
Violin sudah berangkat bekerja hari ini. Dia dan Lia tidak sabar untuk kembali bekerja. Meski dia baru sembuh, tapi dia merasa kakinya sudah sangat membaik. Sudah dua Minggu lamanya dia tidak masuk bekerja. meski diberikan waktu istirahat yang banyak. Namun, Lia maupun violin tidak terkena. mereka punya rasa malu dan tahu diri sebagai seorang karyawan.
"jadi kalian sudah masuk bekerja kembali?" tanya Alita kepada kedua bawahannya itu.
"Benar, Bu. kami sudah cukup beristirahat. kami akan kembali bekerja," Jawab Violin.
"Kalau begitu kalian cepat bekerja yang benar. banyak pekerjaan yang harus kalian selesaikan." Alita meninggalkan Violin dan Lia.
"Packing ... packing ... packing."
Lia dan juga violin bekerja sambil bersenandung agar rasa lelah tidak menghampiri tubuh mereka berdua.
Sebagai karyawan yang bekerja di bagian packing. Mereka semua dituntut untuk bekerja cepat. Seharusnya mereka diminta bisa mengerjakan seratus box per karyawan.
Banyak sekali produk kosmetik yang best seller di perusahaan tempat bekerja violin. Sehingga permintaan juga semakin membludak.
__ADS_1
"Eh, orang kampung udah pada balik kerja lagi. mana nih yang katanya jago mendaki, eh taunya dia yang cedera." Bella mulai bertingkah.
"Eh, Bella. kalo ngomong mulut tuh dijaga dong. jangan asal ngecap ajah. Dimanapun orang berada pasti ada yang namanya resiko dan apesnya. kali ini violin lagi apes ajah." Lia membela sahabatnya yang di ejek oleh Bella.
Bella selalu membuat onar jika dia bertemu dengan violin dan Lia. Bella memang anak Jakarta asli atau Betawi asli. Sedangkan mereka berdua asli orang desa.
Karena perbedaan itulah yang membuat Bella selalu mencari masalah kepada mereka berdua.
"Bella, violin, Lia. cepat kerja bukan malah bertingkah begitu. apa kalian bertiga mau di pecat?" Alita sudah jengah dengan kelakuan ketiga bawahannya itu yang selalu seperti anjing dan kucing yang selalu berantem setiap kali bertemu.
Violin dan Lia kembali bekerja. sedangkan Bella kembali ke teamnya. Mereka beda team hanya saja Bella sering kali menghampiri violin hanya untuk mengejeknya dan membuat masalah.
Junior kembali mengalami sakit kepala. Dia masih dalam perjalanan menuju ke rumah sakit untuk bertemu dengan seseorang di sana.
"Pak, apa bapak tidak kenapa-kenapa?" tanya Rian yang melihat wajah Junior merasa kesakitan.
__ADS_1
"Saya tidak apa-apa. Kamu fokus saja menyetir mobilnya." Junior menyenderkan kepalanya di kursi mobil.
Rian kembali menyetir dan sambil memperhatikan bosnya. Rian merasa khawatir sekali dengan kondisi Junior. dia sendiri tidak mengerti mengapa Junior selalu terlihat seperti orang sakit kepala.
Mereka berdua sampai di rumah sakit yang menjadi tempat tujuan Junior. Junior meminta Rian untuk menunggu di luar dan tidak ikut masuk ke dalam.
Junior melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan dokter. Disana dia mempertanyakan beberapa hal mengenai ingatannya yang tidak kunjung kembali. Junior juga memberikan beberapa botol obat yang sudah di bawa.
"Mari kita periksa terlebih dahulu." Dokter meminta Junior naik ke atas ranjang dan dia memeriksanya.
Dokter juga memeriksa obat yang dibawa oleh Junior ke hadapannya. Dokter menautkan kedua alis matanya dan dia bingung kenapa bisa seorang pasien yang dalam pengobatan malah diberikan obat yang bisa menghambat pengobatan.
"Jangan dikonsumsi lagi." Saran dokter.
"Saya sudah beberapa hari ini tidak mengkonsumsinya." Jelas Junior.
__ADS_1
"Apa ada keluhan setelah tidak mengonsumsinya?" tanya dokter.
"Ada, mimpi yang berulang dan rasa sakit di area kepala," jawab Junior.