
"APA!!AXX..AXEL DONOVAN!" Kaget Dian.
"Hish, jangan lebay dii, aku aja santai jangan kaya Dave deh," sungut Mala.
"Tapi..tapi.."Dian tidak bisa menjelaskan kata2nya dan Steve pun menggenggam tangan Dian.
"It's okay honey, we can handle it, no worries,ok" usap Steve di pipi Dian, membuat wajah Dian tersipu malu, entah kenapa sikap lembut nya Steve selalu membuat Dian terlena.
"Honey ? Wait...wait..sepertinya aku yang ketinggalan berita, ada apa ini?" Dave langsung duduk diantara Dian dan Steve seraya meminta penjelasan dari mereka berdua.
Mala pun menjelaskan pada Dave bukan Dian atau Steve, dan Dave akhirnya mengerti tapi dengan satu ultimatum pastinya untuk Steve seperti Ferry yang memberi Ultimatum pada Steve sebelumnya.
"Ok, aku mengijinkanmu, tapi ingat sampai mba Ai-ku tersakiti tidak ada lagi kesempatan untukmu Steve apalagi kalau sampai kau menghilang lagi, aku sendiri yang akan menghajarmu!" Ancam Dave ke Steve.
"Haish, boy kamu menggemaskan ,"Mala bangkit dan mencubit pipi Dave dengan gemas.
"Ay...ahh, sakit...mau kemana kamu," sambil mengelus pipinya dan melihat Mala yang beranjak masuk ke dalam.
"Aku mau ke store, rokokku habis Dave," jawab Mala sambil lalu.
"Wait... aku ikut," Dave bergegas mengikuti Mala.
Dian dan Steve menggelengkan kepalanya melihat Dave yang sudah bergelayut manja di tangan Mala.
"Kalo Reo melihat ini habislah Dave, hahaha..." Steve tertawa dengan sangat senangnya sampai Dian memukul bahu Steve untuk meredakan tawanya.
"Dulu kau pun juga seperti itu, huh!" Sindir Dian.
"Yah siapa yang ga cemburu honey, kamu wanitaku dan ada pria lain memelukmu dengan mesra kupikir dia akan merebutmu," ucap Steve dan sekilas mencium bibir Dian.l
"Steve, kau selalu mencuri kesempatan," ucap Dian dengan malu-malu.
"Tapi suka kan," goda Steve dengan menaik turunkan alisnya, setelahnya Steve langsung kembali memeluk pinggang Dian dan menyandarkan kepalanya di bahu Dian.
.....
Sementara itu di suatu tempat tampak seseorang sedang bernegosiasi jual beli narkoba.
"Hei, ku dengar nona Noche sedang di negara ini, kau sudah tau ax?" Tanya seorang pria bernama Bruno yang merupakan tangan kanan Axel.
"Tentu saja, aku sudah bertemu dengannya, akan kupastikan aku bisa.mendekatinya lagi," ucap sinis axel
"Jangan terlalu yakin ax, kau tahu tidak akan semudah itu mendekatinya," Bruno mencoba mengingatkan.
"Tidak ada yang tidak mungkin bagi Axel Donovan bro!" Sombong Axel sambil mengisap cerutu di tangannya.
"Ya..ya..sesukamu lah," Bruno geleng kepala melihat tingkah atasannya itu.
"Hei..mau kemana kau," tegor Bruno melihat sang atasan bergegas keluar ruangan.
"Keluar sebentar, kau urus lah transaksi ini dulu," Axel pun melambaikan tangannya dan keluar ruangan.
...
"Kita ke toko ice cream dulu yah Dave," pinta Mala.
__ADS_1
"Baiklah Princess, as you wish,"jawab nyeleneh Dave.
"Hahaha...lihat mukamu, kau sudah menjadi wanita dewasa tapi makan ice masih seperti ini," Dave memotret Mala dengan muka belepotan ice cream dan terus meledeknya. Mala pun mencebikkan bibirnya.
"Kau selalu menggemaskan Ay," Dave melap mulut Mala dengan tissue.
