadi ini udah kehendakNya, kamu tidak boleh seperti ini, kamu lihat tadi tantemu sahabat2mu bahkan pria yang kau sukai begitu mencemaskanmu, jadi om rasa kamu tidak perlu terlalu bersedih seperti ini, sedih boleh nak tapi kita harus ingat tidak boleh terlalu berlarut larut, kamu mengerti kan cantik," dr. Wawan mengelus punggung Mala dengan lembut.
Mala sedikit merasa tenang akan kehadiran dr.Wawan, pelukannya seperti merasakan pelukan seorang ayah bagi dirinya.
Sementara itu di taman belakang rumah Mala, Ferry, Reo, bu Eni, bu Liza dan Dian sedang bercengkerama.
"Emm, maaf saya mau tanya apa Mala akan baik2 saja ? Kenapa dia bisa berbuat seperti itu ?" Tanya Reo.
__ADS_1
"Hemm, mba Mala memang punya banyak kelebihan dalam dirinya, dia itu cantik, pintar, kreatif, baik hati, penyanyang tapi sayang jiwa dan bathinnya terlalu rapuh, yang kamu lihat hari ini hanya sebagian kecil dari kerapuhannya, kuharap tidak akan terjadi hal2 mengerikan lainnya," ucap Ferry sambil menerawang memikirkan kondisi Mala.
"Apa bisa lebih parah dari ini ?" Tanya Reo dengan cemas
"Semoga tidak nak Reo, kita harus selalu mengawasi dan memperhatikannya saat ini yang dia butuhkan hanya perhatian orang2 terdekatnya," kalo ini bu Eni yang berbicara.
"Hal terburuk apa yang bisa terjadi ?" Tanya Reo
Ferry menepuk nepuk bahu Reo "Semoga tidak terjadi," ucap Ferry dan beranjak masuk ke dalam rumah. Kekhawatiran masih terlihat jelas di wajahnya.
"Kita tunggu sampai dr.Wawan selesai memeriksa Mala, saat ini kita hanya bisa bersabar tuan Andreo," ucap Dian
"Sweetie, begitu banyak rahasiamu yang tersembunyi, aku semakin ingin melindungimu," bathin Reo.
Ferry ikut masuk ke kamar Mala, karena rasa sayang dan khawatirnya akan kakak perempuannya itu, Mala sudah ia anggap seperti kakak perempuannya juga, melihat kondisi Mala membuat Ferry juga merasa tertekan apalagi ketakutannya akan terjerumus kembali Mala ke obat2an terlarang itu.
"Mba... " sapa Ferry pas masuk kamar.
"Fer, mba mu baru saja tertidur, biarkan dia istirahat sebentar yah, mbamu harus banyak istirahat," ucap pelan dr.Wawan.
"Iya om, apa aku boleh disini... aku janji engga akan mengganggu tidurnya," ucap Ferry.
"Iyah, lebih baik memang ada yang selalu menjaganya, kita tidak ingin melihatnya melakukan hal2 yang tidak diinginkan, saat ini mbamu sedang berada di titik terendahnya, kita harus selalu menjaganya dengan baik Fer," dr.Wawan berkata sambil menghela nafasnya dengan berat.
"Ferry akan selalu menjaganya om, aku sudah janji sama mama Moni dan papa Anto, Ferry tidak mau mengecewakan mereka," ucap Ferry dengan tegas.
"Bagus, kalo begitu om kebawah dulu yah, sekalian mau bersih2 badan om lengket," ucap dr.Wawan dan menepuk bahu Ferry.
Ferry berjalan ke kamar mandi membasuh mukanya mencuci tangan dan kaki lalu ikut merebahkan dirinya di sebelah Mala.
"Aku akan selalu menjagamu mba, tidak akan aku biarkan apapun menyakiti dirimu, aku janji," Ferry memperhatikan Mala yang terlihat pucat dan sedikit mengurus.
"Melihat mba seperti ini aku merasa sangat2 takut mba, mba harus kuat yah, kita akan selalu ada buat mba," gumamnya lagi dengan mata berkaca-kaca, Ferry selalu merasa sedih jika melihat wanita2 di hidupnya sedang mengalami masalah, itulah yang menyebabkan dia begitu protetektif terhadap Mala, Dian, bu Eni (ibunya) bahkan bu Liza, wanita2 hebat menurut pandangan Ferry yang harus selalu dia jaga.
Seteĺah membersihkan diri di kamar tamu dr.Wawan ikut bergabung di taman belakang bersama yang lain.
"Gimana Mala wan ? Ada perkembangan apa ?" Tanya bu Liza.
