
Junior keluar dari dalam mobilnya. dia membuka kacamata yang sejak tadi bertengger di wajahnya. dia kemudian menyusuri jalan setapak dan berhenti di sebuah rumah sederhana.
Junior membunyikan bel rumah dan seseorang membuka pintu.
Lia melihat pimpinan perusahaannya datang ke rumah sahabatnya.
"Se- selamat pagi, Pak." Lia menyambut dengan gugup Junior.
"Selamat pagi," jawab Junior dengan sangat kaku.
Sikap kaku junior terbentuk sejak dia kehilangan ingatannya dan menjadi terbawa sampai saat ini.
"Siapa Li?" tanya Violin sambil berjalan keluar rumah.
Violin terkejut melihat sosok yang berdiri di balik pintu pagar rumahnya. Dengan cepat dia meminta Lia untuk membukakan pintu pagar dan meminta pria itu masuk ke dalam rumahnya yang super sederhana sekali.
"maafkan saya. saya tidak tahu kalau bapak mau datang ke rumah ini." Violin tiba-tiba bicara sangat formal kepada junior.
__ADS_1
"tidak perlu bicara formal. bicara santai saja. saya ingin kamu memberitahukan tentang saya yang kamu ketahui." Junior menatap violin lurus.
"apa maksudnya?" tanya violin.
"Boleh kalau kita hanya bicara berdua saja?" junior mengedarkan pandangannya ke arah Lia.
dengan cepat Lia menangkap arah pembicaraan junior. dia yang tanggap langsung permisi keluar rumah.
"Sebenarnya ada apa?" tanya violin, setelah kepergian Lia.
"Sebelumnya saya ingin berkenalan dulu denganmu." Junior mengulurkan tangannya.
"Saya junior." junior memperkenalkan diri.
"saya violin." violin juga memperkenalkan dirinya.
"Saya mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu. dan saya juga mengalami hilang ingatan sejak siuman dari tidur panjang." jelasnya.
__ADS_1
Violin mendengarkan dengan seksama cerita yang dituturkan oleh pria yang menurutnya adalah sahabatnya sejak kecil.
"jadi kamu amnesia?" tanya violin.
"benar. seluruh keluarga mengetahui hal itu. hanya saja karyawan perusahaan tidak ada yang mengetahuinya." tutur junior.
melihat wajah sendu sahabatnya itu. violin menjadi menaruh rasa iba. ternyata selama ini dugaannya benar. pria yang dia lihat pertama kali itu adalah sahabatnya. dia sangat tidak menyangka kalau ternyata sahabatnya mengalami hal tragis.
"Sebenarnya aku dan kamu sangat dekat sejak kamu tinggal di panti asuhan. Kamu juga sangat hangat dan tidak sedingin saat ini. kamu juga pribadi yang sangat humoris tidak sekali saat ini." violin mengungkapkan segala yang dia ketahui.
mendengar penuturan wanita yang ada di hadapannya. Junior menjadi geram. pasalnya tidak ada yang berani menilainya secara langsung seperti violin.
"Apa kamu ingat siapa nama ibumu? bibi sangat baik dan sering sekali memberiku makan siang saat aku main ke rumahmu. sayangnya dia tidak berumur panjang. aku sangat kehilangannya dan juga dirimu. Untung saja aku tahu kalau ternyata kamu di serahkan ke panti asuhan dekat kampung halaman kita. sejak itu kita kembali bertemu hingga bersekolah di sekolah yang sama." Violin kembali bercerita.
Junior sangat menikmati apa yang dia dengar dari violin. dia sangat senang ternyata ada orang yang mengetahui identitasnya sejak kecil.
"Aku memanggilmu, Juju atau Jun. Jun adalah panggilan sayang bibi untukmu. sedangkan Juju adalah nama yang biasa kau sebut sejak kecil saat berkenalan dengan teman baru." Sambung violin.
__ADS_1
Junior semakin menikmati pembicaraannya dengan violin. dia bahkan melupakan rasa sakit dikepalanya yang tadi menyerangnya sebelum dia turun dari mobilnya.
"Maukah, kamu membantuku mengingat siapa aku?" tanya Junior.