Keindahan Dibalik Kacamata Violin

Keindahan Dibalik Kacamata Violin
Part 30 - Arti kain Tapis


__ADS_3

Violin datang ke rumah eyang Margaretha karena diundang untuk makan malam.


Violin melangkahkan kakinya di rumah yang sangat besar itu. terlihat pilar menjuntang tinggi menopang atap berwarna kecoklatan.


mata Violin tak henti-hentinya mengagumi rumah yang begitu besar dan sangat mewah itu.


"Jika aku bekerja di sini sebagai asisten rumah tangga. sudah pasti aku akan pingsan setelah seharian bekerja. Untuk mengepel seluruh rumah saja mungkin butuh waktu berhari-hari." celetuk Violin Selama perjalanan masuk ke dalam rumah eyang Margaretha.


"selamat datang violin."sambut Eyang Margaretha dengan sangat ramah.


"selamat malam Eyang. terima kasih sudah mengundangku ke rumah ini."Violin bicara dengan sangat santun.


"Violin ikut eyang dulu sebentar, sebelum kita menikmati santap malam hari ini."


Violin mengikuti draft langkah wanita paruh baya yang kisaran usianya mungkin enam puluh tahun.

__ADS_1


Eyang Margaretha membawa Violin ke dalam sebuah kamar dan di sana terdapat begitu banyak lemari kaca berisikan baju-baju yang terbuat dari kain tapis.


"wah banyak sekali koleksi Eyang."Violin kembali mengagumi isi di dalam kamar itu.


"violin lihat baju adat di sebelah sana."Eyang Margaretha menunjuk ke arah di pojok kanan yang terdapat lemari kaca berbentuk persegi panjang.


Violin melangkahkan kakinya maju menuju lemari kaca yang ditunjuk oleh Eyang Margaretha.


"wah bagus sekali Eyang. warna putih gading dengan salur-salur benang emas. sangat cantik."kagum violin.


dengan ragu Violin mengulurkan tangannya dan membuka lemari itu. dia begitu gugup karena takut terjadi kesalahan ketika dia mengambilnya. belum tahu pasti harganya sangat mahal dan kalau sampai sedikit tekoyak pastinya dia harus mengganti kerusakannya.


"tidak usah ragu-ragu violin. ambil saja dengan cepat. Setelah itu kamu pas kan di tubuhmu."perintah Eyang Margaretha.


mata Violin langsung membulat sempurna. dia tidak mengerti kenapa yang Margaretha memintanya untuk mencoba pakaian itu. sedangkan dia tahu pakaian itu pasti dirancang khusus untuk seseorang.

__ADS_1


"pakaian adat itu dirancang untuk mu Violin. jadi kamu tidak usah ragu untuk mencobanya."mendengar penuturan dari Eyang Margaretha Violin menjadi semakin bingung.


"tempat pakaian gantinya ada di sebelah sana. kamu masuk saja ke sana. eyang mau tahu apakah ukurannya pas denganmu."


Violin bergegas berjalan menuju ke ruang ganti yang terdapat pintu kayu kecil. Violin membuka ruangan kecil itu dan masuk ke dalamnya. dengan ragu dia menanggalkan pakaiannya dan berganti dengan pakaian adat yang terbuat dari kain tapis.


sepuluh menit sudah Violin di dalam sana dan dia keluar mengenakan pakaian adat itu menemui Eyang Margaretha.


"sangat cantik."yang Margaretha menelisik setiap inci tubuh Violin dari ujung kaki hingga ujung kepala saat mengenakan baju yang terbuat dari kain tapis itu.


"benar saja ukurannya sangat pas dengan ukuran tubuhmu. ini adalah pakaian adat yang akan kamu gunakan dalam prosesi pernikahan nanti. yang membuatkannya sesuai dengan pola baju adat yang dulu pernah dipakai oleh mendiang mamanya Junior."


Violin menganga. dia tidak mengerti apa maksud dari Eyang Margaretha mengenai pembicaraan prosesi pernikahan. siapa yang akan menikah? dan mengapa dia harus ikut dalam proses itu? penuh? mungkin saat ini dalam benak violin.


"violin kamu pasti banyak bertanya di dalam hatimu. makan yang jelaskan satu persatu saat kita selesai menyantap makan malam. yang akan memperjelas semuanya. sekarang bergantilah lagi dengan pakaianmu yang tadi dan segera kita menuju ruang makan."

__ADS_1


Violin kembali ke dalam ruang ganti dan memakai pakaiannya yang dia pakai sebelumnya. yang Margaretha dan violin menuju ruang makan dan betapa terkejutnya dia begitu banyak hidangan mewah dan sangat mahal ditata begitu cantik di atas piring dan dijajakan di atas meja.


__ADS_2