"Yah mba, kalo sekarang masih aman asalkan jangan pernah ditinggal sendiri Mala, aku tidak memberikan obat takut nantinya akan ketergantungan hanya vitamin aja, untuk menjaga daya tahan tubuhnya," ucap dr.Wawan seraya menggigit kue di depannya.
"Maaf dok, apa Mala akan baik2 saja ?" Reo ikut mencemaskan kondisi Mala, karena masih bertanya-tanya bisa separah apa nantinya Mala.
"Yah begitulah, selama masih dalam pengawasanku," ucap santai dr.Wawan
Reo tidak puas dengan jawaban dr.Wawan dan hendak bertanya lagi, namun Dian mengerti dan berbicara langsung.
"Ketakutan kita Mala akan berbuat nekad dengan menyakiti dirinya Re, makanya Mala harus selalu dijaga dan diawasi, itu yang utama, kuharap kamu bisa mengerti dan ikut menjaganya bukan menyakitinya," ucap Dian.
"Apa bisa sejauh itu," Reo kaget dengan perkataan Dian.
"Sore semua... lagi ngumpul2 nih," Steve datang menyapa semuanya dan mencium pipi bu Liza dan bu Eni, menyalimi tangan dr. Wawan dan tidak lupa mencium lembut kening Dian.
"Darimana saja kamu nak ? Apa om-mu menyusahkanmu," bu Eni berkata dengan melirik bu Liza.
"Hahaha... engga Buni, cuma menyelesaikan beberapa dokumen mengenai proyek di Jakarta," tawa Steve yang mencium aroma sindiran dari pertanyaan bu Eni calon mertuanya😁.
"Kamu ini Jeng, bisa aja menyindirku, ini semua demi kebaikkan anakmu loh," senyum bu Liza yang mengerti sindiran sahabatnya itu.
"Nak Reo, kami berharap kamu mau ikut membantu Mala, kita tidak memaksakan, tapi jika kamu memang tidak bisa jangan pernah menyakitinya karena itu akan memperhambat penyembuhannya," ucap bu Eni dengan lembut walaupun dengan tatapan tajam.
"Santai bro, ga usah tegang gitu,hahaha... " Steve cengengesan sambil menepuk nepuk bahu Reo.
"Panggil Omo sayang," ucap bu Liza ke Dian.
"Iya tante aku panggilkan sebentar," saat Dian ingin berdiri di tahan tangannya oleh Steve.
"Kenapa ?" Tanya Dian dengan bingung.
"Aku saja yang panggil, isshh.. tante ini," kesal Steve melirik bu Liza dan berdiri untuk memanggilkan orang yang dimaksud.
Bu Liza, bu Eni dan dr. Wawan pun tertawa melihat tingkah Steve yang kesal.
"Beruntung kau Jeng, nampaknya punya rasa cemburu juga dia," ucap bu Liza.
"Hah, bocah itu... " bu Eni hanya menggelengkan kepalanya.
Steve pun kembali dengan Omo berjalan mengikuti di belakangnya.
"Maaf nyonya, memanggil saya ?" Tanya Omo.
"Omo melihat kondisi Mala apa kau sudah bereskan orang tersebut jangan sampai dia bisa menghubunginya lagi," ucap bu Liza dengan tegas.
"Sudah nyonya, saya sudah perintahkan anak buah saya," jawab Omo.
"Apa dia masih di kota ini Mo?" Tanya bu Eni.
"Tidak nyonya, sudah 1 tahun belakangan ini dia sudah meninggalkan kota ini, dan saya sudah pastikan tidak bisa menghubungi nona Mala kembali," jawab Omo lagi.
"Bagus, terus awasi jangam sampai kau kecolongon yah," ucap bu Liza.
"Anak buah mu boleh kembali Mo sisakan beberapa saja disini, sepertinya keadaan sudah mulai tenang, berjaga seperti biasa," perintah bu Liza ke Omo.
"Baik nyonya saya dan 2 anak buah saya yang akan disini, selebihnya kembali ke tempat semula," ucap Omo.
"Hei tak perlu kau yang lain saja tidak bisa," Steve masih kesal dengan Omo.
"Steve... " tegor bu Liza
"Hahaha... kau cemburuan sekali, yang ada Dian bisa kabur kalo begitu," dr.Wawan menimpali omongan bu Liza.
"Hah, kau tidak tahu saja om," kesal Steve.
Bu eni dan bu Liza menggeleng2kan kepalanya melihat tingkah Steve yang langsung merangkul pundak Dian dengan posesif . Hanya Reo yang terdiam karena masih bingung dengan situasi saat ini.
"Cih, seperti tidak mengenal keponakanku yang ini saja kau,"decih dr.Wawan.