"Ini tuh sangat enak, kenapa kamu tidak pernah suka ice cream Dave?" Tanya Mala
"Ice cream itu mengingatkanku dengan kenangan buruk, bukannya kamu sudah tau ceritanya, kenapa harus di bahas lagi sih," kesal Dave.
Sewaktu Dave berusia 8 tahun, dia selalu di bully teman2nya karena anak yatim piatu dan miskin, saat Dave sedang menikmati ice cream di taman dekat panti asuhannya datanglah gerombolan anak2 nakal merebut paksa ice cream yang dia pegang dan melemparinya dengan ice cream membuat sekujur tubuhnya berlumuran dengan ice cream, sejak saat itu Dave merasa jijik memakan ice cream.
Pernah suatu ketika, Mala dan Dian memaksa Dave memakan ice cream, alhasil Dave muntah2 sampai harus dibawa ke ugd rs, agak berlebihan memang traumanya.
Tapi demi Mala, dia akan rela menahan rasa jijiknya dan mau menemani dengan sabar. Tetapi tidak untuk memakannya.
Mala langsung memeluk Dave, setelah memakan ice creamnya "kita selalu ada buatmu Dave, seperti kamu yang selalu ada buat kita, apalagi aku, kamu tidak akan dan tidak pernah kuijinkan merasa sendiri lagi, ok!" Ucap Mala dengan lembut dalam pelukan Dave.
"Aku tahu, ah sudahlah tidak usah bersedih aku paling benci itu Ay," usap Dave lembut di kepala Mala.
Adegan mereka dilihat seseorang dari balik jendela kedai ice cream, dan tentu saja pria tersebut kesal melihatnya, dia meremas bunga yang dipegang dan mengepalkan tangannya dengan kesal.
Flasback on
Ting..tong..
(Bunyi bel apartemen uncle Adam)
"Wait a minute," jawab Dian dari balik pintu dan bergegas membukanya.
"Hai dii, memang Malanya sedang pergi?" Tanya balik Reo.
"Hemm, dia ke store membeli sesuatu katanya, masuklah Re," ajak Dian
"Aku menyusulnya saja yah, dimana storenya?" Tanya Reo.
"Tidak jauh dari perempatan sana, tapu kalo tidak ketemu mungkin dia mampir ke kedai ice cream di sebrang storenya, dia selalu seperti itu kalo pergi kesini, tidak pernah lupa mampir ke kedai ice cream paman Sam," ucap Dian menjelaskan.
"Baiklah aku akan menyusulnya," sahut Reo dan langsung segera pergi
"Tapi.. hei tuan Reo..." panggil Dian, namun percuma Reo sudah berlari menuju mobilnya dan tidak mendengar panggilan Dian.
"Ada apa honey? " tanya Steve menghampiri Dian
"Itu Reo mau menyusul Mala baru aku mau menjelaskan kalo.Mala pergi bersama Dave, dia pasti salah sangka Steve," ucap Dian.
"Sudah biarkan, siapa suruh tadi dia datang terlambat," ucap Steve.
"Kamu ini, ayo kita susul pasti dia sedang kesal sekarang Steve,"Dian menarik tangan Steve.
"Engga perlulah kita tunggu saja, ini pun sudah malam sebentar lagi mereka juga pulang," Steve menarik kembali tangam Dian untuk masuk ke dalam apartemen.
Flashback end
Karena tidak menyadari kalo dirinya sedang diperhatikan seseorang, Mala berjalan keluar kedai berangkulan dengan Dave, hal ini sudah biasa dilakukan oleh Mala, Dian dengan Dave begitu juga dengan Ferry, sangatlah wajar, tapi tidak dengan orang lain yang melihatnya, mereka seperti sepasang kekasih, ditambah sesekali Dave mencubit gemas pipi Mala.
__ADS_1
"Apa kau pergi kesini untuk bertemu dengan selingkuhanmu ini,hah!"hardik pria tersebut saat Mala berdiri berhadapan dengannya.