"Aku yang lebih tau om, nanti om rasakan kalo sudah bertemu wanita pujaan, jangan2 om bisa lebih parah dariku," debat Steve tidak mau kalah.
"Sudah2 malah jadi berdebat kalian ini, yasudah kau boleh kembali Mo," ucap Bu Eni.
"Baik nyonya, maaf saya permisi," pamit Omo dan berlalu pergi.
Mereka kembali mengobrol dan menghabiskan cemilan yang sudah disediakan, Reo masih nampak bingung tapi dia enggan bertanya karena merasa belum terlalu akrab dengan keluarga Mala.
"Kau masih disini kan nak Reo, kita makan malam bersama," ucap bu Eni.
__ADS_1
"Eh..iiiyaa bu," jawab Reo.
Bu Liza dan bu Eni masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan makan malam, diikuti dengan dr.Wawan yang hendak beristirahat sejenak di kamar tamu.
"Steve, apa yang dimaksud tadi ? Siapa yang dimaksud bu Liza tadi ?" Tanya Reo karena penasaran.
"Hah, bukan siapa2 Re, hanya manusia ga penting yang suka mengganggu kehidupan Mala," jawab Steve dan mulai membakar rokoknya.
"Kau tidak jelas Steve, aku bertanya sungguh2," ucap Reo.
"Nantilah suatu saat kau akan tahu tidak sekarang, aku ingin menghabiskan waktuku dengan wanitaku ini," Steve menggoda Dian dengan mencolek dagunya membuat Dian bersemu merah.
"Sayang... " ucap Dian dengan malu.
"Biarkan saja dia, kau temani lah Mala, siapa tahu dia membutuhkan sesuatu," ucap Steve dengan cuek.
"Hii.. kau mengusirku, yasudah aku tengok Mala dulu, Dian hati2 dengan rayuan gombalnya Steve,"Reo berlalu sambil meledek Steve.
"Dasar kau," kesal Steve.
Reo menuju kamar Mala dia membukanya perlahan dan melihat Ferry sedang berbaring di sebelah Mala dengan tangannya berada di atas kepala Mala
"Kalo bukan Ferry sudah kuusir dia,"gumam Reo dengan kesal melihatnya.
Reo duduk di sebelah tempat tidur Mala dan menggenggam tangannya, memperhatikan wanita yang dicintainya dan mengelus lembut pipi Mala.
Karena tindakannya membuat Mala terbangun merasakan sentuhan tangan Reo, Mala tersenyum tipis melihat Reo.
"Maaf aku mengganggumu sweetie, istirahatlah dulu," ucap Reo dengan lembut.
Mala menggeleng dan membenarkan posisinya dengan duduk bersandar. Ferry masih lelap tertidur di sebelah Mala.
"Kamu haus ? Atau mau apa?" Tanya Reo
Mala mengangguk dan Reo memberikan air minum yang sudah tersedia di meja sebelah tempat tidur Mala.
Mala langsung meminum habis air minum yang diberikan Reo, masih dengan berdiam diri tanpa berkata-kata.
"Apa ada lagi yang kau perlukan sweetie,hem?" Reo membantu me-lap mulut Mala dan Mala hanya menggeleng kembali.
"Kamu marah kepadaku ? Kenapa kamu tidak mau bersuara, sweetie?" Tanya Reo.
Mala kembali menggeleng. Reo hanya mendesah dengan berat, dia merasa sangat iba dengan kondisi Mala, tapi dia juga bingung harus berbuat apa, semua hal tentang Mala masih menjadi tanda tanya besar du benaknya.
.....
Saat waktu makan malam tiba Mala pun masih enggan keluar kamarnya, Reo dengan setia menemani Mala dikamar menyuapinya walau Mala hanya sedikit memakannya, Mala masih dengan kebisuannya sampai waktu Reo berpamitan pulang Mala masih diam membisu.
Setelah dari rumah Mala, Reo menuju barnya dan bertemu dengan Ando dan Jimmy.
"Kau kusut sekali Re ," ucap Ando melihat Reo.
"Hahhh... entah lah ndo, aku merasa tidak berguna, aku bingung harus melakukan apa," jawab Reo dengan menyesap minuman berwarna merah gelapnya itu.
"Mala.. " tebak Ando dan Reo mengangguk dengan lemas.
"Sabar... dia sedang mengalami masa sulit, kesabaranmu yang dibutuhkan saat ini Re," ucap Ando menenangkan sahabatnya.
"Kenapa aku merasa keluarganya menutup nutupi sesuatu yah ndo," ucap Reo.
"Begitulah keluarga Noche Re, tidak semua orang bisa mengetahui dan masuk ke dalamnya, kau beruntung sudah bisa diterima dengan baik," ucap Ando dengan menyesap minumannya.
"Kenapa aku merasa kau lebih tau dariku yah," Reo melirik tajam Ando
"Aku tidak tahu Re, hanya berpikir bijak saja, mungkin sahabat dari Australiamu itu yang lebih tau," ucap Ando dengan santai dan menghisap rokoknya.
"Bro...itulah ribetnya jatuh cinta, hahahaha... " ledek Jimmy yang membuatnya dapat pukulan di kepala dari Reo.
....
Keesokkan harinya Reo bertemu dengan Steve di coffeshop, untuk menanyakan ada apa sebenarnya dengan Mala.
"Hei sudah lama kau ?" Tanya Steve dengan cengengesan.
"Lama sekali kau, cepatlah ceritakan ada apa sebenarnya, kenapa Mala mendiamiku, apa yang terjadi Steve ?" Tanya Reo dengan kesal.
"Santai lah, belum juga minum udah diberondong pertanyaan aja."
"Hish kau ini, sudah cepat kau pesan sana," kesal Reo yang melihat Steve cengengesan padahal hatinya sedang gusar memikirkan Mala.
"Re... Re... tak pernah2nya kau begini, selama aku mengenalmu biasa tidak pernah peduli dengan wanita se cantik apapun dia," Steve berkata setelah memesan minumannya.
"Cepat katakan, kenapa kau suka mengulur waktu," Reo berkata dengan datar.
"Apa yang mau kau tahu, Mala... dia sedang merasa kehilangan Re, mamanya baru saja meninggal, kenapa dia mendiami-mu, itu wujud dukanya dia, dia tidak dengan gampang bercerita atau bisa langsung menghadapi suatu masalah, semuanya akan dia pendam terlebih dahulu, maka dari itu kita semua selalu mengkhawatirkan Mala," ucap Steve.
Reo mengangguk dan mencoba mencerna setiap perkataan Steve.
"Berapa lama Steve ?" Tanya Reo
"Tergantung kondisi psikisnya Re, kau tahu kehilangan Mama, orang nomor satu di hatinya setelah papanya, yang ditakutkan adalah trauma di masa lalunya kembali menghantui Mala dan akibat dari trauma itu," jelas Steve.
"Kenapa dari kemaren aku hanya dibilang trauma masa lalunya lah atau apapun itu, tapi aku masih bingung Steve," gusar Reo.
"Mala dulu itu sempat berobat dengan psikiater Re, karena kehilangan papanya hampir selama 2 tahun lamanya, dia menjadi hilang kendali, hanya bisa menangis sulit diajak bicara, setiap hari hanya melamun di kamarnya kadang menangis dan menjerit-jerit bahkan hampir mengakhiri hidupnya, itu yang ditakutkan, saat ini penjagaan terhadap.Mala harus ekstra diperketat tidak boleh lengah sedikit pun, kau tau rasa bersalah Mala terhadap papanya yang membuat dia seperti itu, sehabis bertengkar dengan Mala, papa Anto kena serangan Stroke sampai akhirnya meninggal Mala belum sempat berbicara lagi dengan papa Anto," jelas Steve panjang lebar dan membuat Rei mengerti sekaligus takut akan kondisi wanitanya itu.
"Sampai separah itu Steve ?" Tanya Reo
"Hem, yang paling ditakutkan lagi kalo Mala sampai terjerumus kembali ke obat2an terlarang itu, dan ini ada hubungannya dengan orang yang kau tanyakan kemaren Re," ucap Steve.
"APA!!Mala... my sweetie, pernah memakai narkoba ?" Kaget Reo.
Steve mengangguk.
"Lalu, siapa orang itu, kenapa Mala bisa berhubungan dengannya ?" Tanya Reo semakin penasaran.
"Kalo tidak salah dia teman satu kampusnya Mala, tapi memang seorang bandar narkoba dan dia memang selalu mencari kesempatan,"
"Kurang ajar sekali orang itu," geram Reo.
"Hah, sudahlah Re.. sudah ditangani itu sama si Omo2 itu...hah kesal sekali aku menyebut namanya," ucap Steve yang menjadi ikutan kesal.
"Hei... ada apa denganmu, kenapa begitu kesalnya menyebut nama Omo, bukankah dia asisten keluarga Noche?" Tanya Reo dengan senyum sinisnya.
"Untuk itu aku malas membahasnya lain kali sajalah," Steve mengambil ponselnya di saku celana dan menelpon seseorang, sedangkan Reo masih mencerna semua perkataan dan penjelasan Steve tentang Mala.
__ADS_1
"Ah sweetie, so much pressure in you, and how can i help you too getting better in this situation," gumam Reo dalam hati.