"Reo..kau ada disini? Kau menyusulku ?" Mala kaget dan tampak berbinar melihat Reo berada di hadapannya. Mala hendak berhambur ke pelukan Reo namun, tangan Reo menepis tangan Mala dengan kasar.
"Aww..."rintih Mala.
"Hei bung, lembutlah sedikit terhadap wanita," tegor Dave yang merasa kesal dengan sikap kasar pria didepannya itu.
"Cih, kau sungguh tidak tahu diri berani sekali tetap bersikap santai padahal sudah terlihat kau selingkuh didepanku, jadi ini maksudmu menghilang,Hah!" Bentak Reo di akhir kalimatnya.
"Selingkuh ? Apa maksudmu Re?" Mala masih bingung dengan tuduhan Reo.
"Sudahlah Ay, ayo kita pulang lagipula siapa dia kenapa berani sekali berkata kasar," Dave pun menggenggam tangan Mala dan hendak membawanya pergi, tapi dengan sigap tangan Reo menarik tangan Mala.
"Mau kemana? Kau lebih memilih dia? Dasar kau wanita..." bentakan Reo pun terhenti saat seseorang memotong ucapannya.
"Re..STOP!!jika kau tidak ingin menyesal nantinya," ucap Steve dengan tegas.
Steve dan Dian akhirnya menyusul Mala juga, setelah perdebatan antara keduanya dan kekhawatiran Dian tentunya, dan dugaan Dian pun terbukti melihat ketegangan yang terjadi sekarang.
Mala menatap Reo dengan nanar "APA!!KAU INGIN BERKATA APA?! Murahan, ****** or what?" Bentak Mala dengan kecewa, pria yang sangat ia rindukan 1 minggu ini, pria yang membayanginya selama 1 minggu ini, membuatnya begitu kecewa.
"Mala..aku..aku.." Reo terbata-bata melihat tatapan mata Mala emosinya memang sulit sekali dia kendalikan apalagi menyangkut wanita yang sangat dicintai dan dirindukannya ini.
"Apa segitu buruknya aku di matamu tuan Andreo? Berarti selama ini kamu belum cukup mengenalku, kau bahkan menuduhku yang tidak2, PERCAYA tidak adakah kata itu di otakmu!"ucap tegas Mala dan berbalik badan untuk meninggalkan mereka semua.
"Mala..sweetie, wait!" Reo menarik kembali tangan Mala.
"Lepas... kalau kamu masih berfikir negatif tentangku, jangan harap kau bisa dekat denganku lagi!!" Mala melepaskan paksa genggaman tangan Reo.
"DAVE.. COME ON!" Teriak Mala dan Dave berlari mengejar Mala yang sudah berjalan dengan cepat.
"Bukan kah sudah kuperingati sebelum berangkat kesini, jaga emosi dan rasa cemburumu," tegor Steve mendekati Reo yang sedang menunduk melihat kepergian Mala.
"Beri dia waktu Re, sudah larut sebaiknya kau pulang, biar aku yang akan berbicara dengan Mala, oia, masalah Dave seharusnya kau tidak gegabah dia adik kita sama seperti Ferry, kedekatan kita tidak lebih dari sekedar adik dan kakak, memang terlihat mesra tapi seharusnya kau bisa mengerti bagaimana keluarga kita Re," jelas Dian dan ikut menyusul Mala untuk kembali ke apartemen.
Setelah mendengar penjelasan dari Dian
"Aaaargghhh...stupid Reo!" Reo berteriak frustasi dengan dirinya sendiri.
"Hah, tenangkan dirimu, jika sudah tenang kau bisa.menemuinya lagi," Steve memukul pundak Reo memberi semangat dan ikut berlalu pergi.
Dan pertengkaran mereka pun disaksikan oleh sesosok mata dengan tatapan tajam dan bergumam
"pertunjukan yang menarik, akan kupastikan ke depannya akan lebih menarik lagi," senyum sinis menghiasi wajah pris tersebut
.
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung...😉😉